NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 6

“Selamat pagi, Sayang. Kau mau pergi ke mana? Kenapa hanya bersama Sonia?” tanya Raina ketika melihat Emma berjalan melewati ruang makan. Saat itu, Raina sedang sibuk menata berbagai hidangan di atas meja.

Emma menghentikan langkahnya, lalu menoleh sambil tersenyum manis.

“Mau keluar sebentar, Mi. Damian masih di atas, katanya mau bersiap-siap pergi ke kantor,” jawab Emma santai.

Raina meletakkan piring yang dipegangnya, kemudian menatap Emma dengan raut wajah sedikit khawatir.

“Sayang, kau jangan keluar dulu, ya,” pintanya lembut.

Emma langsung mengerutkan kening.

“Kenapa, Mi? Aku cuma mau keluar sebentar, kok. Nggak bakal lama,” jawabnya sambil mengibaskan tangan seolah ingin meyakinkan Raina bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Sayang, Mami mohon. Duduklah dan makan dulu bersama Sonia. Mami sudah memasak semua ini khusus untukmu,” bujuk Raina sambil menghampiri Emma.

Emma melirik meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan. Aroma masakan yang menggugah selera membuatnya sedikit tergoda.

“Hmmm ....” Emma berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Ya sudah, baiklah. Aku makan dulu.”

Raina tersenyum lega.

“Nah, begitu dong, Sayang.”

“Tapi, habis makan aku boleh keluar, kan, Mi?” tanya Emma lagi dengan tatapan penuh harap.

Raina terdiam sesaat sebelum mengusap lembut rambut cokelat Emma.

“Nanti kita bicarakan lagi, ya.”

Emma langsung memonyongkan bibirnya.

“Yah, Mami, kok begitu, sih?”

Raina hanya terkekeh kecil melihat tingkah menantunya itu.

“Sudah, sekarang makan dulu. Nanti keburu dingin.”

Emma akhirnya menurut. Ia berjalan menuju meja makan dan menarik kursi, sementara Sonia segera menghampirinya untuk membantu menyiapkan sarapan.

Setelah memastikan Emma mulai sibuk dengan makanannya, Raina menghela napas pelan. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi serius.

Ada sesuatu yang harus segera dibicarakannya dengan suami dan putranya.

Raina pun beranjak meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju sebuah ruangan khusus di dalam mansion. Namun, sebelum masuk, ia terlebih dahulu menghampiri Damian yang baru saja turun dari lantai atas dengan setelan jas kantor yang rapi.

“Damian, ikut Mami sebentar,” panggil Raina.

Damian menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Ada apa, Mi? Aku harus berangkat ke kantor,” jawabnya dengan nada datar.

“Sebentar saja. Ini penting.”

Tanpa menunggu jawaban putranya, Raina langsung menarik tangan Damian dan membawanya menuju ruangan tersebut.

Damian mengernyit, tetapi ia tetap mengikuti ibunya tanpa banyak bertanya.

Begitu pintu terbuka, mereka mendapati Leonardo sedang duduk santai di sofa. Pria itu memegang sebuah gelas berisi cairan merah pekat yang tak lain adalah darah. Tatapannya beralih kepada istri dan putranya yang baru saja masuk.

“Ada apa pagi-pagi begini?” tanya Leonardo sambil meletakkan gelasnya di atas meja.

Raina menutup pintu di belakang mereka, lalu berjalan mendekati suaminya.

“Kita harus membicarakan sesuatu yang penting, Leonardo,” ujarnya serius.

Leonardo mengangkat sebelah alis.

“Sepertinya ini bukan pembicaraan biasa.”

“Memang bukan,” jawab Raina cepat.

Perempuan itu melirik Damian yang berdiri tidak jauh darinya, kemudian kembali menatap suaminya.

“Suamiku, kau dan Damian harus melakukan ritual darah. Darah pengantin wanita yang belum terikat dalam ritual vampir dianggap sebagai darah suci dalam tradisi kita. Di luar sana ada banyak vampir liar yang bisa mengincarnya, terlebih lagi Emma adalah manusia.”

Leonardo yang semula tampak santai langsung terdiam.

Ia menatap istrinya beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang.

“Raina, kita sudah membuat perjanjian bahwa Emma tidak boleh mengetahui siapa kita sebenarnya,” jawab Leonardo dengan suara rendah tetapi tegas.

“Aku tahu!” sahut Raina, sedikit meninggikan suaranya. “Aku tidak melupakan perjanjian itu. Tapi, bagaimana kalau sesuatu terjadi kepadanya?”

Raina menatap Leonardo dengan sorot mata penuh kecemasan.

“Kalau sampai vampir-vampir liar itu mengetahui keberadaan Emma dan menyadari bahwa dia adalah istri Damian, kita tidak bisa menjamin keselamatannya begitu saja.”

Leonardo menyandarkan punggungnya ke sofa. Jemarinya mengetuk pelan sandaran tangan, menandakan bahwa ia sedang memikirkan perkataan istrinya.

“Lalu, menurutmu ritual darah itu bisa menyelesaikan semuanya?” tanyanya.

Raina mengangguk.

“Setidaknya, ritual itu bisa memperkuat ikatan perlindungan di antara mereka. Vampir-vampir di luar sana akan berpikir dua kali sebelum berani menyakitinya.”

Damian yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Tunggu dulu,” sela Damian sambil menatap ibunya. “Kenapa aku baru mendengar masalah ini sekarang?”

Raina menoleh ke arahnya.

“Karena Mami berharap masalah ini tidak akan pernah muncul. Tapi, keadaan sudah berubah, Damian. Emma sekarang tinggal di mansion ini, dan kita tidak bisa terus mengabaikan risiko yang mungkin terjadi.”

Damian mengembuskan napas kasar.

“Lalu, bagaimana caranya melakukan ritual itu tanpa membuat Emma curiga? Dia bahkan sudah curiga bahwa aku seorang vampir.”

Leonardo langsung menatap putranya.

“Apa maksudmu dia sudah curiga?”

Damian mengangguk malas.

“Dia bertanya apakah aku vampir. Entah dari mana dia mendapatkan pemikiran itu.”bohong Damian

Raina memejamkan mata sesaat, lalu memijat pelipisnya.

“Ya Tuhan, perempuan itu memang tidak pernah berhenti membuat Mami khawatir.”

“Dia juga sempat mencari sesuatu di dalam lemariku,” tambah Damian. “Entah apa yang dia cari. Ketika kutanya, dia malah mengelak.”dia harus berbohong demi kebaikan nya jika tidak ia akan di hukum

Leonardo mengerutkan kening.

“Jangan sampai dia menemukan sesuatu yang bisa membongkar identitas keluarga kita.”

“Aku tahu, Papi,” jawab Damian singkat.

Suasana ruangan kembali hening Raina kemudian duduk di samping Leonardo dan menggenggam tangan suaminya.

“Aku hanya ingin melindungi Emma. Dia tidak bersalah atas apa pun yang terjadi di dunia kita. Dia bahkan tidak tahu bahwa ada makhluk-makhluk di luar sana yang bisa menganggapnya sebagai sasaran.”

Leonardo menatap wajah istrinya. Ia memahami kekhawatiran Raina, tetapi perjanjian yang telah mereka buat bukanlah sesuatu yang bisa dilanggar begitu saja.

Jika identitas mereka terbongkar, bukan hanya Emma yang berada dalam bahaya. Seluruh keluarga mereka juga bisa terancam.

“Kita tidak boleh bertindak gegabah,” ujar Leonardo akhirnya. “Kalau ritual itu memang diperlukan, kita harus mencari cara agar Emma tidak mengetahui rahasia yang selama ini kita sembunyikan.”

Raina menggeleng pelan.

“Bagaimana mungkin kita melakukan ritual yang melibatkan dirinya tanpa menjelaskan apa pun kepadanya? Dia berhak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.”

Damian terdiam mendengar perkataan ibunya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia menyadari bahwa masalah ini tidak sesederhana yang ia bayangkan.

Emma memang hanya seorang manusia biasa yang cerewet, keras kepala, dan terlalu banyak bertanya. Namun, sekarang perempuan itu sudah menjadi bagian dari keluarganya, entah ia menyukainya atau tidak.

Dan jika sesuatu terjadi kepada Emma, akibatnya mungkin jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan.

“Baiklah,” ujar Damian akhirnya. “Aku akan mencari tahu lebih banyak tentang ritual itu. Tapi, jangan berharap aku akan langsung menyetujuinya sebelum mengetahui semua risikonya.”

Leonardo mengangguk pelan.

“Itu keputusan yang tepat.”

Raina menatap putranya dengan lega, meskipun kekhawatiran belum sepenuhnya menghilang dari wajahnya.

“Damian, Mami hanya meminta satu hal kepadamu.”

“Apa lagi, Mi?” tanyanya sambil menghela napas.

“Jangan biarkan Emma keluar sendirian untuk sementara waktu. Kita belum tahu apakah keberadaannya sudah diketahui oleh vampir-vampir liar itu.”

Damian terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat.

“Baiklah. Aku akan mengurusnya.”

Setelah mengatakan itu, Damian berbalik dan berjalan menuju pintu.

Namun, tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, ia mendengar suara ibunya sekali lagi.

“Damian.”

Pria itu menghentikan langkahnya.

“Jangan sampai Emma terluka hanya karena kita terlalu sibuk menyembunyikan rahasia keluarga ini,” ucap Raina lirih.

Damian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia membuka pintu dan melangkah keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Di ruang makan, Emma masih sibuk menikmati sarapannya sambil sesekali mengajak Sonia mengobrol. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa namanya baru saja menjadi topik pembicaraan serius di ruangan lain.

“Kau jangan ke mana-mana. Tunggu aku di sini. Biar aku saja yang membelikan makanan itu untukmu,” ujar Damian sambil merapikan ujung jasnya.

Emma yang sudah bersiap hendak pergi langsung mengerutkan kening.

“Lho, kenapa? Aku ingin keluar!” tolaknya sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Damian menoleh, menatap istrinya dari balik topeng hitam yang selalu menutupi wajahnya.

“Emma, jangan membuatku mengulang perkataanku. Kau tunggu di sini dan biarkan aku yang membelinya,” perintah Damian dengan nada dingin.

“Tapi, aku ingin ikut! Aku juga mau memilih sendiri martabak yang aku suka. Memangnya kau tahu martabak kesukaanku?” bantah Emma, tak mau kalah.

Damian mengembuskan napas kasar. Entah sudah berapa kali ia harus berdebat dengan perempuan yang satu ini sejak mereka menikah.

“Kau ikuti saja apa yang kukatakan, Emma!” bentaknya kesal.

Emma langsung terdiam.

Ia menatap Damian beberapa saat, kemudian melirik topeng hitam yang menutupi wajah pria itu. Entah mengapa, ketika Damian sudah berbicara dengan nada seperti itu, sosoknya terasa berkali-kali lipat lebih menyeramkan.

Emma menelan ludah.

Ya ampun, kenapa suamiku ini kalau marah auranya seperti mau menerkam orang?

“Baiklah, baiklah. Nggak usah marah-marah begitu,” gumam Emma.

Damian mengangguk puas.

“Nah, begitu lebih baik.”

Emma memutar bola matanya begitu pria itu mengalihkan pandangan.

Dasar diktator! Cuma mau beli martabak saja harus pakai acara melarang segala.

Sementara itu, Damian beralih menatap Sonia yang berdiri tidak jauh dari Emma.

“Sonia,” panggilnya tegas.

Sonia yang sejak tadi hanya bisa menyimak percakapan mereka langsung menegakkan tubuh.

“Y-ya, Tuan?”

“Aku perintahkan kau untuk memastikan nyonyamu tidak keluar dari mansion ini. Jangan biarkan dia melangkahkan kaki ke luar, bahkan satu langkah pun, selama aku pergi. Kau mengerti?”

Sonia mengangguk cepat.

“Baik, Tuan.”

Damian menyipitkan mata di balik topengnya.

“Pastikan kau menjalankan perintahku. Kalau sampai aku tahu kau membiarkannya keluar, kau tahu sendiri akibatnya.”

Wajah Sonia langsung memucat.

“Ba-baik, Tuan. Saya akan memastikan Nyonya tetap di dalam mansion.”

Emma yang mendengar ancaman tersebut sontak menoleh.

“Eh, Damian! Kenapa kau mengancam Sonia segala? Dia itu cuma pelayan, bukan tahananmu!” protesnya.

Damian melirik Emma sekilas.

“Kalau kau bisa diam dan menuruti perkataanku, aku tidak perlu menyuruh Sonia menjagamu.”

“Enak saja! Memangnya aku anak kecil yang harus dijaga dua puluh empat jam?”

“Kalau tingkahmu seperti anak kecil, jangan salahkan aku kalau memperlakukanmu seperti itu.”

Emma langsung membuka mulut, siap melontarkan protes panjang. Namun, melihat Damian sudah bersiap pergi, ia akhirnya hanya mendengus kesal.

“Ck! Menyebalkan!”

Damian memilih mengabaikan gerutuan istrinya dan berjalan menuju pintu.Belum sempat pria itu keluar, suara seseorang terdengar dari arah tangga.

“Ada apa, Sayang?”

Raina berjalan menghampiri mereka dengan ekspresi lembut. Ia melirik Damian, lalu mengalihkan pandangannya kepada Emma yang tampak memasang wajah masam.

Emma langsung menghampiri Raina.

“Mi, lihat, deh! Damian melarangku keluar!” adunya dengan nada manja. “Aku cuma mau membeli martabak, tapi dia malah menyuruhku diam di mansion. Memangnya aku mau kabur ke mana?”

Raina mengangkat alisnya, kemudian menoleh kepada putranya.

“Benarkah begitu, Damian?”

Damian hanya mengangguk singkat.

“Aku hanya ingin memastikan dia tetap di sini sampai aku kembali, Mi.”

Raina kemudian menatap Emma dan mengelus rambut cokelatnya dengan lembut.

“Kalau begitu, kau harus mengikuti perintah suamimu, Sayang.”

Emma langsung melongo.

“HAH? Mami juga membelanya?!”

Raina tertawa kecil melihat ekspresi tidak percaya menantunya.

“Bukan begitu, Sayang. Mami hanya ingin kau belajar menghargai keputusan suamimu. Di keluarga ini, perkataan suami adalah sesuatu yang harus diperhatikan oleh istrinya. Kalau kalian terus bertengkar karena hal-hal kecil, bagaimana kalian bisa belajar hidup bersama?”

Emma mengerucutkan bibirnya.

“Tapi, Mi, aku cuma mau beli martabak!”

“Iya, Mami tahu.” Raina mengusap pipi Emma dengan sayang. “Tapi, kali ini dengarkan dia dulu, ya? Jangan sampai kau malah membuat masalah ketika Damian sedang pergi.”

Emma mendesah panjang.

Ya ampun, kenapa semua orang di mansion ini kompak sekali?

Damian yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka akhirnya menyela.

“Sudahlah, Mi. Vandes sudah menungguku. Aku harus segera pergi.”

Raina mengangguk.

“Baiklah. Hati-hati di jalan, Sayang.”

Damian kemudian menoleh kepada Emma.

“Dan kau, jangan membuat masalah.”

Emma langsung memasang senyum palsu.

“Iya, Tuan Damian yang terhormat. Silakan pergi dengan tenang. Aku akan duduk manis di sini seperti putri kerajaan.”

Damian menatapnya curiga.

“Jangan macam-macam, Emma.”

“Iya, iya!”

Setelah merasa cukup memberikan peringatan, Damian akhirnya melangkah keluar dari mansion.

Begitu suara langkahnya menghilang, Emma langsung mengembuskan napas lega sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

“Ya ampun, akhirnya pergi juga si manusia bertopeng itu!” gerutunya sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

Sonia yang berdiri di dekatnya langsung menoleh dengan wajah panik.

“Nyonya, tolong jangan berbicara seperti itu. Bagaimana kalau Tuan Damian mendengarnya?”

Emma mendengus.

“Memangnya kenapa? Dia sudah pergi, Sonia!”

Raina hanya tersenyum kecil melihat tingkah menantunya. Namun, di balik senyum itu, ia berharap Emma benar-benar menuruti perintah Damian Sebab, ada alasan mengapa putranya begitu bersikeras melarang Emma keluar dari mansion Alasan yang belum bisa mereka ceritakan kepada perempuan itu.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!