NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT: Dua Sisi Koin (Bagian 4)

“Kenapa lemes gitu suaranya?” tanpa perlu menunggu waktu lama, Ara langsung bisa menebak kegelisahanku. Aku mendengus.

“Ian, Chan.”

“Kembaranmu itu? Kenapa sama dia?” tanya Ara lebih jauh. Kudengar ibu Ara menginterupsi teleponku. Beliau hanya berkata ‘oh’ ketika tahu siapa yang menelepon anaknya selepas pukul delapan malam seperti sekarang.

“Ian punya pacar, anak satu divisiku. Dan aku tahu ini adalah pertama kalinya Ian punya pacar.”

“Oh, bagus dong. Lalu apa masalahnya?” baru saja aku akan menjawab pertanyaannya, Ara sudah bersuara lagi.

“Eh, Chan, aku ambil camilan dulu ya? Aku laper,” aku tertawa seketika. Anak ini membuat gemas saja.

“Alright, I’m here. So, what’s the problem?”

“Masalahnya bukan di Ian, tapi di pacarnya, si Sarah. Banyak isu nggak baik soal dia. Aku nggak tahu apa Ian emang belum tahu atau emang sengaja menolak isu-isu itu,” aku membuka cerita.

“Isu kan nggak selalu benar, Chan.”

“I know. Tapi ketua divisiku yang mewanti-wantiku untuk berhati-hati dengannya, Chan. Dulu, Sarah sempat cari perhatian padaku. Setiap hari dia ngintil, selalu minta ditempatkan dalam satu proyek denganku. Andra awalnya diam saja tapi dia tak betah juga. Dia memberitahuku jika Sarah suka gonta-ganti pacar. Hampir semua laki-laki yang tampangnya lumayan di kantor pernah dipacarinya dan mereka akan putus bahkan sebelum gosip pacarannya mereda. Dan Andra berpikir bahwa aku yang sekarang diincar oleh Sarah. Andra baru lega setelah dia tahu aku sudah berpacaran denganmu dan cinta mati padamu.”

“Apa sih! Jangan gombal!” Ara menggerutu. Pasti mukanya sudah memerah.

"Aku bukan menggombal. Ini serius, Chan. Intinya, aku nggak mau Ian dipermainkan oleh wanita seperti dia. Tapi aku nggak tahu gimana caranya menyadarkan Ian. Tadi siang aja aku udah mulai berseteru dengan dia hanya karena aku mengatakan dia bisa dapat perempuan yang lebih baik dibanding Sarah.”

“Ya jelas aja dia marah, Chan. Laki-laki mana yang suka pacarnya dibilang kurang baik? Kalau aku yang diolok seperti itu, emangnya kamu bakal diem aja? Nggak kan?” Ara balik bertanya. Well, she has a point.

“Ya aku bakal marah juga, sih. Tapi, aku cuma pingin Ian buka mata soal pacarnya. Aku nggak mungkin diem aja melihat dia dipermainkan begitu. Apalagi aku tahu riwayat buruk pacarnya itu,” kupejamkan mataku sambil menunggu reaksi Ara.

“Then, we will see,” Ara menjawab beberapa saat kemudian. Aku terkejut. Solusi macam apa ini.

“Maksudmu?”

“Ya kita lihat aja nanti, Chan,” tutur Ara kalem.

“Maksudmu aku nggak usah melakukan apa-apa? Membiarkan apa pun terjadi begitu saja? Nunggu? Kamu pasti bercanda,” ada nada tidak sabar dalam cara bicaraku. Ara tertawa kecil.

“Chan, kita nggak akan pernah tahu apa tujuan Sarah. Bisa aja dia emang udah berubah jadi baik makanya Ian mau pacaran sama dia. Tapi kalau memang dia tetap seperti isu yang beredar, tentu itu nggak bakal bertahan lama. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti dia akan jatuh juga. Begitu pula dengan Sarah. Sepandai apa pun dia berkedok di depan Ian, kamu, dan orang-orang, suatu saat dia pasti akan melakukan kesalahan yang membongkar kedoknya itu sendiri. You just need to be more patient. Trust me!”

...***...

“Kamu di mana?” aku baru akan mengatakan ‘halo’ tapi suara di seberang sudah melempar pertanyaan saja.

“Aku jalan-jalan di Cilaki, kenapa?” jawabku asal sambil meneruskan jilatan pada es krimku.

“Aku samperin. Si Sarah tiba-tiba sakit, acara jalan-jalannya jadi batal. Padahal aku udah siap mau jemput. Sayang kan udah dandan begini tapi nggak jadi keluar.”

“Cih, sialan! Tahu gitu kubilang aja aku di rumah,” suara di seberang tertawa mendengarku.

“Ayolah! Jangan jahat begitu, Zang!” Ian merayu. Kali ini ganti aku yang terbahak.

“Ya udah, cepet ke sini! Keburu panas,” cetusku mengakhiri telepon. Kutarik napas panjang-panjang.

Sudah delapan bulan ini Ian menjalani hubungan dengan Sarah. Dan selama itu pula, aku tidak menemukan kejanggalan pada perempuan yang dikencaninya itu. Kadang dia ikut nimbrung saat aku dan Ian makan siang bersama. Melemparkan satu atau dua candaan pada kami berdua atau hanya diam mendengarkan Ian bercerita mengenai proyek yang sedang diakerjakan saat ini. Yah, mungkin benar kata Ara, siapa tahu dia sudah berubah. Siapa tahu dia sudah jadi baik. Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan dalam berprasangka.

Kulirik jam tanganku. Sudah 15 menit berlalu sejak aku menutup panggilan Ian. Tapi hidung mancung anak itu belum tampak juga. Kuteruskan saja langkahku menyusuri taman bunga ini. Menengok kanan kiri dan mendapati banyak orang yang datang berpasangan. Tak jarang perempuan-perempuan yang sudah datang dengan pasangannya itu mencuri-curi pandang ke arahku sambil tersenyum. Aku memutar bola mataku, jengah. Topi yang kupakai ini ternyata tidak bisa menyembunyikan wajahku sepenuhnya. Mungkin lain kali aku harus memakai topeng agar terlindung dari tatapan penuh godaan seperti itu. Atau kalau perlu aku pakai helm full face saja sekalian.

Aku baru sampai di bagian taman yang ditumbuhi amarilis saat aku merasa mengenali punggung seseorang yang duduk tak jauh dari tempatku berdiri.

Kayak kenal. Siapa ya?

Aku baru akan mengacuhkan wanita itu saat kulihat ada laki-laki yang datang menghampirinya. Aku langsung mengenali laki-laki itu. Aku ingat Ian pernah mengenalkannya padaku sebagai anak magang yang bekerja dengannya di proyek terbaru divisi programming. Kalau tidak salah namanya Satrio.

Oh, lagi kencan rupanya.

“Sayang, kok lama?” tanya wanita itu pada si laki-laki. Dia membalikkan tubuhnya ke arahku dan aku langsung terperanjat.

Shit! Sarah???

Kulangkahkan kakiku menjauh dari tempat mereka berduaan. Dengan panik kupencet nomor telepon Ian.

“Kamu di mana?” tanyaku tidak sabar. Ian malah terkekeh.

“Segitu nggak sabarnya apa? Aku baru nyampe, ini par...”

“Buruan ke bagian taman sebelah utara. Buruan!!!” kututup langsung teleponku sebelum Ian sempat bertanya lebih jauh. Aku mondar-mandir seperti orang kesetanan. Ara lagi-lagi benar. Sepintar-pintarnya Sarah menyembunyikan kedok, sepintar-pintarnya dia berbohong, dia pasti akan melakukan kesalahan juga. Shit! Tetap saja ini di luar perkiraanku.

Pikiranku masih berkecamuk ke sana-kemari saat Ian tiba dengan raut penuh tanda tanya. Kutarik lengannya tanpa banyak bicara.

“Kamu kenapa sih?” Ian mengikutiku dengan pasrah. Aku tetap diam, berjalan cepat-cepat ke tempatku tadi. Lalu kutunjuk wanita yang ada di bangku dekat bunga amarilis.

“Are you sure she’s sick?” aku menahan amarahku sampai gigiku sendiri bergeretak. Ian masih menyipitkan matanya sejenak sebelum menyadari apa yang kumaksud. Ya, dari pandangan matanya aku tahu itu memang Sarah. Dengan langkah lebar Ian langsung berjalan ke arah pacarnya itu. Sarah langsung menjatuhkan minuman yang dia bawa begitu melihat Ian. Wajahnya sarat banyak hal. Panik, takut, bingung, atau bayangkan saja semua perasaan yang akan muncul ketika kamu ketahuan selingkuh. Kuputuskan untuk memanggil Satrio yang sepertinya hanya bengong melihat kedua seniornya itu.

“Satrio!” kulambaikan tanganku ke arahnya. Dia makin bingung melihatku ada di sini, memanggilnya. Meskipun ragu, dia menghampiriku juga.

“Kamu pacaran sama Sarah?” tanyaku to the point. Bocah itu mengangguk. Fuck!

“Kamu nggak tahu kalau Sarah pacarnya Ian?”

“Bukannya udah putus, Kak?” pertanyaan itu membuatku terkejut untuk ke sekian kalinya. Aku mengusap wajahku sebelum mulai berbicara lagi.

“Kalau mereka udah putus, Ian nggak mungkin semarah itu lihat kalian berdua jalan,” pernyataanku kali ini membuat raut wajah Satrio berubah. Akhirnya dia sadar juga kalau dia ada di posisi yang salah.

“Udah jalan berapa lama?” pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling membuatku takut. Karena semakin lama mereka menjalani hubungan ini, berarti semakin lama juga aku dan Ian dibodohi oleh Sarah.

“Dua bulan, Kak,” Satrio menjawab dengan takut-takut. Oh, man! Ini keterlaluan. Aku baru akan menasihatinya ketika kulihat Ian akan menampar Sarah. Aku buru-buru berlari.

“Hey, hey! Take it easy man!”

“Tapi dia keterlaluan, Zang!” Ian ngotot.

“Iya, iya, aku paham. Tapi menampar dia juga bukan hal yang bijak. Semuanya udah telanjur terjadi, nggak bakal bisa balik seperti sedia kala. Udahlah kita cabut aja. It’s done here,” kutoleh Sarah yang terduduk lemas sambil menangis. Oh, not that crocodile tears!

Aku dengan segera menarik lengan Ian untuk menjauh. Dia bergeming. Menatap kosong ke arah Sarah. Lalu kuseret dia dengan paksa dan akhirnya dia menyerah. Dia mengikutiku dengan pandangan kecewa dalam pelupuk matanya. Yeah, no doubt it hurts.

“Selesein masalahmu sama Sarah. Aku sama Ian cabut dulu,” kutepuk bahu Satrio yang ternyata masih mematung di tempatku meninggalkannya. Satrio mendongak dan memberikan tatapan penuh minta maaf padaku. Dia melirik Ian yang enggan menatapnya. Aku tersenyum kecut.

“He’ll be fine,” ucapku menenangkan. Padahal aku sendiri tak yakin bagaimana akan menenangkannya. Memulai pembicaraan dengan Ian saja aku tak tahu.

Kukedikkan daguku pada Satrio sebagai tanda pamit. Dia mengangguk lemah. Kuambil napas panjang sembari merengkuh bahu Ian erat-erat. Aku tak berani menghujaninya dengan petuah sok ‘kamu akan baik-baik saja’. Jadi, kubiarkan saja dia merenung dalam-dalam di pikirannya. Kami pun berjalan dalam diam. Dalam setapak yang mulai disebari daun-daun kering musim kemarau. Yang berguguran perlahan. Yang layu seperti hati milik Ian.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!