Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINTA YANG TAK BISA DIHAPUS
Penjaga Tinta Emas melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan tetesan cairan emas yang membeku di lantai batu, berubah menjadi jarum tajam yang menunjuk ke arah Xuanyuan. Ruangan itu terasa semakin sempit, seakan dinding-dinding istana kuno itu sendiri ikut menekan mereka.
"Matamu itu... tidak seharusnya ada di sini," suaranya bergema, tidak dari mulutnya, tapi dari setiap tetes tinta di udara. "Dia memastikan tidak ada yang membawa cahaya ke tempat ini. Kau melanggar hukum yang tertulis sejak awal."
Xuanyuan tidak mundur. Ia berdiri di depan meja batu tempat gulungan-gulungan kosong tergeletak. Di matanya, dua lingkaran hitam-perak berputar perlahan, tenang namun tajam seperti pisau yang diasah ribuan tahun.
"Hukum yang ditulis oleh seorang penakut," katanya. Suaranya rendah, namun memenuhi seluruh aula. "Hukum yang berdiri di atas kuburan mereka yang berani menulis kebenaran."
Penjaga itu menggerakkan tangan. Ribuan jarum tinta melesat sekaligus cepat, mematikan, tanpa suara.
Lian Yue hendak melangkah maju, tapi Xuanyuan mengangkat satu tangan, menahannya.
"Jangan," katanya pelan. "Ini pertarunganku."
Ia tidak mengelak. Ia tidak mengangkat pedang. Ia hanya menatap lurus ke depan, dan di detik yang sama, Pupil Gandanya membelah ruang di depannya.
Semua jarum itu berhenti.
Berhenti di udara, satu jari dari kulitnya. Tetesan tinta emas yang tajam itu gemetar, seakan ketakutan.
"Aku melihatnya," kata Xuanyuan, matanya menembus wujud penjaga itu. "Aku melihat siapa kau sebenarnya. Kau bukan penjaga. Kau adalah sisa-sisa tinta yang digunakan untuk menghapus orang tuaku. Kau adalah bagian dari kejahatan yang dia tinggalkan di sini untuk menjaga rahasianya."
Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat tubuh penjaga itu meleleh sedikit lagi.
"Dan kau tahu apa yang paling menyedihkan? Kau tidak pernah bebas. Kau hanya alat. Dan sekarang... alat itu tidak lagi punya tuan."
Penjaga itu meraung suara tinta yang mendidih, suara kemarahan yang terpendam ribuan tahun. Tubuhnya melebar, membanjiri ruangan, mencoba menelan Xuanyuan dalam lautan emas yang pekat.
Tapi Xuanyuan hanya mengulurkan tangan kirinya. Di telapak tangannya, tidak ada cahaya yang meledak. Tidak ada ledakan yang mengguncang langit. Hanya satu tetes cairan hitam pekat yang jatuh dari matanya lebih gelap dari malam, lebih dalam dari jurang.
Cairan itu menyentuh lautan emas itu.
Dan tinta emas itu lenyap.
Bukan dihancurkan. Bukan diusir. Ia hanya... berhenti ada. Seakan ia tidak pernah benar-benar nyata.
Penjaga itu tersisa hanya sebagai wujud samar, gemetar di tengah ruangan yang kembali tenang.
"Mustahil... tinta-Nya tidak bisa dihapus..."
"Kau salah," kata Xuanyuan lembut namun tegas. "Tinta bisa dihapus. Tapi darah tidak bisa. Dan ini... ini bukan tinta. Ini adalah ingatan yang lebih tua dari tulisan apa pun."
Ia melangkah maju sampai berdiri tepat di depan sisa-sisa penjaga itu.
"Kau bukan musuhku. Kau adalah saksi. Kau melihat apa yang terjadi di sini ribuan tahun lalu. Dan kau diam. Karena dia memaksa kau diam. Sekarang... beri aku sisa ingatan yang kau simpan. Lalu beristirahatlah."
Penjaga itu gemetar hebat. Lalu perlahan, wujudnya runtuh, bukan menjadi tinta, melainkan menjadi ribuan bayangan gambar yang melayang di udara. Gambar-gambar yang tidak bisa ditulis, hanya bisa dilihat:
Dua sosok berdiri di gerbang istana, memeluk bayi di antara mereka. Mereka tidak menangis. Mereka tersenyum senyum yang berat, senyum yang penuh pengorbanan. Pria itu menempelkan segel ke dahi anaknya. Wanita itu memecahkan cermin menjadi dua, menyelipkan satu bagian ke kain pembungkusnya. Lalu mereka berdua berbalik, menghadapi langit yang mulai gelap, dan berjalan masuk ke dalam cahaya yang menelan mereka utuh.
Tidak ada kata perpisahan. Tidak ada pidato terakhir. Hanya satu hal yang pria itu lakukan sebelum lenyap ia menoleh ke belakang, ke arah tempat bayi itu ditinggalkan, dan mengangguk pelan. Seakan berkata: "Sampai jumpa, anakku. Sampai kita bertemu lagi di halaman yang belum ditulis."
Gambar-gambar itu memudar. Satu per satu. Hingga yang tersisa hanyalah sebutir butir emas kecil yang jatuh perlahan ke telapak tangan Xuanyuan. Dingin, ringan, dan tenang.
"Terima kasih..." bisik suara yang terakhir kali, lalu lenyap sepenuhnya.
Xuanyuan menggenggam butir emas itu. Di dalamnya, ada satu nama yang terukur sangat halus nama yang tidak pernah dia dengar, tapi langsung dia kenal.
LIU YAN - ayahnya.
SU YIN - ibunya.
Dia mengucapkan nama itu dalam hati, dan rasanya seperti meminum air dari mata air yang telah kering ribuan tahun. Dalam sekejap, semua rasa sendirian yang selama ini dia pikir adalah takdir lenyap. Dia tidak pernah sendirian. Dia selalu dibawa dalam hati dua orang yang memilih pergi agar dia bisa hidup.
Lian Yue berdiri di sampingnya, matanya basah. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menyentuh bahu Xuanyuan dengan lembut.
Xuanyuan menoleh padanya. Matanya masih basah, tapi tatapannya bukan tatapan anak yang kehilangan. Itu tatapan seseorang yang akhirnya tahu siapa dia.
"Mereka tidak dihapus," katanya pelan, tapi penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Nama mereka ada di sini. Di dalam diriku. Dan selama aku bernapas... mereka tidak akan pernah hilang lagi."
Ia menatap ke luar aula, ke arah langit yang biru jernih, ke arah istana terapung yang jauh lebih tinggi istana tempat Sang Pengawas duduk menulis akhir cerita yang dia rencanakan.
"Sang Pengawas pikir dia menghapus mereka. Tapi dia hanya menunda pertemuan kita. Dan sekarang... aku datang. Bukan untuk membalas dendam. Tapi untuk mengambil kembali apa yang selalu milik kami."
Dia melangkah keluar dari aula reruntuhan itu. Di belakangnya, gulungan-gulungan kosong di atas meja batu tiba-tiba bergerak sendiri. Satu per satu, huruf-huruf muncul di atasnya ditulis bukan dengan tinta emas, tapi dengan cahaya yang memancar dari tubuh Xuanyuan yang menjauh.
Di halaman pertama, tertulis:
BAB PERTAMA: ANAK YANG TIDAK DIHAPUS
Penulis: Liu Yan & Su Yin dan anak mereka, Xuanyuan
Dan di halaman terakhir, satu kalimat yang mengguncang seluruh fondasi Langit Abadi:
"Cerita tidak berakhir ketika penulisnya mati. Cerita berakhir ketika pembaca berhenti percaya. Dan kami... belum selesai bercerita."