NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Syarat Investor Misterius

Pagi berganti dengan kabut tebal kegelisahan yang membungkus rumah kontrakan keluarga Rosma. Tidak ada lagi gelak tawa atau keangkuhan yang membalut meja makan. Surat eksekusi penyitaan dari bank swasta telah menempel di pintu depan, memberikan batas waktu hingga pukul dua belas siang sebelum seluruh sisa harta mereka disita tanpa sisa.

Hendra terduduk di lantai dengan kemeja yang tak lagi dikancingkan rapi, menatap kosong ke arah deretan dokumen kebangkrutan. Sementara itu, Ibu Rosma terus memegangi dadanya yang sesak, meratapi nasibnya yang terancam menjadi pengemis di usia tua. Dion hanya bisa menyandarkan punggungnya di dinding, kehilangan seluruh kata-kata sombong yang biasa ia lontarkan.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pintu yang teratur dan penuh wibawa seketika memecah keheningan yang mencekik. Dion melompat kaget, membukakan pintu dengan tangan gemetaran.

Di ambang pintu, berdiri dua pria berjas hitam rapi dengan tas dokumen kulit premium di tangan mereka. Pria di depan—seorang utusan senior dari divisi hukum Pradipta Group—menatap keluarga itu dengan pandangan dingin tanpa emosi.

"Apakah ini kediaman keluarga Ibu Rosma dan Bapak Hendra Wijaya?" tanya utusan itu dengan suara tegas.

"I-iya, Benar!" sahut Hendra tergesa-gesa, merangkak bangkit dari lantai seraya menghampiri pria tersebut. "Saya Hendra Wijaya! Apakah... apakah ada kabar dari Pradipta Group?!"

Utusan itu melangkah masuk tanpa menunggu diundang, meletakkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam berlapis segel emas di atas meja kayu.

"Dewan Komisaris Pradipta Group telah meninjau ulang permohonan penyertaan modal darurat untuk menutup seluruh utang dan menyelamatkan aset usaha Anda," ujar utusan itu datar. "Pimpinan tertinggi kami telah menyetujui kucuran dana segar sebesar seratus miliar rupiah."

DEG!

Ibu Rosma seketika berdiri, matanya berbinar terang seraya mengusap air matanya. "Seratus miliar?! Ya Tuhan! Kami selamat! Hendra, kita selamat!"

"Tapi ada syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat," potong utusan itu dengan nada membekukan, mematikan euforia singkat di ruangan tersebut.

Hendra menelan ludah, dadanya berdebar kencang. "S-syarat apa, Pak?"

Utusan itu membuka lembar pertama dokumen perjanjian. "Seluruh kepemilikan aset, sertifikat tanah toko kelontong, rumah kontrakan, serta lima puluh satu persen saham utama perusahaan Hendra Wijaya harus balik nama secara hukum atas nama utusan resmi Pradipta Group. Keluarga Anda hanya diberi hak mengelola dengan pengawasan ketat dari auditor kami."

Wajah Rosma seketika pucat kembali. "Apa?! Itu artinya seluruh harta kami pindah tangan ke pihak Pradipta Group?!"

"Pilihan ada di tangan Anda, Ibu Rosma," sahut utusan itu dingin seraya melirik jam tangannya. "Tandatangani dokumen ini sekarang, atau dalam waktu tiga puluh menit seluruh juru sita bank akan mengosongkan rumah ini dan menyeret Bapak Hendra ke jalur hukum atas kasus penipuan modal."

Hendra gemetaran hebat. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyambar pena di atas meja. "Saya setuju! Saya setuju! Daripada saya masuk penjara!"

Di dalam kamar sempitnya, Clarissa berdiri membisu di dekat jendela, mendengarkan proses penandatanganan dokumen di ruang tamu. Wajahnya pucat, mata bahagianya yang dulu hangat kini meredup dalam kehampaan.

Meskipun ancaman kebangkrutan keluarga telah terangkat, hati Clarissa sama sekali tidak merasakan kebahagiaan. Pria misterius yang memegang takhta tertinggi Pradipta Group itu telah menyelamatkan keluarganya, namun dengan cara melucuti seluruh kekuasaan dan kesombongan ibunya secara mutlak.

Siapakah sosok Presdir misterius itu sebenarnya?

Clarissa perlahan berjalan menuju kasur busanya, mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas. Pikiran liar dan desas-desus yang pernah didengarnya di restoran kemarin malam mulai menari-nari di benaknya. Beberapa rumor menyebutkan bahwa pimpinan Pradipta Group adalah seorang pria muda yang memiliki postur tubuh amat tegap, berwibawa tinggi, dan memiliki garis wajah yang amat tegas.

Clarissa memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan akan sosok sang Presdir misterius mendadak berbaur erat dengan ingatan fisiknya tentang Rendy.

Dalam lamunan remang kamarnya, Clarissa membayangkan sosok Presdir agung itu berdiri di kegelapan, memiliki perawakan tubuh yang persis setinggi Rendy—bahu kokoh yang tegap, dada bidang yang keras, serta aroma intimidasi yang begitu dominan.

Clarissa meremas kain gaunnya, merasakan desir panas yang mendadak menyusup ke dalam aliran darahnya. Ia teringat bagaimana Rendy selalu menguasainya di atas kasur sederhana ini. Cara Rendy menekan kedua pergelangan tangannya di atas bantal, bisikan napas hangatnya yang memburu di lehernya, serta ritme sentuhan suaminya yang sengapik dan memabukkan saat membawa tubuhnya menyentuh puncak kepasrahan di malam-malam dingin.

Sensasi ingatan gairah itu terasa begitu nyata, membuat napas Clarissa terengah halus di dalam kamar yang hening. Pipinya memerah hangat, dadanya membusung halus menyelaraskan detak jantungnya yang memacu liar.

Apakah Presdir misterius itu... memiliki kehangatan dan ketegasan yang sama saat menguasai seorang wanita di atas ranjang seperti yang biasa dilakukan Rendy padaku? bisik batin Clarissa dengan kepasrahan yang menyiksa.

Kehangatan ingatan itu seketika sirna digantikan rasa bersalah yang luar biasa dahsyat. Clarissa membuka matanya, menangis sesenggukan seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa rindunya pada Rendy telah berubah menjadi rasa sakit yang membakar jiwanya setiap detik.

Di ruang tamu, proses penandatanganan berkas telah selesai. Hendra menyapu keringat dingin di dahinya, sementara Rosma terduduk lesu menatap lembar salinan perjanjian yang telah menyita seluruh harga diri keluarganya.

"Semua dokumen hukum telah sah," kata utusan Pradipta Group seraya merapikan berkas ke dalam tas kulitnya. "Dana bantuan sebesar seratus miliar rupiah telah ditransfer ke rekening penampungan untuk melunasi seluruh utang Anda."

"Terima kasih... terima kasih banyak, Pak," gumam Hendra dengan suara pasrah.

Dion yang berdiri di dekat meja memberanikan diri bertanya, "Pak... kalau boleh tahu, siapa nama pimpinan tertinggi Pradipta Group yang sudah menyetujui investasi ini? Apakah kami bisa bertemu beliau untuk mengucapkan terima kasih secara langsung?"

Utusan itu menghentikan gerakannya sejenak, lalu menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius.

"Bapak Presdir tidak menerima audiensi dari pihak Anda," sahut utusan itu tegas. "Namun, beliau telah membubuhkan tanda tangan persetujuan resmi di lembar dokumen terakhir."

Utusan tersebut mengambil selembar surat kesepakatan investasi dari tasnya, lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Rosma, Dion, dan Hendra.

"Ini adalah bukti pengesahan investasi Anda," tambah utusan itu sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar rumah.

Rosma dan Hendra segera mendekat, menatap lembaran kertas tebal berstempel timbul emas tersebut dengan napas tertahan.

Di bagian paling bawah kertas, tepat di atas kolom tanda tangan Pemilik Kuasa Tertinggi Pradipta Group, terukir sebuah tanda tangan garis tegap yang sangat tegas dan berwibawa. Dan tepat di bawah goresan tinta hitam itu, tertera nama inisial pemegang kekuasaan mutlak tersebut:

R. P.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!