NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG TERBAGI DUA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 18: Malam yang Terbagi Dua

Tepat pukul sepuluh malam, Jaka menyudahi pembacaan mantranya. Kertas berbalut kain hitam pemberian Mbah Usman ia lipat rapi dan diselipkan kembali ke bawah bantalnya. Napasnya masih memburu, tenggorokannya terasa kering, namun senyum miring perlahan terukir di bibirnya. Ada kepuasan aneh yang muncul setiap kali ia selesai membaca mantra itu.

Namun, lamunan indahnya kembali buyar oleh kenyataan pahit yang membentang di depan mata. Ia harus segera kembali ke gubuk Mbah Usman dengan membawa seekor ayam cemani sebagai syarat terakhir untuk menjerat hati Dea.

"Aduh, harus ke mana aku mencari uang?! Upahnya saja kemarin habis dua juta rupiah, belum lagi ayam cemani yang harganya bisa mencapai ratusan ribu! Harus ke mana aku mencari ayam se-langka itu?!" gerutu Jaka frustrasi seraya mencengkeram rambutnya kuat-kuat.

Ia bangkit dari ranjang, mondar-mandir dua-tiga langkah di ruang sempit itu, lalu berhenti tepat di depan cermin retak yang tergantung di dinding kamarnya. Rahangnya mengeras memandangi pantulan dirinya sendiri, sebelum akhirnya meninju pelan bingkai cermin itu—cukup keras untuk melampiaskan kesal, tidak cukup keras untuk memecahkannya.

Suasana di dalam kamar sederhana itu terasa sangat menekan Jaka, udara di sekitarnya seolah menipis. Hawa dingin malam perlahan lenyap, berganti dengan panas yang mengimpit—seperti ruangan kecil itu mendadak dipenuhi banyak sosok yang tak kasat mata.

Karena merasa kepanasan di dalam kamar, Jaka memutuskan untuk mencari udara segar di teras rumah. Namun sebelum melangkah ke depan, ia mampir dulu ke dapur untuk menyeduh secangkir kopi hangat yang akan menemaninya melewati malam yang kian sunyi. Rumah sudah gelap dan sepi; hanya suara jangkrik dari halaman yang terdengar samar lewat jendela dapur.

Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda, Kiki justru tengah bersenang-senang bersama kekasihnya, Ayu, memakai uang hasil memotong upah pengantaran Jaka. Lampu-lampu kafe berkedip warna-warni, musik pelan mengalun dari pengeras suara di sudut ruangan. Dua sejoli itu terlihat asyik menikmati hidangan di sebuah kafe tak jauh dari tempat tinggal mereka, tanpa menyadari bayang-bayang kelam yang mulai mengintai.

"Beb! Kamu tahu masalah Jaka tidak? Aku merasa ada yang aneh dengan dia," tanya Ayu seraya meletakkan sendok di tangannya, jarinya mengetuk-ngetuk tepi piring tanpa sadar.

Mendengar pertanyaan itu, Kiki bergegas menelan makanan di mulutnya. "Aneh kenapa? Sejak kapan kamu peduli sama Jaka?" tanya Kiki balik.

Ayu menghela napas panjang sebelum kembali mengutarakan kecurigaannya. "Gini, Beb! Satu hari yang lalu Jaka menyuruh aku menjual cincin, katanya sih disuruh ibunya. Tapi aku masih curiga, dari mana dia dapat cincin itu? Apa itu cincin ibunya yang dia curi?" jelas Ayu.

Mendengar pernyataan itu, Kiki mendadak tersedak hingga terbatuk-batuk karena kaget. Ia buru-buru menyambar gelas air putih, menenggaknya dua-tiga teguk sambil matanya berkeliaran ke mana saja asal tidak ke arah Ayu.

"Hah? Mencuri?! Jangan asal ngomong kamu, Beb! Mungkin memang benar disuruh ibunya. Sudahlah, ngapain juga mengurusi Jaka? Biarkan saja, mau dia begini atau begitu juga urusan dia, bukan urusan kita," protes Kiki seraya terburu-buru meneguk minuman di depannya, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Pantas saja cepat sekali si Jaka dapat uang dua juta... ternyata itu hasil mencuri cincin ibunya!" gumam Kiki dalam hati, menyimpulkan sendiri tanpa mau bicara lebih jauh.

Mendapati protes keras dari Kiki, Ayu tak berani menjawab lagi. Ia khawatir kalau percakapan itu diperpanjang, justru akan merusak hubungannya dengan Kiki. Ayu akhirnya hanya bisa menunduk dan melanjutkan makan dalam diam, memutar-mutar sendoknya di piring tanpa benar-benar menyuap makanan.

"Beb, habis ini mau ke mana lagi? Mumpung aku lagi ada rezeki," tanya Kiki mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku mau pulang saja, Beb! Ini sudah terlalu malam, nanti Ibu dan Bapak marah lagi dan aku tidak diperbolehkan keluar malam lagi," sahut Ayu.

"Ya sudah, kapan-kapan lagi saja. Aku antar pulang, ya?" pinta Kiki.

"Ya harus dong, Beb! Kamu ini bagaimana sih, masa aku disuruh jalan kaki ke rumah?" sahut Ayu seraya memukul manja lengan Kiki.

Kiki hanya terkekeh puas menikmati sikap manja kekasihnya itu.

Malam itu pun berakhir penuh tawa dan canda, sebelum akhirnya Kiki mengantarkan Ayu pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan, Kiki masih memikirkan cincin yang disebut Ayu tadi, jarinya mengetuk-ngetuk setang motor tanpa ia sadari, tapi ia buru-buru menepis pikiran itu—toh bukan urusannya.

Di tempat terpisah, Dea masih terus berjuang melawan kegelisahan di pikirannya. Pengaruh pelet itu kian gencar menggerogoti sisa-sisa nurani dan iman yang masih melekat erat di dalam dirinya. Jari-jarinya mencengkeram ujung mukena yang tergeletak di sisi ranjang, seolah kain itu satu-satunya pegangan yang tersisa.

"Ya Allah, kenapa aku jadi begini?! Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini dari segala macam marabahaya yang menyelimuti hamba... Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadz dzalimiin...." (Artinya: "Bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." — QS. Al-Anbiya ayat 87) "...Aamiin," seru Dea lirih, bibirnya terus bergerak merapal doa itu berulang-ulang meski suaranya nyaris tak terdengar lagi. Keringat dingin membasahi dahinya, sementara tangannya gemetar memegang ujung selimut.

Alhamdulillah, setelah Dea merapalkan doa itu, beberapa menit kemudian pikiran dan perasaannya terasa jauh lebih tenang dibandingkan sebelum ia memohon pertolongan dari Sang Pencipta.

Merasa kesadarannya telah pulih, Dea bergegas berbaring dan memejamkan mata untuk melupakan kepedihan yang baru saja menimpanya. Ia menyerahkan jiwanya pada lelapnya mimpi, seraya berharap besar agar kejadian mengerikan itu tak akan pernah terulang lagi di kemudian hari.

Dea belum tahu saja, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!