NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN MENURUN

Pagi di Sekte Awan Langit selalu dimulai dengan kabut yang tebal, seakan gunung ini malu memperlihatkan apa yang terjadi di dalamnya.

Liu Xuanyuan berdiri di depan gerbang utama, menyapu daun kering yang menumpuk di batu-batu tua. Tangannya kasar, kukunya hitam berlumuran tanah. Pakaian kelabunya bertambal di siku dan lutut. Kain mantra hitam di matanya terikat rapi, tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi di baliknya.

"Lihat, si penjaga gerbang sudah sibuk sejak fajar."

Suara tawa terdengar di belakangnya. Xuanyuan tidak menoleh. Dia tahu siapa itu murid-murid sekte yang baru selesai berlatih. Mereka berjalan berkelompok, jubah putih bersih, pedang di pinggang berkilauan.

"Xuanyuan, kapan kau akan berhenti menyapu dan mulai berlatih? Oh, lupa kau tidak punya bakat. Sepuluh tahun di Pembersihan Jasad tingkat satu. Memalukan."

Sebuah biji buah menghantam bahunya. Tawa semakin keras. Xuanyuan terus menyapu. Napanya teratur. Dia sudah belajar satu hal sejak kecil: kemarahan tanpa kekuatan hanya akan membuat lukamu semakin dalam.

Tapi hari ini, sesuatu berbeda.

Saat dia menunduk, pandangannya jatuh ke cincin perak tua di jari telunjuknya. Terlihat polos, kusam, tidak ada yang akan menoleh sekalipun melihatnya. Tapi semalam... semalam suara itu berbicara kepadanya.

"Anakku, kau bukan tidak berbakat. Kau adalah yang paling berbakat. Hanya saja, kekuatanmu disegel terlalu rapat."

Jantungnya berdebar pelan. Dia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali.

"Biarkan mereka tertawa," bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Suatu hari, mereka akan berlutut meminta maaf. Dan aku akan membiarkan mereka menunggu."

"Kau bergumul apa, cacat?" Salah satu murid berbalik, alisnya terangkat. "Berani-beraninya kau berbicara sendiri saat kami lewat?"

Dia melangkah maju, hendak mendorong Xuanyuan. Tapi saat matanya bertemu dengan kain hitam yang menutupi mata kirinya Xuanyuan, langkahnya terhenti.

Ada sesuatu di sana. Kesunyian yang berat. Seperti berdiri di tepi jurang yang tidak berdasar.

"Aku..." Murid itu menelan ludah, tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Lupakan saja. Bersihkan gerbang itu dengan benar, kalau tidak, kau tidak dapat nasi hari ini."

Mereka pergi dengan terburu-buru. Xuanyuan tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Pupil Gandanya belum terbuka sepenuhnya, tapi sekilas saja sudah cukup membuat mereka takut tanpa tahu alasannya.

Siang hari, dia pergi ke dapur belakang untuk mengambil nasi sisa. Perutnya keroncongan. Di sana, di antara tumpukan kayu bakar, dia melihat Lian Yue.

Gadis itu sedang memilah tanaman obat, jubah hijaunya sederhana namun bersih. Dia bukan murid inti, tapi juga bukan pelayan seperti dirinya. Dia adalah murid dari Sekte Obat, sekte kecil yang menumpang di gunung ini.

Lian Yue mengangkat kepalanya saat melihatnya. Matanya yang lembut menyipit senyum.

"Xuanyuan. Kau terlambat hari ini."

"Murid-murid inti menghalangi jalan," jawabnya pelan, duduk di batu datar di seberangnya.

Dia mengulurkan bungkusan kecil. Di dalamnya ada dua butir pil sederhana dan sepotong roti kering.

"Ini untukmu. Pil ini tidak banyak, tapi bisa membantu membersihkan lelah di tubuhmu."

Xuanyuan menerimanya dengan hati-hati. Tangannya yang kotor hampir menyentuh jari gadis itu, tapi dia menariknya kembali. Dia tidak ingin mengotori dia.

"Terima kasih, Lian Yue. Kau selalu baik padaku. Padahal semua orang menjauh."

Lian Yue menunduk, memilin ujung jubahnya. Ada sesuatu yang berat di matanya.

"Aku tidak menjauh karena... aku merasa kita sama. Seperti ada sesuatu yang selalu mengawasi kita dari tempat yang tidak bisa kulihat." Dia berhenti, lalu menatapnya lurus. "Xuanyuan... kau percaya takdir?"

Dia terdiam. Pertanyaan itu terasa berat, seperti batu yang jatuh perlahan ke dalam sumur dalam.

"Aku percaya pada apa yang bisa kuubah. Yang lain... belum tahu."

Lian Yue mengangguk pelan, seakan jawaban itu mengkonfirmasi sesuatu yang sudah dia duga. Dia mengeluarkan benda kecil dari saku separuh cermin kaca yang retak, berkilauan lembut meski pecah.

"Ibu meninggalkan ini padaku. Katanya, ada separuh lagi yang harus dijaga seseorang lain. Aku selalu merasa... separuh lainnya itu milikmu."

Xuanyuan menatap cermin itu. Jantungnya berdegup kencang. Cincin di jarinya terasa hangat seketika.

"Cermin Retak..." Suara Lang Wuyan berbisik di dalam pikirannya, gemetar. "Itu peninggalan ibumu. Dia membaginya menjadi dua agar tidak ada yang bisa menyatukan kekuatan itu terlalu cepat. Anakku... pertemuan ini bukan kebetulan."

"Tapi aku tidak memilikinya," katanya pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Suatu hari nanti, kau akan menemukannya. Dan saat itu tiba... semoga kau siap menanggung apa yang datang bersamanya." Lian Yue menyimpan kembali cermin itu, lalu berdiri. "Aku harus pergi. Guru memanggil. Hati-hati, Xuanyuan. Angin di gunung ini mulai berubah arah."

Dia pergi meninggalkannya sendirian di antara tumpukan kayu. Xuanyuan menatap punggungnya yang menghilang di balik pepohonan, lalu menunduk ke cincin di jarinya.

"Lang Wuyan," bisiknya pelan. "Siapa ibuku? Siapa ayahku? Dan kenapa semua hal ini terhubung denganku?"

Suara itu terdengar setelah jeda panjang, berat dan sedih.

"Semua pertanyaan itu akan terjawab. Tapi bukan sekarang. Saat ini, kau harus melakukan satu hal dulu — kau harus mulai berlatih. Dengan benar. Bukan sampah teknik pernapasan yang diberikan sekte ini. Itu hanya cukup untuk menumbuhkan rumput, bukan untuk membangkitkan Benih Primordial di dalam dirimu."

Xuanyuan mengepalkan tangannya. Pil pemberian Lian Yue masih terasa hangat di telapak tangannya.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Malam ini, saat bulan berada di puncaknya, datanglah ke Lembah Mayat di belakang gunung. Di sana ada jejak yang ditinggalkan leluhurmu. Dan di sana... kau akan mengambil langkah pertama untuk berhenti menjadi penyapu gerbang, dan mulai menjadi apa yang ditakuti Langit sejak awal penciptaan."

Sore itu, awan hitam berkumpul di atas Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu, bahwa malam ini — seorang anak yang dianggap sampah akan berjalan menuju tempat yang dilarang semua orang. Dan takdir seluruh alam semesta perlahan, namun pasti, mulai berubah arah.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!