NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN DI LUAR PELAJARAN SD

BEL SENG SD NEGERI NO. 1 PANDE SIKEK - 1972

Bel seng SD Negeri No. 1 Pande Sikek itu dipukul.

Tong... tong... tong...

Bukan bel listrik seperti di sekolah-sekolah kota di Padang Panjang yang sudah ada listriknya. Ini hanya seng bekas, potongan drum minyak tanah yang sudah penyok-penyok, pinggirnya berkarat, digantung dengan kawat berduri di tiang bambu di depan kelas. Dipukul pakai kayu pemukul lesung yang gagangnya sudah halus dan hitam karena pegangan tangan ribuan murid. Bunyinya tidak nyaring. Bunyinya berat, parau, memantul-mantul di antara dinding-dinding papan yang sudah dimakan rayap, lalu jatuh ke bawah, ke lembah, sampai ke bengkel-bengkel ukir di bawah sana, bercampur dengan suara pahat yang beradu dengan kayu surian. Tok... tok... tak...

Anak-anak berhamburan.

Seperti burung pipit yang dilepas dari sangkar. Kaki-kaki nyeker yang pecah-pecah karena dinginnya tanah Gunung Singgalang, karena embun pagi yang menusuk sampai ke tulang, berlari di tanah berdebu yang bercampur serutan kayu halus. Serutan kayu surian itu beterbangan kalau tertiup angin gunung. Teriakan, tawa, rebutan kelereng dari tanah liat yang dibakar, rebutan layang-layang kertas semen yang putus dan jatuh di pematang sawah. Debu naik seperti kabut.

Arya Arsyad Sikumbang tidak ikut berlari.

Ia masih duduk di bangku paling belakang, bangku kayu surian yang kakinya sudah goyang, pasaknya sudah longgar, yang kalau diduduki harus hati-hati kalau tidak mau jatuh terjerembab ke lantai tanah. Bangku itu untuk dua orang, tapi ia duduki sendiri karena tubuhnya paling kecil di Kelas 1. Seragamnya yang kebesaran - baju putih turun-temurun dari Andi Rajo Alam, kakak sulungnya, yang kerahnya sudah menguning karena daki dan matahari, dilipat-lipat lengannya sampai ke siku - terlihat seperti jubah. Celana merahnya juga kebesaran, diikat dengan tali ijuk yang dipintal ibunya, Siti Aminah Sikumbang. Kakinya nyeker. Tidak pakai sepatu. Di Pande Sikek tahun 1972, sepatu adalah barang mewah. Hanya anak kepala desa yang pakai sepatu Bata yang mengkilat. Kebanyakan anak Pande Sikek sekolah nyeker, kakinya hitam, kuku-kukunya penuh tanah dan getah.

Tas karung goninya yang dijahit ibunya dari karung goni bekas semen Tiga Roda, masih tergeletak di lantai tanah yang dipadatkan, yang setiap pagi disapu oleh murid piket pakai sapu lidi. Di dalamnya hanya ada satu buku tulis yang kertasnya sudah hampir habis dan satu buku bacaan "Ini Budi" yang sampulnya sudah sobek dimakan tikus.

Ibu Guru Nasbah tidak langsung pulang.

Perempuan tua itu sudah mengajar di Pande Sikek sejak zaman Belanda, zaman Jepang, zaman revolusi. Rambutnya sudah putih, disanggul kecil dengan tusuk konde kayu, matanya masih tajam di balik kacamata bulat yang gagangnya diikat dengan benang jahit. Ia sudah melihat ribuan anak Pande Sikek lahir, besar, jadi tukang ukir, jadi petani, jadi perantau. Tapi ia belum pernah melihat anak seperti ini.

Ia berdiri di depan pintu kelasnya yang tidak ada pintunya, hanya lubang persegi di dinding papan. Menatap Arya. Tatapannya bukan tatapan guru kepada murid yang malas. Tatapannya seperti orang yang menemukan ukiran yang salah tempat. Seperti menemukan ukiran istana Pagaruyung di dalam kandang kambing.

"Arya," panggilnya pelan. Suaranya serak, karena seharian berteriak melawan suara hujan di atap seng. "Sini sebentar, Nak."

Arya berdiri. Berjalan dengan celana merahnya yang hampir melorot. Ia menunduk, sopan, seperti yang diajarkan Mamak Usman.

Ibu Nasbah menggandeng tangan kecilnya yang dingin itu. Tangan anak itu kasar, bukan karena pahat, tapi karena sering bermain tanah dan membantu ibunya mengupas ubi di dapur. Bukan ke luar, ke jalan pulang. Tapi masuk lagi, ke dalam, ke ruang guru.

Di ruang guru - yang sebenarnya hanya sebuah ruangan papan yang lebih besar sedikit dari kelas, lantainya juga tanah, dindingnya ditempel kertas-kertas ujian yang sudah menguning dimakan lembab, dengan satu meja kayu ukir Pande Sikek yang panjang, yang ukirannya saik galamai, ukiran yang melambangkan kehalusan - sudah menunggu semua guru.

Ada Pak Dt. Mangkuto, Kepala Sekolah. Lelaki tua berkopiah hitam yang sudah miring, kumisnya tebal memutih, sorot matanya keras seperti kayu juwar yang tidak bisa dipahat sembarangan. Orang Pande Sikek segan padanya. Ada Bu Guru Ani, guru Kelas 2 yang masih muda, baru tamat SPG di Bukittinggi. Dan ada Pak Guru Darwis, guru Kelas 5 dan 6 yang paling galak, yang kalau memukul pakai penggaris kayu surian yang tebal, bunyinya sampai ke surau.

Mereka semua menatap Arya. Anak Kelas 1 yang pagi tadi, di depan satu sekolah, mengerjakan soal 125 dibagi 5 dengan logika kayu surian, dengan logika yang tidak ada di buku manapun.

Ibu Nasbah membuka suara, suaranya bergetar.

"Pak Dt., inilah anaknya. Arya Arsyad Sikumbang. Anak Abdullah bin Rais Payobadar, tukang ukir di ujung parak kopi itu. Saya... saya sudah mengajar 30 tahun di Pande Sikek. Saya yakin... anak ini ingatannya di atas rata-rata anak seusianya. Bahkan di atas anak Kelas 6. Cara dia menjawab, bukan menghafal. Dia menghubungkan."

Pak Dt. Mangkuto yang dari tadi diam, mengisap rokok kreteknya dalam-dalam, mengangguk. Asap rokoknya mengepul, bercampur dengan dinginnya udara sore Pande Sikek yang masuk dari celah dinding papan.

"Cubo," katanya dengan logat Minang Tanah Datar yang kental, pelan tapi semua orang mendengar. "Kito tes. Kalau memang anak Pande Sikek punya bakat, jangan kito biarkan lapuak di lantai tanah ko."

Pak Guru Darwis yang paling tidak percaya hal-hal ajaib maju. Ia mengambil dari tas kulitnya yang sudah sobek di sudutnya, beberapa buku yang bukan buku SD. Buku sampul coklat tebal yang ia dapat dari anaknya yang sudah SMP di Padang Panjang, yang sekolahnya sudah ada listriknya.

Satu buku Fisika SMP Kelas 1. Di sampulnya tertulis: GAYA DAN GERAK.

Satu buku Kimia SMP. Di sampulnya: UNSUR DAN SENYAWA.

Satu buku Aljabar.

Ia meletakkan tiga buku itu di meja kayu ukir di depan Arya. Meja itu lebih tinggi dari dada Arya. Arya harus mendongak.

"Ini bukan pelajaran SD, Arya," kata Pak Darwis, suaranya sengaja dibuat keras, menguji. "Ini pelajaran anak SMP di Padang Panjang saja yang sekolahnya pakai sepatu, yang malamnya belajar pakai lampu listrik, banyak yang tidak lulus. Kalau kamu pintar, coba kerjakan soal ini."

Ia menulis cepat dengan kapur tulis yang berderak di papan kecil ruang guru yang hitamnya sudah pudar.

Sebuah balok kayu surian massanya 2 kg didorong dengan gaya 10 Newton. Berapa percepatannya?

Semua guru menatap. Soal itu asing. Di Pande Sikek tahun 1972, anak tahunya hanya kayu, pahat, sawah, dan surau.

Arya Arsyad Sikumbang yang baru 7 tahun itu menatap tulisan itu lama. Pelipisnya mengernyit.

Ia tidak langsung menjawab. Ia tidak mengarang.

Tangannya yang kecil menyentuh sampul buku Fisika itu. Halus. Dingin. Bau kertas baru.

Lalu, dengan suara kecil, teratur, dan sangat sopan, ia berkata. Suaranya jelas di ruangan papan yang dingin itu.

Kalimat yang membuat semua guru terdiam.

"Bu Guru... Pak Guru... Maaf. Arya belum bisa jawab sekarang."

Pak Darwis tersenyum menang.

"Nah, kan..."

Tapi Arya melanjutkan.

"Bukan karena Arya tidak bisa. Karena Arya belum pernah baca bukunya. Kalau Arya disuruh jawab tanpa baca, itu namanya mengarang, Pak. Ayah Arya di bengkel ukir bilang, jangan mengukir kayu kalau belum tahu urat kayunya. Nanti kayunya rusak, ukirannya jelek, dan kayu surian yang bagus jadi terbuang sia-sia."

Ia mengangkat wajahnya yang kecil, menatap satu per satu guru.

"Boleh Arya pinjam buku-buku ini? Kasih Arya waktu satu minggu. Arya mau baca dulu di rumah gadang di bawah lampu petromaks. Ayah Arya bantu. Setelah satu minggu, baru Bapak Ibu kasih soalnya lagi. Soal yang lebih susah pun tidak apa."

Satu minggu.

Anak Kelas 1 SD tahun 1972 di Pande Sikek, yang sekolahnya masih nyeker dan lantai tanahnya berdebu, yang tasnya dari karung goni bekas semen, meminta waktu satu minggu untuk membaca buku Fisika dan Kimia SMP.

Ruang guru yang dingin itu hening. Hanya terdengar suara angin Singgalang yang masuk dari celah dinding papan, yang membuat lampu petromaks di sudut ruangan bergoyang, dan suara pahat dari bengkel jauh di bawah.

Pak Dt. Mangkuto mematikan rokok kreteknya di asbak yang terbuat dari tempurung kelapa. Ia menatap lama anak kecil di depannya. Anak bungsu Abdullah bin Rais Payobadar yang lahir tahun 1965 di malam berkabut itu.

Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat guru lain. Guru lain melihat kepintaran. Ia melihat kejujuran.

Pak Dt. Mangkuto berdiri. Bayangannya menutupi Arya. Ia mengambil tiga buku Fisika, Kimia, dan Aljabar yang tebal itu dan meletakkannya dengan hati-hati, dengan hormat, ke dalam tas karung goni milik Arya.

"Ambiak, Nak," katanya, suaranya berat tapi hangat. "Satu minggu. Kami tunggu di sini. Setelah bel seng dipukul. Kami semua akan menyaksikan."

Sore itu, di jalan tanah Pande Sikek yang becek karena gerimis sore yang baru saja turun, seorang anak kecil berjalan pulang. Langkahnya pelan karena tasnya berat. Tas karung goni yang biasanya hanya berisi buku "Ini Budi", kini berisi tiga buku SMP yang tebalnya hampir sama dengan kepalanya.

Di punggungnya yang kecil, beban itu terlihat besar sekali.

Di belakangnya, di ruang guru SD yang papan dindingnya dimakan rayap dan atap sengnya berisik karena gerimis mulai turun lagi, semua guru masih berdiri di jendela.

Bu Guru Nasbah berbisik pelan, hampir tidak terdengar.

"Anak itu... bukan hanya ingatannya di atas rata-rata. Hatinya juga... hatinya tua..."

Dan mereka tahu, satu minggu ke depan akan menjadi minggu paling panjang bagi SD Negeri No. 1 Pande Sikek. Mereka akan menunggu. Menunggu anak kelas satu yang meminta buku SMP.

Di luar, kabut Pande Sikek semakin tebal. Tapi di dalam tas karung goni itu, ada cahaya baru yang dibawa pulang. Cahaya yang tiga tahun kemudian, tahun 1975, akan membuat anak 10 tahun itu sudah duduk di SMP Kelas 1, sekelas dengan Arlan dan Ibrahim, dan membuat Drs. Syafrianto di SMP Negeri Pande Sikek tidak percaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!