Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Batas yang Ditarik Paksa
Aira baru saja selesai mengeringkan rambut ketika ketukan di pintu kamarnya terdengar. Bukan ketukan Reza. Ketukan itu lebih ringan, dua kali, lalu berhenti. Aira mengenali polanya.
“Masuk,” katanya datar.
Raka membuka pintu dengan siku karena kedua tangannya penuh. Di satu tangan ada nampan berisi bubur dan telur rebus, di tangan lain botol air hangat. Bau jahe langsung memenuhi kamar.
“Keenan bilang kamu harus makan yang hangat,” katanya sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat tempat tidur. “Saya yang ambil ke dapur. Tukang masak di sini terlalu formal. Saya takut dia taburi emas ke buburnya.”
Aira menatap nampan itu. “Berapa?”
“Gratis. Termasuk layanan antar ke kamar.”
“Tidak ada yang gratis.”
Raka tersenyum miring, lalu duduk di kursi tanpa diminta. “Kali ini ada. Makan.”
Belum sempat Aira menyentuh sendok, pintu yang masih terbuka didorong lebih lebar. Reza berdiri di ambang dengan wajah datar yang terlalu tenang. Matanya bergerak dari nampan ke Raka yang duduk terlalu dekat, lalu ke Aira yang rambutnya masih sedikit basah.
“Kamu sudah bilang mau istirahat,” kata Reza. Suaranya rendah, hampir tidak ada nada, tapi ada sesuatu yang keras di baliknya.
Raka tidak berdiri. “Saya bawa makan. Keenan yang minta.”
“Keenan bisa minta pengawal yang bertugas.” Reza melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya sampai hanya terbuka sedikit. “Kamu tidak perlu berada di dalam kamarnya.”
Aira meletakkan sendok kembali. “Saya masih di sini, kalau kalian lupa. Dan saya bisa memutuskan siapa yang boleh masuk.”
Reza menatapnya. “Kamu masih lemah. Dan Arya masih di luar sana. Semakin sedikit orang yang keluar-masuk kamarmu, semakin mudah saya jaga.”
Raka tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Atau semakin mudah kamu mengontrol.”
“Ini bukan soal kontrol.”
“Terdengar seperti itu.”
Aira menghela napas panjang, lalu mendorong nampan menjauh sedikit. “Kalau kalian ingin bertengkar soal siapa yang lebih berhak berdiri di dekat tempat tidur saya, lakukan di koridor. Saya mau makan tanpa mendengar siapa yang lebih protektif.”
Reza tidak bergerak. “Raka, keluar.”
Raka akhirnya berdiri, tapi tidak langsung menuju pintu. Dia menatap Aira lebih dulu. “Kalau kamu butuh sesuatu, ketuk tembok. Saya di sebelah.”
“Saya tahu.”
Raka keluar. Reza menutup pintu lebih rapat setelahnya, lalu berdiri di dekat jendela, memunggungi Aira sejenak seolah menenangkan diri.
Aira menyendok bubur. Hangat. Hambar. Tapi cukup. “Kamu berlebihan.”
“Saya tidak berlebihan.” Reza berbalik. “Arya datang sendiri kemarin. Dia tahu nama lengkapmu. Dia tahu kamu kunci. Dia tahu lokasi rumah sebelumnya. Setiap orang yang mendekatimu sekarang adalah risiko tambahan.”
“Raka dan Keenan sudah ikut dari awal. Mereka hampir mati untuk saya.”
“Saya tahu.” Reza berjalan mendekat, lalu berhenti di kaki tempat tidur. “Tapi sekarang situasinya berubah. Kamu bukan hanya target organisasi. Kamu adalah Aira Hadi. Tunangan saya menurut wasiat. Dan kakek saya sudah memerintahkan agar kamu dijaga dengan nyawa. Saya tidak bisa longgar.”
Aira menatapnya tajam. “Jangan pakai wasiat itu untuk mengatur siapa yang boleh dekat dengan saya. Saya belum bilang ya pada pernikahan apa pun.”
“Saya tidak mengatur karena wasiat.” Reza menahan napas sebentar. “Saya mengatur karena tadi malam, saat helikopter terangkat, saya melihat peluru mengenai badan pesawat hanya beberapa senti dari kepalamu. Saya tidak ingin melihat itu lagi. Dan saya tidak ingin ada orang lain yang membuatmu merasa harus melindungi mereka alih-alih dilindungi.”
Aira terdiam. Sendok di tangannya berhenti bergerak. Sebelum dia sempat menjawab, ketukan lain datang. Kali ini lebih rapi. Keenan masuk setelah Aira bilang boleh, membawa kotak obat dan termometer. Dia berhenti sejenak saat melihat Reza sudah berada di dalam.
“Saya cek suhu dan ganti perban,” katanya profesional. “Lima menit.”
Reza tidak menyingkir. Dia hanya bergeser sedikit ke samping jendela, tetap di dalam kamar, mata mengikuti setiap gerakan Keenan.
Keenan berpura-pura tidak melihat. Dia duduk di tepi tempat tidur, memasang termometer, lalu membuka perban dengan gerakan yang sudah biasa. Jari-jarinya menekan lembut di sekitar luka, memeriksa pembengkakan.
“Membaik,” gumamnya. “Tapi masih harus dijaga. Jangan banyak bergerak.”
Aira mengangguk. “Kamu juga dengar omongan Reza di luar tadi?”
Keenan tersenyum tipis tanpa mengalihkan mata dari luka. “Sedikit. Dia sedang dalam mode letnan penuh.”
“Dia sedang dalam mode tunangan yang belum diterima,” sahut Aira pelan.
Reza yang berdiri di dekat jendela menjawab tanpa menoleh. “Saya mendengar kalian.”
Keenan menutup perban baru. “Reza, kamu tidak bisa mengunci semua orang dari kamarnya. Aira butuh orang yang dia percaya di dekatnya. Bukan hanya pengawal bersenjata.”
“Saya percaya kalian,” kata Reza. “Tapi saya tidak percaya situasi di luar. Semakin banyak yang keluar-masuk, semakin besar kemungkinan jejak.”
Aira menyandarkan kepala ke bantal. “Kalian bertiga melelahkan. Satu memberi uang terlalu banyak. Satu memeriksa tubuh saya setiap beberapa jam. Satu lagi menarik garis seolah saya sudah menjadi miliknya.”
Reza akhirnya menoleh. “Saya tidak bilang kamu milik saya.”
“Sikapmu bilang begitu.”
Keheningan turun beberapa detik. Keenan membereskan alat-alatnya dengan tenang, seolah terbiasa dengan ketegangan seperti ini.
“Saya selesai,” katanya akhirnya. “Istirahat. Jangan ajak mereka bertengkar terlalu lama. Detak jantungmu baru stabil.”
Keenan keluar, menutup pintu sampai terbuka sedikit. Reza masih tinggal.
Aira menatapnya. “Kalau kamu terus bersikap seperti ini, Raka dan Keenan akan semakin sering mendekat hanya untuk melawanmu. Kamu menciptakan masalah yang tidak perlu.”
Reza berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang tadi dipakai Raka. Jaraknya lebih dekat dari biasanya. “Saya tahu saya berlebihan. Tapi setiap kali saya menutup mata, saya melihat Arya berdiri di ruang tamu rumah bukit, memanggil namamu dengan akrab. Saya tidak suka suara itu.”
Aira mengalihkan pandangan ke jendela. “Saya juga tidak suka. Tapi saya tidak bisa dikurung hanya karena kamu tidak suka.”
“Saya tidak mengurungmu. Saya hanya… ingin tahu siapa yang berada di dekatmu.”
“Itu mengurung.”
Reza terdiam lama. Lalu bilang pelan, “Baik. Saya coba longgarkan. Tapi malam ini saya yang jaga di depan pintu. Bukan karena wasiat. Karena saya belum bisa tenang jika orang lain yang melakukannya.”
Aira tidak menjawab. Dia hanya menarik selimut sampai ke dada dan memejamkan mata, meski tahu tidur tidak akan datang cepat.
Di koridor, Raka dan Keenan berdiri tidak jauh dari pintu. Mereka tidak berbicara, tapi tatapan mereka sama-sama menajam ke arah kamar.
Di luar rumah, di antara pohon yang sudah dijaga ketat, seorang pengawas baru menekan earpiece pelan.
“Target di lantai dua, sayap timur. Tiga pria masih di dalam. Tidak ada pergerakan keluar.”
Suara Arya di seberang terdengar hampir seperti senyum. “Bagus. Biarkan mereka saling tarik. Semakin mereka sibuk menjaga satu sama lain, semakin mudah kita ambil celahnya nanti.”