Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. Perang Bunga Plum
Musim semi datang ke perbatasan Sichuan dengan cara yang kejam, karena alih-alih membawa bunga dan angin hangat, musim itu membawa bau asap, bau mayat yang belum dikubur, dan suara genderang perang dari arah pegunungan yang tidak pernah berhenti selama tujuh hari tujuh malam, sebuah suara yang membuat burung gagak enggan hinggap dan membuat anak-anak di Desa Bunga Plum bermimpi buruk setiap malam, karena semua orang tahu bahwa Sekte Iblis tidak akan mundur setelah kekalahan mereka di desa itu, mereka akan kembali, lebih banyak, lebih marah, dan lebih berniat untuk menghapus nama Klan Tang dari peta Jianghu untuk selamanya.
Tang Hyun berdiri di atas menara pengawas yang dibangun dari kayu dan bambu, mengenakan baju zirah ringan berwarna ungu gelap dengan lambang bunga plum di dada, dan di pinggangnya ada dua puluh botol kecil, tiga pedang pendek, dan satu gulungan peta yang sudah dia hafal di luar kepala, karena sebagai Wakil Kepala Klan Tang yang baru diangkat, ini adalah perang pertamanya sebagai jenderal, dan jika dia kalah, maka bukan hanya nyawanya yang hilang, tetapi juga lima puluh ribu orang di lima desa sekitar yang bergantung pada perlindungan Klan Tang.
"Kekuatan musuh?" tanyanya tanpa menoleh.
"Lima ribu orang," jawab Tang So-yeon yang berdiri di sampingnya, "dipimpin oleh dua jenderal baru, 'Tangan Darah' Mo Yan dan 'Bayangan Racun' Xie Gui. Keduanya pernah menjadi bawahan Han Luo."
"Lima ribu melawan lima ratus," gumam Tang Hyun, "angka yang bagus untuk mati."
"Kau punya rencana?" tanya Tang So-yeon.
Tang Hyun menunjuk ke peta, "Kita tidak akan bertahan di desa. Kita akan membuat mereka datang ke sini, ke Lembah Bunga Plum, tempat kita menaruh jebakan selama dua minggu terakhir."
Rencana itu gila, karena Lembah Bunga Plum adalah tanah kosong selebar tiga li yang tidak memiliki perlindungan alami, tetapi Tang Hyun dan anak buahnya sudah mengubahnya menjadi ladang kematian, dengan parit berisi racun, jebakan bambu, dan kabut yang akan dia buat sendiri menggunakan darah dan ramuan yang sudah dia siapkan selama sebulan.
Malam sebelum pertempuran, Tang Hyun tidak tidur, dia berjalan ke setiap tenda, berbicara dengan setiap prajurit, bukan untuk memberi semangat, karena kata-kata tidak berguna di medan perang, melainkan untuk memastikan bahwa setiap orang tahu di mana harus berdiri, kapan harus mundur, dan bagaimana cara menggunakan penawar jika terkena racun mereka sendiri.
"Ingat," katanya kepada seorang anak berusia enam belas tahun yang tangannya gemetar, "ketakutan membunuh lebih cepat daripada pedang. Jadi buang itu."
Anak itu mengangguk dan menangis, tetapi dia tetap berdiri di posisinya keesokan paginya.
Fajar datang dengan warna merah, bukan karena matahari, melainkan karena bendera Sekte Iblis yang berkibar di kejauhan, lima ribu orang bergerak seperti gelombang hitam, berteriak, menabuh genderang, dan membawa obor meskipun hari masih terang, karena mereka ingin menakut-nakuti.
"Ini dia," kata Tang So-yeon sambil menghunus pedangnya.
"Belum," jawab Tang Hyun, "tunggu sampai mereka masuk ke tengah lembah."
Pasukan Sekte Iblis masuk ke lembah dengan sombong, karena mereka pikir desa itu kosong, dan ketika setengah dari mereka sudah berada di tengah, Tang Hyun mengangkat tangannya.
"Nyala," perintahnya pelan.
Dan lembah itu meledak.
Bukan ledakan api, melainkan ledakan kabut ungu yang keluar dari tanah, kabut yang dia buat dari campuran tiga puluh jenis racun dan darahnya sendiri, kabut yang membuat orang yang menghirupnya langsung batuk darah dan tidak bisa melihat lebih dari satu langkah ke depan.
Teriakan, kekacauan, dan dalam kekacauan itu, pasukan Klan Tang yang bersembunyi di bukit mulai menembakkan panah yang ujungnya dilumuri racun lumpuh, menjatuhkan ratusan musuh tanpa harus bertarung jarak dekat.
"Tangan Darah" Mo Yan meraung dari tengah kabut, "Sialan! Ini jebakan! Mundur!"
Tapi sudah terlambat, karena begitu mereka mundur, mereka menginjak jebakan bambu yang melontarkan jarum ke segala arah, dan di belakang mereka, Tang Hyun memimpin seratus orang keluar dari persembunyian dan menyerang langsung.
Pertempuran itu berlangsung selama tiga jam, bukan pertarungan terhormat antar pendekar, melainkan pembantaian yang terorganisir, karena Klan Tang tidak bertarung untuk kehormatan, mereka bertarung untuk bertahan hidup, sehingga setiap gerakan mereka efisien, kejam, dan tidak memberi musuh kesempatan untuk bernapas.
Tang Hyun bertarung di garis depan, dia tidak menggunakan pedang, dia menggunakan jarum, racun, dan juga tangan kosongnya, setiap kali dia menyentuh musuh, musuh itu akan jatuh dalam waktu sepuluh detik, dan di akhir pertempuran, jubahnya sudah tidak berwarna ungu lagi, melainkan merah karena darah.
"Bayangan Racun" Xie Gui adalah orang terakhir yang masih berdiri dari pihak jenderal, dan dia adalah ahli racun juga, sehingga pertarungan antara dia dan Tang Hyun menjadi pertarungan yang paling ditunggu oleh semua orang, karena ini adalah adu racun melawan racun.
"Klan Tang," kata Xie Gui sambil tertawa, "kau pikir hanya kau yang bisa bermain dengan racun?"
Dia melemparkan bubuk hijau ke udara, dan Tang Hyun langsung menahan napas dan melemparkan penawar ke mulutnya, lalu dia berlari dan menusukkan jarum ke leher Xie Gui sebelum pria itu sempat bereaksi.
Xie Gui jatuh, matanya masih terbuka, dan kata terakhirnya adalah, "Kau... monster..."
"Ya," jawab Tang Hyun, "aku monster. Tapi aku monster yang melindungi orang."
Pertempuran berakhir ketika "Tangan Darah" Mo Yan melarikan diri dengan sisa dua ratus orang, meninggalkan tiga ribu mayat di lembah, dan pasukan Klan Tang hanya kehilangan empat puluh tujuh orang, sebuah kemenangan yang mustahil menurut semua perhitungan perang.
Berita kemenangan itu menyebar ke seluruh Sichuan dalam waktu tiga hari, dan untuk pertama kalinya, rakyat biasa tidak takut menyebut nama Klan Tang, mereka malah menyebutnya "Pelindung Bunga Plum", karena Tang Hyun memerintahkan anak buahnya untuk membantu mengubur mayat, membantu memperbaiki rumah yang rusak, dan membagikan makanan dari gudang Klan kepada warga desa yang kelaparan.
Tindakan itu membuat Tetua Ketiga marah ketika mendengarnya, "Kita bukan yayasan amal," katanya.
"Kita juga bukan iblis," jawab Tang Hyun, "jika kita ingin bertahan, maka kita butuh rakyat di pihak kita."
Tetua Ketiga terdiam, lalu dia mengangguk, "Lakukan sesukamu."
Dua minggu setelah pertempuran, surat datang dari ibu kota, bukan surat perang, melainkan surat undangan dari Putri Mahkota, yang meminta Tang Hyun datang ke istana untuk "membahas masalah keamanan perbatasan", sebuah undangan yang jelas-jelas adalah jebakan, tetapi juga kesempatan, karena jika Tang Hyun bisa mendapatkan dukungan istana, maka Klan Tang tidak perlu lagi bersembunyi.
"Aku akan pergi," kata Tang Hyun di rapat Tetua.
"Kau gila?" teriak salah satu Tetua, "Mereka akan menangkapmu!"
"Mereka tidak akan bisa," jawab Tang Hyun, "karena kali ini aku tidak pergi sebagai pembunuh. Aku pergi sebagai pahlawan perang."
Dia berangkat dengan rombongan kecil, hanya Tang So-yeon dan sepuluh pengawal, dan perjalanan ke ibu kota memakan waktu lima belas hari, dan sepanjang jalan mereka disambut oleh rakyat yang melemparkan bunga dan makanan, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya untuk anggota Klan Tang.
Setibanya di Chang'an, dia tidak dibawa ke penjara, melainkan langsung ke aula istana, tempat Putri Mahkota menunggunya, seorang wanita berusia dua puluh lima tahun dengan mata tajam dan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
"Jadi kau Anak Racun," kata Putri Mahkota, "yang mengalahkan Sekte Iblis dan menyelamatkan desa."
"Aku hanya melakukan tugasku," jawab Tang Hyun sambil berlutut.
"Berdiri," kata Putri Mahkota, "aku tidak suka orang yang berlutut terlalu lama. Katakan padaku, apa yang Klan Tang inginkan?"
Tang Hyun mengangkat kepala, "Kami ingin perdagangan legal. Kami ingin toko resmi di setiap kota besar. Dan kami ingin perlindungan dari tuduhan palsu."
Putri Mahkota tertawa, "Berani sekali. Kau tahu berapa banyak pejabat yang ingin memenggal kepalamu?"
"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi aku juga tahu bahwa Yang Mulia membutuhkan seseorang untuk mengendalikan peredaran obat terlarang di Jianghu. Dan tidak ada yang lebih baik dari Klan Tang untuk pekerjaan itu."
Putri Mahkota menatapnya lama, lalu dia mengangguk, "Baiklah. Aku setuju. Tapi dengan syarat, kau secara pribadi akan menjadi penanggung jawab. Jika ada masalah, maka kepalamu yang akan aku ambil."
"Sepakat," jawab Tang Hyun.
Kesepakatan itu ditandatangani malam itu juga, dan keesokan harinya, pengumuman resmi ditempel di seluruh kota: "Klan Tang diakui sebagai organisasi resmi perdagangan obat dan keamanan perbatasan."
Berita itu membuat seluruh Jianghu gempar, karena ini pertama kalinya Klan Tang keluar dari bayangan dan menjadi bagian dari sistem resmi kekaisaran.
Kembali di Klan, perayaan diadakan selama tiga hari, dan Tang Hyun diangkat menjadi Kepala Divisi Luar, posisi yang membuatnya menjadi orang nomor dua di Klan setelah Ketua Klan dan Tetua Ketiga.
Malam setelah perayaan, dia duduk di atap seperti biasa, dan Tang So-yeon datang dan duduk di sampingnya.
"Jadi," kata Tang So-yeon, "kau berhasil. Kau membuat Klan Tang legal."
"Aku tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk," jawab Tang Hyun.
"Kenapa?"
"Karena sekarang kita punya lebih banyak musuh," jawab Tang Hyun, "musuh di dalam, musuh di luar, dan musuh yang memakai jubah pejabat."
Tang So-yeon mengangguk, "Selamat datang di politik."
Mereka terdiam, lalu Tang So-yeon bertanya, "Apakah kau bahagia?"
Tang Hyun berpikir lama, "Aku tidak tahu. Tapi aku merasa... berguna."
"itu sudah cukup," kata Tang So-yeon.
Sebulan kemudian, masalah baru muncul, karena beberapa sekte ortodoks menolak mengakui perjanjian dengan Klan Tang dan mulai menyerang karavan Klan di jalan, dengan alasan bahwa "berdagang dengan iblis adalah dosa".
Tang Hyun dipanggil lagi, kali ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk berunding, dan dia pergi ke Gunung Hua untuk bertemu dengan para pemimpin sekte.
Pertemuan itu berlangsung tegang, penuh dengan tuduhan dan penghinaan, dan di tengah pertemuan, seseorang mencoba meracuni teh semua orang, berusaha menyalahkan Klan Tang.
Tapi Tang Hyun sudah menduganya, dia menukar teh itu sebelum disajikan, dan ketika penyerang itu minum dari cangkirnya sendiri dan langsung pingsan, semua orang tahu siapa pelakunya, seorang pejabat dari istana yang dibayar oleh Sekte Iblis untuk membuat kekacauan.
Tang Hyun menangkapnya hidup-hidup dan membawanya ke istana, dan kejadian itu membuat reputasi Klan Tang naik lagi, karena mereka terbukti bukan hanya kuat, tetapi juga pintar.
Setahun berlalu sejak Perang Bunga Plum, dan dalam setahun itu, Klan Tang berubah total, dari organisasi bayangan menjadi organisasi yang dihormati, ditakuti, dan juga dibutuhkan.
Tang Hyun sendiri berubah, dia menjadi lebih pendiam, lebih dingin, tetapi juga lebih bijaksana, karena dia belajar bahwa membunuh itu mudah, yang sulit adalah membuat orang tidak perlu dibunuh.
Suatu malam, dia menerima surat lagi dari Baek Seolhwa, isinya singkat: "Adikku sudah sehat. Terima kasih. Dan hati-hati. Ada sesuatu yang bergerak di pegunungan utara. Sesuatu yang besar."
Tang Hyun membakar surat itu dan menatap ke arah utara, di mana pegunungan diselimuti salju sepanjang tahun.
"Apa itu?" tanya Tang So-yeon yang membaca ekspresinya.
"Aku tidak tahu," jawab Tang Hyun, "tapi aku punya firasat buruk."
"Firasat seperti apa?"
"Firasat bahwa perang yang sebenarnya belum dimulai," jawab Tang Hyun, "dan bahwa semua yang kita lakukan sejauh ini hanyalah pemanasan."
Tang So-yeon tidak bertanya lagi, karena dia juga merasakannya, udara di Jianghu menjadi lebih berat, lebih tegang, seperti sebelum badai besar.
Malam itu, Tang Hyun menulis di buku catatannya: "Aku pernah berpikir bahwa jika aku cukup kuat, maka aku bisa melindungi semua orang. Sekarang aku tahu bahwa semakin kuat aku, semakin banyak orang yang harus aku lindungi. Dan semakin banyak orang yang akan mati jika aku gagal."
Dia menutup buku itu dan berdiri, "Siapkan pasukan. Kita pergi ke utara dalam tiga hari."
"Perintah siapa?" tanya Tang So-yeon.
"Perintahku," jawab Tang Hyun, "karena jika ada yang harus menghadapi apa pun yang ada di sana, maka itu harus aku."
Dan dengan itu, babak baru dimulai, babak di mana Tang Hyun bukan lagi hanya Wakil Kepala Klan, melainkan harapan terakhir bagi banyak orang yang tidak punya tempat lain untuk berlindung.
Di luar jendela, angin membawa kelopak bunga plum yang terakhir, dan Tang Hyun tahu bahwa musim semi sudah berakhir, dan musim perang yang sesungguhnya baru akan dimulai.