NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGUKUHAN PERAN

Dara turun dari kursi dan berlari ke kulkas. "Bu, pudingnya di mana, kok nggak ada?" serunya kecewa setelah membuka kulkas dan mengintip ke setiap sudut tapi tak menemukan apa yang ia cari.

Sutami ikut melongok. "Hm... Seingat Ibu masih...."

Kirana gelagapan. Ia melirik ke arah Arka, lalu ke meja, tidak tahu harus mengaku atau tidak.

"Aku yang memakannya, karena semalam kelaparan. Hanya ada itu yang bisa dimakan." Arka menjawab dengan tenang, dan jujur. Tengah malam tadi ia memang terbangun dan masih mendapati sisa sepotong puding di dalam kulkas.

Suasana mendadak canggung.

Sutami menarik napas. Ia meletakkan nampan berisi roti bakar. Satu piring di depan Kirana, satu piring di depan Arka. "Tolong koreksi jika mungkin tidak sesuai dengan selera kalian. Aku hanya memakai bahan yang ada."

Ia duduk lagi di sebelah Dara, lalu mengelus kepala Dara. "Jangan sedih. Kan kita bikinnya buat bareng-bareng. Jadi kalau kakak juga mau makan, tidak apa-apa. Kita berbagi, ya? Nanti sepulang dari sekolah, Ibu bisa buatkan lagi dengan buah yang lain. Bagaimana?"

Dara langsung ceria lagi. "Oke! Deal! Nanti kita bikin puding pelangi!"

Roti bakar yang dibuat Sutami bukan menggunakan selai, melainkan roti panggang dengan olesan telur kocok yang dibumbui garam dan merica.

Kirana mencibir begitu melihatnya. Ia mencolek roti itu dengan garpu. "Ini aneh! Rasanya nggak match! Udahlah, tambahin saja uang sakuku, Yah! Biar aku beli sendiri!" katanya. Ia bahkan tidak mau mencicipi.

Sementara Arka awalnya juga tidak suka. Tapi karena penasaran, ia tetap menggigitnya dan mengunyah pelan. "Lumayan," ucapnya singkat meski hanya dua potong yang ia habiskan.

Setelah meminum habis air putih di gelasnya, Arka langsung berdiri. "Aku berangkat kerja."

Diikuti Kirana yang langsung menyambar tasnya. "Aku sekalian nebeng, Kak!"

Keduanya pergi hampir bersamaan, meninggalkan meja makan yang masih penuh hidangan. Tinggal Waluyo, Sutami, dan Dara yang duduk di sana.

Waluyo meletakkan cangkir tehnya lalu menatap Sutami sekilas. "Tidak apa-apa. Lain kali tanya dulu sebelum membuat."

"Baiklah, maaf. Aku akan memperhatikannya lebih detail." Sutami mengerti. "Kalau begitu aku ganti baju dulu, sudah hampir setengah tujuh," ucapnya kemudian melepas apron dan berlari kecil menuju ke kamarnya.

Waluyo pun beranjak dan mendekati Dara. Ia berjongkok di depan kursi putrinya itu. "Hari ini putri Ayah siap sekolah lagi?" tanyanya lembut.

Dara mengangguk penuh semangat, matanya pun berbinar. "Ya! Ada Bu Tami yang akan nemenin Dara. Ayah jangan khawatir."

"Baiklah. Ayah percaya Dara bisa. Semangat ya!"

Waluyo memeluk tubuh mungil putrinya, lalu mengusap pelan kepalanya. "Kalau gitu Ayah berangkat kerja dulu. Baik-baik ya di sekolah."

"Iya Ayah!" sahut Dara sambil memutar bola matanya, gaya anak kecil yang sok dewasa.

Waluyo tertawa kecil lalu kembali berdiri. Tapi, angkahnya terhenti di ambang pintu dapur saat melihat Sutami menuruni tangga. Sutami sudah rapi. Mengenakan dress abu-abu polos yang menjuntai menutupi lutut. Sederhana, tapi elegan. Rambutnya diikat rapi ke belakang, dan riasan tipis yang membuat wajahnya tampak segar dan tak berlebihan.

"Hm... begitu lebih baik," gumam Waluyo lirih. Hampir tak terdengar.

"Ya, Pak?" sahut Sutami. Ia mendengar gumaman itu tapi tidak jelas.

"Eh? Ah, bukan apa-apa." Waluyo langsung gugup dan menutupinya dengan mengalihkan pandangan. "Hati-hati jika kalian berangkat!"

Tanpa menunggu jawaban, Waluyo bergegas melangkah lebar menuju garasi. Meninggalkan Sutami yang masih berdiri dengan alis bertaut, bingung.

Dara menarik tangan Sutami. "Udah, Bu. Ayo kita juga berangkat. Biar nggak telat."

Sutami tersenyum dan mengangguk. "Iya, Sayang." tapi di dalam hatinya, ia memikirkan gumaman Waluyo tadi. 'Begitu lebih baik...? Maksudnya apa atau aku salah dengar?'

........

Halaman SD Harapan Bangsa sangatlah bersih. Ada taman kecil, lapangan upacara, dan satpam yang menyapa ramah di pintu gerbang.

Sutami menggandeng tangan Dara memasuki pelataran sekolah. Dara memakai seragam putih-merah, kaus kakinya ditarik tinggi, dan rambutnya dikuncir dua. Dipunggungnya tergantung ransel kecil berwarna pink bergambar princes.

"Mbak, saya mau bertemu Ibu Kepala Sekolah," kata Sutami sopan ke petugas di depan.

"Ibu Tuti ada di ruangannya. Silakan langsung masuk, Bu."

Tok... tok...

"Masuk," terdengar suara dari dalam.

Di dalam, seorang wanita sekitar 45 tahun duduk di balik meja. Rambutnya dicepol rapi, namanya Bu Tuti, Kepala Sekolah SD Harapan Bangsa.

"Selamat pagi, Bu Tuti," sapa Sutami sambil sedikit membungkuk. "Perkenalkan, saya Sutami."

Bu Tuti langsung berdiri dan tersenyum hangat lalu menyambut jabat tangan Sutami. "Selamat pagi, Bu Sutami. Silakan duduk." Bu Tuti beralih menatap Dara dengan senyum hangatnya. "Dara, apa kabar, Sayang, sini duduk di sebelah Ibu."

Dara balas tersenyum, tapi justru semakin erat bergelayut di lengan Sutami.

Bu Tuti menuang teh. "Saya sudah dapat laporan dari wali kelas Dara. Kami semua turut prihatin dengan musibah yang menimpa Ibu kandung Dara beberapa bulan lalu. Pasti berat sekali untuk Dara, ya?"

Sutami menarik napas. "Iya, Bu. Karena itu hari ini Dara memberanikan diri untuk masuk sekolah lagi. Dan saya di sini sebagai wali yang bertanggung jawab penuh atas Dara selama di rumah maupun di sekolah."

Bu Tuti mengangguk paham. "Kami sangat mengapresiasi itu, Bu Sutami. Sekolah akan mendukung penuh."

"Terima kasih, Bu. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan dan mohon izinnya," lanjut Sutami tenang namun terdengar tegas. "Selama Dara belum merasa nyaman untuk ditinggal, saya mohon izin untuk mengawasi Dara dari jarak yang tidak akan mengganggu kegiatan belajar mengajar murid lain."

Bu Tuti terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Saya mengerti, Bu Sutami. Justru kami berterima kasih. Transisi anak setelah trauma memang butuh pendampingan. Untuk sementara, kami persilakan Ibu untuk menemani Dara di jam istirahat dan mengantar jemput. Untuk di dalam kelas, nanti kita lihat perkembangan Dara 1-2 minggu ke depan. Kalau Dara sudah berani, kita kurangi pelan-pelan, ya?"

"Siap, Bu. Terimakasih banyak," jawab Sutami lega.

Bu Tuti lalu menoleh ke Dara. "Bagaimana, Dara? Siap ketemu teman-teman lagi?"

Dara melirik Sutami dulu, baru mengangguk kecil. "Iya, Bu."

Bu Tuti lalu membuka laci dan mengeluarkan map biru. "Oh iya, untuk administrasi. Karena wali murid Dara berganti, kita perlu update data."

Ia meletakkan selembar formulir di atas meja dan mendorongnya ke arah Sutami bersama sebuah pulpen.

—FORMULIR PERUBAHAN DATA WALI MURID—

Sutami mengambilnya. Matanya membaca satu per satu kolomnya yang bertuliskan, Nama Wali, Hubungan dengan Murid, No. KTP, Alamat, No. HP, Alasan Perubahan...

Jantungnya berdegup saat ia tiba di kolom 'Hubungan dengan Murid', ada beberapa pilihan Ayah, Ibu, Wali, Lainnya.

Tangan Sutami sempat berhenti. Ia melirik Dara sekilas. Bocah itu tampak sangat tenang duduk di sisinya sambil memainkan ujung tali ranselnya.

Dengan mantap, Sutami mencentang 'Lainnya" lalu menulis di sampingnya sebagai 'ibu tiri'

Di kolom Alasan Perubahan, Sutami kembali dibuat menghela napas, hingga akhirnya ia pun menuliskan, 'Ibu kandung ananda Dara meninggal dunia karena kecelakaan. Saya menikah dengan Ayah kandung ananda dan saat ini menjadi wali yang bertanggung jawab penuh.:

Bu Tuti memperhatikan tanpa berkomentar.

Sutami menarik napas, lalu membubuhkan tanda tangan di bagian paling bawah dengan namanya. —Sutami, S.pd.—

Diluar sekolah, tepatnya di cafetaria, beberapa wali murid berkumpul. "Eh, kalian sudah lihat belum ibu barunya Dara?"

"Dara yang mana?"

"Oh, si bocah yatim?"

"Huum, tadi aku lihat bocah itu udah masuk sekolah lagi, hati-hati. Jaga baik-baik anak-anak kita,"

...****************...

Bersambung....

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!