Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Gedung SMA Nusa Bangsa mendadak senyap dalam ketegangan yang pekat. Lembar-lembar soal Ujian Sekolah dibagikan satu persatu oleh pengawas ujian ke atas meja setiap peserta. Di barisan bangku depan, Maya yang kini menempati raga Lexa menarik napas dalam-dalam, menatap deretan rumus kimia dan soal uraian fisika yang tertera di kertas ujian dengan keyakinan penuh. Sementara di barisan belakang, Lexa yang terjebak di dalam raga Maya menggigit ujung pensilnya dengan tangan yang gemetar hebat, menatap lembar soal yang sama seolah-olah itu adalah bahasa alien yang tidak dapat ia pahami.
Realitas pahit dari pertukaran jiwa ini kembali menampar mereka telak, meskipun raga mereka tertukar, kapasitas otak dan kebiasaan belajar mereka tetap tertinggal di dalam jiwa masing-masing. Maya tetaplah Maya yang cerdas, tekun, dan menguasai seluruh materi pelajaran dengan sempurna. Sebaliknya, Lexa tetaplah Lexa yang terbiasa hidup instan, mengandalkan hafalan dangkal, dan tidak pernah benar-benar serius belajar tanpa adanya kunci jawaban curian.
Jika ujian ini dibiarkan berjalan secara alami, maka raga Lexa (yang kini diisi oleh Maya) akan mendapatkan nilai tertinggi yang memukau seluruh guru. Namun sebaliknya, raga Maya yang asli (yang kini diisi oleh Lexa) dipastikan akan mengalami kehancuran akademis yang memalukan.Maya tentu saja tidak bisa tinggal diam membiarkan raga aslinya hancur lebur di ruang ujian. Sehari sebelum ujian dimulai, saat jam istirahat sore menyapa, Maya sengaja mendekati raga aslinya yang sedang duduk merenung di sudut perpustakaan yang sepi.
"Lexa," panggil Maya lembut dengan suara khas raga Lexa yang anggun.
Raga Maya mendongak, menatap raga sempurnanya dengan sorot mata penuh ketus dan rasa frustrasi. "Mau ngapain lagi lu? Mau ngetawain kebodohan gue karena gue nggak ngerti soal-soal hitungan matematika ini? Puas banget kan lu sekarang hidup di tubuh gue yang sempurna?!" seru Lexa di dalam raga Maya dengan nada parau.
"Dengerin aku," potong Maya tanpa sedikit pun tersinggung. Ia duduk di kursi seberang meja belajar, menatap lurus ke dalam mata Lexa. "Ujian sekolah besok pagi dimulai. Kalau otak yang ada di dalam raga aku itu ngerjain soal dengan asal-asalan karena kamu nggak pernah mau belajar, nilai raga Maya bakal anjlok total. Kamu tahu sendiri apa artinya itu, kan?"
Lexa mendengus sinis, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Terus emang kenapa kalau nilai gue hancur? Urusannya buat lu apa? Lagian yang bakal dicemooh sama guru-guru dan satu sekolah itu kan raga Maya, bukan lu yang duduk tenang di raga Lexa!"
Mendengar jawaban egois itu, Maya menggeleng pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melontarkan peringatan keras yang sukses membuat darah di tubuh Lexa membeku seketika.
"Kamu salah besar, Lexa," suara Maya mendadak tajam dan menusuk. "Kamu lupa siapa yang ada di dalam raga itu sekarang? Kamu! Kalau raga Maya mendadak bodoh dan gagal total di ujian, beasiswa sekolahnya bakal dicabut seketika. Dan yang paling mengerikan... Hani, Lana, dan Adel,geng yang dulu kamu bentuk dan didik sendiri untuk jadi penindas nggak bakal segan-segan nge rundung raga kamu habis-habisan setiap hari!"
Lexa tertegun kaku. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan.
"Mereka bakal nginjak-nginjak harga diri raga kamu, ngejek kamu sebagai anak bodoh yang cuman numpang nama, dan memperlakukan raga kamu dengan jauh lebih kejam dari apa yang pernah kamu lakuin ke aku dulu," lanjut Maya tanpa ampun. "Dan siapa yang bakal nanggung semua siksaan fisik dan mental itu? Kamu. Tubuh kamu sendiri yang bakal kesakitan, tangan kamu sendiri yang bakal lebam, dan air mata kamu sendiri yang bakal tumpah setiap hari di toilet sekolah."
Raga Maya bergetar hebat. Bayangan tentang Hani dan antek-anteknya yang menumpahkan sampah, menendang, hingga menyeret tubuhnya tanpa ampun melintas liar di kepalanya. Pertahanan dari keangkuhan Lexa runtuh berkeping-keping dalam sekejap. Ketakutan akan siksaan nyata dari tangan buah didikannya sendiri melunturkan seluruh gengsi yang tersisa di dalam jiwanya.
"Terus... Terus gue harus gimana...?" cicit Lexa di dalam raga Maya, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis keputusasaan. "Otak gue... Otak gue nggak sanggup ngerjain soal-soal serumit itu sendirian..."
Melihat pertahanan raga aslinya telah runtuh, Maya mengulurkan tangan kanannya di atas meja perpustakaan, menatap Lexa dengan binar ketulusan yang menenangkan.
"Makanya, kita bakal belajar bareng," ucap Maya mantap. "Mulai sore ini, kamu datang ke ruang belajar rumah aku setiap pulang sekolah. Aku bakal bimbing kamu dari nol, ngajarin rumus-rumus fisika, tata bahasa, sampai logika biologi supaya raga aku bisa lewatin ujian ini dengan kepala tegak."
Lexa menatap raga sempurnanya dengan pandangan tak percaya. "Lu... lu mau ngajarin gue? Setelah semua hal keji yang udah gue lakuin ke lu di masa lalu?"
"Aku nggak mau melihat raga aku hancur hanya karena kebodohan dan kemalasan kamu," jawab Maya bijak. "Kita hadapi ujian ini sama-sama. Supaya kamu tahu rasanya berjuang dengan jujur, dan supaya raga aku tetap aman dari cengkeraman monster-monster yang kamu ciptakan sendiri."
Akhirnya, dengan sisa-sisa harga diri yang telah hancur berkeping-keping oleh kenyataan, Lexa menganggukkan kepalanya perlahan di dalam raga Maya. Kesepakatan senyap itu resmi terjalin di bawah temaram lampu perpustakaan.
Hari-hari berikutnya menjelang ujian diubah menjadi sesi bimbingan belajar yang melelahkan namun penuh transformasi di mana sang mantan ratu sekolah yang terbiasa hidup mewah harus duduk menunduk, mendengarkan setiap penjelasan dari korban perundungannya sendiri, belajar merajut kembali masa depan di atas sisa-sisa penyesalan yang mendalam.