“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Namun, tepat saat ia hendak membuka mulut untuk melawan, ia teringat wajah Ayahnya yang terancam dan harapan di mata Adrian. Jika ia membalas sekarang, Reja punya alasan untuk melakukan hal yang lebih gila lagi.
Celin memejamkan mata rapat-rapat, menelan kembali semua makian yang sudah sampai di ujung lidah. Ia hanya terdiam, memegangi tangannya yang kepanasan sambil menatap Reja dengan tatapan yang kosong namun tajam.
"Puaskah?" tanya Celin lirih, suaranya bergetar menahan tangis sekaligus amarah.
Reja hanya tertawa remeh, menyambar kunci motor sport-nya yang baru sampai, dan melenggang pergi keluar rumah tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Suara raungan motor yang memekakkan telinga sesaat kemudian menandakan bahwa perang di minggu kebebasan Reja resmi dimulai, dan Celin tertinggal di dapur dengan tangan yang melepuh dan hati yang semakin membatu.
---
Celin tiba di kelas dengan napas yang masih memburu. Ia segera duduk di bangkunya, mencoba menormalkan detak jantungnya agar teman-temannya tidak curiga.
Namun, fokusnya hancur. Setiap kali tangannya yang terbalut kasa itu menyentuh meja, rasa perih akibat siraman kopi Reja kembali menyengat.
Saat jam pelajaran sejarah berlangsung, ponsel Celin bergetar di dalam saku roknya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia hafal dan sangat ia takuti.
"Celin, Ayah butuh uang sekarang. Utang Ayah yang sudah jatuh tempo. Kalau kamu nggak datang ke gerbang sekolah jam istirahat nanti, Ayah bakal masuk dan cari kamu ke kelas. Jangan bikin Ayah nekat."
Tangan Celin gemetar. Ia tahu ayahnya tidak main-main. Pria itu sudah kehilangan rasa malunya sejak kecanduan judi dan alkohol semakin parah.
Begitu bel istirahat berbunyi, Celin tidak langsung menuju kantin bersama Kirei. Ia beralasan ingin ke perpustakaan untuk mengembalikan buku, padahal tujuannya adalah gerbang belakang yang lebih sepi.
Namun, langkahnya terhenti saat ia melewati kantin terbuka. Di sana, Reja sedang duduk di meja tengah, dikelilingi oleh gengnya. Reja tampak sangat santai, tertawa lebar sambil sesekali melirik ke arah koridor.
"Eh, liat tuh," bisik salah satu teman Reja, menunjuk ke arah Celin yang mencoba berjalan menunduk.
Reja menyesap minumannya, matanya yang dingin mengikuti setiap gerak-gerik Celin. Ia tahu Celin sedang gelisah. Reja merencanakan sesuatu untuk menghancurkan harga diri Celin tepat di tempat gadis itu merasa paling aman, di sekolah.
Celin merasa diawasi, tapi ia tidak punya pilihan. Ia harus segera menemui ayahnya agar pria itu tidak berbuat onar. Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari menyusuri lorong menuju area belakang sekolah yang jarang dilewati siswa.
Pikirannya kalut. Ia hanya punya uang sisa gaji cafe yang sangat sedikit di sakunya. Ia terus berdoa agar ayahnya mau mengerti dan segera pergi.
Namun, tepat saat ia hampir sampai di pagar besi itu, ia mendengar langkah kaki berat di belakangnya. Bukan hanya satu orang, tapi rombongan.
Celin berkeringat dingin. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter dari pagar. Ia bisa melihat bayangan ayahnya yang berdiri gelisah di luar.
"Tuhan, tolong... jangan sekarang," batinnya memohon.
Tapi terlambat. Suara parau ayahnya membelah udara, memanggil namanya dengan kencang, tepat saat Reja dan kawan-kawannya berhenti di belakang Celin dengan senyum penuh kemenangan. Di saat itulah, drama yang paling ditakuti Celin dimulai.
"Li! Celin!" suara serak ayahnya memanggil dari balik pagar besi, membuat beberapa siswa menoleh.
Celin membeku. Ayahnya tampak lebih berantakan dari biasanya, dengan baju yang belum dicuci dan wajah yang gelisah. Di sampingnya, Reja berhenti melangkah.
Sebuah senyum miring tersungkur di wajah Reja saat ia menyadari siapa pria yang sedang berteriak-teriak itu.
"Wah, liat siapa yang dateng," sindir Reja dengan suara cukup keras. "Ada tamu agung rupanya."
Celin mendekat ke pagar dengan perasaan hancur. "Ayah, ngapain ke sini? Celin udah bilang jangan cari Celin di sekolah."
"Ayah butuh uang, Li! Cuma sedikit buat bayar kontrakan yang nunggak. Masa kamu tinggal di rumah mewah tapi ayah kamu terlunta-lunta?" Ayahnya merengek tanpa rasa malu, tangannya menjulur di sela-sela pagar.
Reja berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Celin. Ia merogoh dompet kulitnya yang tebal, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, dan memainkannya di depan mata ayah Celin.
"Butuh ini?" tanya Reja dengan nada sangat merendahkan.
"Reja, jangan!" cegah Celin, suaranya bergetar. Ia tahu ini adalah cara Reja untuk kembali menginjak harga dirinya.
"Kenapa? Kasihan kan ayah lo?" Reja tertawa sinis. Ia lalu menjatuhkan uang itu ke tanah, tepat di luar pagar. "Ambil. Anggap aja sedekah buat orang yang udah berhasil ngejual anaknya ke keluarga gue."
Ayah Celin, tanpa ragu sedikit pun, langsung berlutut untuk memunguti uang itu dari tanah. Pemandangan itu membuat Celin ingin menghilang dari muka bumi. Rasa malu dan muak bercampur menjadi satu.
Setelah ayahnya pergi dengan wajah puas tanpa mempedulikan perasaan anaknya, Reja berbalik menatap Celin. Teman-temannya tertawa di belakang, tapi Reja tiba-tiba memberi isyarat agar mereka pergi lebih dulu.
Kini tinggal mereka berdua di bawah bayangan pohon kamboja yang sepi. "Gimana rasanya punya bokap kayak gitu, Li?" tanya Reja, nadanya kini rendah tapi penuh racun. "Hina, kan? Lo sama dia nggak ada bedanya. Sama-sama parasit."
Celin menatap Reja dengan mata yang berkaca-kaca, tapi ia menolak untuk menangis. "Lo boleh hina gue sepuas lo, Reja. Tapi lo nggak punya hak buat ngerendahin manusia kayak tadi."
"Manusia?" Reja maju selangkah, menekan Celin ke batang pohon.
"Manusia mana yang ngejual anaknya demi utang judi? Lo itu cuma barang yang dia tukar sama uang Papa gue. Jadi jangan berlagak punya harga diri di depan gue."
Reja lalu melirik tangan Celin yang masih tertutup kain kasa akibat siraman kopi tadi pagi. Ia menarik tangan itu dengan kasar, membuat Celin meringis kesakitan.
"Sakit?" bisik Reja tanpa belas kasihan. "Ini belum seberapa. Inget, minggu ini gue bebas. Dan kalau gue liat bokap lo muncul lagi dan malu-maluin nama gue di sekolah ini, gue bakal pastiin dia masuk penjara karena penipuan atau apa pun yang bisa gue beli pake uang gue."
Reja melepaskan tangan Celin dengan sentakan dan pergi menuju parkiran motornya. Celin jatuh terduduk di bawah pohon kamboja. Ia memandangi tangannya yang terluka dan memikirkan ayahnya yang baru saja memungut uang dari tanah.
Ia menyadari bahwa menjadi tegar saja tidak cukup. Jika ia hanya diam menerima, Reja akan terus menghancurkannya hingga tidak ada lagi yang tersisa.
"Pintar dan berprestasi," gumamnya mengingat kata-kata Adrian. "Gue harus pake otak gue. Gue nggak bisa cuma jadi samsak tinju Reja selamanya."
Bersambung...