Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Distrik industri tua di ujung utara kota malam itu tampak seperti kuburan massal yang ditelan kabut. Angin berembus membawa aroma karat, garam laut, dan sisa hujan. Di dalam Gudang Nomor Empat, Maxim menuangkan bir ke dalam gelasnya dengan tawa berderai, sementara Alan duduk menyilangkan kaki, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja baja.
Di sudut ruangan yang lembap dan berbau apak, Sofie Millen duduk terikat di kursi kayu, mulutnya dibungkam lakban, tubuh rentanya gemetar hebat menyaksikan puluhan pria bersenjata dari klan Sinaloa dan The Dragon Black yang berjaga di setiap sudut.
"Satu kali dua puluh empat jam," gumam Alan, menyeringai menatap layar ponselnya. "Dan saat Ratu kecilnya datang menyerahkan diri esok malam, kita akan merekam kematiannya dan mengirimkannya langsung ke meja Aldebaran."
Maxim menenggak birnya rakus. "Aku tidak sabar melihat wajah arogan bajingan itu hancur."
Namun, mereka sama sekali tidak tahu bahwa jarum jam kehidupan mereka telah berhenti berdetak malam itu juga.
Di luar gudang, kegelapan malam mendadak hidup. Tanpa sorot lampu, tanpa deru mesin, barisan SUV antipeluru hitam legam mengepung area itu dari empat titik kardinal. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang membawa neraka.
Dari atas bukit kecil berjarak lima ratus meter dari gudang, Dante berbaring tengkurap dengan senapan runduk Barrett M82 yang dilengkapi peredam suara tingkat militer. Mata dinginnya menempel pada scope thermal. Tiga penjaga di atap gudang bercahaya merah dalam bidikannya.
"Posisi terkunci," lapor Dante melalui radio komunikasi di telinganya.
Di bawah sana, di balik bayang-bayang kontainer, Aldebaran berdiri mematung. Sang penguasa mengenakan setelan taktis hitam dengan rompi antipeluru, namun tanpa pelindung kepala, membiarkan angin malam menyapu rambutnya. Matanya yang kelam menyala oleh rasa haus darah yang tak terbendung.
"Mulai simfoni kematiannya," titah Aldebaran rendah, suaranya sedingin es.
Pfut! Pfut! Pfut!
Tiga peluru kaliber 50 BMG melesat menembus udara malam. Dalam hitungan detik, tanpa suara ledakan yang berarti, tiga tengkorak penjaga di atap gudang meledak, menyemburkan kabut darah dan serpihan tulang ke udara sebelum tubuh mereka ambruk tanpa daya.
"Atap bersih. Silakan masuk, Tuan," suara Dante kembali terdengar.
Di dalam gudang, lampu neon yang berkedip menyilaukan tiba-tiba mati total. Pemutus arus listrik telah dihancurkan. Kegelapan absolut langsung menelan ruangan raksasa itu.
Tawa Maxim terhenti. Alan membeku di kursinya. Kepanikan instan menyergap puluhan anak buah mereka.
"Apa yang terjadi?! Nyalakan genset darurat! Bodoh!" raung Maxim, menarik pistol dari pinggangnya.
"S-siaga penuh! Seseorang menyusup!" teriak Alan, namun suaranya tenggelam oleh suara mendesing yang mengerikan.
Dari balik kegelapan gulita, unit Delta yang mengenakan night-vision goggles (kacamata inframerah) melesat masuk melalui ventilasi dan pintu belakang layaknya sekawanan hantu pencabut nyawa.
Flop berada di garis depan. Senyum psikopatnya mengembang lebar di balik kegelapan. Ia tidak menggunakan senjata api. Ia memilih pisau karambit kembarnya. Dengan gerakan seringan angin namun secepat kilat, Flop melesat di antara formasi musuh.
Sret! Crak!
Suara bilah baja yang menyayat daging basah, disusul oleh suara gemericik darah yang memuncrat ke udara, menjadi alunan musik pertama yang terdengar. Jeritan tertahan dan suara tubuh-tubuh besar yang jatuh berdebum ke lantai beton membuat anak buah Alan dan Maxim menembak membabi buta ke segala arah.
Percikan api dari moncong senjata menerangi ruangan secara sekilas, memperlihatkan pembantaian gila yang sedang terjadi. Pasukan Sinaloa dan Dragon Black tumbang satu per satu. Leher tergorok, dada tertembus peluru tak bersuara, tulang rusuk remuk oleh hantaman laras panjang. Udara seketika dipenuhi aroma pekat mesiu dan anyir darah yang memuakkan.
Di tengah kekacauan, pintu utama gudang berbahan baja tebal itu ditendang terbuka hingga engselnya jebol.
Lampu sorot dari SUV milik Iron Crown menyala terang benderang dari luar, menyorot langsung ke dalam gudang bagai cahaya ilahi, menyilaukan mata sisa musuh yang masih berdiri. Dan dari balik cahaya menyilaukan itu, sebuah siluet iblis melangkah masuk dengan langkah pelan, elegan, namun membawa aura kematian yang mencekik.
Aldebaran Hendrick.
"Tembak dia! Bunuh bajingan itu!" teriak Maxim gila, memuntahkan seluruh pelurunya ke arah pintu masuk.
Aldebaran tidak repot-repot menghindar. Dua penjaganya yang memegang tameng baja balistik maju dengan mulus, mementalkan rentetan peluru Maxim seperti mainan anak-anak. Saat senapan Maxim kehabisan peluru dan berbunyi klik, Aldebaran mengangkat pistol Sig Sauer-nya dengan satu tangan.
Dor! Dor!
Dua tembakan memekakkan telinga meledak. Peluru itu melesat tanpa ragu, menghancurkan kedua tempurung lutut Maxim secara presisi.
"AARGHHH!" Maxim menjerit beringas, tubuh raksasanya ambruk ke lantai basah yang kini menggenang oleh darah anak buahnya sendiri. Ia meronta, menahan sakit yang merobek sarafnya.
Pembantaian itu usai hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit. Tujuh puluh lebih nyawa musuh telah menjadi mayat yang bertumpuk, sementara pasukan Iron Crown berdiri tegap tak tersentuh.
Alan, dengan wajah pucat pasi dan seluruh tubuh bergetar hebat, mundur perlahan hingga menabrak kursi Sofie. Pemimpin Dragon Black itu tak lagi terlihat elegan. Dalam keputusasaan yang buta, ia menarik pistolnya dan menodongkannya tepat ke pelipis Sofie yang menangis tersedu-sedu di balik lakbannya.
"M-mundur! Mundur, atau wanita tua ini akan kuhancurkan kepalanya!" teriak Alan serak, menggunakan ibu mertua Aldebaran itu sebagai perisai hidup.
Langkah Aldebaran tak terhenti. Sol sepatunya menginjak genangan darah dan pecahan kaca, mendekati Alan dengan tatapan predator yang sedang mempermainkan mangsanya.
"Kau mengancamku dengan nyawanya?" Aldebaran memiringkan kepala, menyeringai gelap. "Lakukan, Alan. Tarik pelatuknya. Lagipula wanita tua berengsek itu telah membuat istriku menangis bertahun-tahun. Kau malah akan memudahkanku menyingkirkan sampah dari kehidupan Amanda."
Mata Alan membelalak. Gertakannya tidak mempan. Sofie yang mendengarnya merintih di balik lakban, matanya memancarkan kengerian mutlak melihat sang menantu yang lebih menyeramkan dari penculiknya.
Momen keraguan Alan selama satu sekon akibat ucapan Aldebaran itu menjadi kesalahan terakhirnya.
Dari atas catwalk besi di langit-langit gudang, Dante melepaskan tembakan sniper-nya melalui celah ventilasi atap.
Dor!
Pergelangan tangan kanan Alan hancur seketika, terputus oleh peluru kaliber besar. Pistol yang ia pegang terlempar bersama sisa tangannya yang berlumuran darah.
"AAGHKK!" Alan menjerit melengking, jatuh berlutut sambil memegangi tunggul tangannya yang menyemburkan darah segar.
Aldebaran berdiri menjulang tepat di hadapan Alan. Dengan tatapan kosong yang merendahkan, sang Raja Iblis menginjak dada Alan dengan ujung sepatunya, menekan pria itu ke lantai yang berlumur darah.
"Kau mengira bisa bermain catur denganku dengan mengancam Ratu dan putriku," bisik Aldebaran. Suaranya bergema di antara isak tangis Sofie dan erangan Maxim di sudut ruangan. "Tapi kau lupa, Alan. Di papan caturku, tidak ada bidak yang berani memakan bidakku, karena aku yang memegang papan itu sendiri."
Aldebaran menodongkan moncong pistolnya yang masih mengepulkan asap tipis ke dahi Alan.
"Sampaikan salamku pada iblis di neraka."
DOR!
Kepala Alan tersentak ke belakang, dan tubuhnya seketika kehilangan nyawa, menyusul kerajaannya yang runtuh dalam semalam.
Aldebaran menurunkan senjatanya, sama sekali tidak terpengaruh oleh cipratan darah di ujung jas taktisnya. Ia menoleh ke arah Flop yang tengah asyik melap lap pisau karambit-nya yang basah kuyup oleh darah Sinaloa.
"Urus babi besar itu," perintah Aldebaran sambil menunjuk Maxim yang masih mengerang di lantai. "Bawa dia ke ruang penyiksaan. Aku ingin dia menjerit selama seminggu penuh sebelum akhirnya mati."
"Dengan senang hati, Tuan," kekeh Flop mengerikan.
Tatapan Aldebaran akhirnya jatuh pada sosok Sofie Millen yang kini nyaris pingsan karena syok melihat eksekusi brutal di depan matanya. Wanita yang dulu selalu mencaci maki Amanda itu kini tampak begitu kerdil, kotor, dan tak berdaya.
"Buka ikatannya," perintah Aldebaran pada salah satu anak buahnya. "Bawa wanita tua ini pulang ke mansion. Istriku mungkin tidak membutuhkannya, tapi putriku harus melihat hadiah kecil yang dibawa ayahnya."
Sang Penguasa The Iron Crown berbalik, berjalan membelah lautan mayat musuh-musuhnya, meninggalkan gudang itu untuk dibakar hingga rata dengan tanah, menutup lembaran sejarah The Dragon Black dan Sinaloa untuk selama-lamanya.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭