Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Uang muka
Malam jatuh begitu pekat di kediaman mereka. Keheningan yang menyelimuti kamar utama terasa jauh lebih berat, sarat akan ketegangan yang tertahan sejak kesepakatan gila di ruang kerja Areksa.
Zevanna berdiri di dekat jendela kaca berukuran besar, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca luar. Gaun tidur satin sutra berwarna hijau zamrud yang melekat di tubuhnya terasa begitu tipis, seolah tak mampu melindungi kulitnya dari hawa dingin maupun dari sepasang mata yang kini mengawasinya dari kegelapan ruangan.
Suara langkah kaki yang berat dan teratur mendekat dari arah belakang. Tanpa perlu menoleh, Zevanna tahu itu Areksa. Aroma parfum kayu cendana bercampur sedikit aroma whiskey yang khas langsung menyeruak, menginvasi indra penciumannya.
"Masih berniat untuk mundur, my dear?"
Suara berat Areksa bergema rendah di tengkuk Zevanna. Sebelum wanita itu sempat menjawab, sepasang lengan kekar merengkuh pinggangnya dari belakang dengan sangat erat, menarik tubuh Zevanna tanpa ampun hingga menempel rapat pada dada bidang Areksa yang hangat.
Zevanna menahan napas. Suhu tubuh Areksa yang panas menembus kain sutra gaunnya, mengirimkan sengatan listrik aneh yang menjalar hingga ke ujung jari kaki.
"Aku tidak pernah mundur dari transaksi yang sudah kutandatangani," bisik Zevanna dengan nada menantang, meski detak jantungnya yang bergemuruh di dalam dada tak bisa lagi disembunyikan dari pria yang sedang mendekapnya ini.
Areksa terkekeh pelan, sebuah tawa rendah bernada berbahaya. Bisikan napas panasnya menyapu leher Zevanna, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri seketika.
"Bagus. Karena aku tidak menerima retur," gumam Areksa intens. "Kau harus tahu, berapa lama aku sudah menahan momen ini"
Dengan gerakan cepat dan tanpa peringatan, Areksa membalikkan tubuh Zevanna hingga mereka berhadapan. Tangan kekar pria itu berpindah ke tengkuk Zevanna, mencengkeram jemari di antara helai rambut halus istrinya, lalu mendaratkan ciuman yang begitu liar dan mendominasi.
Bukan sekadar ciuman biasa, melainkan sebuah klaim mutlak. Bibir Areksa melumat bibir Zevanna dengan gairah yang menuntut, seolah ingin melahap seluruh pertahanan yang dibangun wanita itu. Zevanna sempat cengkeram kemeja Areksa, berniat menahannya, namun dominasi pria itu terlalu memabukkan.
Zevanna membalas ciuman itu dengan sama ganasnya, gigitan kecil di bibir Areksa menjadi bukti bahwa ia bukan sekadar wanita pasrah, melainkan lawan yang seimbang dalam tarian gila ini.
Areksa mengerang rendah di dalam tenggorokannya saat merasakan balasan Zevanna. Darahnya makin mendidih. Dengan satu gerakan penuh kuasa, ia mengangkat tubuh Zevanna, membuat refleks kedua kaki wanita itu melingkar ketat di pinggang Areksa. Pria itu membawanya menuju tempat tidur berukuran king-size di tengah ruangan, lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur empuk tanpa memutus pagutan panas mereka.
Atmosfer kamar mendadak berubah menjadi sangat panas dan sesak. Tali gaun sutra Zevanna ditarik turun dari bahunya oleh jemari Areksa yang kasar namun peka, menyingkap kulit mulus yang terekspos di bawah pendar redup lampu tidur.
Napas mereka berdua terengah-engah, berburu udara di antara jarak yang kian terkikis habis.
"Ingat janji kesepakatan kita, Areksa..." bisik Zevanna parau saat bibir Areksa berpindah, mengecup dan menyesap area sensitif di sepanjang garis rahang hingga lehernya dengan penuh gairah yang memabukkan. "Pembunuh mamaku... dan separuh asetmu."
Areksa menengadah sejenak. Manik matanya yang gelap dan tajam menatap lurus ke dalam netra Zevanna yang dipenuhi kilat keberanian dan kehausan akan keadilan. Seringai tampan yang terkesan nakal terbit di bibir pria itu.
"Kau akan mendapatkan semua yang kau minta, Zevanna," ucap Areksa dengan suara serak yang berat, mengikis sisa jarak di antara mereka. "Tapi malam ini... kau harus membayar uang mukanya sampai tuntas."
Areksa tak lagi terburu-buru. Ia memulainya secara bertahap, membiarkan jemari tangannya yang hangat menyusuri lekuk tubuh Zevanna dari pinggang hingga naik ke bahu. Gaun sutra hijau zamrud itu perlahan merosot turun, memperlihatkan kulit mulus Zevanna yang merinding hebat akibat sentuhan dan hawa dingin ruangan.
Bibir Areksa mendaratkan kecupan-kecupan lembut di sepanjang rahang Zevanna, turun ke leher, hingga menyesap area sensitif di tulang selangka wanita itu.
Desahan halus lolos dari bibir Zevanna tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya melengkung pasrah di bawah dominasi suaminya. Gelombang sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menjalar, membuat pasokan udaranya kian menipis. Setiap kali bibir dan jemari Areksa bermain di titik-titik sensitifnya, lenguhan manis Zevanna memenuhi keheningan kamar, bersahut-sahutan dengan desah napas Areksa yang makin memburu dan serak.
"Kau begitu indah, Zevanna..." bisik Areksa parau di depan bibir istrinya. "Mana mungkin aku membiarkan pria lain mencicipi nya"
Gairah yang semula perlahan kini membakar habis akal sehat. Areksa menyingkirkan sisa kain yang menghalangi. Namun, saat Areksa mulai menekan dan menyatukan tubuh mereka.
Jeritan melengking Zevanna memecah malam. Tubuhnya mendadak kaku, rasa sakit yang luar biasa hebat menyengat tajam di bagian terbawah tubuhnya, membuat matanya membelalak lebar dan air mata seketika menetes deras membasahi pipinya. Ini adalah pengalaman pertamanya, dan rasa sakit itu terasa bagai menyobek ketahanannya.
Areksa membeku seketika. Matanya berganti menatap Zevanna dengan pandangan kasih. Ingin sekali minta maaf karena menyakitinya tapi ini benar-benar nikmat.
Zevanna meraung kesakitan campur aduk dengan rasa malu dan murka. Tanpa berpikir panjang, kedua tangannya terangkat naik, melingkari punggung telanjang Areksa. Kuku-kuku jarinya yang panjang meruncing menancap dalam-dalam dan mencakar punggung Areksa secara ganas, meninggalkan bekas goresan merah yang dalam dari atas hingga bawah!
"Akh!" Areksa meringis pelan saat rasa perih cakaran itu membakar kulit punggungnya.
Namun, bukannya marah, rasa sakit itu justru makin membakar gairah gilanya. Melihat Zevanna menangis dengan mata basah dan tatapan menantang, Areksa menunduk, mengusap air mata di pipi Zevanna dengan lembut, memanjakan wanita itu dengan ciuman-ciuman dalam untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Kau yang memulai permainan ini, Zevanna!" balasan Areksa begitu dalam dan tegas.
Suara desah napas mereka berdua menggema nyaring, memenuhi setiap sudut kamar utama yang tertutup rapat. Gesekan kain, rintihan beradu pasrah, dan benturan gairah menyatu dalam simfoni panas malam itu. Zevanna yang awalnya hanya bisa menangis dan mencakar, kini pasrah tenggelam dalam pusaran gairah yang dibuat oleh suaminya sendiri, qsebuah ikatan gila yang menyegel kesepakatan bernilai miliaran rupiah dan dendam masa lalu mereka.
"Tahan... Jangan menunjukkan kesakitan di depanku. Aku tidak menyukai itu, Dear" bisik Areksa.