Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19
Bu Komandan
"Mas Arya, masalah apa?"
Keisha mencengkeram ponsel. Suara napas Arya terdengar lagi, disusul gesekan yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Tidak serius. Tidur saja."
"Jangan menyuruhku tidur setelah menelepon pukul satu pagi dengan suara seperti itu. Kamu di mana?"
Sambungan terputus.
Keisha menelepon kembali tiga kali. Nomor itu tidak aktif.
Pagi datang tanpa tidur. Keisha sudah mengenakan pakaian kerja ketika pesan dari Kapten Reza masuk.
Dok, Ndan aman. Luka ringan. Sekarang di RS Kartika.
Keisha langsung meneleponnya.
"Ringan itu berapa jahitan?"
Reza terdiam terlalu lama.
"Kapten Reza."
"Tujuh. Tapi betul ringan, Dok. Hanya bahu. Tidak ada organ penting yang kena."
"Kirim lokasi."
"Ndan bilang tidak perlu membuat Bu Keisha khawatir."
"Kalau dalam lima detik lokasinya belum masuk, saya cari nomor atasannya dan laporkan kalian menyembunyikan kondisi pasien dari keluarga."
Pesan lokasi datang pada detik ketiga.
RS Kartika berdiri tidak jauh dari kawasan militer. Gerbangnya dijaga personel berseragam. Begitu Keisha menyebut nama Arya, petugas memeriksa kartu identitas dan buku nikah digital yang ia tunjukkan, lalu mengarahkan mobilnya ke area tamu.
Keisha baru turun ketika Reza berlari menghampiri. Seragamnya kusut pada bagian lengan, tetapi ia masih sempat memberi senyum bersalah.
"Dokter Keisha, tenang dulu."
"Saya tenang. Di mana pasiennya?"
"Nada suara Dokter membuat saya ingin minta perlindungan."
"Tujuh jahitan."
"Itu angka kecil."
"Saya bisa menambah jumlah orang yang perlu dijahit."
Reza langsung menunjuk koridor. "Lantai dua."
Mereka melewati beberapa prajurit. Setiap orang yang melihat Reza memberi salam singkat, lalu pandangannya jatuh kepada Keisha. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Itu istrinya Ndan?"
"Nyonya Meriam?"
Keisha memperlambat langkah. Meriam. Kata yang sama saat akad.
Seorang perempuan berseragam tenaga kesehatan tersenyum kepadanya. "Silakan, Bu Komandan. Ruang perawatannya di ujung."
"Maaf," kata Keisha, "Bu siapa?"
Reza pura-pura sibuk memeriksa ponsel.
Keisha menarik bagian belakang lengannya. "Jelaskan."
"Setelah melihat Ndan dulu, ya."
Arya berada di ruang perawatan khusus, duduk di tepi ranjang dengan bahu kiri dibalut. Wajahnya sedikit pucat. Ada lecet di pelipis dan buku-buku jarinya, tetapi ia tetap membaca laporan seolah tubuh yang terluka itu milik orang lain.
Begitu melihat Keisha, alisnya mengeras. "Kenapa kamu datang?"
Pertanyaan itu membakar sisa kesabarannya.
"Karena suamiku menelepon dini hari, mengatakan ada masalah, lalu menghilang. Karena temanmu menyebut tujuh jahitan sebagai luka ringan. Dan karena ternyata semua orang di gedung ini tahu pekerjaanmu kecuali istrimu sendiri."
Arya menutup map. "Aku berniat menjelaskan setelah pulang."
"Kapan? Setelah jahitannya dilepas?"
Arya menatap pintu, memastikan tidak ada orang di ambang, lalu meletakkan laporan itu di meja samping ranjang. "Aku perwira TNI. Beberapa tugasku tidak bisa diceritakan, termasuk tempat dan kegiatan beberapa hari terakhir. Tetapi statusku bukan sesuatu yang seharusnya kusembunyikan darimu setelah kita menikah."
Keisha menunggu, menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Arya tidak memakai jawaban pendek sebagai tembok di antara mereka.
"Aku salah," lanjutnya. "Awalnya pernikahan ini hanya kerja sama. Aku menganggap pekerjaanku tidak berkaitan denganmu selama risikonya tidak masuk ke rumah. Ternyata risiko itu membuatmu menerima telepon tengah malam tanpa penjelasan."
Permintaan maaf yang lugas itu meredakan sebagian marah Keisha, tetapi tidak menghapusnya.
"Dan Meriam?"
"Julukan di lingkungan kerja."
"Pangkatmu?"
"Cukup untuk membuat Reza diam kalau aku menyuruhnya. Biasanya."
Dari koridor terdengar suara Reza, "Saya dengar, Ndan."
Keisha menatap Arya tidak percaya. "Kamu masih bercanda?"
"Aku sedang berusaha membuatmu tidak semarah itu."
"Keisha."
"Buka balutannya."
"Sudah ditangani dokter."
"Saya juga dokter."
Seorang dokter senior masuk bersama perawat. Reza segera berdiri lebih tegak.
"Kolonel dr. Firdaus," katanya memperkenalkan. "Kepala RS Kartika."
Firdaus menyalami Keisha. "Kami sudah melakukan pemeriksaan. Luka robek di bahu, memar, dan dehidrasi ringan. Tidak ada patah tulang atau cedera dalam. Kondisinya stabil."
Keisha baru bisa menarik napas penuh setelah mendengar penilaian tersebut langsung.
"Terima kasih, Dokter."
Firdaus melirik Arya. "Masalahnya, pasien ini ingin kembali bekerja sebelum observasi selesai. Mungkin istrinya bisa membuatnya patuh."
Arya menghela napas. "Pak Firdaus."
"Saya hanya menyampaikan fakta medis." Firdaus menyerahkan pemeriksaan balutan kepada perawat, lalu keluar bersama Reza yang masih menahan tawa.
Keisha mencuci tangan dan mengenakan sarung tangan setelah mendapat izin. Ketika balutan dibuka, tujuh jahitan tampak di dekat bahu Arya. Kulit di sekitarnya memerah, dengan memar gelap yang menjalar ke lengan atas.
Jarinya berhenti sesaat.
"Katanya sedikit masalah," ucapnya lebih pelan.
"Memang sedikit."
"Kalau lebih dalam beberapa sentimeter, kamu bisa kehilangan banyak darah."
"Tidak terjadi."
"Itu bukan alasan untuk meremehkan risiko."
Keisha membersihkan bagian luar luka dengan hati-hati. Arya tidak mengeluh, tetapi otot rahangnya menegang ketika kasa menyentuh memar.
"Sakit?"
"Tidak."
Keisha menekan sedikit lebih kuat di area aman.
Arya mendesis.
"Ternyata masih punya saraf," katanya tajam. Namun pandangannya mulai kabur oleh air yang ia tahan sejak dini hari. "Kamu tidak perlu terlihat kuat setiap detik. Setidaknya jangan di depan dokter yang sudah tahu kamu berbohong."
Arya menatap wajahnya. Kekerasan di matanya perlahan turun.
"Aku baik-baik saja, Kei."
Itu pertama kalinya ia memakai panggilan itu. Suaranya rendah dan tidak terdengar seperti perintah.
Keisha menunduk, menyelesaikan balutan baru. "Aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter."
"Kamu berlari ke sini sebagai dokter?"
"Aku berjalan cepat."
"Reza bilang kamu mengancam mencari atasanku."
"Itu prosedur komunikasi."
Sudut bibir Arya bergerak. Keisha ingin marah karena ia masih bisa tersenyum, tetapi rasa lega menghantam lebih besar.
Saat mereka keluar dari ruang perawatan untuk pemeriksaan lanjutan, beberapa prajurit dan keluarga pasien sedang menunggu di koridor. Bisikan kembali menyebar. Seseorang memberi hormat kepada Arya. Yang lain tersenyum lebar kepada Keisha.
"Selamat datang, Bu Komandan."
"Nyonya Meriam ternyata dokter."
"Cocok. Si Meriam memang harus ditangani orang berani."
Keisha masih menggenggam gulungan kasa. Ia menoleh tajam kepada Reza. "Si Meriam itu siapa?"
Reza menunjuk Arya dengan dagunya. "Suami Dokter. Julukannya dari cara kerja. Kalau sudah mendapat tugas, cepat, keras, dan tidak memberi lawan kesempatan kedua. Bukan karena hal aneh, saya bersumpah."
Potongan terakhir jatuh ke tempatnya. Ndan Meriam. Seragam. Markas. Orang-orang yang berdiri lebih tegak ketika Arya lewat.
"Jadi kamu benar-benar seorang komandan," bisik Keisha.
Arya belum sempat menjawab ketika orang-orang di koridor kembali menyapanya.
"Nyonya Meriam!"
Dalam kebingungannya, Arya melingkarkan satu lengan di bahu Keisha. Gerakannya pelan, cukup memberi kesempatan baginya untuk menjauh. Keisha tidak melakukannya.
"Iya," kata Arya kepada mereka, tenang dan tegas. "Ini istri saya."
Jantung Keisha kehilangan satu ketukan.
Ia mendongak dan langsung bertemu tatapan Arya.