Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Mahkota Yang Kembali
Malam di ibu kota diselimuti megahnya pendar lampu hias keemasan yang memancar dari Istana Naga Hitam. Bangunan megah berarsitektur klasik modern yang berdiri kokoh di kawasan paling eksklusif itu menjadi pusat perhatian dunia. Ratusan mobil mewah berpelat diplomatik dan kendaraan lapis baja berbaris rapi di sepanjang pelataran parkir. Para pemimpin bisnis global, duta besar dari lima benua, hingga pengusaha terkemuka berkumpul untuk menyaksikan peristiwa bersejarah: Penobatan Resmi Pemimpin Tertinggi Konsorsium Bisnis Global Naga Hitam.
Di dalam aula utama yang dilapisi karpet merah tebal dengan pilar-pilar marmer bertatahkan ukiran naga perak, atmosfer terasa sangat khidmat dan sarat akan penghormatan. Musik simfoni megah mengalun lembut, mengiringi para tamu VIP yang saling bertegur sapa dengan penuh kesopanan.
Di lantai atas, di dalam suite pribadi yang sangat luas, Alya berdiri di depan cermin raksasa. Ia mengenakan gaun malam berwarna putih gading dengan aksen bordiran emas halus di sepanjang dada dan gaun bagian bawah. Rambutnya disanggul anggun dengan mahkota tiara berlian kecil yang berkilau menawan di atas kepalanya. Penampilannya memancarkan pesona seorang ratu—anggun, cerdas, dan bermartabat.
Alya bukan lagi wanita penakut yang dulu diremehkan. Kini, di balik statusnya sebagai pendamping Reno, ia berdiri sebagai Manajer Eksekutif sukses yang memimpin anak perusahaan terbaik Zena, membawa proyek kawasan pesisir menuju keberhasilan finansial yang fantastis.
Pintu suite terbuka perlahan. Reno melangkah masuk dengan setelan jas kebesaran Penguasa Naga Hitam—sebuah jas khusus berwarna hitam pekat dengan jubah tipis berbordir naga perak yang menjuntai anggun di bahunya. Aura ketampanan, ketenangan, dan kekuasaan tak bertepi terpancar begitu kuat dari setiap gerakannya.
Reno menghentikan langkahnya di belakang Alya, menatap pantulan bayangan wanita itu di cermin. Sepasang matanya yang biasa dingin memancarkan kehangatan dan rasa bangga yang amat dalam.
"Kamu sangat cantik, Alya," suara Reno mengalun lembut, memecah keheningan suite.
Alya memutar tubuhnya, menatap Reno dengan batin yang bergetar. Ia melangkah mendekat, merapikan kerah jas Reno dengan jemarinya yang lembut.
"Terima kasih, Reno," bisik Alya dengan senyuman manis yang memikat. "Melihatmu berdiri seperti ini... membuatku sadar betapa jauhnya perjalanan yang telah kita tempuh. Masa-masa penyamaranmu sudah selesai, dan malam ini kamu kembali meraih mahkotamu yang sejati."
Reno memegang jemari Alya yang berada di dadanya, mencium punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Mahkota ini tidak ada artinya jika aku tidak membaginya bersamamu, Alya."
*KNOCK! KNOCK!*
Bagas mengetuk pintu suite, membungkuk hormat dari ambang pintu. "Tuan Muda, Nona Alya, seluruh tamu undangan internasional telah berkumpul di aula utama. Acara penobatan akan segera dimulai."
Reno mengangguk tipis. Ia merentangkan tangan kencangnya, dan Alya dengan penuh rasa percaya diri melingkarkan lengannya di siku Reno. Bersama-sama, mereka melangkah keluar menuju panggung tertinggi di dunia.
*TAP! TAP! TAP!*
Ketika pintu ganda berukiran emas aula utama terbuka lebar, seluruh percakapan ratusan tamu VIP mendadak terhenti total. Terompet kehormatan bergema nyaring menembus langit-langit aula yang megah.
Reno dan Alya melangkah masuk secara berdampingan. Pemandangan itu begitu memukau dan menghipnosis. Reno berjalan bagaikan seorang raja yang menaklukkan jagat raya, sementara Alya berdiri sejajar di sisinya—bukan sebagai wanita yang menumpang ketenaran, melainkan sebagai sosok mitra sejajar yang memancarkan aura kejayaan yang sama.
Seluruh duta besar, menteri, dan pimpinan klan global membungkukkan badan mereka 90 derajat secara serentak saat Reno dan Alya melintasi karpet merah menuju panggung utama.
"Selamat atas penobatan Anda, Tuan Muda Reno!"
"Suatu kehormatan bagi dunia bisa menyaksikan kejayaan Konsorsium Naga Hitam!"
Reno merespons salam para tamu dunia dengan anggukan kepala yang sangat tipis namun sarat akan wibawa.
Sesampainya di atas panggung utama, Bagas yang bertindak sebagai pembawa acara utama berdiri di depan mimbar berlogo Naga Hitam emas. Di sampingnya, sebuah mahkota perak dan stempel kekuasaan tertinggi diletakkan di atas bantalan beludru merah.
"Malam ini," suara Bagas menggelegar diproyeksikan melalui pengeras suara, "setelah menyelesaikan tugas penyamaran dan pembersihan musuh-musuh korup, Tuan Muda Reno secara resmi dikukuhkan kembali sebagai Pemimpin Tertinggi Konsorsium Bisnis Global Naga Hitam!"
Tepuk tangan riuh bergema membahana memenuhi seluruh aula. Lampu kilat dari puluhan wartawan resmi media internasional menyala bagaikan kilatan bintang.
Reno melangkah maju ke depan mimbar, mengangkat tangannya perlahan. Seketika itu juga, tepuk tangan riuh terhenti, berganti menjadi keheningan yang penuh kepatuhan.
Reno memutar pandangannya ke seluruh penjuru aula, lalu memulai pidato penobatannya dengan suara yang rendah, tenang, namun menggelegar ke seluruh dunia.
"Konsorsium Naga Hitam dibangun bukan untuk menindas yang lemah atau memamerkan keangkuhan harta," tegas Reno dengan pandangan tajam yang tak tergoyahkan. "Kekuasaan yang sejati adalah kekuasaan yang membawa keadilan, melindungi orang-orang tulus, dan meruntuhkan mereka yang menyalahgunakan wewenang demi keserakahan."
Reno melanjutkan pidatonya dengan mengumumkan kebijakan strategis baru yang membuat seluruh pengusaha dunia terperangah.
"Sebagai langkah awal penobatan ini," ujar Reno lugas, "Konsorsium Naga Hitam akan mengalokasikan dana sebesar seratus triliun rupiah untuk program investasi pembangunan fasilitas umum, pendidikan gratis, dan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah berkembang. Proyek ini akan disupervisi langsung oleh Perusahaan Zena di bawah kepemimpinan Eksekutif Alya Pramudya."
*CLAP! CLAP! CLAP!*
Gemuruh tepuk tangan yang jauh lebih dahsyat kembali pecah! Para pejabat negara dan duta besar memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas visi mulia sang Penguasa Naga Hitam. Alya yang berdiri di panggung menatap Reno dengan mata berkaca-kaca penuh haru dan kekaguman. Reno tidak hanya menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam secara elegan, tetapi juga untuk menyebarkan kebaikan bagi masyarakat luas.
Di tengah gemuruh tepuk tangan yang belum mereda, Reno memutar tubuhnya perlahan. Ia tidak lagi menatap para tamu VIP atau kamera media internasional. Sepasang mata cokelat gelap milik Reno sepenuhnya tertuju pada Alya.
Aura dingin yang biasanya membalut Reno menguap tanpa sisa, digantikan oleh pendar cinta yang begitu murni dan mendalam.
Alya mengerutkan dahi pelan, merasa bingung melihat perubahan ekspresi Reno. "Reno... ada apa?"
Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Di hadapan ratusan pemimpin dunia, pejabat negara, duta besar dari lima benua, dan ribuan pasang mata yang menyaksikan melalui siaran langsung televisi internasional...
Reno melangkah satu pukulan mendekati Alya, lalu secara perlahan menekuk lutut kanannya.
*THUD!*
Penguasa tertinggi yang ditakuti seluruh klan berdarah dingin itu... kini berlutut dengan satu kaki di atas panggung utama, tepat di hadapan Alya!
Seluruh aula mendadak hening total. Para duta besar menahan napas, para wartawan terpana hingga lupa menekan tombol kamera. Pemandangan seorang raja tertinggi yang merundukkan lututnya di hadapan seorang wanita menjadi momen paling spektakuler dan emosional sepanjang sejarah penobatan tersebut.