NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 Kesalahpahaman

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika suara ayam mulai bersahutan dari halaman rumah-rumah penduduk. Asap putih mengepul dari cerobong dapur, membawa aroma nasi hangat dan kayu bakar yang perlahan memenuhi udara.

Lian Yue sedang menyapu halaman ketika ia mendengar suara langkah kaki dari jalan utama.

Ia berhenti menyapu. Entah mengapa, suara itu membuat tangannya terasa dingin.

Bukan karena sesuatu yang ia lihat. Melainkan karena perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Seolah-olah seseorang baru saja membawa kabar dari dunia yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

Lian Yue mengangkat wajah.

Di ujung jalan desa, beberapa penduduk tampak berkumpul. Ada seorang pria asing di antara mereka.

Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan jubah berwarna gelap yang jauh lebih baik daripada pakaian penduduk desa. Sepasang sepatu kulit menutupi kakinya, masih bersih meskipun jalan desa dipenuhi tanah.

Ia tidak membawa kereta. Tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah pedang pendek yang tergantung di pinggang dan sebuah kotak kayu kecil yang ia pegang dengan kedua tangan.

Pria itu berdiri di tengah kerumunan tanpa menunjukkan sedikit pun rasa tidak nyaman.

Seorang kepala desa berdiri di hadapannya. "Anda datang dari mana?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya justru bergerak melewati kepala desa.

Melewati rumah-rumah. Melewati penduduk. Sampai akhirnya berhenti tepat pada Lian Yue. Jantung Lian Yue berdegup keras sekali

Pria itu menemukannya. Padahal ia bahkan belum pernah melihat pria tersebut sebelumnya.

"Apakah Anda Xian Yue?" Suara pria itu terdengar tenang.

Beberapa penduduk langsung menoleh ke arahnya. Lian Yue meletakkan sapu di samping dinding.

"Ya."

Pria itu menatapnya beberapa detik. Kemudian ia menundukkan kepala. "Salam."

Ia berjalan mendekat.

Namun sebelum sampai di hadapan Lian Yue, kepala desa mengangkat tangan untuk menghentikannya.

"Tunggu." Nada suaranya berubah lebih waspada. "Siapa Anda?"

Pria itu berhenti. "Saya hanya seorang utusan."

"Utusan dari siapa?"

Pria itu diam. Pertanyaan sederhana itu justru membuat suasana menjadi aneh.

Lian Yue memperhatikan wajahnya. Tidak ada ekspresi permusuhan. Tidak pula terlihat seperti seorang pembunuh. Tetapi justru itulah yang membuatnya semakin waspada.

Orang berbahaya tidak selalu datang dengan wajah menakutkan. Kadang mereka datang dengan pakaian rapi, senyum sopan, dan kata-kata yang terdengar tidak berbahaya.

Dalam kehidupan sebelumnya, Lian Yue telah belajar bahwa satu kalimat yang tampak sederhana dapat mengubah nasib sebuah keluarga.

Pria itu akhirnya membuka kotak kayu yang dibawanya. Namun bukan surat yang keluar. Bukan pula uang. Ia mengambil sebuah benda kecil yang dibungkus kain merah tua.

Kemudian membukanya perlahan. Sebuah lambang muncul di hadapan mereka. Xian Yue membeku dan npasnya tertahan.

Lambang itu hanya berukuran sebesar telapak tangan. Terbuat dari logam berwarna keemasan, dengan ukiran burung yang mengepakkan sayap di atas pola awan.

Di bagian bawahnya terdapat satu karakter.

Xian.

Tidak ada seorang pun di desa yang langsung memahami arti benda tersebut. Tetapi Xian Yue tahu. Terlalu tahu.

Jari-jarinya perlahan mengepal. Lambang keluarga Xian. Sesuatu yang seharusnya sudah tidak pernah ia lihat lagi.

Dalam ingatan sebelumnya, lambang itu pernah tergantung di gerbang kediaman keluarga mereka.

Sebelum gerbang itu dibakar. Sebelum papan nama keluarga mereka diturunkan. Sebelum darah memenuhi halaman. Sebelum nama keluarga Xian menjadi sesuatu yang hanya berani dibisikkan oleh orang-orang.

Dan sekarang...

Lambang itu berada tepat di hadapannya. Di desa kecil yang bahkan tidak tercatat dalam peta kebanyakan orang.

"Anda..." suara Lian Yue terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.

Pria itu mengangguk.

"Saya datang mencari Anda."

"Untuk apa?"

"Saya tidak tahu."

Jawaban itu membuat Xian Yue mengerutkan kening. Pria itu melanjutkan. "Saya hanya diperintahkan untuk menemukan seorang wanita bernama Xian Yue."

"Siapa yang memberikan perintah?"

"Seseorang dari keluarga Xian."

Jantung Xian Yue kembali berdegup. Kali ini lebih keras.

Keluarga Xian? Tidak mungkin. Setahunya, keluarga itu telah hancur. Sebagian besar anggota keluarganya meninggal.

Sisanya tercerai-berai.

Dan orang-orang yang selamat tidak pernah muncul di hadapannya lagi.

Bahkan dalam kehidupan sebelumnya, setelah semua yang terjadi, Lian Yue tidak pernah mengetahui apakah masih ada anggota keluarga Xian yang hidup.

Ia selalu mengira, dirinyalah salah satu orang terakhir yang tersisa. Tetapi sekarang seseorang datang mencarinya.

Dengan lambang keluarga Xian. Tanpa membawa gambar. Tanpa membawa surat. Tanpa membawa nama. Hanya lambang.

"Apa yang ingin mereka dariku?"

Pria itu menggeleng. "Saya tidak diberi tahu."

"Anda datang sejauh ini hanya untuk mengatakan itu?"

"Ya."

Xian Yue hampir tertawa, bukan karena lucu. Melainkan karena situasi ini terasa terlalu absurd. Seseorang dari keluarga yang seharusnya sudah lenyap tiba-tiba mengirim utusan. Utusan itu bahkan tidak tahu mengapa dirinya dikirim. Dan satu-satunya bukti yang dibawanya hanyalah lambang keluarga.

"Apakah Anda tahu siapa yang mengirim Anda?"

Pria itu mengangguk. "Tahu."

"Siapa?"

Ia kembali diam. Kemudian pandangannya bergerak ke arah penduduk yang masih berdiri mengelilingi mereka.

"Kita tidak seharusnya membicarakannya di tempat terbuka."

Kepala desa langsung memahami maksudnya.

Ia mengusir penduduk dengan alasan pekerjaan pagi. Satu demi satu orang mulai meninggalkan tempat itu. Namun sebelum pergi, beberapa masih sempat menoleh kepada Lian Yue.

Rasa ingin tahu terlihat jelas di mata mereka. Lian Yue tidak memperdulikannya. Pikirannya hanya tertuju pada lambang yang masih berada di tangan pria tersebut.

Hingga tiba-tiba, seorang pria muda maju. "Tunggu sebentar." sahutnya, "Kelapa desa, bukankah ukiran pada lambang keluarga itu 'Xian' bukan 'Lian'..."

Kerumunan penduduk yang hampir lenyap, seketika kembali berjubel di sertai bisikan-bisikan.

"Oh, sepertinya anda seorang pelajar?" tanya pria yang mengatu urusan itu.

"Ya, tuan. Perkenalkan saya Zhang Feng." jawabnya, "Tuan, anda sepertinya salah orang. Perempuan ini namanya Lian Yue, bukan Xian Yue. Pengucapannya memang mirip dan bahkan orang bisa salah sebut jika mereka tidak tau seperti apa karakternya jika di tulis."

Pria utusan itu tersenyum, "Iya, memang. Tapi orang yang aku cari benar nona ini."

Zhang Feng mengerutkan keningnya, "Nona Lian, apakah anda akan diam saja. Sudah jelas tuan ini salah mengira anda dengan Xian." ujarnya.

Sedangkan Lian Yue, justru hanya menghela nafas. "Tuan Wang Feng. Apakah anda pernah menanyakan arti nama saya? Sejujurnya sedari awal, memang kalian lah yang salah mengucapkannya..."

Seketika keributan terjadi, para penduduk yang rata-rata tidak pernah belajar dan buta huruf tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sedangkan Wang Feng, merasakan malu yang sangat dalam.

Wang Feng langsung pergi dan tak menoleh lagi. Sedangkan Lian Yue memperhatikan penduduk yang masih bertahan di situ.

"Kepala desa, saya tidak peduli anda ataupun warga desa memanggil saya Lian atau pun Xian."

Setelah itu, Lian Yue kembali meminta para penduduk untuk kembali.

1
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
Anita Rahayu
lebih banya upnya thor👌👌👌👌👌👌👌
Ailurophile 🐯: Oke kakak 👌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!