Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 KECERIAAN DI SEKOLAH
Harum berjalan seperti biasa menuju sekolah SMP nya, tak jauh lagi.
Mulai terdengar suara ramai seluruh siswa di sekolah nya itu. Ada yang sedang jajan pagi ini, ada yang sedang mengobrol santai di bangku-bangku tukang jajanan tepat di seberang gerbang sekolah, ada yang sedang bermain-main di lapangan depan sekolah.
"Tiiinnn!!"
Harum sedikit kaget, mendengar suara klakson motor di belakangnya. Ia harus melipir sedikit ke pinggir jalan, khawatir tertabrak oleh motor yang lewat itu.
Memang, jalan di depan sekolahnya ini adalah salah satu jalan umum desa. Yang menghubungkan ke desa lainnya.
Dengan perasaan yang tenang, Harum lanjutkan langkahnya menuju ke arah kelasnya.
Di sekolah SMP nya ini, tak ada bangunan kelas atau lainnya yang berlantai dua. Semuanya hanya berlantai satu. Hanya saja, karena area sekolah yang cukup luas itu, Harum harus berjalan dengan agak hati-hati. Karena kelas 2C yang menjadi ruangnya belajar, ada di ujung sekolah.
Beberapa kali sebelumnya, Harum pernah saling bertabrakan dengan siswa lain yang lewat, atau siswa yang sedang berlari. Sehingga ia harus lebih hati-hati lagi setiap datang ke sekolah.
"Hai, Harum!" sapa seorang teman kelasnya yang bernama Tina.
"Eh, aduh! Kaget aku!" ucap Harum sedikit terkejut.
"Hehehe... Masih aja kamu kagetan gitu sih Rum! Cupu ah!" kata Tina sedikit bercanda.
"Yeehh... Kamu tuh Tin, ngagetin aku! Hehehe..." balas Harum sambil tertawa pelan.
"Tumben baru dateng Rum? Biasanya lebih pagi kamu?" tanya Tina.
"Iya nih, tapi yang penting kan, aku gak telat." jawab Harum.
"Iya sih, ya udah, aku mau jajan dulu ya."
"Iya, Tin."
Tina pun menuju gerbang, dan segera melangkah ke arah salah satu tukang jajanan langganannya.
Sedangkan Harum, melangkah lagi menuju ke kelas 2C nya di ujung sekolah.
Sesampainya di kelas, ia langsung menuju ke bangkunya, yang ada di paling belakang.
Dan terdengar juga suara-suara riang dari semua teman sekelasnya yang menyambut kedatangannya.
Memang, kondisinya terasa jauh berbeda sekarang.
Dulu, ketika masih SD, ketika dirinya masih hidup bersama kedua orang tua kandungnya itu, Harum sedikit "menyingkir" dari keramaian teman-teman sekolahnya. Dia juga memilih-milih teman.
Tapi, ketika sekarang ia hidup bersama Nisa, ibu angkatnya itu, Harum yang sudah naik ke tingkat SMP jadi lebih terbuka, dan lebih bisa berbaur dengan semua temannya.
Hal itu juga karena semua teman sekelasnya, bisa menerima perbedaan fisik Harum. Seolah, dunia sekolah SMP nya kali ini, benar-benar bisa menjadi pelipur lukanya, dan bisa menjadi "obat lupa" dari masa lalu kelam yang dialami olehnya.
Harum langsung menaruh tasnya di atas meja, dan ia duduk di bangkunya.
Ia keluarkan semua buku dan alat tulisnya dengan rapi di atas meja juga.
Dengan tangannya yang meraba-raba ke depan, ia menyentuh punggung salah satu teman kelasnya.
"Dian!" panggil Harum, pada Dian di depannya itu.
"Iya, Rum? Kenapa?" tanya Dian.
"Eh, aku mau nanya dong!" kata Harum.
"Nanya apaan?"
"Emm, tugas kesenian kamu udah selesai belom?"
"Ini baru aku kerjain, hahahaha..." jawab Dian.
Memang, Dian ini adalah salah satu murid di kelas Harum yang agak malas mengerjakan PR di rumah.
Hampir setiap ada PR, Dian itu pasti baru mengerjakannya di sekolah keesokan harinya.
"Yeehh... Dasar kamu! Kayak aku dong! Aku udah selesai, hahahaha..." ledek Harum.
"Ah, masa sih?!" tanya Dian, sambil melihat ke arah meja Harum di belakangnya.
"Mana? Coba dong aku liat!" kata Dian.
"Hehehe... Sabar dooong..." jawab Harum.
Sejenak, Dian memperhatikan tangan Harum yang mulai meraba-raba tumpukan bukunya di atas meja. Dan dibantu oleh Dian untuk menemukan buku keseniannya.
Lalu, Harum membuka perlahan setiap lembar buku keseniannya itu. Berusaha menemukan lembaran kertas, dimana tugas yang semalam sudah ia gambar bersama ibunya.
"Naaah, ini dia!" kata Harum, sambil memberikan buku kesenian yang sudah terbuka bagian gambarnya semalam.
"Walaahh... Ini sih, bagus banget Rum! Beneran nih, kamu yang ngerjain sendirian?" kata Dian.
"Hehehehe... Iya dong!" jawab Harum sambil cengengesan.
"Ah, masa sih? Gak percaya aku!"
Dian memang sedikit merasa tak percaya saat melihat gambar itu. Karena dengan keterbatasan penglihatan Harum, Dian merasa seharusnya tak sebagus itu gambar yang sudah dibuat oleh Harum.
"Pasti... Kamu dibantuin sama Ibumu kan, Rum?" kata Dian, sambil menatap wajah temannya itu dengan tatapan tak percaya.
"Enak aja! Aku yang bikin sendiri itu, Dian!" bantah Harum.
"Heeemmm? Jangan boong kamuuu..." ledek Dian.
"Eh, beneran loooh..." bantah Harum.
"Halaaah... Masaaa?" ledek Dian lagi.
Harum pun merasa sedikit terpojok. Dan akhirnya ia mengakui.
"Hehehehe... Iyaaa... Aku dibantuin sama Ibukuuu..." sambil cengengesan Harum.
"Iyalaaah... Pasti kamu tuh dibantuin. Gak mungkin kamu bisa gambar sendirian! Hoooo..." ledek Dian lagi, sambil memberikan buku kesenian itu ke Harum.
"Hehehehe..." Harum cuma bisa cengengesan lagi.
Dan, tiba-tiba saja...
"PLUKK!!"
Sebuah mainan pesawat terbang dari kertas, mendarat tepat di mata kiri Harum.
"Aduh!!" teriak Harum.
Langsung terasa sangat perih mata kirinya itu.
Sontak, seorang temannya yang bermain pesawat terbang dari kertas itu berlari menghampiri Harum.
"Aduh!! Sorry-sorry!! Gue gak sengaja Rum!!" katanya.
"Aaah!! Jangan main kertas di kelas dong!!" balas Harum.
"Sorry-sorry, Rum!! Beneran, gue gak sengaja!!"
"Lu bego banget deh, Wan!! Kena mata Harum kan jadinya!!" bentak Dian.
"Yeehh, gue gak sengaja, Dian! Pesawatnya aja yang terbang kesini." kata Wawan.
"Lu bego! Orang tuh nerbanginnya ke arah luar kelas, kek! Lu malah lempar kesini!" bantah Dian.
"Udah-udah, enggak apa-apa..." kata Harum, sambil memegangi mata kirinya itu.
"Mana Rum? Gue liat mata lu, sini!" kata Wawan.
Harum pun membuka tangan yang menutupi mata kirinya itu.
"Waduh, jadi stroberi, nih!" kata Wawan.
"Maksudnya?" tanya Harum.
"Merah Rum!" jawab Wawan.
"Ah, bercanda mulu kamu, Wan!" kata Harum sambil memukul tangan Wawan.
"Sini, mata lu gue colok!" kata Dian.
"Diihh... Ogah!!" jawab Wawan.
Dan Wawan pun pergi meninggalkan Harum. Kembali ia bermain dengan teman sekelas yang lain.
"Yeehh!! Blo-on!!" teriak Dian.
"Nye, nye, nye!!" ledek Wawan dari kejauhan.
"Eh, udah-udah, gak apa-apa." kata Harum.
Akhirnya, setelah beberapa menit kemudian. Bel masuk jam pertama pun berbunyi nyaring. Seluruh teman sekelas Harum pun masuk ke kelas dengan riuhnya.
Dan, Tina pun masuk ke kelas. Dia ternyata duduk di sebelah Harum. Satu meja mereka berdua.
Sekitar lima menit kemudian, Bu Hafsah, guru mata pelajaran kesenian pun masuk. Ternyata jam pertama hari ini adalah pelajaran kesenian itu sendiri.
Dian tampak sedikit panik, karena tugas menggambarnya belum juga selesai.
"Aduh!! Gimana dong?!" gumam Dian pelan.
"Hayoloohh!! Rasain lu!!" kata Tina.
"Bantuin gue dong, Tin!" pinta Dian, sambil memberikan buku keseniannya.
"Dih?! Ogah!!" balas Tina, menolak buku Dian.
Dan, Bu Hafsah pun segera memulai kelasnya pagi ini.
"Sudah, kalian diam dan tenang dulu! Jangan berisik! Silahkan ketua kelas, pimpin do'a." ucap Bu Hafsah.
Dan Subhan, sang ketua kelas pun, memimpin do'a seluruh teman sekelasnya.
Setelah selesai berdo'a, Bu Hafsah segera menagih tugas yang minggu kemarin sudah diberikan.
"Ayok, mana tugas kalian? Buka semuanya di atas meja, Ibu periksa satu-satu."
Bu Hafsah ini memang salah satu guru di SMP Harum, yang terkenal cukup galak. Dia paling tidak suka kepada murid yang malas di pelajaran keseniannya.
Semua murid membuka bukunya, meletakkannya di atas meja. Sambil saling riuh mengobrol.
Ada yang meledek gambar teman sebelahnya yang berantakan, ada yang memuji gambar temannya yang bagus.
Bu Hafsah berkeliling, memeriksa satu persatu-satu tugas murid-muridnya itu.
Beberapa kali, Bu Hafsah memuji hasil gambar murid-muridnya.
Beberapa kali sedikit mendengus, melihat hasil gambar murid lain yang terlihat berantakan.
Bahkan, ada juga yang gambarnya terlihat lucu dan menggelitik.
Sampai akhirnya, Bu Hafsah berjalan mendekat ke dua meja paling belakang di ujung kelas.
"Mana gambarmu, Dian?" tanya Bu Hafsah.
"Hehehe, ini Bu..." kata Dian.
"Haduuhh, kamu tuh! Kebiasaan! Pasti baru ngerjain kan, kamu?" tanya Bu Hafsah.
"Hehehehe..." Dian cuma bisa cengengesan.
"Cengengesan aja, kamu! Nilaimu jelek ya dari Ibu!" kata Bu Hafsah.
Lalu, ia berjalan lagi, menuju meja Harum dan Tina.
Langsung diambil buku Tina. Diperhatikan sebentar. Dan ia memuji hasil gambar Tina.
"Harum, coba Ibu liat gambarmu..." kata Bu Hafsah kemudian, suaranya sedikit lebih tenang dan lembut pada Harum.
"Ini Bu, gambar saya..." jawab Harum, sambil memberikan bukunya.
Diperhatikan sebentar oleh Bu Hafsah gambar itu.
Kemudian, sedikit melirik matanya ke arah Harum. Menatap agak tak percaya.
"Heemm... Ini beneran hasil gambarmu, Rum?" tanya Bu Hafsah.
"Hehehehe... I-iya Bu Hafsah. Itu... Ga-gambar saya..."
Semakin menyipit kedua mata gurunya itu menatap Harum.
"Beneer niih? Jangan bohong kamu, ya..." desak Bu Hafsah.
"Eh... Hehehehe..." Harum pun hanya bisa cengengesan lagi.
"Heemm... Gak boleh bohong kamu, Rum. Lebih baik jujur. Hayo ngaku, dibantuin siapa nih tugasmu?"
"Hehehehe... Di-dibantuin sama Ibu saya, Bu." akhirnya Harum mengaku.
Lalu, dengan pelan, Bu Hafsah mencubit tangan Harum, sambil menasihatinya, "Lain kali, jangan bohong ya. Awas!"
"Aduh-duh... I-iya Bu... Maaf..." jawab Harum.
Terlihat agak malu ekspresi Harum. Dan semua temannya pun sedikit tertawa melihat kebohongan Harum.
😁😁😁😁😁