NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERCAKAPAN RAHASIA DITENGAH PESTA

Di sudut ruangan yang agak sepi, jauh dari keramaian dan tawa keras yang memenuhi seluruh aula, Joe dan Billy berdiri berhadapan di samping tiang besar yang menyembunyikan sebagian tubuh mereka dari pandangan orang lain. Suara musik yang memekakkan telinga terdengar agak sayup di tempat mereka berdiri, seolah jarak beberapa langkah saja sudah cukup untuk menciptakan dunia yang berbeda. Joe menatap Billy dengan tatapan bingung namun serius, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Bil, kenapa loe mencurigai mama loe seperti itu?" tanya Joe pelan namun jelas, berusaha memastikan apa yang ia dengar bukan sekadar salah paham.

Billy tersenyum miring, lalu menepuk bahu Joe dengan santai seolah hal yang sedang mereka bicarakan bukanlah hal yang berat. "Karena kita hidup di dunia yang gelap, Joe. Hal seperti itu biasa saja terjadi. Jangan terlalu kaget."

"Dunia gelap atau bukan, tetap saja itu hal yang berat," jawab Joe, matanya tidak beralih sedikit pun dari wajah sahabatnya itu.

"Tentu saja," sambung Billy, nada bicaranya berubah lebih serius dan rendah. "Meski begitu, gue gak mau keluarga gue hancur hanya karena ada orang ketiga yang masuk tanpa diundang. Itulah sebabnya gue butuh bantuan loe — tugas loe adalah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini."

Joe menghela napas panjang, mengerti betul betapa beratnya permintaan itu. "Itu permintaan yang berat, Bil."

Billy tersenyum lebar, berusaha meringankan suasana. "Gampang saja. Gue siap membayar loe — jumlahnya besar, berapa pun yang loe minta."

Joe menggeleng pelan. "Ini bukan soal uang."

"Benarkah?" mata Billy berbinar, seakan baru saja menemukan secercah harapan.

"Gue usahain buat bantu loe," ucap Joe tegas, tanpa ragu sedikit pun.

Di dalam hatinya, Joe menambahkan: Bukan karena gue baik hati. Tapi karena ini juga membawa gue semakin dekat ke tujuan yang gue kejar selama bertahun-tahun ini.

Wajah Billy tampak sungguh-sungguh senang. "Terima kasih, Joe. Ternyata loe berteman tanpa memikirkan imbalan. Langka sekali orang seperti loe sekarang."

Mereka bersalaman. Tangan Billy terasa hangat dan tulus, sementara Joe menyembunyikan perasaannya yang jauh lebih rumit di balik senyuman yang tampak biasa saja.

"Kapan-kapan," kata Billy dengan nada bangga, "loe harus pergi bareng gue ke Loyalty Hotel milik ortu gue."

Di dalam hati, Joe bergumam dengan getir: Seharusnya tempat ini milik gue. Semua ini seharusnya milik gue. Namun di luar, ia hanya tersenyum lebar dan mengangguk. "Tentu saja. Dengan senang hati."

Sementara itu, di ruang tamu yang luas dan megah, suasana terasa jauh lebih dingin dan penuh tekanan dibandingkan bagian lain rumah itu. Jefry sedang berbicara serius bersama Nisa dan tuan rumah malam itu — Dodi. Wajah mereka ketat, seakan menyimpan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pesta biasa.

"Di mana William?" tanya Dodi pelan namun tajam. "Kenapa tidak hadir di acara ini?"

Nisa menjawab tenang, seakan hal itu bukan masalah besar. "William sedang mengurus urusan transaksi senjata api di luar kota. Baru akan pulang minggu depan."

Jefry menggeleng perlahan. "Sayang sekali. Kehadirannya sangat dibutuhkan malam ini." Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Selain itu, ada hal yang membuatku gelisah. Seto — salah satu penjaga kita — ditemukan tewas di rumahnya beberapa hari lalu."

Nisa mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Itu hal yang wajar. Seto kan punya banyak sekali musuh. Cepat atau lambat pasti terjadi."

Jefry menatapnya tajam, tidak setuju dengan ketenangannya. "Tidak menurutku. Sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi. Aku akan mencari tahu siapa pelakunya sendiri."

Dodi tersenyum tipis, mencoba meredakan ketegangan yang makin menebal. "Itu bukan masalah besar. Biarkan saja urusan itu untuk nanti. Sekarang, nikmati saja pesta perayaan ini bersama tamu-tamu lainnya."

Jefry hanya mengangguk singkat tanpa meyakini kata-kata itu. Pandangannya beralih ke arah istri dan anaknya — Alex — yang sedang berdiri tak jauh dari sana, sedang berbincang dengan seorang pejabat tinggi daerah. "Maaf, aku harus menyusul istri dan anakku," pamit Jefry sejenak kepada Dodi dan Nisa, lalu berjalan perlahan menghampiri mereka.

Pejabat itu tersenyum lebar saat Jefry tiba di samping mereka, lalu menatap Alex dengan pandangan penuh kekaguman yang tulus. "Putra Anda sangat luar biasa, Jefry. Cerdas, sopan, dan berwawasan luas. Saya yakin Alex pantas menjadi penerus bisnis kalian di masa depan."

Jefry tertawa lebar, terdengar bangga sekaligus puas mendengar pujian itu. "Terima kasih. Itu memang tugasku sebagai seorang ayah — mempersiapkan anakku agar kelak mampu memikul tanggung jawab besar ini dengan sebaik-baiknya."

Para tamu tetap terlihat sibuk dan saling berbicara dengan rekannya yang jarang bisa bertemu kecuali acara besar seperti sekarang ini. Tidak ada yang menyadari bahwa di tengah keramaian yang tampak damai itu, ada hal-hal penting yang sedang dibicarakan dengan sangat hati-hati. Dodi dan Nisa tetap berdiri di tempat yang sama, lalu Nisa menurunkan suaranya hingga berbisik pelan tanpa bergerak pergi sedikit pun, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Aku punya permintaan," ucapnya pelan, matanya menatap tajam ke arah Dodi. "Aku punya stok narkoba dalam jumlah besar yang harus dikirimkan ke luar kota tiga hari lagi."

Dodi mengangguk perlahan, wajahnya tetap tenang namun penuh kewaspadaan, tidak beranjak sedikit pun dari posisinya. "Gue tahu. Tapi jalanan gak selalu aman, loe paham betul itu."

Nisa mendekatkan wajahnya sedikit lagi, suaranya semakin rendah namun tegas, tetap berdiri kokoh di tempatnya. "Karena itu gue minta loe yang urus proses pengirimannya. Pastikan jalannya aman, terutama dari pihak berwajib. Gue tidak mau ada satu pun kendala yang menghambat pengiriman ini."

Dodi menghela napas pelan. "Gue paham betul risikonya. Loe tenang saja, gue akan pastikan semuanya berjalan lancar. Tapi loe juga harus sadar, menjamin sepenuhnya bukan hal yang gampang dilakukan siapa pun."

"Gue tidak minta jaminan mutlak," jawab Nisa pelan namun tegas. "Gue hanya minta loe lakukan semua yang loe bisa agar pengiriman ini berjalan tanpa gangguan. Ini sangat penting bagi kita semua."

Dodi menatapnya sejenak, menimbang setiap kata yang baru saja diucapkan, lalu mengangguk pelan di tempatnya berdiri. "Baik. Gue akan bantu sebaik mungkin. Tapi kalau ada hal di luar kendali, loe harus siap paham."

Nisa tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak terasa hangat. "Selama loe urus bagian loe dengan benar, tidak akan ada masalah besar. Jadi gue harap loe pastikan semuanya sampai ke tujuannya dengan selamat dan tepat waktu."

Di luar gedung, udara malam terasa lebih sejuk dan jernih dibandingkan di dalam ruangan yang penuh asap dan tawa itu. Joe berpamitan kepada Billy di depan pintu keluar yang sepi.

"Gue duluan ya, Bil," kata Joe sambil sedikit memegangi kepalanya, seolah-olah ia benar-benar mabuk berat. "Udah kebanyakan minum. Kepala gue pening sekali."

"Terserah loe saja," jawab Billy sambil tertawa kecil. "Hati-hati loe di jalan pulang — dan jangan lupa, permintaan gue itu ya, Joe."

"Tenang aja, gue ingat," jawab Joe sambil tersenyum lebar yang tampak wajar. Ia berbalik dan berjalan perlahan menuju area parkir yang mulai sepi.

Sesampainya di dalam mobil dan mulai melaju meninggalkan rumah megah tempat acara itu, senyuman di wajah Joe perlahan hilang seketika. Ia bergumam sendiri di dalam keheningan mobil yang hanya diterangi cahaya lampu jalan yang lewat.

Pura-pura mabuk ternyata berhasil. Billy gak curiga sama sekali.

Ia menatap jalanan yang gelap di depannya, lalu melanjutkan di dalam hatinya yang penuh tekad:

Arthur harus bisa bantu gue nyelidiki semua ini. Langkah gue baru aja dimulai — dan gue gak akan berhenti sampai balas dendam gue berhasil sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!