NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 14: Sinta Cemburu

Apa yang dimulai Arya sebagai cara mendekatinya kini mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan diam-diam.

Keesokan siangnya, Kirana dan Winda memilih meja paling sudut di kantin. Keputusan itu tidak membantu. Beberapa mahasiswa tetap melirik, lalu menunduk pada ponsel ketika Kirana melihat balik.

“Akun anonimnya sudah hapus postingan,” kata Winda.

“Tangkapan layarnya masih ada.”

“Lo mau klarifikasi?”

Kirana mengaduk es teh. “Kalau gue jawab, mereka bakal bikin sepuluh pertanyaan baru.”

“Benar juga.” Winda menggigit bakwan. “Tapi gue pengin balas akun yang bilang nilai lo hasil pacaran. Padahal waktu kita belajar, dia mungkin sibuk bikin video joget.”

“Jangan. Prof. Hartono punya rubriknya. Kalau ada pemeriksaan, saya aman.”

“Pacaran aman juga?”

“Kami belum pacaran resmi.”

“Bedanya apa sama keadaan sekarang?”

Sebuah baki diletakkan di kursi kosong sebelum Kirana menjawab.

Bu Sinta berdiri di samping meja dengan senyum tipis. “Boleh saya bergabung?”

Meja lain masih banyak yang kosong.

“Maaf, Bu,” kata Kirana sopan. “Kami sedang membicarakan hal pribadi.”

“Saya tidak akan lama.” Sinta tetap menarik kursi dan duduk. “Justru saya ingin bicara dengan kamu, Kirana.”

Winda bersandar, jelas tidak berniat meninggalkan sahabatnya sendirian.

“Tentang apa, Bu?”

“Tentang kabar yang beredar.” Sinta membuka botol air. “Saya yakin kamu mahasiswa cerdas. Sayang sekali kalau reputasimu rusak karena kedekatan yang tidak tepat.”

“Kedekatan siapa?”

“Kamu tahu yang saya maksud.”

Kirana menatapnya tanpa berkedip. “Kalau Ibu punya tuduhan, sebutkan jelas. Kalau tidak, saya mau makan.”

Senyum Sinta menegang. “Saya hanya mengingatkan. Hubungan dosen dan mahasiswa bisa menghancurkan karier dua orang. Terutama kalau dosennya masih baru dan punya masa depan panjang.”

“Nilai saya diperiksa dua dosen. Pertemuan akademik dilakukan dengan pintu terbuka. Kalau ada aturan yang saya langgar, silakan laporkan lewat jalur resmi.”

Winda menyembunyikan senyum di balik sedotan.

“Bukan hanya soal nilai,” kata Sinta. “Kadang perempuan muda salah mengartikan perhatian laki-laki dewasa.”

“Kadang orang lain juga salah mengartikan urusan yang bukan miliknya.”

Suasana meja menjadi dingin.

Langkah kaki mendekat. Arya melewati lorong kantin bersama dua dosen. Bu Sinta langsung berdiri.

“Prof. Arya, makan siang?” tanyanya dengan nada yang jauh lebih manis.

Arya berhenti. “Saya ada rapat.”

“Saya juga menuju ruang rapat. Kita bisa jalan bersama.”

“Silakan lebih dulu.”

Tatapannya beralih pada Kirana. Hanya satu detik, tetapi ketegangan di wajahnya melunak.

“Makan yang benar,” katanya.

Kirana melirik piring yang baru disentuh sedikit. “Iya, Prof.”

Arya melanjutkan langkah tanpa menatap Sinta lagi.

Winda menunduk, bahunya berguncang.

Sinta kembali duduk. Wajahnya masih tenang, tetapi jari yang memegang botol memutih.

“Kelihatannya kalian memang cukup dekat.”

“Prof. Arya juga pernah mengingatkan satu kelas untuk sarapan,” kata Kirana.

“Tapi dia tidak memandang mereka seperti itu.”

Kirana tidak menjawab. Mengiyakan berbahaya, menyangkal terasa seperti mengkhianati sesuatu yang sedang tumbuh.

Sinta menutup botol. “Saya kenal lingkungan kampus ini lebih lama daripada kamu. Gosip kecil bisa menjadi laporan resmi. Kalau ada sesuatu yang disembunyikan, cepat atau lambat pasti terlihat.”

“Itu ancaman, Bu?” tanya Winda.

“Nasihat.”

“Kedengarannya beda tipis.”

Sinta berdiri membawa baki. Sebelum pergi, ia menatap Kirana dari atas ke bawah.

“Saya akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Setelah perempuan itu menjauh, Winda meletakkan bakwan.

“Fix. Dia bukan peduli etika.”

“Dia suka Mas Arya.”

Winda mengangkat alis. “Akhirnya lo bilang Mas Arya tanpa dipaksa.”

Kirana terdiam, baru sadar pada pilihan katanya sendiri.

Setelah makan siang, Kirana menunggu Arya di depan ruang rapat. Ia tidak ingin pria itu melakukan sesuatu yang berlebihan kepada Sinta, tetapi juga tidak mau ancaman tadi disimpan sendiri.

Arya keluar dua puluh menit kemudian bersama beberapa dosen. Ia menunggu sampai orang lain pergi sebelum mendekat.

“Ada apa?”

“Bu Sinta bicara sama saya di kantin.”

Wajah Arya langsung kehilangan sisa kelembutan. “Apa yang dia katakan?”

Kirana menceritakan inti percakapan. “Saya bisa menangani omongannya. Tapi dia bilang akan cari tahu.”

“Biar saya bicara dengannya.”

“Jangan mengancam atau memecat orang.”

“Saya dosen pengganti, bukan rektor.”

“Entah kenapa itu nggak membuat saya lega.”

Arya menghela napas. “Saya akan menetapkan batas secara profesional. Tidak lebih.”

“Dan jangan membuat gosipnya makin besar.”

“Kalau saya menjaga jarak di kampus, kamu akan mengira saya berubah?”

Pertanyaan itu menahan Kirana. “Tidak.”

“Lihat saya.”

Kirana mengangkat wajah.

“Apa pun sikap saya di depan orang lain, tidak ada yang berubah di antara kita.”

“Di antara kita memang ada apa?”

Arya mengulurkan tangan, tetapi menghentikannya sebelum menyentuh pipi Kirana karena dua mahasiswa melewati ujung koridor. “Sesuatu yang kamu jaga sampai berani menghadapi dosen lain.”

“Saya menjaga nama saya sendiri.”

“Tentu.”

Nada itu menunjukkan ia sama sekali tidak percaya. Kirana berbalik pergi sebelum wajahnya mengkhianati dirinya.

Di sudut tangga, Winda menunggu sambil tersenyum seperti orang yang baru menyaksikan episode favoritnya.

“Gue nggak lihat apa-apa,” katanya.

“Bagus.”

“Cuma lihat seseorang hampir dielus pipinya sama pacar yang belum resmi.”

Kirana menarik Winda turun tangga. Mereka tidak menyadari Sinta berada di lantai atas.

Di lantai atas, Sinta mengangkat ponsel dan mengambil foto saat Arya berdiri terlalu dekat dengan Kirana.

Penyelidikannya telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!