NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:645
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Istriku Tidak Turun ke Sawah

Arya meletakkan palu di tanah sebelum memasuki kerumunan.

Gerakan itu sederhana, tetapi semua orang melihatnya. Ia datang bukan untuk menggunakan alat di tangannya sebagai ancaman.

“Siapa yang melempar ember?” tanyanya.

Paijo membuka mulut. Bu Marni lebih dulu menjawab, “Istrimu yang membuat keributan. Kami hanya mempertahankan hak warga lama.”

Arya mengambil ember dari parit, meletakkannya di samping Rukmini, lalu memeriksa lengan Sekar. Setelah memastikan adiknya tidak cedera serius, ia berdiri di sisi Laras.

“Saya tanya sekali lagi. Siapa yang melempar ember?”

Paijo mengangkat tangan setengah. “Saya memindahkannya. Tidak sengaja masuk parit.”

“Dan siapa yang menyenggol Sekar?”

“Jalannya licin.”

Ningsih menunjuk garis kapur. “Pak Arya, keluarga Ibu datang sesuai antrean. Bu Marni datang setelah pipa dibersihkan, lalu menaruh enam wadah di depan.”

Jarwo dan dua warga lain mengiyakan.

Arya menatap Paijo. “Ambil ember itu, bersihkan, dan letakkan kembali di urutan semula.”

Nada suaranya tidak keras. Justru ketenangannya membuat Paijo menuruti sebelum sempat berpikir untuk menolak.

Bu Marni berkacak pinggang. “Kamu bukan kepala desa.”

“Benar. Saya hanya suami perempuan hamil yang sedang kalian kepung.”

Tatapannya menyapu lingkaran orang di sekitar Laras. Beberapa warga mundur sendiri.

“Perselisihan antrean bisa diselesaikan dengan saksi dan urutan. Mengelilingi perempuan hamil serta mendorong keluarganya bukan kebiasaan desa. Itu intimidasi.”

Bu Marni mencoba tertawa. “Tidak ada yang menyentuh istrimu.”

“Karena saya datang sebelum itu terjadi.”

Laras merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Arya tidak meneriakkan ancaman. Ia hanya berdiri di sampingnya dan membuat batas yang tidak boleh dilewati siapa pun.

Pak Waluyo tiba setelah mendengar kabar. Ia melihat kerumunan, garis kapur yang bergeser, dan Paijo yang sedang mencuci ember.

“Sudah, sudah. Kita semua tetangga,” katanya. “Bu Marni mungkin terburu-buru. Keluarga Pak Guntur juga masih belajar kebiasaan sini.”

Laras menangkap cara kepala desa membagi kesalahan meski faktanya jelas.

Arya juga menangkapnya. “Kami sudah antre dan ikut membersihkan pipa. Kebiasaan apa yang belum kami pahami, Pak?”

Pak Waluyo terdiam sesaat. “Kalau begitu, lanjutkan sesuai urutan. Jangan diperpanjang.”

Bu Marni mendengus. “Enak sekali orang baru. Tidak kerja di sawah, air tetap mau didahulukan.”

Beberapa mata beralih ke perut Laras.

Arya berdiri lebih tegak. “Istri saya tidak turun ke sawah.”

Bu Marni mencibir. “Takut kulitnya hitam?”

“Dia hamil enam bulan. Dokter melarang kerja berat dan perjalanan tanpa jeda. Di rumah dia mengatur obat, uang, makanan, dan kebutuhan keluarga. Urusan sawah, air, kayu, serta pekerjaan berat, biar saya.”

Kalimat terakhir jatuh tegas.

“Setiap rumah membagi pekerjaan dengan caranya sendiri. Selama kami tidak mengambil hak orang lain, tidak ada yang berhak menentukan pekerjaan istri saya.”

Seorang lelaki tua di belakang mengangguk. “Benar. Orang hamil jangan dipaksa.”

Ibu-ibu lain ikut bergumam setuju.

Bu Marni tidak mendapat dukungan yang diinginkan. Ia menarik Paijo dan Mbah Yem pergi sambil mengancam akan mengingat perlakuan ini.

Sebelum benar-benar pergi, Ningsih menahan mereka. “Ember Bu Rukmini belum diisi.”

Paijo memandang istrinya, lalu kembali ke pipa. Ia menaruh ember Rukmini di bawah aliran dan menunggu sampai penuh. Kerumunan menyaksikan tanpa bersuara. Hal kecil itu menjadi pengakuan terbuka bahwa keluarga Bu Marni memang datang belakangan.

Seorang ibu bertanya kepada Laras, “Kalau tidak ke sawah, nanti kegiatannya apa, Bu?”

“Mengurus rumah, menghitung pengeluaran, menyiapkan makanan, dan menjaga kehamilan. Kalau ada pekerjaan ringan yang bisa saya lakukan sambil duduk, saya akan kerjakan.”

“Berarti bukan hanya tidur-tiduran?”

Laras tersenyum. “Kalau mengurus lima orang disebut tidur-tiduran, saya ingin mencobanya.”

Beberapa perempuan tertawa. Mereka memahami beban pekerjaan rumah jauh lebih baik daripada Bu Marni yang menjadikannya bahan hinaan.

Arya menambahkan, “Kalau desa membutuhkan tenaga gotong royong, saya dan Sekar bisa mewakili keluarga. Bapak sedang menjalani proses pemeriksaan dan Ibu menangani rumah. Kami tidak menghindari kewajiban.”

Penjelasan itu menutup celah bagi orang untuk menyebut mereka menuntut keistimewaan.

Pak Waluyo meminta warga membubarkan diri. Sebelum pulang, ia berkata kepada Arya, “Jangan terlalu keras. Orang desa mudah tersinggung.”

“Kami juga mudah terluka kalau didorong,” jawab Arya.

Pak Waluyo pergi tanpa tersenyum.

Dalam perjalanan pulang, Rukmini membawa ember yang sudah penuh. Sekar berjalan di sisinya. Arya tidak membiarkan Laras memegang apa pun selain botol minum.

“Mas membuat satu desa tahu aku tidak akan bekerja di sawah,” kata Laras.

“Bagus. Jadi mereka tidak mengganggumu.”

“Nanti mereka bilang Mas takut istri.”

“Biarkan.”

Sesampainya di rumah, Arya menyuruh Laras duduk di tepi kasur. Ia berjongkok dan memeriksa pergelangan kaki, telapak tangan, lalu bertanya apakah perutnya terasa kencang.

“Aku tidak disentuh.”

“Kamu terjebak di tanah licin.”

“Aku baik-baik saja.”

Arya tetap mengambil alat pengukur tekanan darah portabel yang dibeli di Jakarta. Hasilnya normal. Ia baru bernapas lebih lega setelah Laras mengatakan bayi bergerak seperti biasa.

Guntur muncul dari ruang tengah setelah mendengar laporan Rukmini. “Kamu membawa palu ke sumber air?” tanyanya kepada Arya.

“Saya meletakkannya sebelum masuk kerumunan.”

“Bagus.” Guntur menatap putranya beberapa detik. “Kekuatan prajurit bukan pada benda yang dipegang, tapi pada kemampuannya berhenti sebelum bertindak gegabah.”

Sekar menyentuh lengannya yang memerah. “Kalau Mas Arya tidak datang, mungkin Paijo benar-benar mendorong kami.”

“Karena itu besok aku yang mengambil air,” kata Arya.

Rukmini langsung membantah. “Kamu masih harus memperbaiki atap dan mencari pekerjaan sementara.”

Laras mengambil buku catatan rumah tangga. Mereka membagi tugas di halaman pertama: Arya dan Sekar bergantian mengambil air; Guntur menangani dokumen dan pekerjaan ringan; Rukmini memasak; Laras mengatur belanja, obat, dan persediaan.

“Tidak ada pekerjaan yang lebih tinggi atau rendah,” kata Laras. “Yang penting sesuai tenaga.”

Guntur mengangguk. Pembagian itu membuat keputusan Arya di depan warga bukan sekadar ucapan emosional, melainkan aturan yang bisa mereka jalankan.

“Mas takut?” tanyanya.

“Saya berhati-hati.”

Perubahan mendadak ke kata `saya` membuat Laras hampir tertawa. Lelaki itu jelas ketakutan, tetapi harga dirinya menolak mengaku.

Laras menyentuh punggung tangannya. “Terima kasih sudah datang.”

Arya menatap jari mereka yang bersentuhan. “Lain kali tunggu aku kalau mau mengambil air.”

“Aku hanya menemani.”

“Tetap tunggu.”

Di luar, suara Bu Marni sudah terdengar menceritakan versi berbeda kepada tetangga. Namun di dalam rumah kontrakan, aturan keluarga mereka telah ditetapkan.

Laras tidak turun ke sawah atau mengangkat beban.

Bukan karena ia menjadi nyonya besar.

Karena suaminya memilih menjaga dirinya dan anak mereka di depan seluruh desa.

Dan mulai hari itu, semua orang tahu perlindungan tersebut bukan sekadar kata-kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!