NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Hadangan Keadilan Absolut

Lautan Grand Line selalu menyimpan misteri di balik keindahannya yang menipu.

Matahari bersinar terik memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air laut yang biru jernih. Angin berhembus dengan ritme yang sangat tenang, membawa kelembapan yang nyaman menyapu geladak Kapal Bajak Laut Mugen. Layar hitam dengan lambang tengkorak bermata merah dan dua kipas bersilang berkibar pelan.

Suasana di atas kapal kayu itu terasa sangat damai. Sebuah pemandangan yang sangat langka di lautan para monster ini.

Mantan kapten bajak laut gemuk beserta para krunya sedang duduk bersandar di dekat ruang penyimpanan. Mereka meminum air segar dan menikmati sisa daging panggang dari perayaan sebelumnya. Wajah mereka terlihat jauh lebih rileks. Mereka mulai terbiasa dengan rutinitas berlayar di bawah bayang-bayang seorang dewa perang yang diam.

Di ruang kemudi, Nico Robin membalik halaman buku tebalnya. Sesekali mata biru gelapnya melirik kompas penunjuk arah untuk memastikan kapal mereka tetap berada di jalur yang benar.

Di dapur kapal, Vinsmoke Reiju sedang menumbuk beberapa jenis dedaunan herbal langka yang dia dapatkan dari pasar gelap. Suara tumbukan batu terdengar berirama dan menenangkan.

Jauh di atas langit, tepat di bawah gumpalan awan putih, Monet terbang berputar membentuk lingkaran pengintaian.

Gadis berambut hijau pucat itu mengepakkan sayap saljunya perlahan. Hawa dingin dari kekuatan Logia Yuki Yuki no Mi miliknya bergesekan dengan udara hangat, meninggalkan jejak kristal es tipis yang berkilau di udara terbuka. Penglihatannya yang tajam menyapu lautan sejauh puluhan kilometer ke segala arah.

Tidak ada pulau. Tidak ada kapal bajak laut lain. Lautan benar-benar kosong.

Namun, kedamaian itu hanyalah sebuah tabir tipis sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.

Perubahan itu terjadi dalam hitungan detik.

Monet yang sedang terbang tinggi tiba-tiba menghentikan kepakan sayapnya. Mata emas kekuningannya menyipit tajam. Dia merasakan perubahan tekanan udara yang sangat drastis menabrak wajahnya.

Dari arah utara, langit biru yang cerah mendadak dipenuhi oleh bintik-bintik putih dalam jumlah yang sangat tidak wajar.

Bintik-bintik putih itu bergerak dengan kecepatan tinggi mengarah ke selatan. Suara kepakan sayap yang sangat bising mulai terdengar menggema memenuhi angkasa.

Itu adalah kawanan burung camar pos.

Namun ini bukan sekadar sekawanan kecil yang sedang mengantarkan koran. Jumlah mereka mencapai ribuan. Burung-burung itu terbang dengan formasi yang kacau, saling menabrak satu sama lain. Mereka membuang tas koran mereka ke lautan untuk memperingan beban terbang.

Burung-burung camar itu tidak sedang bermigrasi. Mereka sedang melarikan diri dari sesuatu yang sangat menakutkan di belakang mereka.

Monet menukik turun dengan cepat. Dia mendarat di atas tiang layar tertinggi Kapal Mugen.

“Nona Robin! Arah jam dua belas!” lapor Monet dengan suara lantang yang memecah keheningan geladak.

Robin meletakkan bukunya seketika. Dia berjalan keluar dari ruang kemudi dan menatap ke arah langit utara. Alisnya berkerut melihat ribuan burung camar yang terbang panik menutupi matahari siang.

“Hewan memiliki insting bertahan hidup yang jauh lebih pekat daripada manusia,” gumam Robin dengan wajah berubah tegang. “Sesuatu yang sangat besar sedang bergerak ke arah kita, dan itu membawa hawa kematian yang membuat burung-burung itu ketakutan.”

Reiju melangkah keluar dari dapur. Dia langsung berdiri di samping Robin. Wajah sang putri racun itu tidak lagi menunjukkan senyuman misteriusnya. Insting pembunuhnya sudah aktif sepenuhnya.

Di ujung haluan kapal, Uchiha Madara masih duduk bersila.

Dia tidak mendongak untuk melihat ribuan burung yang terbang melarikan diri. Dia tidak membutuhkan tanda-tanda dari alam untuk mengetahui apa yang sedang mendekat.

Jauh sebelum Monet melihat kawanan burung itu, Kenbunshoku Haki tingkat dasar milik Madara sudah bergetar halus di dalam pusat kesadarannya.

Gelombang radarnya menyebar menembus udara dan air laut.

Apa yang dirasakan Madara bukanlah energi liar dari sekumpulan monster laut raksasa. Itu juga bukan niat membunuh kacau dari sekelompok bajak laut yang mencari mangsa.

Energi yang dia rasakan sangat padat, terstruktur, dan memiliki disiplin yang mengerikan. Ratusan hawa kehidupan bergerak dalam formasi yang sangat rapi. Di antara ratusan hawa kehidupan itu, terdapat satu titik energi spiritual yang memancarkan dominasi dan keyakinan mutlak. Sebuah wadah fisik yang ditempa melalui latihan militer hingga mencapai tingkat monster.

Madara membuka kelopak matanya secara perlahan.

Iris matanya yang berwarna hitam kelam menatap lurus ke arah batas cakrawala.

'Sebuah pasukan yang terorganisir,' batin Madara mengevaluasi data dari radar spiritualnya. 'Bukan sampah jalanan seperti mafia kemarin. Mereka membawa senjata berukuran masif dan niat membunuh yang dilandasi oleh sebuah keyakinan buta.'

Angin laut tiba-tiba berhenti berhembus.

Suhu udara anjlok beberapa derajat.

Dari arah utara, tepat di bawah lintasan ribuan burung camar tadi, sebuah kabut putih pekat mulai bergulung secara tidak wajar. Kabut itu tidak tercipta dari cuaca alam, melainkan dari asap mesin uap raksasa yang bercampur dengan kelembapan lautan.

Kabut itu bergerak menelan lautan, mendekati Kapal Bajak Laut Mugen dengan kecepatan yang mengerikan.

Para kru bajak laut yang tadinya sedang bersantai kini berdiri mematung. Mantan kapten gemuk berjalan mundur hingga punggungnya menabrak tiang layar. Tubuhnya mulai bergetar saat melihat dinding kabut yang menjulang setinggi belasan meter di depan mereka.

“A-Apa itu?” rintih mantan kapten dengan suara tertahan.

Kabut pekat itu terbelah dari dalam.

Tiga buah bayangan raksasa muncul menembus dinding kabut.

Suara gemuruh mesin dan deburan air laut yang terbelah terdengar memekakkan telinga. Bayangan itu perlahan memperlihatkan wujud aslinya yang terbuat dari baja dan kayu keras.

Itu adalah 3 kapal perang raksasa.

Ukurannya jauh melebihi kapal galleon biasa. Setiap kapal perang itu memiliki tinggi yang menutupi matahari, dengan dinding lambung berlapis baja tebal. Layar putih berukuran raksasa membentang di tiang-tiang mereka.

Di tengah setiap layar putih tersebut, tergambar lambang burung camar biru yang memegang timbangan keadilan. Lambang yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh kriminal di dunia.

Angkatan Laut.

Tiga kapal perang itu tidak berlayar berdampingan secara acak. Mereka bergerak dalam formasi mengepung yang sangat presisi, membentuk pola tapal kuda yang menutup seluruh akses pelarian Kapal Bajak Laut Mugen ke arah depan, kiri, dan kanan.

Ini bukanlah patroli rutin. Ini adalah formasi tempur skala besar yang dirancang khusus untuk memusnahkan ancaman dari peta dunia. Formasi yang menyerupai taktik Buster Call berskala kecil.

Di sepanjang sisi lambung ketiga kapal perang itu, ratusan moncong meriam baja berwarna hitam diarahkan lurus ke bawah, mengunci target pada kapal kayu kecil milik Madara.

Di atas geladak kapal-kapal perang tersebut, berdiri ratusan prajurit elit Angkatan Laut. Mereka mengenakan seragam putih bersih dengan senapan laras panjang di tangan. Wajah mereka kaku, disiplin, dan siap mati untuk menegakkan keadilan.

Suasana di atas Kapal Mugen berubah menjadi lautan keputusasaan.

Mantan kapten bajak laut jatuh berlutut. Matanya terbelalak melihat lambang burung camar biru raksasa itu. Dia tidak bisa bernapas. Teror dari kekuatan militer terbesar di dunia menghancurkan akal sehatnya dalam sekejap.

“K-Kita tamat. Itu armada tempur markas besar,” bisik pria gemuk itu sambil menangis.

Di ruang kemudi, wajah Nico Robin berubah menjadi sepucat kertas putih.

Mata biru gelapnya menatap kapal perang di tengah formasi. Kenangan kelam dari masa lalunya di Ohara meledak kembali di dalam kepalanya. Gambar pulau kelahirannya yang terbakar dan suara meriam yang menghancurkan segalanya berputar liar di ingatannya.

Robin mundur dua langkah tanpa sadar. Tangannya gemetar hebat. Traumanya terhadap kekuatan militer mutlak ini masih tertanam sangat dalam di jiwanya.

“Tuan Madara,” panggil Robin dengan suara yang nyaris tidak terdengar. “Kita harus mundur. Kapal perang jenis itu tidak mungkin berlayar tanpa dipimpin oleh seorang monster.”

Tepat saat Robin menyelesaikan kalimatnya, tebakannya terbukti benar.

Di atas haluan kapal perang yang berada di posisi tengah, berdiri satu sosok yang memancarkan aura paling mengerikan di antara ribuan prajurit di sana.

Seorang pria tinggi besar yang mengenakan setelan jas garis-garis berwarna gelap. Di pundaknya, tersampir mantel putih kebesaran khas perwira tinggi Angkatan Laut. Karakter tulisan Keadilan terukir besar di punggung mantel tersebut.

Pria itu mengenakan helm pelindung kepala berwarna perak yang menyerupai bentuk mahkota prajurit kuno. Sebuah cerutu panjang menyala di sela-sela giginya, mengepulkan asap tebal yang menutupi sebagian wajahnya yang kasar.

Dia berdiri dengan postur angkuh, menatap kapal bajak laut kecil di bawahnya seperti menatap sekumpulan serangga yang harus diinjak.

Itu adalah Laksamana Muda Onigumo.

Seorang veteran perang dari markas besar yang terkenal dengan kekejaman dan penganut paham Keadilan Absolut yang tidak mengenal kata kompromi.

Mata Robin semakin membelalak saat mengenali wajah dari perwira tinggi tersebut.

“I-Itu Onigumo,” bisik Robin dengan nada yang dipenuhi oleh teror murni. “Salah satu anjing penjaga paling kejam dari markas besar. Dia tidak akan membiarkan satu nyawa pun hidup jika itu demi misinya.”

Monet melompat turun dari tiang layar. Dia mendarat di samping Reiju. Gadis salju itu menyilangkan tangannya, wajahnya berubah menjadi sangat tegang. Hawa dingin dari tubuhnya mulai menyebar ke lantai geladak tanpa dia sadari.

“Tiga kapal perang kelas berat. Ratusan meriam. Ribuan prajurit elit, dan seorang Laksamana Muda. Ini bukan penyergapan biasa. Mereka memang datang khusus untuk mencari kita,” analisis Reiju dengan suara pelan namun tajam.

Di ujung haluan kapalnya, Madara perlahan berdiri.

Dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun. Tubuhnya berbalik menghadap ke arah kapal perang raksasa yang berada di tengah.

Sandal kayunya melangkah perlahan di atas lantai geladak.

Madara berjalan menuju pagar pembatas haluan. Angin laut yang membawa hawa dingin dari mesin uap kapal Angkatan Laut meniup rambut hitam panjangnya. Pelindung dada merah yang menempel di tubuh remajanya memancarkan warna darah di bawah sinar matahari.

Dia menatap Onigumo dari bawah ke atas.

Tatapan mata mereka bertemu di udara. Mata hitam kelam yang kosong bertabrakan dengan mata penuh fanatisme keadilan.

Suara statis dari sebuah pelantang suara Den Den Mushi raksasa bergema memecah keheningan lautan.

Onigumo mengangkat alat komunikasi tersebut ke depan mulutnya.

“Perhatian kepada kapal tanpa nama yang mengibarkan bendera tengkorak konyol itu!” suara Onigumo menggelegar melalui pengeras suara, terdengar sangat keras dan berat hingga membuat air laut di sekitarnya beriak.

Onigumo menghisap cerutunya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara.

“Kami melacak jejak kehancuran yang kalian tinggalkan di Pulau Rogue. Kalian menghancurkan fasilitas pelabuhan, membantai aliansi keluarga kriminal, dan menjarah seluruh kekayaan pulau tersebut.”

Onigumo menatap lurus ke arah Madara.

“Tidak peduli seberapa busuknya para mafia itu, tindakan main hakim sendiri dan perampokan skala besar adalah sebuah kejahatan mutlak terhadap hukum dunia. Kalian telah mengibarkan bendera bajak laut, yang berarti kalian mendeklarasikan diri sebagai musuh dari kedamaian!”

Ribuan prajurit Angkatan Laut di atas tiga kapal perang itu serentak mengangkat senapan mereka, mengarahkan laras besi itu tepat ke arah Kapal Mugen. Suara tarikan pelatuk senjata terdengar serentak dan mengintimidasi.

“Atas nama Keadilan Absolut Angkatan Laut, kalian sudah dikepung tanpa jalan keluar,” lanjut Onigumo tanpa sedikit pun keraguan di suaranya.

Dia menunjuk ke arah Madara dengan tangan kirinya.

“Menyerahlah sekarang! Letakkan senjata kalian, ikat tangan kalian sendiri, dan bersiaplah untuk diadili di hadapan hukum. Jika kalian mencoba melawan, armada ini akan menghancurkan kapal kalian dan menenggelamkan kalian ke dasar laut yang paling gelap!”

Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Moncong ratusan meriam baja yang mengarah ke bawah siap menyemburkan kematian kapan saja.

Di atas Kapal Mugen, para kru menangis tersedu-sedu. Mereka menjatuhkan senjata mereka ke lantai, siap untuk menyerah dan memohon pengampunan. Robin menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, otaknya berputar liar mencari celah untuk melarikan diri dari formasi kepungan ini.

Namun, di ujung haluan, Uchiha Madara bereaksi dengan cara yang sama sekali tidak terduga.

Dia tidak mengangkat tangannya. Dia tidak mencabut sabit besinya.

Madara perlahan melompat naik ke atas pagar kayu pembatas haluan.

Gerakannya sangat mulus dan anggun. Dia berdiri tegak di atas pagar kayu yang lebarnya hanya beberapa inci, menyeimbangkan tubuhnya dengan sempurna di tengah hembusan angin laut yang kencang.

Jubah hitam dan pelindung dada merahnya berkibar liar.

Madara menengadahkan wajahnya, menatap langsung ke arah Laksamana Muda Onigumo yang menjulang di atas kapal perang raksasanya.

Mata hitam Madara tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut akan ratusan meriam yang mengarah padanya. Matanya justru memancarkan rasa kasihan yang sangat merendahkan, seolah dia sedang mendengarkan lelucon terburuk yang pernah diceritakan oleh seorang anak kecil.

Keheningan melingkupi lautan saat sosok berarmor merah itu berdiri menantang armada raksasa sendirian.

Madara menarik napas pelan.

Dia tidak menggunakan pengeras suara Den Den Mushi. Dia tidak berteriak hingga urat lehernya menonjol.

Madara memusatkan sedikit chakra ke pita suaranya. Saat dia berbicara, nada baritonnya yang sangat dalam dan sedingin es abadi bergema ke seluruh penjuru lautan, menembus suara gemuruh mesin kapal perang dan angin laut dengan kejernihan yang mengerikan.

“Keadilan?” ucap Madara.

Satu kata itu terlontar dengan penuh nada ejekan yang sangat pekat.

Dia memutar kepalanya sedikit, menatap deretan prajurit berseragam putih yang berdiri kaku memegang senapan mereka.

“Jangan membuatku tertawa dengan omong kosong kalian,” lanjut Madara. Nada suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat gelap dan mematikan.

Di atas kapal perang, Onigumo mengerutkan dahinya. Rahangnya mengeras. Dia belum pernah melihat seorang kriminal kelas rendahan di awal rute Grand Line yang memiliki keberanian atau lebih tepatnya kebodohan sebesar ini.

Madara menyilangkan kedua tangannya di depan dada berarmornya.

“Kalian berlindung di balik seragam putih dan bangunan moralitas yang kalian sebut hukum. Kalian meneriakkan kata keadilan seolah itu adalah perisai yang membuat kalian kebal terhadap realitas dunia.”

Madara menatap kembali ke mata Onigumo. Kali ini, hawa membunuh dari sang hantu Uchiha mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Hawa yang sangat pekat hingga membuat beberapa prajurit Angkatan Laut di barisan depan merasakan sesak napas yang tiba-tiba.

“Dengarkan baik-baik, Anjing Penjaga,” desis Madara tanpa meninggikan suaranya.

“Di dunia ini, tidak ada yang namanya keadilan absolut. Tidak ada hukum suci yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”

Madara sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dari atas pagar kayu.

“Yang ada hanyalah satu kebenaran mutlak. Yang kuat berdiri di atas, menentukan nasib dunia sesuka hatinya. Dan yang lemah terkubur di bawah, menjadi pijakan bagi mereka yang berkuasa.”

Kata-kata itu meluncur bagaikan pedang yang menusuk langsung ke inti ideologi sang Laksamana Muda. Sebuah kebenaran primitif yang tidak bisa dibantah oleh argumen filosofis mana pun.

“Itulah satu-satunya hukum di dunia ini,” tegas Madara menutup monolognya.

Angin laut bertiup semakin kencang, seolah alam sendiri merespons keangkuhan dari deklarasi tersebut. Rambut hitam Madara menutupi sebagian wajahnya, namun kilatan mematikan dari matanya tidak bisa disembunyikan.

Di atas kapal perang utama, wajah Onigumo berubah menjadi merah padam.

Bagi seorang penganut Keadilan Absolut, kata-kata pemuda itu adalah sebuah penghujatan tertinggi yang tidak bisa dimaafkan. Ideologi itu menghancurkan semua prinsip yang telah dia perjuangkan sepanjang hidup militer berdarahnya.

Onigumo mencabut cerutu dari mulutnya dan meremukkannya di dalam kepalan tangan bersarung kulitnya.

Insting veterannya memberitahunya bahwa pemuda berarmor merah ini bukan sekadar bajak laut pemula yang mabuk laut. Hawa keberadaan pemuda ini sangat berbahaya. Dia adalah jenis monster yang harus dipadamkan apinya sebelum membesar dan membakar seluruh dunia.

Tidak ada lagi waktu untuk negosiasi. Tidak ada lagi peringatan.

“Para pengikut kejahatan selalu memiliki lidah yang pandai memutarbalikkan fakta,” ucap Onigumo dengan suara bergetar karena marah.

Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara.

Ribuan prajurit elit Angkatan Laut menahan napas mereka. Para penembak meriam menarik tuas pelatuk mereka, menunggu satu gerakan tangan dari komandan mereka.

“Jika kau menolak untuk melihat cahaya keadilan, maka aku akan mengirimmu sendiri ke dalam kegelapan abadi yang kau banggakan!” raung Onigumo.

Tangan kanannya diayunkan ke bawah dengan sangat keras.

“Tembak! Hancurkan kapal mereka hingga tidak tersisa satu serpihan kayu pun!” perintah Onigumo memberikan vonis eksekusi mati.

Perintah itu adalah pemicu dari sebuah neraka di lautan.

Detik berikutnya, seluruh dunia seolah meledak.

Ratusan moncong meriam baja berwarna hitam menyemburkan kilatan api yang membutakan mata secara serentak. Suara dentuman bubuk mesiu yang terbakar mengguncang lautan, menciptakan gelombang kejut yang membuat air laut di sekitar kapal-kapal perang itu terhempas ke udara.

Ratusan bola besi pejal berwarna hitam pekat melesat membelah udara.

Lintasan peluru meriam itu membentuk tirai kematian yang turun dari langit, mengarah tepat ke satu titik berukuran kecil di tengah kepungan.

Kapal Bajak Laut Mugen berada tepat di bawah hujan baja tersebut.

Mantan kapten bajak laut menjerit histeris dan menutup matanya rapat-rapat. Robin, Reiju, dan Monet bersiap mengaktifkan kekuatan penuh mereka, menyadari bahwa satu kesalahan kecil akan mengakhiri perjalanan mereka di gerbang Grand Line ini.

Namun, di atas pagar haluan, Uchiha Madara tetap berdiri diam.

Dia tidak berkedip menatap ratusan peluru meriam yang meluncur dengan kecepatan mengerikan ke arah wajahnya.

Bibirnya menyeringai tipis. Sebuah senyuman menyambut kematian yang datang menghampiri. Ujian keadilan pertama di lautan ini telah dimulai, dan dia sudah tidak sabar untuk menunjukkan kepada dunia betapa rapuhnya keadilan yang mereka banggakan itu saat berhadapan dengan kekuatan dewa perang yang sesungguhnya.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!