"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Sistem Menjelaskan
Malam hari kesepuluh, Kribo keluar membeli nasi goreng dan obat maag.
Alasannya sederhana: tiga hari mengatur channel, membaca komentar, dan tidur di lantai membuat perutnya protes seperti pengacara mahal.
Begitu pintu kamar kos tertutup, Raka mengunci dari dalam.
Ia duduk di lantai, meletakkan Buku Penghakiman di depan lututnya, lalu berkata, "Kita perlu bicara."
Halaman buku terbuka sendiri.
【Host telah menyelesaikan Kasus #001.】
【Akses informasi Level 1 dibuka.】
【Sesi tanya-jawab tersedia.】
"Bagus," kata Raka. "Pertama. Apa sebenarnya kamu?"
Tinta hitam bergerak membentuk huruf yang rapi.
【Aku adalah Sistem Penghakiman. Mekanisme keadilan yang melampaui hukum manusia. Aku memilih Tuan Rumah yang memiliki potensi hakim.】
"Potensi hakim? Aku bahkan bukan polisi."
【Hakim bukan jabatan pertama-tama. Hakim adalah kemampuan menimbang dosa, bukti, dan hukuman tanpa menyerahkan keputusan kepada ketakutan.】
Raka tertawa pelan, tanpa humor. "Kedengarannya bagus. Kenapa aku?"
Halaman berhenti bergerak.
【Informasi terkunci. Dibuka pada Level 3.】
"Tentu saja."
Raka menekan pelipis. Ia sudah menduga tidak semua jawaban akan diberikan. Tapi tetap saja, melihat pintu tertutup tepat di depan wajahnya membuatnya kesal.
"Apa tujuan akhirmu?"
【Mengumpulkan 9 Pecahan Gerbang.】
Di halaman, muncul simbol lingkaran hitam yang retak menjadi sembilan bagian. Setiap pecahan kosong seperti lubang.
Raka menatapnya. "Pecahan Gerbang didapat dari mana?"
【Kasus-kasus besar yang melibatkan organisasi kejahatan terstruktur, jaringan pelindung, atau dosa kolektif yang melampaui pelaku tunggal.】
"Wisnu tidak memberi pecahan."
【Kasus #001 adalah kasus aktivasi. Pelaku tunggal. Tidak memenuhi syarat Pecahan Gerbang.】
"Kalau sembilan pecahan terkumpul, Gerbang terbuka. Gerbang ke mana?"
【Informasi terkunci. Dibuka pada Level 5.】
Raka menghembuskan napas tajam. "Kamu suka sekali mengunci jawaban."
【Pengetahuan tanpa kesiapan meningkatkan peluang kegagalan Host.】
"Jangan bicara seperti brosur pelatihan. Apa yang terjadi kalau aku gagal dalam kasus?"
Halaman menggelap.
【Konsekuensi bervariasi sesuai tingkat kasus, level Host, dan perjanjian misi. Pada Kasus #001, konsekuensi gagal adalah kehilangan seluruh ingatan. Pada kasus berikutnya, konsekuensi dapat meningkat.】
Kamar sempit itu terasa lebih dingin.
Raka memikirkan dirinya tanpa ingatan. Tanpa Kribo. Tanpa nama Dewi. Tanpa tahu kenapa tubuhnya memiliki kemampuan bertarung. Hidup, tapi kosong.
"Jadi kamu memberi kekuatan, lalu memegang pisau di belakangku."
【Keadilan tanpa taruhan akan berubah menjadi permainan.】
Raka tidak suka jawaban itu.
Ia juga tidak bisa sepenuhnya membantah.
"Apakah Pengadilan Rakyat bisa salah?"
【Tidak.】
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Raka menajamkan mata. "Tidak ada sistem yang tidak bisa salah."
【Pengadilan Rakyat hanya aktif saat bukti tervalidasi 100%. Bukti tidak lengkap ditolak. Dakwaan yang salah tidak dapat dicap. Jika Host memaksa, hak penghakiman kasus akan dicabut.】
"Tapi publik tidak tahu itu. Mereka hanya melihat layar dibajak dan seorang manusia dihukum."
【Karena itu perdebatan publik diperlukan. Ketakutan mereka adalah pengaman sosial. Keyakinanmu adalah pengaman operasional. Keduanya dibutuhkan.】
Raka diam lama.
Sistem memiliki fungsi yang lebih luas dari alat biasa. Ia punya cara berpikir. Punya agenda. Punya bahasa yang kadang terdengar seperti hakim tua, kadang seperti mesin dingin.
"Siapa Adrian Nugraha?"
Nama itu tidak berasal dari ingatannya. Nama itu muncul dari daftar terkunci di panel sebelumnya. Baris yang terlalu aneh untuk diabaikan.
Tinta berhenti bergerak satu detik.
【Data terkait terdeteksi: Adrian Nugraha.】
【Informasi terkunci. Dibuka pada Level 2.】
"Dia manusia?"
【Informasi terkunci.】
"Musuh?"
【Informasi terkunci.】
"Korban?"
【Informasi terkunci.】
Raka menahan keinginan menutup buku dengan keras.
"Baik. Jelaskan yang tidak terkunci. Penghakiman Diam-Diam."
Halaman berubah.
【Penghakiman Diam-Diam dapat digunakan pada kejahatan yang tidak memenuhi skala Pengadilan Rakyat atau pada kasus non-misi.】
【Biaya: Poin Penghakiman bervariasi sesuai dosa target, tingkat bahaya, dan kelengkapan bukti.】
【Efek: hukuman privat melalui mimpi, rasa bersalah, tekanan mental, atau konsekuensi terbatas yang mendorong pengakuan, perubahan, atau kehancuran sesuai tingkat dosa.】
"Jadi tidak semua kasus harus ditonton seluruh negeri."
【Benar. Tidak semua dosa membutuhkan panggung. Sebagian hanya membutuhkan cermin yang tidak bisa dipecahkan.】
Kalimat itu membuat Raka teringat Slamet Prayitno, ayah Lina. Benih masalah itu masih ada di belakang kepalanya. Tidak semua monster membunuh bayi. Sebagian memukul keluarga di ruang tertutup sampai anak-anak belajar diam.
"Poin Penghakiman selain itu?"
【Poin dapat digunakan untuk biaya penghakiman, aktivasi fungsi Buku Penghakiman, pembelian item terbatas, dan peningkatan kemampuan tertentu saat syarat terpenuhi.】
"Level-up?"
【Level meningkat melalui penyelesaian kasus, akumulasi bukti, kualitas penghakiman, dan momen pemicu tertentu. Level 2 membuka informasi baru dan fitur baru.】
Raka mengingat panel skill terkunci.
Sudut Pandang Kematian. Gema Arwah. Pelacak Tulang. Jiwa Pulang Kampung. Koneksi Penghakiman.
Nama-nama itu terdengar seperti hadiah sekaligus kutukan.
Setelah sesi tanya-jawab berakhir, Buku Penghakiman menampilkan baris terakhir.
【Tutorial Level 1 selesai.】
【Saran: Host sebaiknya mendapatkan akses legal ke penyelidikan kriminal.】
【Bekerja di luar hukum memiliki batasan.】
【Rekomendasi: bergabung dengan kepolisian.】
Raka menatap kalimat itu.
"Kamu menyuruhku jadi polisi?"
【Aku menyarankan. Pilihan tetap di tangan Host. Akses ke TKP, database kriminal, laboratorium forensik, dan wewenang legal akan meningkatkan efisiensi penyelidikan secara signifikan.】
【Perhitungan awal: efisiensi penyelidikan meningkat hingga 40% jika Host memiliki afiliasi resmi dengan Satreskrim. Risiko konflik dengan aparat turun. Risiko identitas Hakim terbongkar tidak berubah secara langsung, tetapi cover legal meningkat.】
Raka membaca angka itu dua kali.
Empat puluh persen bukan angka kecil. Dalam kasus Dewi, satu jam lebih cepat mungkin berarti bukti tidak dipindahkan, saksi tidak terintimidasi, dan pelaku tidak punya waktu menutup jejak.
"Aku anak panti. Tidak punya akademi polisi. Tidak punya koneksi."
【Kompol Yudha Zulkarnain telah menunjukkan minat profesional. Peluang tersedia.】
Raka bersandar ke dinding.
Polisi.
Kata itu terasa terlalu besar untuk kamar kosnya yang bau lembap. Tapi wajah Yudha muncul di ingatannya: tegas, curiga, bersih. Orang seperti itu mungkin bisa menjadi jalan masuk yang tidak membuatnya kehilangan dirinya.
Di sudut meja, laptop Raka masih membuka dokumen novel online lamanya: Penghakiman Iblis Manusia. Dulu ia menulisnya untuk mengisi lapar dan mimpi. Ceritanya kaku, pembacanya sedikit, komentarnya lebih sering menyuruhnya berhenti.
Malam itu, ia membuka bab baru.
Jari-jarinya mulai mengetik.
Bukan lagi dari imajinasi kosong.
Ia menulis tentang rasa dingin saat menatap pembunuh. Tentang beratnya menimbang bukti. Tentang seorang bayi yang tidak sempat memanggil ibunya. Tentang hakim yang mungkin tidak memakai jubah, tapi tetap harus takut pada kekuasaannya sendiri.
Kalimat pertama mengalir.
Lalu kedua.
Lalu halaman penuh.
Ketika Kribo pulang membawa nasi goreng, ia melihat Raka masih mengetik dengan mata menyala.
"Bro," katanya, "aku tinggal beli makan, kamu malah kelihatan seperti menemukan agama baru."
Raka berhenti mengetik.
"Bukan agama. Mungkin jalan."
Kribo menaruh bungkus nasi di meja. "Jalan ke mana?"
Raka menatap Buku Penghakiman yang sudah tertutup.
"Mungkin ke kepolisian."