Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pergi ke Sekte Pedang
Jing Hu tertawa lebar dengan perasaan yang sangat bahagia. Sebagai salah satu putra dari kepala Sekte Pedang dan juga menjabat sebagai Tetua di organisasi tersebut, ia memiliki hak istimewa untuk merekomendasikan murid berbakat secara langsung. Menemukan seorang anak yang memiliki bakat luar biasa, fondasi tubuh yang kokoh, serta memiliki akhlak yang baik seperti Riu Han bagaikan menemukan mutiara langka di tengah lautan luas.
Bukan hanya potensi kultivasinya yang menonjol, namun ia juga melihat kesederhanaan dan kesopanan yang diturunkan dari ayahnya. Riu Zheng dan putranya memiliki sifat yang sama—tidak sombong, tahu tempat, dan tetap rendah hati meskipun memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Bagi Jing Hu, ini adalah keberuntungan besar, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi seluruh Sekte Pedang.
“Baiklah, mulai hari ini panggil saja aku Guru Jing, atau cukup Senior Jing saja,” ujarnya dengan nada hangat.
“Siap, Senior Jing,” jawab Riu Han dengan nada hormat.
Setelah pembicaraan selesai dan semua hal penting disampaikan, Riu Zheng dan Riu Han segera berpamitan.
“Saudara Ling, Saudara Jing, kami mohon izin undur diri terlebih dahulu. Masih banyak hal yang perlu kami persiapkan sebelum keberangkatan besok. Sampai jumpa di lain kesempatan,” ucap Riu Zheng sambil memberi hormat.
“Baiklah, hati-hati di perjalanan,” jawab Ling Cun dan Jing Hu bersamaan.
“Sampai jumpa,” balas keduanya sebelum melangkah keluar dari ruang pertemuan.
Dalam perjalanan pulang menuju kediaman, suasana di dalam kereta terasa tenang namun penuh makna. Riu Zheng menoleh menatap putranya, lalu menyampaikan nasihat yang terukir dari pengalaman hidupnya selama bertahun-tahun.
“Riu Han, Ayah percaya sepenuhnya padamu. Namun, ketika sampai di tempat baru, kamu harus tetap menjaga dirimu sebaik mungkin. Sekte Pedang jarang sekali memamerkan kekuatan dan rahasia mereka ke dunia luar, sehingga banyak orang tidak tahu seberapa hebat mereka sebenarnya. Meskipun pemimpin sekte itu belum tentu menjadi yang terkuat di seluruh benua, ia tetap termasuk di antara para kultivator teratas yang sangat dihormati dan ditakuti.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam. “Jangan mencari masalah secara sembarangan, tapi jika suatu saat kamu dipaksa untuk bertindak membela harga diri atau kebenaran, maka lakukanlah apa yang menurutmu benar. Ayah tahu sifatmu—kamu tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah, tapi juga tidak akan diam saja jika diperlakukan tidak adil.”
Riu Zheng berbicara demikian karena ia sangat memahami karakter putranya. Meskipun masih berusia tujuh tahun, Riu Han sudah memiliki prinsip yang tegas dan pikiran yang jauh lebih dewasa dibandingkan anak seusianya. Namun sebagai seorang ayah, rasa khawatir tetap tidak bisa dihilangkan begitu saja. Ia hanya berharap kesempatan emas ini bisa mengangkat derajat putranya, sehingga tidak lagi dipandang sebelah mata atau diremehkan oleh siapa pun.
Ia juga menjelaskan fakta penting tentang dunia kultivasi. “Ingat, masuk ke sekte kelas atas bukanlah soal memiliki nama klan atau harta yang melimpah. Bagi mereka, latar belakang keluarga tidak berarti apa-apa. Yang mereka cari hanyalah satu hal: bibit atau bakat yang bisa dikembangkan. Inilah sebabnya mengapa para murid dari sekte tingkat tinggi selalu memiliki kekuatan yang melampaui orang biasa. Selain bakat alami, mereka juga mendapatkan akses ke teknik kultivasi terbaik, sumber energi yang murni, dan bimbingan dari para tetua yang sudah berpengalaman selama ratusan tahun.”
Sementara itu, di dalam dimensi Cincin Ruang Abadi, Long Siu sedang memberikan penjelasan dan petunjuk khusus kepada Riu Han agar perjalanannya nanti berjalan lancar.
“Benarkah semua yang kau katakan itu, Saudara Long? Sungguh luar biasa jika itu benar,” gumam Riu Han dengan mata terbelalak takjub.
“Hey, sejak kapan kau mulai meragukan kata-kataku ini? Selama ini apakah aku pernah memberitahumu hal yang salah?” jawab Long Siu dengan nada sedikit kesal namun tersenyum.
“Baiklah, baiklah, aku percaya sepenuhnya padamu,” balas Riu Han sambil tertawa kecil. “Jadi ternyata cincin ini memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari yang aku bayangkan selama ini ya?”
“Tentu saja! Ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh seorang ahli tingkat tinggi yang hampir mencapai puncak dunia kultivasi. Cincin Ruang Abadi ini bukan sekadar tempat menyimpan barang mati saja—ia adalah ruang yang bisa diatur dan dikembangkan sesuka hati,” jelas Long Siu dengan bangga.
Ia lalu menyuruh Riu Han untuk mulai mengatur isi ruang tersebut. “Sekarang, lakukan apa yang aku katakan. Keluarkan semua bibit tanaman herbal dan buah roh yang sudah kita kumpulkan selama ini, lalu tanamlah di lahan kosong yang luas itu. Udara dan energi di dalam sini sama murninya bahkan lebih baik daripada di hutan luar, jadi mereka akan tumbuh subur dengan sangat cepat.”
Riu Han segera melaksanakan perintah itu. Ia baru menyadari keunikan utama cincin ini: tidak seperti benda penyimpanan biasa yang hanya bisa menampung benda mati, di dalam ruang ini makhluk hidup pun bisa bertahan hidup dan tumbuh dengan normal. Inilah alasan mengapa roh Long Siu bisa tetap terjaga dan tidak menghilang selama ratusan tahun terperangkap di dalamnya.
Setelah membersihkan dan meratakan sebidang tanah yang cukup luas, Riu Han mulai menanam satu per satu bibit tanaman obat, tumbuhan energi, serta biji buah roh yang berkhasiat untuk mempercepat pemulihan tenaga dan meningkatkan kualitas energi. Kapasitas ruang di dalam cincin ini sangat luas, bahkan bisa dikatakan seperti sebuah wilayah alam mini yang terpisah dari dunia luar. Udara di dalamnya segar, suhunya stabil, dan aliran energi alam terasa sangat kental.
Setelah selesai menanam, ia melangkah menuju tempat Sumber Air Inti Bumi yang berada di tengah dimensi itu. Mengikuti saran Long Siu, ia menggali lubang sedalam satu meter dengan ukuran dua kali dua meter, lalu mengisinya dengan air dari sumber tersebut. Air yang bening dan berkilau samar itu segera memenuhi kolam kecil itu, memancarkan kehangatan dan energi yang menenangkan. Kolam ini nantinya bisa digunakan untuk memandikan tanaman agar tumbuh lebih cepat, sekaligus menjadi tempat cadangan jika suatu saat ia membutuhkannya saat berlatih di tempat yang energi alamnya jarang.
“Benar-benar luar biasa,” gumam Riu Han sambil mengamati hasil kerjanya. “Cincin ini lebih pantas disebut sebagai ruang mandiri daripada sekadar tempat penyimpanan.”
Long Siu tersenyum puas melihat kekaguman itu. “Tentu saja. Pembuatnya adalah seorang kultivator tingkat Abadi yang sudah melampaui batas pemahaman manusia biasa. Di sini kau bisa membuat kebun sendiri, menyimpan harta tanpa batas, melatih teknik dengan tenang, dan bahkan hidup layaknya di dunia luar. Belum lagi semua senjata, batu roh, dan kitab teknik yang sudah tersimpan rapi di dalamnya sejak ratusan tahun lalu. Ini adalah aset terbesarmu yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun.”
Setelah memastikan semuanya sudah rapi dan siap digunakan, Riu Han keluar dari dimensi itu dan kembali ke kamar tidurnya. Begitu ia membuka pintu, sosok kecil yang sudah menunggu di depan pintu segera melompat menghampirinya.
“Kak Riu Han, kapan kau akan kembali lagi?” tanya Lin Yin dengan mata yang berkaca-kaca, berusaha menahan tangisnya.
Meskipun gadis kecil ini memiliki kesibukan sendiri dalam mempelajari dasar-dasar kultivasi, ia tetap merasa sedih mendengar kabar bahwa kakak angkatnya akan pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak tahu kapan bisa pulang lagi. Sejak kecil mereka selalu bermain dan berlatih bersama, sehingga rasa sayang dan keterikatan di antara mereka sudah seperti saudara kandung.
Riu Han tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Lin Yin dengan lembut. “Ayo, jangan bersedih. Aku hanya pergi untuk belajar dan menjadi lebih kuat, bukan pergi selamanya. Meskipun tidak bisa memastikan kapan waktunya, percayalah, suatu hari nanti aku pasti akan kembali lagi ke sini.”
“Huuh… Ayah, Paman Riu, izinkan aku ikut juga ya? Aku ingin pergi bersama Kak Riu Han!” pinta Lin Yin sambil menoleh ke arah Riu Zheng yang baru saja datang.
Riu Zheng menggeleng lembut sambil menatap gadis itu dengan kasih sayang. “Lin Yin, sayangku, bukan kami tidak mengizinkanmu. Tapi Sekte Pedang hanya menerima murid yang sudah dipilih secara khusus. Tidak semua orang bisa masuk begitu saja. Kamu tetap harus tinggal di sini, teruslah berlatih dengan tekun, dan suatu hari nanti jika kesempatan datang, mungkin kau juga bisa melanjutkan perjalananmu sendiri.”
Mendengar itu, hati Riu Han terasa sangat terharu. Ia menganggap Lin Yin sudah seperti adik kandungnya sendiri, dan melihatnya menangis membuatnya ikut merasakan kesedihan yang sama. Namun ia tahu, ini adalah jalan hidup yang harus ditempuh masing-masing.
“Lin Yin, aku pergi ke sana agar bisa belajar menjadi lebih kuat. Jika aku sudah kuat, nanti aku bisa melindungi kita semua, melindungi Ayah, Paman Lin, dan juga kamu. Jadi jangan menangis lagi, ya?” ucap Riu Han dengan nada menenangkan.
Lin Yin mengusap air matanya, lalu mengangguk mantap. “Baiklah, Kak Riu Han. Aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk berlatih. Nanti saat Kakak pulang, aku juga ingin menjadi kuat dan bisa membantu menjaga Ayah dan Paman Riu.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan berjanji untuk saling mengingat satu sama lain, tibalah keesokan paginya. Riu Han berpamitan kepada ayah dan keluarga kecilnya, lalu berjalan menuju Balai Kota untuk bertemu dengan Jing Hu.
Dari gerbang Balai Kota, keduanya berangkat bersama. Riu Han melambaikan tangan ke arah ayahnya yang berdiri di kejauhan, hingga sosoknya perlahan menghilang di ujung jalan. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia melangkah sangat jauh dari rumah dan lingkungan yang sudah dikenalnya selama ini.
Secara geografis, Kota Jiang terletak di bagian timur wilayah Kerajaan Song, sedangkan Sekte Pedang berdiri megah di wilayah paling barat. Sementara Klan Riu sendiri berpusat di bagian selatan. Perjalanan ini akan membawa Riu Han melintasi sebagian besar wilayah kerajaan, melewati hutan, sungai, dan kota-kota lain yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
“Riu Han, dari sini kita akan menuju Kota Batu Raja terlebih dahulu. Setelah sampai di sana, kita akan menyewa perahu besar untuk menyusuri sungai besar menuju Kota Su, yang merupakan pintu gerbang utama menuju wilayah tempat Sekte Pedang berada,” jelas Jing Hu sambil berjalan santai di sampingnya.
“Siap, Senior Jing,” jawab Riu Han dengan antusias, matanya berbinar-binar mengamati pemandangan yang terus berubah seiring langkah kaki mereka.
Udara terasa lebih segar, dan perasaan di dadanya terasa ringan namun penuh semangat. Ia tahu, perjalanan panjang ini hanyalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Di depan sana menanti tantangan yang lebih berat, pelajaran yang lebih dalam, dan kekuatan yang lebih besar untuk dikejar.
Lanjut Up Thor 💪💪