NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: tamat
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Matahari pagi di Zurich baru saja menerobos celah tirai hotel.

​"Aduhh... Elzio, pegal banget..." meringis Clara pelan, berusaha menggeser tubuhnya dari tempat tidur. Seluruh persendiannya terasa seperti melar, pinggangnya ngilu bukan main gara-gara ulah suaminya semalam yang tanpa ampun terus menahannya hingga fajar menyingsing.

​Elzio yang masih berbaring di sampingnya langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Clara, menariknya kembali ke dalam dekapan tegapnya.

​"Mau ke mana, sweetheart?" bisik Elzio dengan suara bariton khas bangun tidur yang serak. Pria itu mengecupi bahu mulus Clara yang dipenuhi jejak kepemilikannya. "Masih pagi."

​"Lepas, El! Badan aku remuk semua tahu gak!" cibir Clara galak sambil memukul lengan Elzio. "Semalam kamu bilang cuma sekali lagi, tapi ternyata dari tengah malam sampai subuh! Kamu bener-bener gak ada capeknya ya!"

​"Kan saya sudah bilang, saya mau benih saya cepat jadi di dalam sana," balas Elzio santai tanpa rasa bersalah sama sekali, justru makin mengeratkan pelukannya dan menyusupkan wajahnya di leher hangat Clara. "Lagipula, kamu manis sekali semalam. Gimana saya bisa berhenti?"

​"Dasar mesum! Pokoknya malam ini gak ada—"

​DDRRR... DDRRR...

​Ponsel Elzio yang tergeletak di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Elzio menghela napas panjang, merogoh ponselnya dengan enggan tanpa melepaskan kuncian lengannya di tubuh Clara.

​"Ada apa, Arka?" tanya Elzio dingin begitu menempelkan ponsel ke telinganya.

​Seketika, raut wajah Elzio yang tadinya santai dan penuh godaan berubah menjadi sangat serius dan tajam. Matanya melirik pelan ke arah Clara yang sedang merapikan selimut.

​"Pak Elzio, maaf mengganggu bulan madu Anda," suara Arka terdengar sangat formal dan mendesak di ujung telepon. "Ada kabar penting dari Jakarta. Pria itu... ayah dari Ibu Clara, baru saja dinyatakan meninggal dunia jam empat pagi tadi."

​Elzio membeku sejenak. "Lalu?"

​"Kematiannya sangat janggal, Pak. Sesuai perintah Anda sebelum berangkat ke Eropa, tim saya terus mengawasi rekaman CCTV ruangan VIP dan memantau gerak-gerik ibu tiri serta adik tirinya," jelas Arka dengan nada tegas. "Satu jam sebelum pasien dinyatakan kritis dan meninggal, CCTV tersembunyi merekam Miska masuk ke dalam ruangan. Dia menyuntikkan suatu cairan tak dikenal ke dalam selang infus ayah Ibu Clara."

​"Cairan apa?" desis Elzio rendah, matanya makin menyipit tajam.

​"Hasil analisis cepat dari sampel darah yang diambil tim medis kita menunjukkan adanya overdosis zat kalium klorida yang memicu serangan jantung mendadak. Miska membunuhnya, Pak. Diduga mereka panik karena biaya rumah sakit membengkak dan tidak ada lagi harta yang bisa diperas."

​Elzio menelan ludah kasar. "Simpan semua bukti rekaman CCTV dan laporan forensik itu secara rapat. Jangan biarkan polisi mengambil langkah sebelum ada perintah dari saya."

​"Baik, Pak Elzio."

​Sambungan telepon terputus.

​Clara yang duduk di samping Elzio menatap wajah suaminya yang mendadak tegang. "El? Ada apa? Siapa yang telepon dari Indonesia? Ada masalah di kantor AetherCorp?"

​Elzio menyimpan ponselnya kembali, lalu menggenggam kedua jemari tangan Clara dengan sangat erat dan lembut. Matanya menatap iris mata Clara dengan penuh rasa cemas dan kehati-hatian.

​"Clara..." panggil Elzio pelan, suaranya terdengar begitu dalam. "Arka baru saja memberi kabar."

​"Kabar apa?" tanya Clara bingung.

​"Ayah kamu... meninggal dunia subuh tadi," ucap Elzio pelan, terus memperhatikan setiap inci perubahan ekspresi di wajah istrinya. "Dan... kematiannya tidak wajar."

​Clara mengedipkan matanya perlahan. "Tidak wajar gimana maksud kamu?"

​"Arka memasang kamera pengawas tersembunyi di kamar rawatnya atas perintah saya," jelas Elzio ragu-ragu. "Tadi malam, Miska menyuntikkan cairan racun ke dalam selang infusnya. Dia yang membunuh ayah kamu, Clara."

​Ruangan presidential suite itu mendadak hening seketika.

​Elzio menahan napasnya, bersiap menampung tumpahan air mata, histeria, atau rasa syok berat yang mungkin akan dialami oleh istrinya. Pria itu sudah bersiap merengkuh Clara erat-erat untuk menenangkannya.

​Namun, reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan Elzio.

​Clara tidak menangis. Tidak ada jeritan histeris, tidak ada linangan air mata, dan sama sekali tidak ada raut kesedihan di wajah cantiknya. Clara hanya menatap lurus ke arah jendela kaca dengan tatapan nanar yang luar biasa dingin, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang sangat pahit.

​"Miska... menyuntik racun ke infusnya?" bisik Clara pelan, suaranya begitu datar tanpa nada.

​"Iya, sweetheart," sahut Elzio cemas, mengelus pipi Clara dengan ibu jarinya. "Clara, kalau kamu mau menangis, menangislah. Jangan ditahan—"

​"Kenapa aku harus menangis, El?" potong Clara datar, menoleh menatap Elzio dengan mata yang benar-benar bersih dari air mata.

​Elzio mengerutkan keningnya, sedikit terkejut. "Clara..."

​"Pria itu..." Clara tertawa renyah, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk merinding. "...pria itu mengorbankan Ibu aku demi Kirana dan Miska. Dia buang aku, dia siksa mental Ibu sampai Ibu meninggal dalam keadaan menderita. Dia memilih Kirana dan Miska di atas segalanya, menganggap mereka malaikat dan keluarga sejatinya."

​Clara mengusap wajahnya pelan, lalu menatap Elzio lagi dengan tatapan yang sangat jernih.

​"Dan pada akhirnya... orang-orang pilihan dialah yang membunuhnya dengan cara paling menjijikkan," lanjut Clara dingin. "Lucu banget kan, El? Tragis sekaligus ironis."

​"Kamu... tidak sedih sama sekali?" tanya Elzio hati-hati, memastikan kondisi psikologis istrinya.

​"Pria bernama ayah itu sudah mati di hati aku sejak hari Ibu dimakamkan, Elzio," tegas Clara tanpa ragu sedikit pun. "Peran dia di hidup aku cuma memberi luka dan penderitaan. Hari ini dia cuma menyusul dosanya ke neraka. Aku sama sekali gak merasakan duka."

​Clara memajukan tubuhnya, lalu menyusupkan kepalanya ke dalam dada bidang Elzio. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap suaminya, merapatkan tubuhnya dan bermanja-manja ria di sana bagaikan seekor kucing kecil yang mencari kehangatan.

​"El... aku lapar," gumam Clara pelan di dada Elzio, suaranya mendadak berubah manja dan lembut. "Suapin aku makanan lagi kayak kemarin, ya? Mumpung masih di Zurich."

​Elzio menghembuskan napas lega yang sangat panjang. Ketegangan di bahu tegapnya luntur seketika. Pria itu tersenyum lebar, merengkuh tubuh Clara ke dalam pelukannya yang paling hangat dan protektif, merasa lega luar biasa karena trauma masa lalu tidak merusak mental istrinya lagi.

​"Siap, Nyonya Mahendra," bisik Elzio penuh kasih sayang, mengecup puncak kepala Clara berulang kali. "Apapun yang kamu mau, akan saya turuti. Lalu... bagaimana dengan Miska dan Kirana? Mau saya selesaikan sekarang?"

​Clara mendongak dari dada Elzio, menyunggingkan senyum manis namun tajam.

​"Serahkan bukti CCTV itu ke polisi setelah kita pulang dari Eropa," ujar Clara mantap. "Biarkan mereka berdua membusuk di dalam penjara seumur hidup mereka. Itu hadiah terakhir dari aku untuk mereka."

​"Pilihan yang sangat bijak, sweetheart," puji Elzio seraya menyeringai puas. "Arka akan mengurus semuanya hingga mereka tidak punya jalan keluar."

​Elzio mendudukkan Clara di pangkuannya, mengacak rambut istrinya penuh gemas. Binar di matanya kembali berubah menjadi binar penuh gairah dan kehangatan.

​"Nah, karena masalah di Indonesia sudah beres..." bisik Elzio rendah di depan bibir Clara. "...sekarang kembali ke tugas utama kita selama bulan madu ini."

​Clara membelalakkan matanya, memukul dada Elzio pelan. "Elzio! Tadi katanya mau suapin makan?!"

​"Makanannya bisa menunggu sepuluh menit, sweetheart," goda Elzio dengan seringai tampannya, sebelum kembali menyapu bibir Clara dalam ciuman hangat yang memabukkan di bawah sinar matahari pagi Zurich.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!