Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Pesanan Pertama
Sepuluh hari setelah foto contoh pakaian diunggah, sudut dapur Taman Cendana tidak lagi terlihat seperti tempat menyimpan mesin tua.
Salma memasang rak kecil untuk benang. Bu Sari memindahkan stoples bumbu agar kain tidak menyerap bau masakan. Di atas meja, tiga set pakaian ibu dan anak sudah dilipat dalam plastik bening. Setiap bungkus memiliki kertas ukuran, harga, dan nama pembuat.
Nara memeriksa jahitan terakhir sambil menahan gugup.
“Kalau mereka melihat bagian dalamnya, jahitan ini masih sedikit miring.”
Salma membalik pakaian itu. “Sedikit miring tidak sama dengan buruk. Kamu sudah membuka dan menjahitnya dua kali.”
“Karena dua kali masih belum rapi.”
Bu Sari meletakkan teh hangat di dekatnya. “Kalau dibuka lagi, kainnya yang menyerah.”
Hari itu Bu Rukmini mengundang Nara membawa tiga contoh pakaian ke Arisan Taman Cendana. Undangan tersebut terdengar sederhana, tetapi selama beberapa bulan terakhir Nara lebih sering menjadi bahan bisik-bisik daripada orang yang diminta menunjukkan hasil kerja.
Ia tidak ingin datang dengan sikap meminta dikasihani.
Di rumah Bu Rukmini, belasan perempuan duduk melingkar sambil membicarakan harga beras, uang sekolah, dan seragam anak yang cepat sempit. Salma hendak langsung membuka semua contoh, tetapi Nara menahannya.
Ia memilih mendengarkan.
Seorang ibu mengeluh kancing seragam anaknya selalu lepas. Yang lain membutuhkan mukena anak yang tidak terlalu panjang. Ada pula yang ingin pakaian kembar untuk dua putri dengan ukuran tubuh berbeda.
Baru setelah pembicaraan berhenti, Bu Rukmini berdiri.
“Nara membawa beberapa contoh. Kalau ada yang membutuhkan jahitan kecil atau pakaian anak, silakan lihat. Harga sudah tertulis, jadi tidak perlu sungkan bertanya.”
Salma membuka plastik satu per satu. Ruangan yang semula ramai mendadak lebih tenang. Beberapa tangan menyentuh kelim, memeriksa kancing, dan membalik bagian dalam pakaian.
Nara menahan napas ketika seorang perempuan berkacamata mengangkat satu set paling sederhana.
“Kainnya dari mana?”
“Pasar Johar. Saya tulis jenis kain dan perkiraan penyusutannya di kartu.”
“Kalau ukuran anak berubah sebelum selesai?”
“Saya ukur ulang sebelum memotong. Satu kali penyesuaian sudah termasuk harga, selama polanya belum berubah seluruhnya.”
Perempuan itu mengangguk. Ia tidak memuji, tetapi terus memeriksa dengan teliti.
Seorang tetangga lain tertawa kecil. “Kalau masih satu kompleks, bayarnya nanti setelah arisan bulan depan boleh, kan?”
Semua mata beralih kepada Nara.
Dulu ia mungkin akan mengiyakan karena takut dianggap sombong. Kali ini ia tersenyum.
“Untuk bahan, uang muka tetap dibayar saat pesanan dicatat. Sisanya setelah selesai. Aturannya sama untuk teman dan keluarga supaya catatan kami tidak berantakan.”
“Kita kan sudah saling kenal.”
“Justru karena saling kenal, saya tidak ingin hubungan kita rusak oleh utang yang tidak jelas.”
Bu Sari yang duduk di belakang tidak ikut menyela. Tatapannya saja sudah cukup mengatakan bahwa Nara tidak sendirian.
Perempuan itu akhirnya mengeluarkan dompet. “Baiklah. Aku pesan satu mukena anak.”
Pesanan pertama ditulis Salma dalam buku tebal. Nama, nomor telepon rumah, ukuran, jenis kain, tanggal selesai, serta uang muka dicatat di dua lembar. Pelanggan menerima salinan.
Nara mengukur panjang lengan anak perempuan itu di kamar yang pintunya tetap terbuka. Ibunya mendampingi, sementara Salma mencatat angka yang disebutkan. Nara tidak menyentuh anak tanpa memberi tahu bagian mana yang hendak diukur.
“Boleh dibuat lebih panjang untuk dipakai tahun depan?” tanya sang ibu.
“Saya bisa memberi lipatan tambahan di bagian bawah, tetapi bahunya tetap harus pas sekarang. Kalau dibuat terlalu besar, anak akan tersandung.”
Ia menunjukkan pilihan dengan melipat contoh kain. Pelanggan memilih tambahan kelim, lalu membubuhkan tanda tangan pada ukuran yang disepakati. Cara kerja yang jelas membuat dua ibu lain meminta formulir, bukan sekadar menanyakan harga.
Setelah itu, pertanyaan datang berturut-turut.
Nara tidak menerima semua permintaan. Ia menolak gaun pesta yang harus selesai tiga hari lagi karena tidak memiliki waktu maupun alat yang sesuai. Ia juga menolak seseorang yang meminta harga khusus dengan janji akan memperkenalkannya kepada istri pejabat.
“Kalau Ibu cocok dengan hasil kami, silakan bercerita kepada siapa saja,” katanya. “Tapi harga pekerjaan tetap berdasarkan bahan dan waktu.”
Bu Rukmini menutupi senyum dengan gelas teh.
Saat makanan ringan diedarkan, Nara tetap duduk bersama peserta lain. Ia tidak mengubah arisan menjadi panggung penjualan. Ketika seorang ibu bertanya tentang luka persalinannya, Nara menjawab singkat bahwa ia sedang pulih, lalu mengembalikan percakapan pada kebutuhan pakaian anak. Untuk pertama kalinya, orang-orang membicarakan keterampilannya lebih lama daripada masalah keluarganya.
Perempuan berkacamata tadi akhirnya memperkenalkan diri sebagai salah satu pengurus orang tua di SD Bina Bangsa. Ia mencari penjahit untuk memperbaiki seragam anak-anak yang ukurannya tidak pas, bukan membuat seragam baru dalam jumlah besar.
“Bisa datang hari Sabtu untuk mengukur?” tanyanya.
Nara tidak segera menjawab. Ia membuka buku jadwal, menghitung waktu menyusui, dan bertanya jumlah anak.
“Dua belas anak untuk tahap pertama,” jawab perempuan itu.
“Saya bisa menerima enam dulu. Enam berikutnya setelah pekerjaan pertama diperiksa.”
“Takut tidak sanggup?”
“Saya ingin Ibu tahu kemampuan saya sebelum memberi lebih banyak pekerjaan.”
Jawaban itu membuat perempuan tersebut menatapnya lebih lama, lalu menyerahkan daftar nomor telepon. “Datang hari Sabtu. Kalau hasil enam anak rapi, saya masukkan namamu ke grup orang tua.”
Ketika arisan selesai, meja kecil di depan Nara dipenuhi sebelas formulir pesanan. Hanya delapan yang ia terima. Tiga lainnya meminta tenggat terlalu singkat dan tidak bersedia membayar uang muka.
Dalam perjalanan pulang, Salma hampir berlari meski membawa tas kain.
“Delapan pesanan! Belum termasuk sekolah.”
“Jangan senang dulu. Semuanya harus selesai.”
“Boleh senang sambil bekerja.”
Bu Sari berjalan di sisi Nara dan memegang siku putrinya ketika jalan berlubang. “Tadi kamu tidak menunduk satu kali pun.”
Nara menatap tiga contoh yang kini kembali berada di dalam tas. “Aku takut mereka menertawakan hargaku.”
“Ternyata mereka membayar.”
Di rumah, Nara dan Salma menempelkan delapan kartu pesanan di papan. Mereka mengurutkan pekerjaan berdasarkan tenggat dan bahan. Uang muka dimasukkan ke amplop usaha, lalu dicocokkan dengan catatan.
Telepon rumah berbunyi sebelum mereka selesai.
Bu Rukmini mengabarkan bahwa foto contoh pakaian sudah dikirim ke grup orang tua SD Bina Bangsa. Enam orang meminta jadwal pengukuran. Lima lainnya ingin memesan pakaian Lebaran.
Salma mengambil pensil dan mulai menulis.
Telepon berbunyi lagi.
Kemudian ponsel Salma menerima tiga pesan sekaligus.
Nara menghitung kartu yang sudah menutupi hampir seluruh papan. Kegembiraan di dadanya berubah menjadi kesadaran yang membuat kedua tangannya dingin.
Pesanan itu sudah melewati jumlah yang mampu ia selesaikan seorang diri.