Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Menyesakkan memang, memendam segala emosi selama ini. Kalau dilepas takut menyebabkan kehancuran, kesakitan, kekecewaan dan sesuatu yang buruk.
Memendamnya juga bukan solusi terbaik, tapi kalau melupakannya juga amat sangat sulit dilakukan. Hasby mencoba meredam amarahnya yang telah muncul ke permukaan.
Merasa tenang, Hasby bersiap turun untuk sarapan bersama istrinya. Sampainya di meja makan ia tidak menemukan Hawa.
"Bik, Hawa mana?" ia bertanya kepada Bibik yang sedang mengelap piring didapur.
Bibik mendongakkan kepalanya menatap Hasby.
"Neng Hawa tadi buru-buru berangkat Den, katanya ada tugas," Jawabnya ramah.
"Ya sudah bik. terima kasih," Hasby memulai sarapannya sendiri. Bibik menganggukkan kepalanya lalu meneruskan pekerjaannya.
Hawa memang berpamitan pada Bibik. Dia berangkat dengan ojek online. Sangat terburu-buru.Karena ia sudah janjian dengan Asrina untuk bertemu di sekolah pagi-pagi sebelum bel masuk berbunyi.
Di sekolah...
"Buruan Wa,,, mana tugasmu?" teriak Asrina ketika melihat Hawa didepan pintu.
"Iya,,, tunggu! Sabar As," Hawa berlari ke bangkunya dan segera mengeluarkan buku tugasnya.
Mereka sibuk mengerjakan tugas itu dengan tenang. Hanya suara goresan alat tulis yang terdengar.
Hasby sengaja lewat depan pintu kelas Hawa, melihat Hawa sibuk menunduk. Segera ia pergi ke kelasnya sendiri. Ia berjalan dilorong lantai kelas tiga yang masih lengang, mereka lebih suka duduk dihalaman dan lapangan terlebih dahulu, daripada harus ke kelas langsung.
"Hey By,,, sendirian aja nih," seru Reno girang dipintu kelas mereka. Hasby hanya menatapnya datar tanpa menyahutinya.
"Minggir!" ucapnya datar ketika sampai didepan pintu kelas.
"Sabar bro,,, ngomong-ngomong nggak bareng istri nih?" bisik Reno mengikuti Hasby masuk kelas.
"Jaga mulutmu Ren!" tegas Hasby menatap tajam Reno.
Reno mengangkat kedua tangannya "Ok ok,,, kalem bro," lanjut Reno ngeri kalau Hasby menatapnya seperti itu "Tapi aku masih nggak habis pikir By,,, zaman sekarang lho, kok bisa. Tapi ya udahlah ya,, selamat bro, walaupun telat" ucap Reno sambil menjabat tangan Hasby "tenang rahasia aman," lanjutnya lagi. Karena Hasby menatap tajam padanya.
"Tolong jaga rahasia ini. makasih Ren," kata Hasby tenang.
Reno tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.
Tak lama kelas penuh dengan teman-temannya. Bel berdering kencang menandakan waktu masuk kelas dan memulai pelajaran.
Di kelas Hawa...
"Alhamdulillah selesai juga As, makasih ya As," seru Hawa tersenyum lebar, lega karena tugasnya selesai.
"Lagian nggak minta tolong pak suami aja," bisiknya pelan. Asrina langsung mendapat tatapan tajam dari Hawa. Di geplak tangannya kencang oleh Hawa.
"Aduuuh,, apaan sih Wa, masak di geplak,,,, sakit tahu," Asrina mengelus-elus tangannya.
"Salah sendiri bahas itu lagi, awas ya ," Hawa memicingkan matanya, jengkel karena Asrina mengungkitnya lagi.
Pelajaran berlangsung tenang dan tertib. Tidak terasa waktu istirahat tiba. Semua murid keluar menuju kelas. Banyak yang menuju kantin. Termasuk Hawa dan Asrina. Karena tadi pagi mereka melewatkan sarapan. Karena tugas yang harus selesai sebelum bel masuk berdering.
"Wa,,, ke toilet dulu yuk," Asrina menggandeng lengan Hawa, menariknya kearah toilet. Tanpa disadari Hawa menubruk seseorang.
"Astaghfirullah,,, aduh maaf,,, maaf kak,,, kak Dika?" ucapnya terbata-bata dan terkejut karena sampai menubruk kakak kelasnya.
"Heh,, lihat-lihat kalau jalan," teriak suara perempuan [Disti] kakak kelasnya itu. Teman sekelas Dika. Disti mendorong tubuh Hawa keras. Sampai Hawa terjatuh.
"Caper ya sama Dika?!" sungut Dina teman Disti.
"Nggak kak, beneran nggak sengaja," Hawa menjawab tenang.
Teriakan Disti terdengar sepanjang lorong dan membuat mereka menoleh kearah suara itu. Membuat kerumunan kecil didepan toilet.
" Aah,,, maaf kak, saya beneran nggak sengaja," Hawa meringis. Tapi segera berdiri dibantu Asrina.
"Alasan," sinisnya lalu pergi begitu saja.
"Disti jangan seperti itu!" seru Dika, mencoba mendekat untuk membantu Hawa tapi Hawa sudah dibantu temannya lebih dulu.
"Maaf Hawa,,, maafkan Disti juga," ucap pelan Dika merasa sedih karena Disti mendorong Hawa. Seseorang yang mulai tersimpan dihatinya.
"Nggak apa-apa kak, saya yang harusnya minta maaf," sela Hawa cepat "ya sudah kak, saya pergi dulu, ayo As," ucapnya lalu menggeret Asrina masuk ke dalam toilet.
Kerumunan kecil itu membubarkan diri masing-masing. Diujung tangga Hasby dan teman-temannya melihat semuanya. Hasby diam, entah apa yang ada dipikirannya.
"Bubar,, ke kantin yuk," ucap Tian menyenggol bahu Hasby, meliriknya sekilas.
"Kalian duluan aja," Hasby memutar langkahnya kembali naik ke lantai atas.
Teman-temannya memutar bola mata malas. Mereka tahu kalau Hasby pasti pergi ke rooftop. Mereka sudah hafal dengan tindakannya jadi membiarkannya saja. Mereka berjalan ke kantin dan memesan makanan dan minuman. Seperti biasa tempat favorit mereka di pojok kantin.
Hawa dan Asrina melanjutkan tujuan mereka ke kantin. Baru sampai pintu kantin, Hawa melihat teman-teman Hasby tapi Hasby tidak terlihat sama sekali. Kemana suaminya pergi. Karena dari pagi ia belum melihat suaminya itu. Ditengah kekhawatirannya ia segera memesan dua roti cokelat, dua susu rasa plain lengkap air mineral satu botol.
Hawa pamit ke Asrina yang tengah duduk hendak menikmati makanannya. Dengan sedikit kesal tapi mengizinkan Hawa pergi. Jadi ia makan sendirian. Untung teman-temannya yang lain datang menghampirinya.
Hawa keluar dari kantin menenteng sekantung makanan dan minumannya tadi.Tian terus melihatnya. Setelah punggung Hawa menghilang, ia kembali fokus lagi pada makanannya
[Kak, ada dimana?]
Tak lama balasan dari Hasby terdengar.
[di rooftop]
[aku nyusul boleh?]
[nggak!]
Hawa hanya membacanya, kesal juga karena Hasby begitu cuek. Hawa tidak mengindahkan larangan suaminya. Ia segera menuju lantai paling atas disekolahnya itu. Merasa lelah, ia berhenti sejenak dan melanjutkan langkahnya lagi.
Ia membuka pintu yang menuju rooftop pelan. Terlihat tempat yang luas dengan beberapa bangku yang di letakkan didekat berbagai macam tanaman dan bunga-bunga disepanjang pagar rooftop. Memang tempat yang nyaman untuk berdiam diri.
Hawa melihat Hasby menoleh padanya. Menatapnya datar, menghela napas cepat. Hawa berjalan menghampirinya setelah menutup pintunya.
"Kak, kenapa nggak ke kantin?" hawa duduk disamping Hasby, tapi tetap berjarak. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh.
"Lagi males," jawabnya tetap datar. Entah kenapa ada percikan amarah dari nadanya.
"Kak, mau roti?" tawarnya pada Hasby. Memperlihatkan isi bungkusan yang ia beli dari kantin sekolah.
"Nggak, makasih," Hasby mengutak-atik handphonenya. ia melirik tangan Hawa sekilas, terlihat memerah ditelapak tangannya. Membuatnya mengepalkan tangannya.
"Tapi aku maksa, kakak temani aku makan, ini buat kakak, cepat dimakan kak, keburu waktu istirahat habis!" serunya meletakkan sebungkus roti dan susu ditangan Hasby.
Hawa memakan rotinya dengan lahap dan minum susu dengan cepat. Takut bel masuk berbunyi. Hasby melihat roti dan susu itu. Menghela napas pelan dan akhirnya memakannya. Hawa tersenyum lembut melihatnya. Setelah sama-sama selesai. Mereka terdiam sambil memandangi halaman sekolah yang penuh hiruk pikuk siswa dan siswinya.
"Tangan kamu sakit?" suara Hasby mengejutkan Hawa, dengan cepat ia menoleh pada suaminya
"Nggak kak," Hawa menyangkalnya.
"Kenapa merah?" Hasby terus mendesaknya.
"Ya hanya Merah. Nggak apa-apa kak," Hawa mencoba tenang.
"Jatuh karena didorong kakak kelas dan hanya bilang tidak apa-apa? Ucap Hasby dingin menatap Hawa yang menunduk.
"Maaf kak, nggak sengaja, itu hanya kesalah pahaman," cicit Hawa seolah ingin menangis. karu baru pertama kali mengalami hal seperti tadi.
"Bisa nggak sih Wa, kamu itu jangan ceroboh, apa lagi sampai nabrak Dika," ungkapnya dingin.
"Kakak melihat semuanya?" netra Hawa membola karena terkejutnya.
"Kalau aku nggak tanya, pasti kamu akan diam saja," sinis Hasby. Dia nggal suka miliknya dipermalukan seperti itu. Ingin rasanya Hasby memberi pelajaran pada Disti.
"maaf kak, tapi nggak usah marah juga. Aku kan nggak sengaja," kesal karena ucapan Hasby.
Seolah-olah Hawa dengan sengaja nabrak Dika. wajahnya sedikit memerah karena sinar mentari dan emosi yang terpancar. Sedang dongkol-dongkolnya terdengar pintu terbuka. Hawa membeku ditempat duduknya, menahan napas. Seperti patung yang kaku.