NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01 - Malam Terakhir Bapak

​Suara gesekan angin malam yang menabrak dedaunan pohon jati di samping rumah selalu membawa hawa dingin yang tak menyenangkan di pinggiran Madiun. Namun, malam ini rasa dingin itu terasa berbeda.

Udara yang meresap masuk melalui celah-celah ventilasi kayu rumah keluarga Pak Broto tidak hanya membawa embun pertengahan Juli, tetapi juga bau tanah basah yang teramat pekat—padahal hujan tidak turun tiga hari terakhir.

​Di dalam kamar berukuran empat kali empat meter yang berdinding tembok kusam, Pak Broto terbaring tegang di atas kasur kapuknya. Napas pria 50 tahun itu terdengar seperti suara gergaji tumpul yang dipaksakan memotong kayu basah.

Grak ... grak ... grak ....

Bunyi itu begitu berat, merayap keluar dari tenggorokannya yang tampak kaku dan membengkak secara tidak wajar.

​"Bapak ... minum dulu, Pak," bisik Galang sambil menyodorkan segelas air hangat yang asapnya masih mengepul halus.

​Galang, anak ketiga yang berusia 19 tahun, duduk bersimpuh di sisi kiri tempat tidur. Tangannya gemetar hebat. Selama tiga jam terakhir, ia menyaksikan ayahnya bertarung melawan sesuatu yang tak kasat mata.

Tidak ada riwayat penyakit jantung, tidak ada riwayat asma. Pukul delapan malam tadi, Pak Broto masih sempat duduk di depan warung nasi mereka, menghitung lembaran uang kembalian dan bersenda gurau dengan para pengemudi truk yang mampir makan.

Namun, tepat ketika jam dinding di ruang tamu berdentang sembilan kali, Pak Broto mendadak ambruk menabrak meja kayu.

​Pak Broto tidak menyentuh gelas yang disodorkan Galang. Matanya yang memerah dan dipenuhi urat-urat darah liar melotot lurus ke arah langit-langit kamar. Kelopak matanya membuka lebar, begitu lebar hingga Galang takut bola mata ayahnya akan terlepas.

Jemari tangan kanan Pak Broto meremas sprei kain blaco hingga robek, sementara tangan kirinya mencengkeram dada kirinya sendiri dengan sangat kuat—begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Galang ... panggilkan Mas Bayu sama Mba Tiwi!" perintah Bu Retno bergetar dari ambang pintu kamar. Wajah wanita itu sepucat kain kafan. Rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini terurai berantakan di bahunya.

Di belakang tubuh Bu Retno, tiga anak mereka yang lebih kecil—Mia, Rian, dan si bungsu Gilang—terpaku ketakutan di ruang tengah, saling berpelukan tanpa berani bersuara.

​"Mas Danu lagi nyari mobil sewaan buat bawa Bapak ke rumah sakit, Bu! Mbak Tiwi lagi nemenin adek-adek di depan!" sahut Galang dengan suara yang hampir pecah oleh kepanikan. "Bapak kenapa, Bu? Bapak kenapa kok tiba-tiba begini?!"

​Bu Retno tidak menjawab. Matanya tidak tertuju pada wajah suaminya, melainkan melirik liar ke sudut atas kamar—ke arah bayangan gelap yang tercipta oleh pendar redup bola lampu lima watt.

Di sudut itu, udara malam terasa bergetar, seolah-olah ada sesuatu yang amat berat sedang bergelantung di sana, menatap balik ke arah pembaringan Pak Broto.

​"Pak ... nyebut, Pak ... eling ...," gumam Bu Retno setengah berbisik. Langkah kakinya mendekati tempat tidur, namun gerakannya begitu pelan, penuh keraguan yang tak masuk akal bagi seorang istri yang melihat suaminya sekarat.

​Tiba-tiba, tubuh Pak Broto terangkat. Punggungnya melengkung ke atas hingga hanya kepala dan tumitnya yang menyentuh kasur. Suara lenguhan panjang keluar dari mulutnya yang terbuka lebar.

Bau busuk—campuran antara bangkai unggas dan bau bauken minyak tanah yang terbakar—mendadak memenuhi ruangan, begitu menyengat hingga membuat mata Galang berair dan tenggorokannya mual.

​"Bapak!" teriak Galang refleks memegang kedua bahu ayahnya, mencoba menahan tubuh Pak Broto agar kembali berbaring datar.

Namun, otot-otot tubuh ayahnya terasa sekeras batu jalanan. Kekuatan pria yang biasanya hanya sibuk mengaduk kuah rawon di warung itu kini terasa sepuluh kali lipat lebih kuat dari manusia biasa.

​"G-Galang ...."

​Sebuah suara keluar dari mulut Pak Broto. Itu bukan suara aslinya. Suara itu terasa ganda, seolah ada suara parau lain yang berbisik tepat di belakang pita suaranya.

​"Iya, Pak! Ini Galang, Pak! Istighfar, Pak!" jerit Galang, air matanya kini benar-benar menetes menimpa pipi ayahnya yang terasa dingin membeku—dingin yang tidak masuk akal untuk seseorang yang dadanya sedang memburu cepat.

​Pak Broto memalingkan kepalanya secara patah-patah ke arah Galang. Gerakan lehernya terdengar berderak tajam, seperti rantai besi yang dipaksa berputar tanpa minyak pelumas.

Mata merah itu mengunci tatapan Galang. Ada rasa takut yang teramat sangat memancar dari manik mata sang ayah—sebuah ketakutan murni dari seorang manusia yang menyadari dirinya sedang diseret ke dalam jurang tanpa dasar.

​"G-garis ... keturunan ...," bisik Pak Broto. Lidahnya tampak membengkak dan berwarna kehitaman di bagian tengah. "J-jangan ... biarkan ... i-ibumu ...."

​"Apa, Pak? Apa?!" Galang mendekatkan telinganya ke bibir ayahnya yang gemetar dan menghitam. "Jangan biarkan Ibu apa, Pak?! Galang gak denger."

​Tangan kanan Pak Broto yang semula meremas sprei mendadak melayang di udara, meraih kerah baju kaos yang dikenakan Galang. Cengkeramannya begitu mencekik. Pak Broto menarik tubuh Galang hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. Galang bisa merasakan hawa napas ayahnya yang membakar dan berbau amis busuk.

​"K-kau ... kau bukan ..."

​Kalimat itu terputus.

​Mata Pak Broto membelalak puncak. Dadanya naik tinggi sekali, menahan napas yang tak kunjung dihembuskan kembali. Dari dalam tenggorokannya, terdengar suara gemerotok gigi yang saling berbenturan dengan kencang, disusul suara tak tajam seperti patahan ranting kering.

​Seketika itu juga, cengkeraman tangan Pak Broto di kerah baju Galang terlepas. Tangannya jatuh terhempas ke atas kasur dengan tidak berdaya. Kepala pria itu terkulai miring ke kanan, matanya tetap terbuka lebar menatap kosong ke arah dinding kayu yang berdebu.

​Hening.

​Keheningan yang datang begitu mendadak itu terasa menghantam dada Galang lebih keras daripada jeritan mana pun. Angin di luar rumah berhenti berhembus seketika. Suara jangkrik dan serangga malam yang biasanya ramai menyelimuti desa terdiam total. Hanya ada suara detak jam dinding tua yang terus berjalan: tik ... tok ... tik ... tok ....

​"Pak ...?" bisik Galang pelan. Ia menyentuh dada ayahnya. Tidak ada gerakan. Tidak ada hembusan napas. Tidak ada denyut nadi di leher kaku itu. "Pak ... bangun, Pak ...."

​Di ambang pintu, Bu Retno tidak menjerit. Ia tidak berlari memeluk jasad suaminya. Wanita itu hanya berdiri terpaku, memegang daun pintu kayu dengan jemari yang bergetar.

Wajahnya tidak memancarkan duka melainkan sebuah ketakutan yang teramat sangat—ketakutan seseorang yang baru saja menyaksikan sebuah penagihan janji dimulai.

​"Ibu ... Bapak udah nggak ada, Bu ...," ujar Galang dengan suara bergetar parau, memandang ibunya dengan tatapan meminta pertolongan.

​Namun, Bu Retno justru melangkah mundur satu langkah. Matanya perlahan terangkat dari jasad Pak Broto, lalu beralih menatap lurus ke arah Galang.

Tatapan wanita itu terasa begitu asing, seolah-olah ia sedang melihat seorang asing yang berdiri di tengah reruntuhan rumahnya.

​"Utangnya ...," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara langkah kaki Bayu dan Pertiwi yang panik berlari dari arah lorong depan. "Utangnya ... harus dibayar."

​Pintu kamar terdorong lebar. Bayu, anak sulung keluarga itu, menerobos masuk dengan napas terengah-engah. "Lang! Mobil Pak RT udah siap di depan! Ayo bawa Bapak—"

​Kata-kata Bayu terhenti di udara saat matanya menangkap sosok ayahnya yang terbaring kaku dengan mata melotot. Pertiwi yang menyusul di belakangnya langsung menjerit histeris, menutupi mulutnya dengan kedua tangan sambil merosot jatuh di lantai papan.

​Di tengah jeritan adik-adiknya yang mulai pecah dari ruang tengah dan tangisan Pertiwi yang memecah malam, Galang tetap terduduk kaku di sisi jasad ayahnya. Kalimat terakhir Pak Broto terus bergema di dalam kepalanya, berulang-ulang seperti kutukan yang baru saja diucapkan.

​K-kau ... kau bukan ....

​Galang memandang telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur itu, jasad Pak Broto perlahan-lahan mulai mengeluarkan warna kebiruan yang tidak alami pada kulit lehernya, sementara bau tanah basah dan kemenyan semakin pekat memenuhi ruangan—menandakan bahwa malam ini, di rumah pinggir jalan Madiun itu, sebuah pintu kegelapan telah resmi terkuak lebar.

1
💜⃞⃟𝓛🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
Wahh congratulation akhirnya tamat juga kak, otewe New karya nya
kinoy
KK ni bnrn serius tamat kah
kinoy
hah tamat .KA Anna serius nih tamat
kinoy: oh gt..soalnya MNRT ku msh gantung ka🙏,crt klrg broto dah end. tp msh bnyk misteri soal Galang . trus sosok misterius terakhir kan g tau tu sapa
total 2 replies
kinoy
nah..ni dia..asal usul Galang msh misteri nih
kinoy
meng sedih ah baca y..kasian ma Pertiwi Mia Rian JD tumbal
kinoy: kasian jg KA..pa Broto jg wkw slh td brsh bt perbaiki wlw telat jg. g SK ma Bu Retno AQ mah dah MW metong jg ttp Weh ngurusin harta..bnr2 serakah
total 2 replies
Wina Yuliani
part yg bikin nangis....
Wina Yuliani
ih...ih..ih ... tegang nih, seriusan bagus ceritanya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
apakah selanjutnya akan dikisahkan soal Galang yang merupakan darah darah penawar dari pesugihan sengkolo??

Kenapa bisa Galang memiliki darah penawar?
kinoy
legaaaa
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kira kira masih ada rintangan ga selama perjalanan di pelabuhan merak nanti ???
Kan wadag pundennya udah hancur
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Akhirnya ........
Wadag punden hancur dan sampai juga di pelabuhan merak.

Tinggal tugas terakhir yang harus kau kerjakan, Galang.
Memutus dan benar benar menghancurkan Sengkolo dan pesugihannya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Dari awal munculnya Pakk Janitro sebagai supir ambulans yang akan mengantar Galang ke pelabuhan Merak, kepikir .....

"Ko Pakk Janitra ko mau yaa menjadi supir ambulans yang jelas nanti diperjalanan akan mengalami banyak hal ghaib 🤔🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
keluargamu?? keluarga Buu retno???
keluarga yang mana lagi?
bahkan hampir seluruh anaknya diambil tumbal pesugihan . bungsu dan anak angkatnya sedang perjalanan menyelamatkan diri lepas dari menjadi tumbal itu.

jadi keluarga Buu retno manalagi yang kau sebut itu, Pakk Sapta???
Itu mah Buu retno aja sendiri!
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Perjalanan keluar pulau Jawa ..... terasa sangat mencekammmmm👻
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Cahaya penawar yang dimaksud Habib Umar itu berasal. dari keris Pakk Broto yaa ?🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Membaca BAB ini degg deggan pisan 😄

Takut Galang ketahuan pass mencari kayu Ulin
Takut Galang ga bisa keluar dari rumah itu

Seru dan menegangkan BAB ini kalau di filmkan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Di surat itu hanya tertulis :
Selamatkan Gilang, Galang !

Seakan akan sebelum meninggal Pakk Broto tahu bahwa anak yang akan tersisa dari pesugihan itu adalah Gilang 🤔

Hhmmm.....
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
mengambil kayu Ulin tersebut kayaknya ga semudah seperti membalikkan telapak tangan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Waahhh ... perjuangan yang sangat berat dan sangat beresiko itu , Galang !

Kami harus kembali ke rumah Pakk Broto, otomatis Sengkolo tidak akan membiarkanmu mencapai tujuanmu dan merusak pesugihan ini.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
kenapa Galang disebut sebagai pasak penawar?
Apa yang dimiliki Galang Sampai dia disebut pasak penawar ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!