NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BARA CEMBURU DI BALIK KACA JENDELA

Hujan gerimis yang menyisakan kelembapan di udara tidak mampu mendinginkan panas yang bergejolak di dalam dada Jessica.

Udara sore itu lembap. Bau tanah basah bercampur parfum mahal dari tubuhnya sendiri. Tapi semua itu kalah oleh panas yang menjalar dari dadanya sampai ke kepala.

Berdiri tersembunyi di balik pilar besar sudut koridor lantai dua gedung fakultas kedokteran, mata gadis berpoles makeup tebal itu membelalak tajam. Maskaranya hampir luntur karena keringat dingin. Tangannya yang memegang ponsel mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemetar akibat luapan emosi yang tidak tertahankan.

Dari tempatnya berdiri, ia memiliki pandangan lurus yang sempurna ke arah taman kampus tempat di mana drama menyayat hati baru saja terjadi di bawah rintik hujan. Tempat yang seharusnya jadi miliknya.

Jessica menyaksikan semuanya tanpa terlewat satu detik pun:

Bagaimana Revan, sosok bad boy paling dipuja, dikagumi, dan diburu oleh seluruh mahasiswi Universitas Airlangga Nusantara, berdiri dengan tulus membawa sekuntum bunga. Bukan biasa. Edelweis putih. Mahal. Langka.

Bagaimana ia menyatakan cinta setengah mati. Suaranya yang biasanya dingin dan sinis hari itu melembut. Memohon. Dengan penuh kelembutan agar Nayara mau menerimanya sebagai kekasih hati. Bahkan bahunya sampai sedikit menunduk.

Dan yang membuat rahang Jessica hampir terlepas serta dadanya terasa sesak adalah kenyataan bahwa Nayara gadis sok suci dari pesantren yang sangat ia benci dan pandang rendah dengan tenang, dingin, namun tegas menolak lamaran itu mentah-mentah di hadapan mata kepalanya sendiri.

Tidak teriak. Tidak drama. Hanya geleng pelan dan satu kalimat: "Maaf,Saya tidak bisa."

"Sialan... Sialan perempuan kampungan itu!" desis Jessica penuh kebencian yang mendalam.

Gigi-gigi gerahamnya bergemeletuk menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Darahnya berdesir. Suaranya tercekat di tenggorokan, nyaris berteriak meluapkan amarah andai tidak ia redam dengan gigitan kuat pada bibir bawahnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.

Selama ini, Jessica telah mengerahkan segala cara, trik, dan pengorbanan untuk mendekati Revan.

Ia menghabiskan jutaan rupiah demi penampilan fashion bermerek. Tas Chanel. Sepatu Dior. Baju yang dipotong di butik langganan artis.

Ia rela merendahkan harga diri untuk terus mengekor ke mana pun Revan pergi. Ke gym. Ke kafe. Ke sirkuit.

Ia menebar senyum manis, tertawa paling keras di lelucon Revan, hingga menawarkan segalanya demi mendapatkan secuil perhatian atau sekadar tatapan hangat dari pewaris tahta tunggal keluarga besar Al-Gibran tersebut.

Ia pernah bilang, "Aku bisa jadi apa saja buat kamu, Van." Dan jawabannya cuma: "Jangan ganggu."

Namun, apa yang ia dapatkan selama berbulan-bulan penuh usaha melelahkan itu?

Hanya penolakan dingin. Tatapan acuh tak acuh. Sikap tidak peduli. Hingga ancaman mengerikan di koridor beberapa waktu lalu saat ia mencoba merundung Nayara.

Revan pernah menarik kerah bajunya dan berbisik, "Kalau lo nyentuh dia sekali lagi, gue sumpah lo keluar dari kampus ini."

Dan hari ini?

Revan justru berlutut secara emosional. Merendahkan egonya. Memberikan seluruh ketulusan hatinya kepada Nayara gadis berkerudung sederhana yang sama sekali tidak berdandan menor, tidak pernah memuja harta, dan selalu bersikap dingin kepada pemuda tersebut.

Nayara pakai gamis polos. Kerudung segi empat. Sepatu flat. Tidak ada lipstik. Tapi Revan tetap melihatnya seperti melihat dewi.

Lebih-lebih dari segalanya, Jessica tidak terima.

Harga dirinya sebagai ratu sosialita kampus hancur berkeping-keping dalam sekejap. Selama 3 tahun ia jadi pusat perhatian. Foto-fotonya paling banyak di-like. Undangan event paling banyak. Cowok-cowok kaya paling banyak ngantri.

And sekarang? Direbut oleh anak pesantren.

Ia merasa posisinya diinjak-injak. Diremehkan. Dan tersaingi secara telak oleh seseorang yang dianggapnya sama sekali tidak selevel dengan standar pergaulannya.

"Kamu pikir kamu siapa, Nayara?" cibir Jessica dengan mata berkaca-kaca penuh amarah yang meluap-luap. Air matanya bukan sedih. Itu air mata marah. "Beraninya kamu menolak Revan setelah dia memohon dan merendahkan diri seperti itu?! Tidak tahu diuntung! Kalau aku jadi kamu, aku udah sujud syukur!"

Rasa cemburu yang membakar lambungnya perlahan berubah menjadi racun mematikan yang siap meledak kapan saja untuk menghancurkan hidup sang bidadari pesantren.

Di tengah lapangan taman bawah, ia melihat Revan berbalik perlahan dengan bahu yang terkulai lemas. Jas hitamnya basah. Bunga di tangannya masih digenggam erat, meski sudah kuyup.

Membawa kekecewaan yang amat dalam setelah ditolak mentah-mentah. Untuk pertama kalinya Jessica melihat Revan Al-Gibran kalah.

Sementara Nayara berjalan pergi menjauh dengan payung transparan tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tenang. Punggungnya tegak. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Melihat Revan disakiti, ditolak, dan diabaikan seperti itu justru semakin membuat obsesi gila Jessica melambung tinggi ke angkasa.

"Aku harus dapat dia," pikir Jessica. "Kalau bukan aku, jangan siapa-siapa."

Di dalam kepalanya yang dipenuhi api cemburu dan dendam kesumat, sebuah rencana busuk mulai dirancang rapat-rapat. Detail. Kejam. Untuk menghancurkan kebahagiaan Nayara sampai ke akar-akarnya.

Ia mengeluarkan ponsel. Membuka grup WhatsApp "Ratu UAN".

Jess: Girls, meeting malam ini di kafe. Ada target baru. Kita kubur dia.

Sementara itu, di dalam apartemen mewahnya yang sunyi, senyap, dan temaram, Revan duduk termenung seorang diri di atas sofa kulit hitam bergaya minimalis.

Lampu hanya satu. Menyorot ke meja. Di luar, gedung-gedung Jakarta kelap-kelip.

Suasana di luar jendela dipenuhi oleh rintik hujan yang semakin lebat menghantam kaca gedung tinggi lantai 28. Tik... tik... tik... Seolah mencerminkan kekosongan mutlak yang melanda isi dadanya saat itu.

Di atas meja kaca di hadapannya, tangkai bunga Edelweis putih yang tadi ditolak secara baik-baik oleh Nayara tergeletak rapi. Masih utuh. Masih wangi. Kini basah.

Revan menatap bunga suci itu lama sekali tanpa berkedip sedikit pun. Matanya perih tapi tidak ada air mata.

Tidak ada secercah kemarahan atau rasa benci yang tersisa di dalam hatinya untuk Nayara. Aneh. Biasanya kalau ditolak ia akan marah, akan balas dendam.

Sebaliknya, yang ia rasakan justru sebuah kekaguman yang semakin mendalam. Bertumpuk-tumpuk hingga menyesakkan dada.

Gadis itu menolaknya bukan karena tidak peduli atau membencinya. Bukan karena ada cowok lain.

Melainkan karena ia memiliki prinsip hidup yang kokoh. Batasan moral yang suci. Dan harga diri yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan, ketampanan, atau rayuan manis semata.

Penolakan itu justru membuktikan bahwa Nayara memang perempuan paling mulia, lurus, dan berprinsip tinggi yang pernah hadir di dalam lembaran hidupnya yang kelam.

Hidup Revan penuh pesta, wanita, judi, dan perkelahian. Tapi Nayara... Nayara beda. Nayara suci.

"Kamu memang benar, Nay..." gumam Revan lirih pada dirinya sendiri. Suaranya parau dan bergetar di tengah keheningan malam yang panjang. "Tembok di antara kita memang terlampau tinggi untuk digapai. Dunia aku kotor. Dunia kamu bersih."

"Prinsipmu terlalu suci untuk disandingkan dengan duniaku yang berantakan. Kamu benar. Aku bukan siapa-siapa buat kamu."

Revan menyandarkan punggungnya ke sofa. Menutup kedua matanya rapat-rapat.

Membiarkan memori detik-detik penolakan tadi berputar kembali di dalam kepalanya. Suara Nayara yang lembut tapi tegas. Tatapan mata Nayara yang tidak goyah sedikit pun.

Ini pertama kalinya seorang bad boy merasakan jatuh cinta secara nyata dan tulus. Dan pertama kalinya juga ia merasakan sakit karena cinta.

"Tapi..." Revan membuka mata. Tatapannya mengeras. "Aku tidak akan menyerah begitu saja pada takdir."

"Kalau temboknya tinggi, aku panjat. Kalau jalannya suci, aku bersihin diri aku dulu."

Ia mengambil bunga itu. Menciumnya pelan. Lalu menyimpannya di dalam buku.

Namun, di belahan kota yang lain, ketenangan semu dan kesedihan melankolis itu dipastikan tidak akan bertahan lama.

Jessica, yang sepenuhnya dikuasai oleh rasa cemburu buta, amarah membabi buta, dan gengsi yang terluka parah, sudah mulai bergerak di balik layar.

Malam itu juga, di sebuah kafe tertutup di Senopati, Jessica sibuk menghubungi beberapa orang kenalan lamanya di luar kampus orang-orang bayaran yang biasa menangani pekerjaan kotor tanpa banyak tanya.

Mejanya penuh dengan iPhone, rokok, dan map coklat berisi amplop tebal.

"Gue butuh orang," desis Jessica tajam ke arah seorang pria bertato tebal dan berwajah bopeng di seberang meja. "Preman bayaran. Bukan cuma sekadar bikin takut, tapi gue mau perempuan itu dilecehkan secara fisik di tempat sepi, disentuh-sentuh, disobek bajunya, biar mentalnya hancur dan dia nggak punya muka lagi buat sok suci di kampus."

Pria bopeng itu menyeringai jijik sambil memainkan korek api di tangannya. "Wah, berat juga ya targetnya, Neng. Kalau urusannya udah nyerempet pelecehan fisik kayak gitu, risikonya gede. Hukumannya bisa berat kalau sampai ketahuan."

Jessica mendengus sinis, lalu melempar sebuah amplop tebal berisi tumpukan uang tunai seratus ribuan tepat di depan muka preman tersebut hingga bergeser.

"Gue nggak peduli risiko! Tambah dua kali lipat dari harga biasa asal kerjaan kalian beres tanpa jejak!" jawab Jessica penuh penekanan, matanya memancarkan kilat kebencian yang pekat. "Bikin dia trauma setengah mati. Robek gamisnya, lecehkan dia sampai dia nangis-nangis memohon, rekam semuanya kalau perlu, biar dia ngerasain akibatnya karena sudah berani bikin aku malu dan ngerebut apa yang harusnya jadi milik aku!"

Pria itu terkekeh pelan sambil menarik amplop tebal tersebut, menghitung isinya sekilas dengan mata berbinar serakah. "Beres, Neng. Urusan bikin perempuan trauma dan dihinakan di tempat sepi mah gampang buat anak buah saya. Tinggal tunggu waktu yang pas aja."

Selain menyewa preman untuk melakukan pelecehan mental dan fisik yang menjijikkan itu, ia juga menghubungi rekan-rekan sosialita bermulut tajam dan anak-anak influencer kampus untuk memperkuat skenario kehancuran Nayara.

"Gue mau kalian siapin pasukan buat sebar rumor," perintah Jessica kepada temannya. "Begitu berita soal pelecehan itu atau foto-fotonya bocor, kalian langsung bikin narasi kalau Nayara itu perempuan murahan yang sengaja menggoda cowok-cowok di luar, bikin dia terlihat hina dan munafik. Bawa-bawa nama pesantrennya sekalian biar keluarganya ikut malu besar. Bikin dia benar-benar nggak punya tempat hidup di kampus ini!"

Salah satu temannya, Melly, bertanya dengan suara gemetar ragu. "Jess... ini udah keterlaluan banget. Ini namanya kriminal, bisa menghancurkan masa depan anak orang kalau dia sampai dilecehkan begitu!"

Jessica membanting gelas kaca di atas meja hingga pecah berkeping-keping. Brak! "Dia sudah ngerebut Revan dari aku! Dia bikin aku dipermalukan di depan satu kampus! Ini bukan soal dia salah atau nggak, tapi soal siapa yang berkuasa di sini!"

Dendam kesumat telah berakar sangat kuat di hati Jessica. Mengakar sampai ke tulang belulang, menutup seluruh nuraninya.

Ia tersenyum miring. Senyum mengerikan yang tidak sampai ke mata. "Kita tunggu momentum yang paling tepat. Saat dia berjalan sendirian tanpa perlindungan. Saat dia paling rapuh. Lalu kita jatuhkan kehormatan Nayara di hadapan seluruh sivitas akademika Universitas Airlangga Nusantara."

"Kita bikin dia keluar dari kampus ini dengan air mata darah."

Di luar kafe, hujan masih turun mendinginkan malam.

Di dalam ruangan remang itu, api cemburu dan niat bejat Jessica menyala semakin besar, merencanakan malapetaka yang mengancam kesucian sang bidadari pesantren.

Sementara di apartemen lantai 28, Revan masih memandangi bunga Edelweis dengan sisa-sisa asa di dadanya.

Dan di kamar kos pesantren, Nayara masih khusyuk dalam sujud terakhirnya, sama sekali tidak tahu bahwa badai keji sedang disiapkan untuk merenggut kehormatannya.

Perang kotor baru saja dimulai.

Dan kali ini, yang diincar bukan sekadar hati, melainkan harga diri dan masa depan.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!