"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK MEGAHNYA ISTANA MAHENDRA
Jika kediaman Alveric dipenuhi aura dingin yang elegan dan penuh dengan tata krama kaku, maka tak jauh dari sana, berdiri kediaman Mahendra, sebuah mahakarya arsitektur classic-modern yang memancarkan dominasi dan kekuasaan absolut. Di atas tanah seluas hektaran di kawasan elite, Istana Mahendra berdiri megah dengan pilar-pilar putih menjulang, kolam renang berukuran olimpiade, dan deretan mobil-mobil supercar yang terparkir rapi di garasi bawah tanahnya.
Di balik kemewahan yang menyilaukan mata itu, keluarga Mahendra dikenal sebagai klan bisnis paling ditakuti sekaligus disegani. Namun, di dalam rumah yang luas itu, suasana malam hari selalu dipenuhi dengan dinamika yang ramai, tajam, dan penuh dengan kepribadian yang saling bertabrakan.
DINAMIKA DIBALIK RUANG KELUARGA MAHENDRA
_______________
Aroma kopi hitam premium yang pekat dan harumnya bunga lili putih memenuhi ruang keluarga berlantai marmer Italia. Malam itu, keluarga Mahendra sedang berkumpul, di sebuah momen langka mengingat kesibukan luar biasa yang diampu oleh setiap anggotanya.
Di atas sofa kulit berdesain kustom, duduk Kael Mahendra, sang Papi. Pria paruh baya dengan wibawa mengintimidasi, garis rahang yang tegas, dan tatapan mata elang yang mampu membaca niat seseorang hanya dalam sekali pandang. Kael adalah pendiri sekaligus pimpinan tertinggi Mahendra Group, konglomerasi raksasa yang menguasai berbagai sektor industri. Di mata publik, Kael adalah sosok yang dingin, tak tersentuh, dan berhati besi. Namun, di hadapan keluarganya, ia adalah tiang utama yang ketegasannya tak pernah bisa diganggu gugat.
"Laporan merger untuk proyek di Dubai sudah saya selesaikan, Papi," suara berkarisma memecah keheningan.
Pria yang berbicara adalah Ethan Mahendra, putra sulung keluarga Mahendra yang berusia 28 tahun. Berdiri tegap dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, Ethan adalah cerminan sempurna dari sang Papi. Sebagai CEO di anak perusahaan utama Mahendra Group, Ethan dikenal sebagai pria bertangan dingin, sangat disiplin, dan efisien. Wajahnya yang tampan dengan aura pemimpin yang kuat membuatnya disegani baik di dalam boardroom maupun di luar lapangan.
Kael menyesap kopi hitamnya pelan, lalu menatap putra sulungnya dengan anggukan tipis. "Bagus. Jangan biarkan Alveric Group mengambil alih bagian porsi investasi terbesar di sana. Walaupun Alexander adalah kawan lama Papi, bisnis tetaplah bisnis."
"Tenang saja, Papi. Abang Ethan kan memang robot tanpa selera humor, mana mungkin dia kecolongan," celetuk sebuah suara dari balik laptop berlayar lebar.
Itu adalah Raka Mahendra, putra kedua yang berusia 25 tahun. Berbeda dengan Ethan yang terikat pada aturan korporat, Raka adalah sosok jenius di dunia teknologi dan venture capital. Dengan senyum miring yang khas, rambut yang ditata sedikit berantakan tapi stylish, dan pembawaannya yang lebih santai, Raka adalah otak di balik sistem keamanan digital dan investasi-investasi berisiko tinggi milik Mahendra. Raka suka memprovokasi abang sulungnya, tapi di balik itu, ia sangat menyayangi keluarganya.
Ethan hanya melirik Raka dingin tanpa berniat membalas, sudah terbiasa dengan kelakuan adiknya yang satu itu.
"Raka, jangan mulai," tegur sebuah suara anggun dan penuh kelembutan dari arah tangga.
Clara Mahendra, sang Mami, berjalan mendekat. Wanita yang memancarkan kecantikan abadi dengan busana sutra yang elegan itu membawa aura kehangatan di antara dinginnya pembicaraan para pria. Sebagai seorang kolektor seni internasional dan filantropis terkenal, Clara adalah sosok penyeimbang di Istana Mahendra. Sentuhan kasih sayangnya yang tiada tara adalah alasan mengapa anak-anak Mahendra, setegas apa pun mereka di luar, selalu kembali dan tunduk pada sang Mami.
Clara duduk di samping Kael, menyandarkan jemarinya yang terhias cincin berlian halus di atas lengan sang suami. "Ini malam minggu, Papi, Ethan, Raka. Bisakah pembicaraan bisnis disimpan dulu untuk esok hari?"
"Mami benar! Setiap kali kumpul, isinya cuma saham, merger, dan investasi. Bikin pusing tahu!" keluh Nora Mahendra, anak ketiga sekaligus putri satu-satunya di keluarga Mahendra.
Nora, yang berusia 23 tahun, adalah seorang desainer muda berbakat yang baru saja meluncurkan brand busana mewahnya sendiri. Cantik, tajam, dan sangat protektif terhadap adik-adiknya, Nora memiliki lidah yang pedas jika sudah mengkritik gaya berpakaian saudara-saudaranya. Dengan gaun santai namun bernilai fantastis yang mengenakannya, Nora meletakkan cangkir teh chamomile-nya sambil menatap sinis ke arah adik ketiganya.
"Dan kamu, Leo... Bisa tidak hentikan latihan bebanmu itu sebentar saja? Kita ini sedang berkumpul," lanjut Nora tajam.
Di sudut ruang keluarga, Leo Mahendra, putra keempat yang berusia 21 tahun, sedang santai mengangkat dumbbell ringan sembari menonton pertandingan bola di layar TV raksasa. Leo adalah seorang atlet profesional muda dan mahasiswa hukum yang memiliki postur tubuh paling tegap dan atletis di antara saudaranya. Karakteristiknya cenderung blak-blakan, penuh energi, dan selalu menjadi pembela utama jika saudara-saudaranya terlibat masalah di luar.
"Ah, Kak Nora iri saja karena bahuku makin proposional," kekeh Leo santai, menyapu keringat di pelipisnya dengan handuk kecil, lalu memasang wajah tak berdosa. "Tanya saja Zavier, latihan beban itu bikin pikiran segar, ya kan, Zav?"
Satu ruangan seketika menoleh ke sudut dekat jendela besar yang mengarah ke taman belakang.
Di sana, terasing dari keramaian percakapan saudara-saudaranya, duduk Zavier Kael Mahendra—si bungsu di keluarga Mahendra.
Zavier mengenakan kaus polos hitam dan celana santai, dengan headphone yang melingkar di lehernya. Wajahnya yang sangat tampan memiliki ketajaman yang unik, perpaduan antara rahang tegas sang Papi dan kelembutan mata sang Mami. Namun, ekspresi wajahnya begitu tenang, misterius, dan sulit ditebak. Ia duduk sambil memangku buku sketsa dan pensil di tangannya, jemarinya bergerak halus menari di atas kertas.
"Zavier?" panggil Clara lembut, tatapannya dipenuhi kasih sayang khusus untuk putra bungsunya.
Zavier mendongak pelan, melepaskan headphone-nya hingga tergantung di leher. "Ya, Mami?" suaranya berat, tenang, namun memiliki daya pikat tersendiri.
"Mami lihat akhir-akhir ini kamu sering melamun. Ada masalah di sekolah? Atau... ada hal lain yang sedang kamu pikirkan?" tanya Clara penuh perhatian.
Ethan dan Raka menghentikan perdebatan kecil mereka, sementara Kael menatap putra bungsunya itu dengan intens. Sebagai anak terakhir, Zavier memang tidak dituntut sekeras Ethan atau Raka dalam urusan bisnis Mahendra Group saat ini, mengingat ia masih duduk di bangku SMA. Namun, Zavier dikenal memiliki kecerdasan intuitif yang amat tinggi dan sifat yang paling tertutup.
"Tidak ada apa-apa, Mami. Hanya sedikit lelah dengan tugas sekolah," jawab Zavier datar, senyum tipis yang sangat tipis terukir di bibirnya untuk menenangkan sang Mami.
Nora menyipitkan matanya, menatap sketsa yang baru saja dibuat oleh adiknya. "Masa? Dari tadi Kakak perhatikan, kamu cuma memutar-mutar pensil sambil menatap keluar jendela. Seolah-olah pikiranmu ada di tempat lain."
Leo ikut terkekeh, "Atau jangan-jangan si bungsu Mahendra ini lagi naksir cewek di sekolah? Boleh juga, kasihan kalau cuma ngintip-ngintip."
Zavier hanya menutup buku sketsanya dengan gerakan tenang, tidak terpengaruh oleh godaan saudara-saudaranya. Namun di balik sikap dinginnya itu, tatapan mata Zavier meredup saat pikirannya secara otomatis melayang pada satu nama yang selalu mengusik ketenangannya di sekolah.
Seorang gadis anggun bertubuh mungil dari keluarga Alveric, yang setiap hari berjalan melintas di koridor sekolah yang sama dengannya, duduk di ruang kelas yang sama dengannya, namun selalu terasa memiliki tembok raksasa yang memisahkan mereka.
"Bicara soal sekolah," suara Kael kembali terdengar, memotong gurauan anak-anaknya. "Papi mendengar dari Alexander bahwa kamu satu sekolah lagi dengan putri mereka, Nayla. Apa kalian sering berinteraksi?"
Atmosfer di ruangan itu mendadak sedikit berubah. Nama 'Alveric' selalu membawa bobot tersendiri bagi keluarga Mahendra.
Zavier terdiam sejenak. Tatapannya menatap lurus pada sang Papi sebelum menjawab dengan nada yang sangat terjaga dan tak terbaca.
"Hanya sebatas menyapa jika berpapasan, Papi. Tidak lebih."
Clara tersenyum penuh arti, sementara Ethan dan Raka saling melempar pandangan singkat. Zavier kembali membuka buku sketsanya, namun jemarinya tak lagi menggambar. Di dalam benaknya, kalimat yang sama kembali berputar, sebuah kenyataan pahit yang selalu menyiksanya setiap kali ia berada di dekat gadis itu.
Bahwa di antara keluarga besar yang saling terikat bisnis dan takdir ini, ia dan Nayla selalu berada di tempat yang amat dekat... namun entah mengapa, terasa begitu jauh untuk saling menggapai.
kekny zavier ini tipe aku 🤭