NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:26.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Tetua dari Sekte Awan Ungu

Setibanya di aula, suasana sudah sangat berbeda dari biasanya. Patriark Sheng duduk di kursi utamanya dengan postur yang lebih tegak dari biasanya, tetapi ada ketegangan yang tersembunyi di balik ketenangannya. Di sampingnya duduk dua orang tetua Klan Sheng.

Di hadapan mereka, di kursi tamu utama, duduk seorang wanita.

Wanita itu mengenakan jubah ungu dengan sulaman awan perak di sepanjang lengannya, menandakan statusnya sebagai tetua Sekte Awan Ungu. Rambutnya yang panjang tergerai ke belakang, sementara wajahnya cantik tetapi sedingin es, tanpa emosi, tanpa kehangatan. Kedua matanya yang tajam memancarkan aura seseorang yang terbiasa menilai dan mengendalikan orang lain.

Di belakangnya berdiri dua orang kultivator pria berjubah ungu yang sama. Masing-masing berada di Kondensasi Qi lapis kedelapan dan lapis sembilan, dengan pedang terselip di pinggang mereka.

Ini adalah Tetua Huan Yue, wanita paling ditakuti di Sekte Awan Ungu. Kultivasinya berada di Pendirian Fondasi tahap menengah, dan reputasinya sebagai wanita yang dingin, bijaksana, dan licik sudah tersebar ke seluruh kota.

Begitu Wang Hao melangkah masuk, semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Patriark Sheng membuka mulutnya untuk memperkenalkan secara langsung, tetapi Huan Yue sudah lebih dulu berbicara.

"Jadi kau pemuda yang membuat seluruh kota gempar," suaranya dingin seperti angin musim dingin. "Chen Nan."

Wang Hao berjalan ke kursi kosong dan duduk tanpa menunggu undangan siapapun.

"Benar."

Huan Yue menyipitkan matanya. Sikap Wang Hao yang seenaknya jelas bukan sikap yang ia harapkan dari seorang pemuda yang berhadapan dengan tetua sekte.

"Aku mendengar kau membuat Pil Pemulihan Dasar dengan kemurnian delapan puluh lima persen," ucap Huan Yue tajam. "Alkemis di Sekte Awan Ungu bahkan tidak bisa mencapai kemurnian setinggi itu. Dari mana kau mendapatkan resep itu?"

"Dari guru saya."

"Siapa gurumu?"

"Dia tidak menyebutkan namanya."

Huan Yue menatap Wang Hao lama sekali, seolah mencoba menembus topeng ketenangan yang dikenakan pemuda itu. "Aku tidak percaya pada guru tanpa nama. Tapi aku percaya pada apa yang bisa kulakukan jika kau menolak bekerja sama."

"Apa yang Anda inginkan?"

"Resep Pil Pemulihan Dasar itu," Huan Yue menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dan resep Pil Pencahar yang kau berikan ke toko itu. Kau harus menyerahkannya ke Sekte Awan Ungu, dan sebagai imbalannya, kau akan diberikan posisi sebagai alkemis tamu di sekte. Kau akan hidup berkecukupan dan mendapatkan perlindungan sekte."

"Dan jika saya menolak?"

Senyum tipis muncul di sudut bibir Huan Yue, tetapi tidak ada kehangatan di dalamnya. "Kalau begitu, aku akan menganggapmu sebagai ancaman terhadap monopoli Sekte Awan Ungu. Dan kau tahu apa yang terjadi pada seseorang yang dianggap sebagai ancaman."

Patriark Sheng menegang di kursinya. "Tetua Huan, Chen Nan adalah tamu kehormatan Klan Sheng. Aku harap Tetua bisa..."

"Diam." Kata itu keluar dari mulut Huan Yue seperti cambukan. "Klan Sheng hanyalah klan kecil di bawah perlindungan Sekte Awan Ungu. Jangan lupa tempatmu, Patriark Sheng."

Wajah Patriark Sheng memerah, tetapi ia tidak berani membalas. Perbedaan kekuatan antara Klan Sheng dan Sekte Awan Ungu terlalu besar. Melawan Huan Yue sama saja dengan menghancurkan seluruh klannya.

Wang Hao menyilangkan kakinya. "Saya tidak tertarik menjadi alkemis sekte anda. Dan saya tidak akan memberikan resep itu."

Huan Yue menatapnya dengan mata yang kini berubah menjadi dua bilah pedang tajam. "Kau pikir kau punya pilihan?"

"Saya selalu punya pilihan."

Keheningan panjang menggantung di aula. Huan Yue mengetukkan jarinya ke atas lengan kursi, menimbulkan bunyi berirama yang membuat para pelayan di sudut ruangan gemetar ketakutan.

"Baiklah," katanya akhirnya. Ia menoleh ke arah salah satu pengawalnya, seorang pria bertubuh tegap dengan bekas luka di pipi kirinya. Kultivasinya berada di Kondensasi Qi lapis kedelapan. "Yao Tie, beri pelajaran pada pemuda ini. Jangan bunuh dia, tapi buat dia mengerti bahwa menolak Sekte Awan Ungu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."

Pria bernama Yao Tie itu melangkah maju sambil mencabut pedangnya. Bilah pedang itu berwarna abu-abu gelap dengan alur-alur energi spiritual yang samar di permukaannya.

"Aku akan membuatmu berlutut, bocah," katanya sambil menyeringai.

Wang Hao bangkit dari kursinya. Lalu mengeluarkan pedang biasa dari cincin ruangnya. Pedang itu langsung muncul di genggaman Wang Hao. Bilahnya polos tanpa ukiran, tanpa alur energi spiritual, hanya pedang baja tempa biasa. Dibandingkan dengan pedang Yao Tie yang dipenuhi energi spiritual, pedang Wang Hao terlihat seperti mainan anak-anak.

Yao Tie tertawa melihat pedang itu. "Kau akan melawanku dengan pedang itu?"

Wang Hao tidak menjawab. Ia hanya berdiri dengan pedang di tangan kanannya, posisinya santai, seolah-olah ia sedang berdiri di taman, bukan di tengah aula yang dipenuhi ketegangan.

"Anak ini tidak tahu diri," hardik Yao Tie.

Yao Tie melangkah maju dengan cepat, hingga tiba tepat satu meter di depan Wang Hao. Tanpa ragu dia mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah ke arah kepala Wang Hao.

Slash!

Serangan itu cepat dan penuh tenaga, cukup untuk membelah batu.

Wang Hao memiringkan tubuhnya ke kanan. Bilah pedang Yao Tie lewat di samping telinganya dan berakhir menghantam lantai batu.

Braakk!

Lantai itu retak, meninggalkan bekas tebasan selebar telapak tangan.

Wang Hao segera menegakkan tubuhnya, melihat Yao Tie masih setengah menunduk hendak bangkit, Wang Hao langsung menusukkan pedangnya lurus ke depan, tepat ke pergelangan tangan.

Slash! Jleb!

Bilah pedang itu menembus pergelangan tangan kanan Yao Tie yang masih memegang pedang.

"AARGH!"

Darah menyembur dari luka tusukan. Pedang Yao Tie terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi denting keras.

Wang Hao menarik pedangnya keluar, lalu mengayunkannya ke samping dengan gerakan ringan, tepat ke arah paha kanan. Slash! Bilah pedangnya mengiris paha kanan Yao Tie.

"AARGH!"

Yao Tie roboh ke lantai, memegangi pahanya yang mengeluarkan darah segar. Ia merintih kesakitan sambil menatap Wang Hao dengan mata penuh keterkejutan dan kemarahan.

Huan Yue tidak bergerak dari kursinya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada perubahan kecil di matanya, seolah-olah ia baru saja menyadari sesuatu yang tidak ia perhitungkan sebelumnya.

Pengawal kedua, kultivator Kondensasi Qi lapis sembilan, melangkah maju tanpa menunggu perintah. Ia menghunus pedangnya dan langsung menusukkannya lurus ke arah dada Wang Hao. Serangan ini lebih cepat dan lebih tajam dibandingkan serangan Yao Tie.

Wang Hao melangkah satu langkah ke kiri. Tusukan pedang itu lewat satu jari di samping rusuknya. Begitu tubuhnya stabil, Wang Hao mengayunkan pedangnya dari kanan ke kiri. Sret, lengan kanan pengawal itu langsung terkoyak.

"ARGH!"

Darah menyembur. Pedang pengawal itu jatuh dari tangannya yang terluka.

Wang Hao tidak berhenti. Ia menusukkan pedangnya ke depan, mengenai bahu kiri pengawal itu, lalu menariknya keluar dengan gerakan halus. Darah menyembur lagi, dan pengawal itu roboh di samping Yao Tie.

Kedua pengawal itu kini terbaring di lantai aula, merintih kesakitan dengan darah menggenang di sekitar tubuh mereka.

Wang Hao memasukan pedangnya kembali dengan gerakan tenang, lalu duduk di kursinya seperti tidak ada yang terjadi. "Apakah Sekte Awan Ungu hanya memiliki kultivator sekelas ini?"

Huan Yue menatapnya dengan sorot yang kini benar-benar berbeda. Tidak ada lagi seringai meremehkan. Yang ada hanyalah perhitungan dingin, seperti seorang pemain catur yang baru menyadari bahwa lawannya bukan pion biasa.

"Kau baru saja melukai dua orang murid Sekte Awan Ungu," suaranya pelan, tetapi setiap katanya mengandung ancaman yang lebih berat dari sebelumnya. "Itu adalah tindakan yang bisa membuatmu dihukum mati."

Wang Hao menatapnya balik. "Mereka menyerang saya lebih dulu. Saya hanya membela diri."

"Dan kau pikir Sekte Awan Ungu peduli dengan alasanmu?"

"Saya pikir," Wang Hao menyandarkan punggungnya ke kursi, "Anda tidak akan membunuh saya sekarang."

Huan Yue menyipitkan matanya. "Kenapa?"

"Karena Anda belum mendapatkan resep itu."

Keheningan kembali menggantung di aula. Keduanya saling bertatapan, dua pasang mata yang sama-sama tajam, sama-sama penuh perhitungan. Patriark Sheng dan kedua tetuanya menahan napas, tidak berani bersuara.

Akhirnya, Huan Yue bangkit dari kursinya. "Aku akan kembali dalam tiga hari. Jika kau masih menolak bekerja sama pada saat itu..." Ia berhenti sejenak, menatap Wang Hao dengan sorot yang menusuk. "Aku akan menghancurkan Balai Ramuan Giok Hijau, menangkap semua orang yang terkait denganmu, dan memastikan kau tidak akan pernah bisa meninggalkan kota ini. Pertimbangkan baik-baik, Chen Nan."

Ia berjalan keluar dari aula tanpa menunggu jawaban. Kedua pengawalnya yang terluka berusaha bangkit dan mengikutinya dengan langkah terseok-seok, meninggalkan jejak darah di sepanjang lantai batu.

Setelah suara langkah kaki mereka menghilang, Patriark Sheng menghela napas panjang. Wajahnya pucat, dan tangannya masih gemetar di atas lengan kursi.

"Chen Nan... apa yang baru saja kau lakukan? Kau baru saja membuat musuh dari Sekte Awan Ungu. Itu adalah kekuatan yang bahkan tidak bisa dilawan oleh gabungan tiga klan besar sekalipun."

Wang Hao menatap ke arah pintu tempat Huan Yue baru saja menghilang. "Dia tidak akan kembali dalam tiga hari."

"Apa maksudmu?"

"Dia akan kembali lebih cepat. Mungkin besok, mungkin lusa. Tiga hari hanyalah gertakan untuk melihat reaksi kita." Wang Hao bangkit dari kursinya.

Patriark Sheng menelan ludah. "Lalu... apa yang harus kita lakukan?"

Wang Hao berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak. "Saya akan memikirkannya, dan patriak tenang saja. Untuk sekarang, pastikan Gu Yan dan Lao Fan tetap aman."

Ia melangkah keluar dari aula, meninggalkan Patriark Sheng dan kedua tetuanya dalam keheningan yang dipenuhi ketakutan.

1
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur ceritanya sudah bagus tapi MC nya Tingkat Kultivasi masih Tingkat Rendah.
Zerro One: Oalah mbah😪
Mbah gak lupa ya, Wang Hao pernah berdiri di puncak kultivasi? Mbah apa lupa, Wang Hao bisa menerobos secepat mungkin 'jika dia mau'.

Betapa idiots nya Wang Hao, jika ber kultivasi secepat mungkin, yang membuat kesalahan sama terulang lagi. Btw Wang Hao bisa aja dalam setahun sampai Ascendant, dengan metode penyerapan inti bumi. Bisa dilakukan bahkan saat Kondensasi qi.
Tapi masa iya, orang memperluas Dao, disuruh seperti pahlawan klise meridian tersumbat, dantian retak, sampah klan terhina kan. Ya kan gak mungkin mbah.

Apalagi kayak komentar bang agus. Dia bilang kelemahan ceritanya karena Wang Hao sombong dan angkuh.

Lah, jadi maunya pembaca MC dibuat seperti pendekar muda, yang belum paham apa apa tentang kultivasi? yang gak tau, keramahan adalah kemewahan sia sia, terlalu banyak berhubungan dengan seseorang akan memperbanyak ikatan karma sebab akibat yang tidak perlu.

Author padahal berharap, komentar pembaca itu mengeluhkan ceritanya terlalu bertele-tele, atau gaya penulisan yang kurang ngena. Jadi author bisa ubah, sesuai dengan kritik.
Contohnya yang ngasih author bintang satu itu. Karena dia, cerita ini langsung berhenti dipromosikan, padahal sebelumnya, perkembangan cukup bagus. Tapi yaudahlah, author bisa apa, karena mungkin terlalu bertele-tele banget, jadi sangat pantas cerita ini terbenam dan gak layak di sebarluaskan. Author sadar diri kok, karena itu ceritanya kemungkinan besar dipercepat end S1, meskipun gak akan ada S2.
total 1 replies
Nanik S
Mantap Poooool👍💪💪💪
Nanik S
Tidak ada kata takut buat Wang Hao
Zerro One: Betul-betul betul/Determined/
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Wang Hao.... datang saja ke lembah batu
Nanik S
Wang Hao selalu jadi rebutan demi kepentingan masingasing
Agus Rose
Novel ini sebenar nya bagus dari penyusunan kata,penjelasan alur cerita.
yang kurang itu si MC terlalu angkuh sombong dengan ingatan masa lalu sedangkan kehidupan sekarang belum kuat tapi selalu bertindak sok kuat yang berlebihan.
Zerro One: Terimakasih banyak, itu artinya author gak gagal.

Tentang sifat Wang Hao...

Bro kurang memperhatikan detail keci, dan yang dilihat sesuatu yang sangat jelas saja. Padahal karakter Wang Hao ini abu abu, tidak hitam, atau putih, tidak sombong ataupun ramah. Author gak mau jelaskan panjang lebar, takut bro tersinggung.

Karena itu... kita anggap saja Wang Hao sombong🙏🙏

Author sepakat 🤝
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua pasukan itu jika wang hao sudah kuat cepat bantai raja itu pajang tubuhnya bantai juga semua keluarga raja itu
Nanik S
Apakah mereka akan menjemput Wang Hao
Zerro One: Iya kak 😫
total 1 replies
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Mantap 👍👍
Lanjut Up Thor..
Zerro One: Oke mbah🙏
total 1 replies
Nanik S
Lanjut Terus Tor🙏🙏
Nanik S
Gadis Pintar dan pasti walau hantu tapi mulai memahami situasi
Nanik S
Ceritanya bagus Tor
Nanik S
Untungnya ada Nashuang... hingga Cengle bisa selamat
Nanik S
👍👍👍👍👍👍
Nanik S
Rou Li dibuatkan pedang juga..... keren amat... hantu cantik berpedang
Nanik S
Hansuo jangan meremehkan Wang Hao...💪💪💪
Fajar Fathur rizky
bikin klan du di hukum berat bikin du lou malu
Fajar Fathur rizky
jika sudah ranah jiwa baru lahir nascent soul bikin wang hao bantai klan du thor
Nanik S
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!