NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Inti yang Tak Bisa Menyerap

Angin musim gugur bertiup dingin, membawa debu dan daun kering melintasi halaman depan Balai Desa Akar Kering. Di tengah kerumunan anak-anak berusia sepuluh tahun yang bersorak gembira, berdiri seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan baju yang sudah bertambal di beberapa bagian. Namanya Lin Mo. Tangannya yang kasar mencengkeram ujung bajunya erat, matanya menatap lekat-lekat batu ujian besar yang diletakkan di atas meja kayu.

Hari ini adalah hari penentuan nasib. Setiap anak yang berusia sepuluh tahun wajib diuji bakat inti energinya. Hasilnya akan menentukan apakah mereka bisa masuk ke kelompok latihan desa, atau selamanya hanya menjadi petani dan pengangkut barang di kaki gunung ini.

"Berikutnya: Lin Mo!" seru kepala desa dengan suara berat.

Langkah kaki Lin Mo terasa berat seolah ada batu yang mengikat kakinya. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu yang dingin. Sesuai instruksi, ia memejamkan mata dan mencoba menarik sedikit energi alam ke dalam tubuhnya.

Rasa sakit yang tajam langsung menyergap. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam tulang. Ia menahan napas, menahan rasa sakit itu agar tidak terlihat, namun batu di depannya hanya menampilkan cahaya samar yang berkedip-kedip tak beraturan—terkadang putih, terkadang kelabu, lalu padam sejenak.

Wajah kepala desa berubah datar. "Inti Energi Kacau. Tingkat terendah. Tidak bisa menyerap energi dengan stabil. Tidak memenuhi syarat masuk kelompok latihan."

Kerumunan anak-anak di belakang langsung tertawa.

"Haha! Sudah kuduga! Anak yatim mana mungkin punya bakat bagus!"

"Batu itu hampir tidak menyala sama sekali! Lebih baik dia pulang dan belajar menanam ubi saja!"

"Benar! Dia bahkan tidak sekuat anak berusia delapan tahun!"

Lin Mo menurunkan tangannya perlahan, kuku jari menancap hingga memutih di telapak tangan. Ia tidak membalas ejekan itu. Ia sudah terbiasa. Sejak kecil tubuhnya memang terasa berbeda—setiap kali mencoba teknik pernapasan dasar yang diajarkan orang desa, perutnya terasa mual dan dadanya sesak. Ia pikir ia hanya kurang rajin, ternyata memang dasarnya sudah rusak.

Ia berjalan pergi dari halaman itu sendirian, meninggalkan suara tawa yang masih terdengar di telinganya. Rumahnya ada di ujung paling pinggir desa—sebuah gubuk kecil dari kayu dan jerami yang sudah mulai rapuh. Di dalamnya tidak ada barang berharga, hanya kasur tipis, meja kayu yang goyah, dan sebuah kotak kayu tua di bawah tempat tidur.

Lin Mo mengambil kotak itu, membukanya perlahan. Di dalamnya tergeletak sepotong batu hitam yang bentuknya tidak beraturan, permukaannya kusam seolah tertutup debu abadi. Ini satu-satunya peninggalan orang tuanya sebelum mereka menghilang saat pergi ke pegunungan bertahun lalu. Tidak ada yang tahu apa batu ini, bahkan kepala desa pun pernah bilang itu hanya batu biasa yang tidak berguna.

"Apakah aku benar-benar tidak berguna?" bisiknya pelan pada batu itu. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia segera mengusapnya dengan kasar. Ia tidak mau menangis. Orang tuanya dulu pernah berpesan: "Tumbuhlah seperti akar pohon. Meskipun tidak terlihat, ia tetap menembus tanah yang paling keras untuk mencari air."

Malam itu, Lin Mo tidak tidur. Ia bangun lebih awal dari biasanya, membawa keranjang dan kapak menuju hutan di kaki gunung. Jika ia tidak bisa berlatih energi, setidaknya ia harus menguatkan tubuhnya sendiri. Ia memotong kayu, mengangkut air dari sungai yang jauh, dan berlari naik turun bukit sampai kakinya lemas dan napasnya habis.

Hari-hari berlalu seperti itu selama setahun. Anak-anak yang lulus ujian kini sudah bisa memecah batu dengan kepalan tangan atau berlari sejauh puluh li tanpa lelah. Sementara Lin Mo hanya menjadi pengangkut barang desa, dibayar dengan segenggam beras atau koin tembaga sedikit. Seringkali ia dipaksa bekerja lebih lama, bahkan dipukuli jika tidak selesai tepat waktu.

Siang itu, tiga anak dari keluarga terpandang desa—pemimpinnya adalah Zhang Hao yang memiliki Inti Energi Api tingkat menengah—menghadangnya di jalan setapak.

"Hei, pengangkut sampah! Kami butuh kayu bakar di rumah. Bawakan sekarang!" bentak Zhang Hao sambil menendang keranjang di punggung Lin Mo hingga terbalik.

"Aku sudah ada pesanan dari Kepala Desa," jawab Lin Mo pelan, mencoba mengambil kembali keranjangnya.

"Berani menolak kami?!" Zhang Hao meninju wajah Lin Mo. Pukulan itu keras, membuat Lin Mo jatuh ke tanah, darah menetes dari sudut bibirnya. Dua temannya ikut menendang punggung dan perutnya tanpa ampun, sambil tertawa dan menghina.

"Inti kacau itu memang cuma pantas diinjak-injak!"

"Lihat saja, selamanya kau akan tetap seperti ini!"

Mereka pergi setelah puas memukulinya. Lin Mo terbaring diam di tanah yang berdebu, seluruh tubuhnya terasa nyeri dan luka. Ia mencoba bangkit, namun tangannya tergelincir ke tanah dan menekan batu hitam yang ia bawa di saku—darah dari lukanya menetes tepat di atas permukaan batu kusam itu.

Seketika itu juga, batu hitam itu bergetar hebat. Cahaya gelap namun hangat menyelimuti tubuhnya, rasa sakit di seluruh tubuh perlahan menghilang. Di dalam kepalanya, terdengar suara samar yang seolah datang dari ribuan tahun silam:

"Akar Dunia... akhirnya menemukan wadah yang tepat. Jalan inti energi bukanlah jalanmu... jalanmu ada di bawah kakimu, menyatu dengan bumi..."

Lin Mo terbelalak. Ia menatap batu hitam itu yang kini berdenyut pelan di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak ia ingat, hatinya yang selama ini penuh keraguan perlahan terisi oleh harapan baru.

Ia tidak lemah. Ia hanya berjalan di jalan yang salah.

Dan jalan yang sesungguhnya baru saja terbuka di hadapannya.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!