NovelToon NovelToon
Marcella & Olivia

Marcella & Olivia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Pihak Ketiga
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Denny Ramdhani

Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.

Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.

Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Partners in Crime

“Gimana, Don? Bisa? Aku minta tolong bentar ya, sayang?” tanya Marcella di seberang telepon.

“B-bisa! Bisa, sayang! Kebetulan, aku juga lagi di jalan ini”, bohong Doni dengan nada suara yang diusahakan senormal mungkin, walau keringat dingin sudah membasahi punggungnya. “Nanti kamu chat aja lokasi supermarketnya dimana, ntar aku kesana”, tambahnya menyempurnakan kebohongannya.

“Sip! Makasih ya, sayang! Ntar aku share loc. Ini aku udah deket juga soalnya. Sampai ketemu disana, ya!”

Sambungan telepon terputus. Doni menurunkan ponselnya dari telinga dengan tangan yang gemetar. Dia menoleh patah-patah ke arah Olivia.

“Katanya dia udah deket, Liv! Kakak kamu bentar lagi nyampe!” panik Doni setengah berbisik. Matanya melotot lebar. “Gimana, nih?! Kalo dia lihat kita berdiri di sini, gimana?! Kalo aku buru-buru pulang juga kayaknya nggak sempet. Dia pasti bisa lihat! Belum ngantri di portal depan buat bayar parkir. Pasti kelihatan juga! Gimana, dong?!”

Berbeda dengan Doni yang panik setengah mati, Olivia justru memiringkan kepalanya, berpikir cepat dengan wajah tenang. Binar matanya menyipit, tanda bahwa otak encer gadis SMA itu sedang bekerja keras di waktu yang sempit ini.

“Kak Doni tenang dulu, jangan panik. Tarik napas… buang…” instruksi Olivia mencoba menenangkan Doni.

Karena panik, Doni tanpa sadar menuruti saja perintah Olivia yang seperti instruktur yoga itu.

“Oke, Kak Doni parkir motornya di mana?” lanjut Olivia setelah melihat Doni yang sudah mulai tenang.

“Di sana, dekat pintu masuk”, jawab Doni sambil menunjuk ke depan. “Makanya aku bilang, Marcella pasti lihat aku. Aku nggak kemana-mana aja, dia pasti lihat motorku kalau dia masuk lewat situ”, sambungnya yang mulai kembali panik.

“Gini aja. Sekarang, Kak Doni buru-buru pindahin motornya ke bagian samping atau belakang gedung ini, di situ ada parkiran juga. Nah, Kak Doni keluar lewat portal yang di dekat situ. Trus, muter. Nanti masuk ke sini lewat portal yang di depan. Ntar ke Kak Cella bilang aja kalau parkirnya di luar”, instruksi Olivia panjang dan terperinci layaknya penjahat jenius di film-film yang ingin merampok bank.

“Oke!” Doni mengangguk setuju sambil mengacungi jempolnya.

“Eh, eh… bentar, Kak!” tahan Olivia.

“Apa lagi sih, Liv?! Buru-buru, nih!” tanya Doni kesal.

“Ini, Kak”, jawab Olivia sambil menyodorkan tas olahraga yang sejak tadi tak pernah lepas dari genggamannya. “Sekalian kak, simpen di motor, atau umpetin dulu dimana kek, buat sementara. Ntar Kak Cella nanyain. Aku kan hari ini nggak ada jadwal latihan.”

Tanpa menjawab lagi, Doni langsung saja merebut tas olahraga itu lalu melesat secepat kilat menuju lokasi motornya di area parkiran bagian depan, meninggalkan Olivia yang tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sekitar lima menit setelah Doni berlalu, sebuah mobil city car berwarna merah mengkilap milik Marcella tampak berbelok memasuki halaman depan supermarket. Setelah mengambil karcis parkir di portal, mobil yang selalu dirawat bersih itu kemudian melaju pelan menuju area drop-off persis di depan pintu lobi tempat Olivia menunggu. Olivia yang berdiri di dekat pintu kaca melambaikan tangannya ramah.

Kreeekk. Marcella menarik rem tangan mobilnya, kemudian turun dari kursi kemudi dengan gayanya yang selalu anggun, rapi, dan wangi. Sambil mengibaskan rambut panjangnya, dia menutup pintu mobil lalu melangkah ke belakang untuk membuka pintu bagasi belakang mobil hatchback-nya ke atas. Sebelum pintunya terbuka sempurna, dia langsung mendatangi adiknya dengan tersenyum.

“Liv! Lama ya, nunggunya? Sori ya, agak macet soalnya tadi pas kesini”, sapa Marcella khawatir. “Berat, ya?”

“Ya… lumayan sih, Kak. Tapi nggak apa-apa, kok. Yuk, naik!” ajak Olivia untuk segera naik ke mobil.

“Eh, tunggu dulu. Karena aku tau pasti berat karena titipan Mama banyak, aku udah manggil satu bala bantuan lagi buat bantuin kita ngangkat ini”, ucap Marcella tersenyum puas.

“Hah? Siapa, Kak?” tanya Olivia pura-pura penasaran.

“Siapa lagi kalau bukan… Doni!” senyum Marcella semakin lebar saat menyebut nama kekasihnya itu. “Belum nyampe ya dia? Padahal udah dari tadi loh aku telpon”, sambungnya sambil celingak-celinguk memindai area parkiran di sekitar gedung supermarket.

“Oalah… kirain siapa”, jawab Olivia tenang. “Iya, belum ada dateng sih, Kak. Aku dari tadi sendirian doang disini”, Olivia melanjutkan aktingnya yang begitu alami.

“Nah, itu dia!” seru Marcella riang saat melihat Doni yang setengah berlari dari area parkiran di dekat portal masuk. Doni datang dengan jaket yang sengaja dia buka ritsletingnya sedikit, rambutnya agak berantakan, dan wajahnya menampilkan raut napas yang terengah-engah.

“Loh? Kamu kok lari, Don? Motor kamu mana?” tanya Marcella khawatir, sambil merangkul lengan Doni.

“Aku… parkir di… luar”, jawab Doni yang masih ngos-ngosan. “Sori telat, sayang”, lanjutnya sambil mengusap peluh di pelipisnya dengan dramatis.

“Iya, iya. Nggak apa-apa, sayang. Kenapa parkir di luar, sih? Di dalam sini juga banyak parkiran”, tanya Marcella penasaran.

“Ya… nggak apa-apa”, jawab Doni pelan sambil berusaha mengulur waktu untuk memikirkan jawaban selanjutnya. “Soalnya… kan… bentar doang! Iya, kan? Aku cuma ngangkat ini doang ke mobil trus pulang, kan?” sambungnya lega karena berhasil mengeluarkan jawaban yang memuaskan. Napasnya sudah kembali normal setelah dia berusaha untuk mengontrolnya akibat kombinasi antara kelelahan berlari dan rasa tegang untuk bersandiwara di depan pacarnya.

Ngomong-ngomong soal sandiwara, Doni melirik ‘sutradara’-nya yang berdiri di belakang Marcella. Gadis SMA itu menutupi mulutnya dengan satu tangan, menahan tawa melihat akting Doni yang sangat totalitas. Doni melempar tatapan tajam yang terselubung, seolah berkata “awas kamu, ya!” yang justru dibalas Olivia dengan kedipan mata jenaka.

“Aduh… makasih banyak ya, Doni sayang”, ujar Marcella tulus sambil menyentuh lengan Doni penuh kasih. “Padahal kamu pasti capek banget habis dari kampus. Tadi kesini juga lari-lari, lagi. Baik banget sih, kesayangan aku”, sambung Marcella mesra, yang kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Doni.

“Ya elah… ayo angkat, buruan!” sela Olivia yang hampir mual di belakang kemesraan mereka.

Doni dan Marcella hanya terkekeh mendengar kegusaran Olivia itu. Marcella akhirnya melepaskan sandarannya lalu bersama-sama Doni memasukkan seluruh kantong belanjaan ke dalam bagasi mobil. Selama proses itu, Doni dan Olivia beberapa kali tak sengaja saling bertatapan di balik punggung Marcella. Perasaan mereka sepertinya mirip, sebuah rasa lega yang manis sekaligus mendebarkan karena berhasil meloloskan diri dari ‘bencana’ bersama-sama. Berkat perencanaan yang matang, mereka seolah baru saja berhasil merampok bank dan lolos dari kejaran polisi. Mereka berdua kini resmi menjadi partners in crime.

Setelah bagasi tertutup rapat, Marcella berbalik menatap Doni dengan senyuman manisnya.

“Oh iya, Don. Kamu pasti… capek banget, kan?” tanya Marcella khawatir sambil merangkul kembali lengan Doni. “Dan kamu pasti laper juga. Gimana kalau kamu ikut kita ke rumah? Kita makan malam bareng!” ajak Marcella antusias.

Deg. Doni membeku. Matanya melirik Olivia yang kini juga ikut terkejut kecil mendengar ajakan kakaknya.

1
Aisyah Utami
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!