Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Setelah urusan papan pengumuman selesai, Alesha, Dinda, Kevin, Reza, dan Arka berjalan menuju parkiran.
Hari sudah mulai sore.
Angin bertiup pelan membuat suasana sekolah terasa lebih sejuk.
Alesha berjalan paling depan sambil bersenandung pelan.
Tiba-tiba ia berhenti mendadak.
"STOP!"
Dinda yang berada tepat di belakangnya refleks ikut berhenti.
"Kenapa lagi?"
Kevin dan Reza juga langsung menoleh.
Alesha mengangkat telapak tangannya seperti polisi lalu lintas.
"Jangan ada yang lewat."
Reza langsung menatap ke depan.
"Emang ada apa?"
Alesha menunjuk ke bawah.
Seekor barisan semut sedang berjalan membawa remah-remah makanan.
Dengan wajah serius, Alesha berkata,
"Mereka lagi kerja."
"..."
"Kita jangan ganggu."
Semua terdiam.
Dinda memijat pelipisnya.
"Les..."
"Iya?"
"Itu semut."
"Iya."
"Mereka nggak bakal marah kalau kita lewat."
"Kalau rumahmu diinjak orang, marah nggak?"
Dinda langsung kehabisan jawaban.
Reza malah tertawa sampai menepuk paha.
"Astaga!"
Alesha kemudian jongkok di depan barisan semut.
"Ayo... lewat dulu."
Ia bahkan melambaikan tangan kecil ke arah semut-semut itu.
"Semangat kerja ya."
Kevin menutup wajahnya.
"Ya ampun..."
Beberapa adik kelas yang lewat ikut berhenti.
"Kak Alesha lagi ngapain?"
Dinda menjawab pasrah.
"Lagi ngawal semut pulang."
"Oo..."
Anehnya, adik kelas itu malah ikut jongkok.
"Semangat ya, Semut."
Kini bukan cuma satu orang.
Malah ada tiga siswa lain ikut memperhatikan semut.
Reza sampai tertawa terbahak-bahak.
"Parah."
"Ini namanya pengaruh Alesha."
Saat itu Pak Satpam lewat.
Beliau melihat enam orang jongkok di pinggir jalan.
"Ini lagi ngapain?"
Semuanya kompak menunjuk Alesha.
Pak Satpam menoleh.
"Alesha?"
Alesha menjawab dengan wajah polos.
"Pak..."
"Iya?"
"Kami lagi memberi jalan buat pekerja."
"Pekerja?"
Alesha menunjuk semut-semut itu.
"Mereka lagi lembur."
Pak Satpam melihat ke bawah.
Lalu melihat Alesha lagi.
Kemudian...
Beliau tertawa sampai menggeleng.
"Kalau begitu jangan sampai telat pulang ya."
"Iya, Pak."
Setelah barisan semut menghilang ke sela-sela rumput, Alesha berdiri sambil menepuk kedua tangannya.
"Nah."
"Misinya selesai."
Reza masih tertawa.
"Kamu puas?"
Alesha mengangguk.
"Kasihan mereka."
Arka yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suara.
"Kamu tahu..."
"Hm?"
"Ini pertama kalinya aku lihat ada orang mengawal semut menyeberang."
Alesha tersenyum bangga.
"Berarti aku pemecah rekor."
Arka menggeleng kecil, tetapi kali ini senyumnya terlihat lebih jelas dari biasanya.
Reza langsung menyikut pelan lengan Arka.
"Ketua."
"Apa?"
"Kamu sekarang senyum nggak ditahan lagi."
Arka langsung berdeham.
"Ayo pulang."
Namun sebelum mereka sempat melangkah...
Alesha kembali berteriak.
"TUNGGU!"
Kevin spontan memegang dahinya.
"Apa lagi?"
Alesha melihat seekor kupu-kupu hinggap di pundak Arka.
"Wah..."
Arka mengernyit.
"Kenapa?"
Alesha mendekat perlahan sambil berbisik,
"Jangan bergerak."
"Kenapa?"
"Pak Ketua..."
"Kamu dipilih jadi taman berjalan."
Semua langsung menoleh ke pundak Arka.
Benar saja, seekor kupu-kupu kuning sedang hinggap dengan tenang.
Reza langsung tertawa.
"Selamat ya, Ketua."
"Naik jabatan."
Arka menghela napas pasrah.
Sedangkan Alesha justru tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.
"Lihat, Pak Ketua."
"Bahkan kupu-kupu aja nyaman sama kamu."
Mendengar ucapan polos itu, suasana parkiran kembali dipenuhi gelak tawa.
Arka menoleh ke pundaknya.
Benar saja.
Seekor kupu-kupu kuning masih bertengger dengan santai di sana.
Ia mengangkat tangan, berniat mengusirnya perlahan.
"Jangan!"
Alesha langsung menahan tangannya.
Arka mengernyit.
"Kenapa?"
"Nanti dia sakit hati."
"..."
"Dia pasti milih-milih sebelum hinggap."
Reza kembali tertawa.
"Memangnya kupu-kupu lagi cari kos?"
Alesha mengangguk serius.
"Iya."
"Dia survei tempat."
Dinda sudah memegang perutnya.
"Les... logikamu dari mana?"
"Dari hati."
Kevin langsung geleng-geleng kepala.
"Hatinya juga aneh."
Beberapa detik kemudian kupu-kupu itu akhirnya terbang.
Alesha melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan!"
Reza ikut melambaikan tangan sambil bercanda.
"Titip salam buat keluarga!"
Mereka semua tertawa.
Saat hendak melanjutkan langkah menuju parkiran motor, Alesha tiba-tiba melihat sebuah daun kering berputar-putar tertiup angin.
Matanya langsung berbinar.
"Wah..."
Dinda mulai curiga.
"Jangan..."
Alesha langsung mengejar daun itu.
"Tungguuu!"
Daun itu melayang ke kanan.
Alesha ikut ke kanan.
Daun itu melayang ke kiri.
Alesha ikut ke kiri.
Reza sampai bengong.
"Dia..."
"...lagi ngejar daun?"
Kevin menjawab pasrah.
"Iya."
"Kenapa?"
"Nggak tahu."
Alesha akhirnya berhasil menangkap daun itu dengan kedua tangannya.
"Yes!"
Ia mengangkat daun tersebut tinggi-tinggi seperti baru memenangkan medali emas.
"Aku berhasil!"
Dinda menghampiri.
"Emangnya buat apa?"
Alesha memperhatikan daun itu dengan wajah serius.
"Cantik."
"Lalu?"
"Aku mau simpan."
"Kenapa?"
"Biar dia nggak kesepian."
Dinda memijat pelipis.
"Daun juga bisa kesepian?"
"Bisa."
"Teman-temannya masih di pohon."
Reza langsung bersandar ke motor karena tertawa terlalu keras.
"Ya ampun."
Arka yang biasanya cuek kini benar-benar tersenyum.
"Kalau semua benda kamu anggap punya perasaan..."
"Iya?"
"Kamu capek sendiri."
Alesha menggeleng mantap.
"Nggak."
"Malah seru."
Saat hendak memasukkan daun itu ke dalam tas...
"Tunggu."
Kevin menatap tas Alesha.
"Apa lagi yang ada di dalam tasmu?"
Alesha membuka tasnya.
Semua orang langsung melongok.
Di dalamnya ada...
Sebungkus keripik.
Dua permen.
Penghapus yang tadi "kabur."
Botol minum.
Map pidato.
Dan...
Sebuah batu kecil berbentuk hati.
Kevin mengernyit.
"Itu batu buat apa?"
"Oh, itu."
Alesha mengambil batu kecil tersebut.
"Lucu."
"Lalu?"
"Aku pungut."
Reza melongo.
"Kamu pungut batu?"
"Iya."
"Dari minggu lalu."
Kevin mulai mengeluarkan isi tas Alesha satu per satu.
"Lho..."
"Ini apa lagi?"
Sebuah bulu putih kecil.
"Oh..."
"Itu bulu ayam."
"KENAPA ADA BULU AYAM?"
Alesha menjawab santai.
"Waktu ke pasar."
"Lucu."
Kevin menatap langit.
"Ya Allah..."
Reza sampai jongkok sambil tertawa.
"Tasnya bukan tas sekolah."
"Terus?"
"Tas harta karun."
Dinda ikut mengeluarkan benda lain.
Sebuah tutup botol berwarna biru.
"Les..."
"Itu kenapa?"
Alesha berpikir beberapa detik.
"Hmm..."
"Oh iya."
"Aku lupa."
"Lupa apa?"
"Kenapa aku ambil."
Semua langsung tertawa serempak.
Kevin menepuk dahinya.
"Mulai besok."
"Iya?"
"Setiap pulang sekolah, tasmu akan aku razia."
Alesha langsung memeluk tasnya erat-erat.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Itu koleksi."
"Koleksi sampah."
"Bukan."
"Itu kenang-kenangan."
Reza masih tertawa sambil menggeleng.
"Kalau suatu hari Alesha hilang..."
"Jangan cari di sekolah."
"Terus?"
"Cari di tempat barang-barang aneh."
Alesha malah mengangguk bangga.
"Boleh."
"Soalnya pasti aku lagi nambah koleksi."
Mendengar jawaban itu, Arka akhirnya benar-benar tertawa pelan tanpa berusaha menyembunyikannya lagi.
Melihat Ketua OSIS yang terkenal dingin itu tertawa, Kevin, Dinda, dan Reza saling berpandangan.
Satu hal yang mereka sadari...
Mungkin hanya Alesha yang mampu membuat Arka tertawa sesering ini.
Kevin masih memegang beberapa "koleksi" milik Alesha.
Ia mengangkat tutup botol berwarna biru itu tinggi-tinggi.
"Jadi..."
"Ini kenang-kenangan dari siapa?"
Alesha mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
"Loh?"
"Aku lupa nemunya di mana."
Reza langsung menimpali.
"Berarti itu bukan kenang-kenangan."
"Itu barang bukti."
Dinda sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Kevin kembali mengeluarkan benda lain dari tas Alesha.
Sebuah ranting kecil berbentuk huruf Y.
"Hah?"
"Yang ini lagi?"
"Oh!"
Alesha langsung mengambil ranting itu.
"Itu jangan dibuang."
"Kenapa?"
"Aku mau jadiin ketapel."
Kevin menatap datar.
"Kapan?"
"Kalau sudah punya karetnya."
"Kamu ngumpulin barang dulu, baru mikirin fungsinya?"
Alesha mengangguk polos.
"Iya."
Reza sampai bertepuk tangan.
"Logika Alesha memang beda."
Saat Kevin hendak memasukkan kembali semua barang ke dalam tas...
Tiba-tiba terdengar suara...
"Kriiing..."
Semua menoleh.
Suara itu berasal dari dalam tas Alesha.
Kevin mengernyit.
"Apalagi ini?"
Alesha ikut bingung.
"Bukan HP-ku."
Kevin membuka kantong depan tas.
Lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk lonceng.
"Ini..."
Alesha langsung menepuk dahinya.
"Oh iya!"
"Lonceng sepedaku!"
Dinda melongo.
"Kenapa ada di tas?"
Alesha berpikir beberapa detik.
"Hmm..."
"Oh!"
"Kemarin copot."
"Terus?"
"Aku simpan."
"Kenapa nggak dipasang lagi?"
"..."
Alesha kembali berpikir.
"Iya ya."
Reza langsung tertawa keras.
"Dia sendiri lupa."
Kevin memasukkan kembali lonceng itu.
"Mulai besok..."
"Kamu nggak boleh asal masukin barang ke tas."
Alesha mengangguk patuh.
"Siap."
Baru lima detik kemudian...
Ia melihat sebuah batu kecil mengilap di dekat parkiran.
"Wah!"
Tanpa pikir panjang ia langsung jongkok.
"Batu!"
Kevin refleks berteriak.
"ALESHA!"
Alesha yang sudah memungut batu itu menoleh polos.
"Apa?"
"Taruh lagi."
"Kenapa?"
"Tasmu penuh."
"Tapi batunya lucu."
"Nggak."
"Iya."
"Nggak."
"Iya."
Perdebatan konyol itu membuat beberapa siswa yang baru keluar sekolah ikut menoleh.
Salah satu adik kelas berbisik kepada temannya.
"Itu Kak Alesha lagi."
"Iya."
"Kayaknya hari ini nemu harta karun."
Alesha mendengar ucapan itu.
Ia langsung mengangkat batu kecil di tangannya.
"Aku menemukan anggota baru!"
Reza tertawa.
"Anggota apa lagi?"
"Koleksi."
Kevin berjalan menghampiri, lalu dengan santai mengambil batu itu dari tangan Alesha.
"Eh!"
Kevin kemudian melemparkannya perlahan ke taman.
"Pluk."
Alesha langsung memegang dada.
"Selamat jalan..."
"Batu yang baru kukenal lima detik."
Dinda sampai duduk di trotoar karena tidak kuat menahan tawa.
"Les..."
"Kamu drama banget."
Alesha menghela napas panjang.
"Dia pasti bahagia."
"Kenapa?"
"Sekarang dia pulang ke keluarganya."
Reza langsung bertepuk tangan.
"Luar biasa."
"Bahkan batu pun punya keluarga."
Arka yang sedari tadi bersandar di motornya menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Kamu ini..."
"Iya?"
"Kalau dibiarkan sendirian satu jam..."
"Mungkin tasmu isinya daun, batu, ranting, bulu, sama tutup botol semua."
Alesha tersenyum lebar tanpa merasa bersalah.
"Berarti aku hemat."
"Hemat?"
"Iya."
"Orang lain beli gantungan lucu."
"Aku tinggal pungut."
Semua langsung tertawa lagi.
Kevin akhirnya menyerahkan tas itu kembali kepada adiknya.
"Ayo pulang."
"Sebelum kamu pungut pohon juga."
Alesha memasang wajah polos.
"Pohon nggak muat di tas, Kak."
Hening sejenak.
Lalu...
"Hahahaha!"
Tawa mereka kembali pecah di area parkiran, membuat beberapa siswa yang lewat ikut tersenyum. Rasanya, setiap hari selalu ada saja tingkah Alesha yang berhasil mengubah suasana biasa menjadi penuh gelak tawa.