NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

​Sambil berjalan menyusuri gang, Budi membuka obrolan. "Hubunganmu sama Nadia masih gitu-gitu aja? Makanya Rak, jangan terlalu kaku jadi orang. Keras kepala banget sih, padahal aslinya kamu sayang kan sama dia?"

​Raka mengernyit bingung. "Bokap—eh, maksud gua, emang gua pernah bilang gitu, Om?"

​"Aneh banget kamu hari ini. Salah makan apa sih?" Budi menggeleng heran sambil menatap Raka dari atas ke bawah. "Masa lupa? Kamu kan sering curhat sama minta saran ke aku kalau lagi pusing mikirin istri."

​"Oh ya? Emang Om udah nikah?" tanya Raka polos.

​"Heleh! Kamu pikun apa gimana sih? Ya udahlah. Masa belum, udah punya anak gitu! Hahaha. Tapi jujur ya, aku masih heran. Hubungan kalian berdua dingin banget kayak orang asing, tapi kok bisa-bisanya si Reno lahir?"

​Raka terdiam sejenak. Berdasarkan secuil ingatan ayahnya yang dia dapat tadi, 'proses' pembuatan dirinya dulu cuma karena ketidaksengajaan di satu malam yang pas. Setelah malam itu, hubungan kedua orang tuanya malah makin canggung dan menjauh.

​"Mungkin lagi hoki aja, Om," jawab Raka asal.

​"Hoki apaan? Bikin anak mana ada istilah hoki!" Budi tertawa terpingkal-pingkal.

​Raka cuma bisa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dia merasa jauh lebih nyaman memakai kepribadian aslinya yang santai daripada harus meniru sifat asli ayahnya yang kaku dan membosankan.

​"Eh Om, kita nanti kerjanya ngapain sih? Terus, Om punya hape nggak?" tanya Raka kemudian.

​Budi tersenyum bangga lalu merogoh kantong celananya. "Punya lah! Nih, lihat."

​Raka langsung tertawa melihat benda di tangan Budi. "Hahaha! Hape jadul yang bunyinya tet-tot begini? Ganti yang layar sentuh napa, Om. Ini kan udah tahun 2015, udah zaman modern. Masa masih pakai hape senter gini?"

​Budi buru-buru memasukkan hapenya kembali ke kantong dengan kesal. "Sama aja fungsinya! Lagian cuma dipake buat telepon sama SMS doang."

​"Nah, pemikiran Om itu salah total. Justru Om harus mulai belajar teknologi dari sekarang biar nggak gaptek. Nanti kapan-kapan gua ajarin deh."

​Budi menghela napas pasrah. "Terserah kamu, Rak. Semoga besok sifatmu udah normal lagi ya."

​Raka terkekeh pelan. Sudah lama sekali dia tidak bisa mengobrol lepas seperti ini semenjak tenggelam dalam kesibukan dunia kerja di masa depannya dulu.

​"Umur Om berapa sih sekarang?" tanya Raka penasaran.

​"Dua puluh tujuh."

​"Walah, tuaan Om ternyata daripada ayah gua ya, wkwk."

​Sesampainya di lokasi proyek bangunan, Budi menepuk pundak Raka. "Ayo, aku kenalin dulu sama anak-anak yang lain."

​Budi pun mengenalkan Raka sebagai pekerja harian tambahan kepada mandor dan kuli lainnya.

​"Oh, jadi ini orangnya? Lumayan juga tampangnya. Udah nikah belum, Rak?" tanya seorang kuli paruh baya di sana.

​"Bokap gua sih udah, Om," jawab Raka spontan.

​"Terus udah punya anak?" sahut kuli yang lain.

​"Gua anaknya," timpal Raka dengan wajah lempeng.

​Mendengar jawaban absurd itu, orang-orang di sana malah menganggapnya sebagai candaan yang cerdas.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal dan langsung menyukai kepribadian Raka yang dianggap humoris.

​"Bisa aja lu! Lucu juga nih anak baru. Nanti sore gua traktir makan di warteg deh!" kata salah satu pekerja sambil terkekeh.

​Pekerjaan pun dimulai. Raka ditugaskan untuk mengangkut adonan semen menggunakan ember.

​Baru berjalan beberapa rit, napasnya sudah ngos-ngosan dan keringatnya bercucuran. Di momen inilah dia benar-benar merasakan betapa beratnya perjuangan hidup ayahnya dulu.

'Gila, capek banget ternyata. Kerjaan kantor gua dulu emang bikin stres pikiran, tapi kalau capek fisik, ginian jauh lebih gila,' batin Raka meringis.

​"Kamu nggak apa-apa, Rak? Nggak biasanya kamu kelihatan gampang capek gini," tegur Budi yang berjalan di sampingnya sambil memanggul karung semen.

​Raka hanya tersenyum kecut dan mempercepat langkahnya. Dia menyerahkan ember itu ke tukang bangunan di atas steger. "Ini, Bang."

​"Ya, taruh situ aja, Rak."

​"Siap!"

​Saat sore hari tiba dan jam kerja selesai, Raka yang sudah benar-benar kehabisan energi langsung telentang begitu saja di atas tanah kering.

Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kekuatan fisik ayahnya dulu.

"Nggak kebayang gimana bokap bisa kuat menjalani hidup kayak gini. Malam kerja shift di pabrik sepatu, tidur cuma sebentar, siangnya langsung lanjut kerja kasar di proyek kalau ada lowongan," renungnya dalam hati.

​"Hahaha, asli, aku heran banget sama kamu hari ini, Rak," ujar Budi yang tiba-tiba datang sambil membawa segelas es teh manis. "Tapi jujur, aku malah lebih suka sifatmu yang sekarang. Kerasa lebih asyik dan terbuka."

​Budi menyodorkan gelas itu. "Nih, minum dulu. Nanti kita makan bareng anak-anak di warteg depan. Tapi tenang, kita patungan kok, wkwk."

​Raka langsung duduk dan menyambar gelas tersebut. "Makasih, Om. Gas lah, gua juga udah kelaparan nih."

​Sementara itu, di rumah...

​Nadia baru saja selesai memandikan Reno kecil. Dia kemudian berjalan ke arah pintu depan sambil membawa keranjang pakaian untuk mengambil jemuran yang ada di halaman.

​Namun, begitu dia membuka pintu rumah, langkahnya mendadak terhenti. Seorang pria tampan dengan pakaian rapi dan kelihatan sangat mahal sudah berdiri di ambang pintu.

​Pria itu menatap Nadia dengan mata berbinar-binar. "Nadia... jadi bener ini rumah kamu? Akhirnya... aku berhasil nemuin kamu."

​Tubuh Nadia seketika kaku. Jantungnya berdegup kencang saat mengenali wajah pria itu.

​"Mas... Riko?" gumam Nadia dengan suara bergetar.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!