Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*31
Wajah kesal Dimas tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Kamu beneran menikah dengan Asha?"
"Iy-- iya. Aku menikah. Ada apa ya?"
Jawaban Irza membuat Dimas kesal bukan kepalang. Ingin sekali rasanya ia pukul wajah itu. Wajah tampan, tapi menyebalkan. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan hal tersebut. Karena jika ia lakukan, maka urusannya akan semakin rumit.
"Kamu menikah? Gak sadar diri banget kamu ya. Kamu gak punya perasaan. Kamu jadikan Asha hanya pajangan untuk menutupi kekurangan yang kamu miliki. Manusia apa kamu sebenarnya?"
Irza yang bingung semakin terlihat kebingungan. Karena sejujurnya, dia tidak pernah berniat menyingung siapapun. Selama ini, bahkan ia sudah sangat berusaha dengan keras agar terhindar dari masalah. Tapi pria yang ada di depan matanya sekarang, bicara seolah mereka sedang punya masalah besar. Bahkan terlihat tak ubah musuh bebuyutan saja sudah.
Irza menepikan laptop yang sebelumnya ada di atas pangkuan. Perlahan ia bangun dari duduknya setelah menyingkirkan laptop tersebut.
"Tunggu deh. Sebenarnya, ada masalah apa sih? Asha dan aku memang menikah. Tapi aku gak tahu apa masalahnya sama kamu. Karena kami menikah dengan cara baik-baik. Gak ada paksaan sedikitpun kok atas pernikahan ini. Dan lagi, aku gak ngerebut Asha dari siapapun. Karena Sha bukan milik siapa-siapa. Dia hanya milik dirinya sendiri."
"Banyak omong ya kamu ban*ci. Sha menikah secara suka rela apanya. Kamu pikir aku gak tahu kalau pernikahan kalian itu hanya sebuah perjodohan. Keluarga mu memaksa Asha menikah, bukan?"
Irza terdiam sejenak. Benaknya sedang bekerja dua kali lebih cepat. Sungguh, hal itu tidak banyak yang tau. Tapi, yang anehnya, pria ini seolah punya hubungan yang lebih dekat dengan Sha. Sangat dekat sampai rasanya membuat hati Irza terusik cukup kuat.
Namun, pada akhirnya, Irza memilih mengakui apa yang Dimas katakan. "Iya. Kami menikah karena perjodohan keluarga. Tapi aku gak maksa Asha untuk nikah. Aku sudah-- "
"Sudah apa!" Potong Dimas cemas. "Sadar sedikit, kamu gak cocok buat Sha. Sha itu indah. Dia gak layak jika hanya kamu jadikan pajangan saja. Masih banyak pria lain yang suka dia. Sedangkan untukmu, masih banyak wanita lain yang bisa kamu bayar hanya untuk menempati status sebagai istrimu agar dunia luar tau kamu bukan ban*ci."
Kata-kata itu sebenarnya terlalu menyakiti hati Irza. Bukan sekali pria ini mengatakan dia ban*ci. Tapi dia masih berusaha untuk bertahan. Berusaha menekan amarah yang naik secara perlahan hingga ke kepala.
Namun, seperti kata-kata kasar yang Dimas ucapkan barusan tidak cukup bagi pria tersebut. Dimas malah semakin menjadi-jadi bicara tanpa mempertimbangkan perasaan Irza lagi.
"Tapi asal kamu tahu saja, sekali ban*ci tetap ban*ci. Mau kamu berlagak normal juga gak akan mampu menghilangkan pandangan orang tentang mu."
"Karena itu, Irza, sebaiknya, kamu segera lepaskan Asha. Aku bisa kok nyari pria sesuai yang kamu inginkan. Karena Asha yang cantik itu, harusnya berdampingan dengan pria normal. Bukan pria belok kek kamu."
Dimas langsung beranjak setelah berucap. Dia tidak menunggu Irza menjawab lagi. Sementara itu, Irza cukup terpukul akan kata-kata yang Dimas ucapkan. Anak itu membeku di sana selama beberapa menit. Cukup lama sampai ia lupa akan tugas yang sedang ia kerjakan sebelumnya.
Hatinya terluka sangat dalam sampai-sampai, buliran bening jatuh melintasi pipi. Dia tidak belok. Dia normal. Dia jatuh hati pada Asha, pernikahan itu sangat ia inginkan. Bukan hanya untuk menutupi kekurangan yang ia miliki. Tapi sebaliknya, karena dia memang sangat menginginkan Asha sebagai pasangan hidupnya. Tapi kenapa? Kenapa orang-orang itu tidak pernah tahu perasaannya. Kenapa orang-orang selalu memandang dia dengan pandangan mereka sendiri? Kenapa selalu mengganggunya padahal dia tidak pernah ingin mengganggu orang lain sedikitpun.
Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Iya, ada banyak pertanyaan yang ingin Irza lontarkan pada dunia. Bahkan, ingin sekali rasanya ia berteriak, menjerit dengan suara yang sangat lantang, mengatakan pada dunia, pada semua orang kalau dia tidak belok, dia normal, pernikahannya dengan Asha karena ia cinta gadis itu. Tapi, apakah itu perlu ia lakukan? Apakah semua itu bisa mengubah pandangan mereka semua terhadap dirinya?
Dia rasa tidak. Karena sekalipun ia menjerit dengan suara nyaring sampai tenggorokannya kering, mereka semua tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan. Bahkan mungkin sebaliknya, itu akan menambah satu lagi julukan yang tidak baik untuk dirinya nanti. Julukan buruk seperti, orang gila. Biasanya, dia hanya di sebut si gemulai. Nanti kalo dia berteriak, dia akan disebut, si gemulai yang gila.
Tubuh itu terasa sangat lelah sampai-sampai terhempas ke atas kursi taman begitu saja. Dengan gerakan pelan yang lembut, Irza menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Ini terlalu berat untukku. Kenapa harus jadi begini sih?" Ia mengeluh secara tak sadar.
*
Waktu berlalu, jam makan siang akhirnya tiba. Saat itu, Irza masih ada di lama kelas ketika forum sekolah tiba-tiba saja datang sebuah gosip yang membuat tatapan buruk untuknya semakin terlihat buruk.
"Hei. Lihat forum sekolah gak?" Salah satu teman sekelas bicara pada temannya. Tapi Irza bisa mendengarnya dengan sangat baik.
"Belum. Ada berita apa sih?"
"Biasa, tentang pangeran gemulai kampus yang terkenal."
"Serius? Ada berita apa lagi?"
"Buka aja sendiri. Kamu pasti tau apa beritanya."
Lalu, saat dilihat, benar saja, beritanya lagi-lagi tentang dia. Entah siapa yang mengirimnya, tapi kata-kata itu terlalu menohok untuk dibaca.
Di sana tertulis bahwa Irza menikah dengan Asha hanya sebagai tameng untuk menutupi kekurangan yang Irza miliki. Keluarga Irza menjodohkan Irza dengan si gadis hanya untuk menghilangkan keraguan tentang Irza yang belok. Dan, iya, masih ada banyak kata yang menyakitkan lagi di sana untuk Irza.
"Serius lho ini? Jadi, mereka menikah ... ah, kasian banget jadi Ashanti ya. Gadis cantik, tapi cuma buat tumbal si Irza doang."
Seketika, di setiap sudut kampus, topik tentang Irza dan Asha kembali marak. Mereka kasihan pada Asha yang dijadikan tameng untuk Irza yang mereka katakan tidak mampu dalam urusan ranjang. Asha menikah hanya untuk dijadikan tameng saja.
"Kasihan ya, Sha. Menikah tapi janda."
"Ya Tuhan ... cewek secantik dia cuma buat pajangan saja? Sungguh miris."
"Kasihan lho dia, nikah cuma buat jadi tameng."
"Ada-ada saja. Menikah dengan orang belok ya gini deh. Mana ada kata bahagia, tersiksa ia."
Setiap sudut kampus sedang membahas hal itu. Ke manapun Irza pergi, topik pembahasan tentang dirinya tetap saja ia dengar. Sangking eneknya dia, saat ingin ke kantin, malah ia batalkan hanya gara-gara di kantin sedang sangat heboh dengan gosip tersebut.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣