NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Nama

Pagi itu di penginapan kayu, suasana terasa jauh lebih ringan. Cahaya matahari menerobos celah jendela, membawa kesegaran yang selama ini selalu menjadi penawar lelah bagi siapa pun yang berkunjung.

Ika keluar dari kamar dengan langkah yang lebih mantap. Ia melihat kakeknya sedang duduk di teras bersama seorang pria yang sangat ia kenal, Ayah Adit—atau sekarang ia mulai membiasakan diri menyebutnya Ayah Senja. Pria paruh baya itu baru saja kembali dari urusan bisnis di kota, membawa wibawa yang tenang namun kali ini tampak jauh lebih melunak.

Ika mendekat ke meja bundar di tengah teras, tempat uap teh melati mengepul tipis. Ia tidak merasa takut atau canggung bertemu dengan Ayah Senja, karena baginya pria ini selalu bersikap baik selama mereka tinggal bersama di penginapan. Ayah Senja menoleh dan tersenyum hangat, mengisyaratkan Ika untuk duduk bergabung di kursi rotan yang kosong.

"Ika, Om sudah mendengar semuanya dari Senja melalui telepon tempo hari," ujar Ayah Senja membuka percakapan. Suaranya berat namun penuh dengan nada kebapakan yang tulus.

"Om benar-benar ingin meminta maaf karena baru bisa menemuimu secara langsung sekarang. Om juga baru tahu kalau ternyata kamu adalah orang yang sama dengan cerita masa lalu Senja yang selama ini terkunci rapat oleh takdir."

Ayah Senja terdiam sejenak, matanya menatap Ika dengan sorot mata yang penuh penyesalan mendalam.

"Jujur, Ika... Om tidak tahu kalau dulu Senja pernah melakukan hal sekejam itu kepadamu. Om benar-benar tidak menyangka dia pernah mem-bully kamu sampai seperti itu. Sebagai ayahnya, Om merasa sangat bersalah dan gagal mendidik dia sehingga dia bisa menyakiti hati kamu. Om benar-benar minta maaf ya, Ika... atas nama Senja, Om memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu."

Ika menarik napas panjang, membiarkan ketenangan suasana penginapan mengisi dadanya. Ia menatap Ayah Senja dengan tatapan yang sangat jernih. Tidak ada gurat amarah atau dendam yang meledak-ledak di wajahnya.

"Iya, Om. Ika sudah dengar semuanya dari Senja," jawab Ika dengan suara yang stabil dan lembut.

"Om jangan khawatir, Ika sudah menerima semuanya. Ika sudah legowo. Ika sadar kalau apa yang terjadi di masa sekolah dulu adalah bagian dari perjalanan hidup yang memang harus Ika lewati. Mengetahui kalau Senja sekarang sudah menjadi pribadi yang sangat berbeda, itu sudah lebih dari cukup bagi Ika. Ika benar-benar sudah ikhlas menerima kenyataan ini. Ika sudah memaafkan semuanya, Om."

Ayah Senja tampak sangat lega mendengar kedewasaan Ika. Ia mengangguk pelan, seolah baru saja melepaskan beban besar yang menyumbat dadanya selama bertahun-tahun. Ia kemudian melirik Senja yang duduk di sisi lain meja, tampak lebih pucat namun terlihat jauh lebih tenang setelah kejujuran itu terucap.

"Terima kasih, Ika. Hati kamu benar-benar luas," tutur Ayah Senja.

"Om ingin kamu tahu satu hal. Nama Adit itu bukan kami gunakan untuk membohongimu. Setelah kecelakaan mobil hebat yang menimpa Senja saat dia sudah dewasa, kondisinya benar-benar kritis. Ada jahitan yang sangat panjang di kepalanya, Ika. Syarafnya mengalami guncangan hebat. Dokter memberikan peringatan yang sangat keras pada kami; Senja tidak boleh mengalami tekanan pikiran yang berat."

Senja hanya menunduk, tangannya secara refleks menyentuh bagian kepala tempat bekas luka itu berada. Ayah Senja melanjutkan ceritanya dengan nada yang lebih dalam, menceritakan detail medis yang selama ini dirahasiakan demi keselamatan putranya.

"Setiap kali dia mencoba menarik kembali ingatan masa lalunya, terutama memori yang penuh tekanan, dia akan merasakan sakit kepala yang luar biasa. Dia sering jatuh pingsan secara tiba-tiba, bahkan saat dia sudah dewasa dan hanya sedang melakukan aktivitas biasa. Itulah sebabnya kami memilih untuk memanggilnya Adit. Itu adalah nama kecilnya, nama panggilan kesayangannya saat dia masih balita dan baru belajar bicara. Waktu kecil dulu, dia belum lancar mengucap Senja Pradipta, dia hanya bisa menyebut Adit, Adit."

Ika mendengarkan dengan seksama, menyadari bahwa selama ini Senja hidup dalam kerentanan fisik yang nyata. Nama Adit ternyata adalah sebuah pelindung agar tubuh Senja tidak hancur oleh beban ingatannya sendiri.

"Kami mencoba mengenalkan kembali nama Senja Pradipta padanya secara perlahan setelah jahitannya pulih," lanjut Ayah Senja.

"Tapi kami tetap tidak memberitahunya kalau Adit dan Senja itu seolah identitas yang berbeda. Kami ingin dia tetap menjadi Adit yang lembut, sembari perlahan menerima kembali jati dirinya sebagai Senja. Kami tidak ingin dia kembali menjadi sosok yang dulu. Kami hanya ingin Senja yang sekarang bisa hidup sebagai manusia yang baru."

Senja mendongak, menatap ayahnya lalu beralih pada Ika.

"Ayah benar, Ika. Aku memang sering jatuh. Kepala ini sering terasa ingin pecah jika aku mencoba memaksa masuk ke dalam memori masa lalu itu. Tapi setelah bicara denganmu, dan setelah mendengar penjelasan Ayah hari ini, aku merasa beban itu sedikit berkurang. Aku tidak ingin lagi hanya menjadi Adit yang tidak tahu apa-apa. Aku ingin bertanggung jawab atas semua yang pernah dilakukan oleh Senja Pradipta di masa lalu, meski aku harus menahan sakit di kepalaku."

Arunika tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sangat tulus. "Senja, jangan dipaksa. Aku sudah bilang kalau aku sudah menerima semuanya. Aku sudah mengenalmu sebagai Adit yang baik di penginapan ini, dan aku juga sudah memaafkan Senja yang dulu. Bagiku, kamu adalah orang yang sama yang kini sedang berusaha tumbuh menjadi lebih baik. Jadi, jangan sakiti dirimu sendiri hanya untuk menebus sesuatu yang sudah aku maafkan dengan sangat ikhlas. Aku beneran nggak apa-apa sekarang."

Kakek yang sejak tadi hanya diam mengamati cucunya dengan rasa bangga, akhirnya ikut bersuara. "Sudah, jangan terlalu banyak merasa bersalah lagi. Di penginapan ini, kita belajar untuk terus tumbuh. Luka lama itu biarlah menjadi bagian dari cerita hidup kalian masing-masing yang menguatkan satu sama lain. Begitulah Ika, dan begitulah Senja sekarang."

Arkala yang baru saja datang dari arah dapur, meletakkan gelas-gelas tambahan di meja. Ia melihat betapa tenangnya Ika menghadapi situasi ini. Arkala duduk di samping Ika dan menatap Senja dengan tatapan yang sudah tidak lagi penuh emosi.

"Saya juga minta maaf ya, Om," kata Arkala pada Ayah Senja. "Kemarin saya sempat emosi karena saya sangat peduli pada Ika. Tapi melihat Ika sudah bisa seikhlas ini, saya rasa saya tidak punya alasan untuk terus marah. Yang penting Senja sudah jujur, dan kita semua bisa lebih tenang sekarang."

Ayah Senja tersenyum dan tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu "Satu hal lagi yang om ingin katakan pada kamu Ika...." tiba tiba Ayah Senja menghentikan ucapannya, lidahnya menjadi kelu dan bilang "Ehh tidak jadi Ika, om tiba-tiba mendadak lupa ingin mengatakan apa"

Arkala terkekeh diikuti tawa Ayah Senja "Ah om ini bisa aja bercandanya" Ucap Arkala.

Tapi dibalik itu semua Ayah Senja hendak membicarakan sesuatu tapi dia mengurungkan niatnya karna dia merasa waktunya belum pas.

Suasana di teras penginapan kayu itu benar-benar mencair. Ayah Senja tertawa lega, sementara Senja tersenyum bahagia melihat Ika sudah benar-benar menerima kehadirannya secara utuh. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Ayah Senja kemudian mulai bercerita tentang rencana pekerjaannya yang akan dilanjutkan di sekitar penginapan setelah kepulangannya dari kota.

Ika merasakan kedamaian yang mendalam. Ternyata melepaskan dendam dan menerima kenyataan adalah jalan terbaik untuk menemukan ketenangan. Ia menatap ke arah depan, merasa bahwa hari ini adalah awal yang benar-benar baru. Segala kesalahpahaman telah lurus, dan kejujuran telah menjadi fondasi yang kuat bagi mereka untuk melanjutkan hari-hari di penginapan kayu tersebut.

Hari itu ditutup dengan percakapan yang hangat. Tidak ada lagi beban rahasia di balik nama Adit, tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu. Di bawah atap penginapan yang tenang, mereka mulai menyusun babak baru kehidupan.

Ika tahu jalan di depan mungkin masih akan memberikan tantangan lain, namun dengan hati yang sudah legowo, ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Sinar matahari siang itu menerangi teras dengan sempurna, sehangat teh yang mereka nikmati bersama sebagai sebuah keluarga baru yang dipertemukan oleh takdir yang unik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!