Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khasiat Pil
Malam itu, Gunung Qingyun diselimuti badai salju. Angin melolong ganas bagai tangisan roh penasaran, menghantam atap-atap bangunan sekte. Namun, badai di luar tidak sebanding dengan pergolakan yang terjadi di dalam tubuh Lin Ye di gubuk kayunya yang reyot.
Setelah diseret kembali oleh Pengawas Zhao dan dibuang di depan gubuknya sore tadi, Lin Ye berpura-pura pingsan selama berjam-jam hingga malam tiba dan suasana sekitarnya benar-benar sepi. Begitu ia yakin tidak ada mata yang mengintai, ia segera bangkit dan mengunci rapat pintu gubuknya yang lapuk.
Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah dinding, Lin Ye mengeluarkan kantong kulit kecil dari balik celananya. Ia menumpahkan isinya ke telapak tangan. Tiga butir pil bundar kasar berwarna hitam pekat tergeletak di sana. Pil Limbah, produk gagal dari proses penyulingan Pil Ular Api.
Bagi kultivator manapun di Sekte Pedang Awan Mengalir, menelan pil ini sama saja dengan bunuh diri. Sembilan bagian dari kandungan pil ini adalah Racun Api Belerang murni yang terbentuk akibat kegagalan pengendalian suhu saat proses alkimia.
Lin Ye menatap ketiga pil itu tanpa ragu sedikit pun. Di dalam Dantian-nya, Kuali Penelan Bintang berputar pelan, memancarkan rasa "lapar" yang sangat kuat, seperti binatang buas yang sudah lama berpuasa.
"Baiklah. Mari kita lihat seberapa jauh racun ini bisa memperkuatku," gumam Lin Ye pelan.
Tanpa membuang waktu, ia melemparkan satu butir Pil Limbah ke dalam mulutnya dan langsung menelannya utuh.
BZZZZZTT!
Hanya dalam hitungan detik setelah pil itu menyentuh perutnya, ledakan panas yang luar biasa mengerikan meletus di dalam tubuh Lin Ye. Ia merasa seolah-olah baru saja menelan sebongkah batu bara yang menyala. Pembuluh darahnya seketika menonjol keluar, kulitnya memerah hebat seperti udang rebus, dan suhu tubuhnya melonjak drastis hingga keringat yang baru saja keluar langsung menguap menjadi asap tipis.
Rasa sakitnya seratus kali lipat lebih menyiksa daripada saat ia menyerap asap beracun di ruang tungku. Asap beracun adalah energi yang menyebar di udara, sedangkan pil ini adalah pati racun yang meledak langsung di inti tubuhnya.
Lin Ye menggertakkan giginya erat-erat, urat di lehernya bermunculan. Ia duduk dalam posisi teratai, mengunci erat kesadarannya, dan memaksa mentalnya untuk memandu Sutra Kekosongan Penelan Bintang.
Hancurkan! Lahap! Murnikan!
Merespons perintah batinnya, Kuali Bintang mini di Dantian-nya berputar dengan kecepatan luar biasa. Cahaya ungu gelap memancar dari kuali tersebut, melesat dan membungkus energi liar bersuhu tinggi yang sedang mengamuk di dalam perut Lin Ye.
Pertarungan antara racun api dan kuali purba pun terjadi. Racun itu mencoba membakar organ-organ Lin Ye, namun energi kosmik ungu dari kuali itu menghancurkan sifat merusaknya tanpa ampun. Layaknya batu kilangan yang menggiling gandum, kuali itu meremukkan sembilan bagian racun api dan satu bagian sisa energi spiritual herbal menjadi cairan sari pati energi kehidupan murni.
Cairan esensi itu kemudian dialirkan ke seluruh otot, tulang, dan organ Lin Ye. Proses ini berulang terus-menerus. Otot-otot Lin Ye robek oleh panas, lalu disembuhkan kembali oleh hawa murni menjadi lebih kuat, lebih tebal, dan lebih liat. Tulang-tulangnya menyerap energi, perlahan kehilangan warna putih keroposnya dan mulai menampilkan kilau perunggu redup.
Dua jam kemudian, Lin Ye menghela napas panjang dan berat. Asap panas keluar dari mulutnya saat ia membuka mata.
"Luar biasa," bisiknya dengan suara serak. Ia mengepalkan tinjunya perlahan, merasakan aliran tenaga yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Hanya dengan satu butir pil limbah, ia merasa kekuatan pukulan fisiknya telah berlipat ganda. Jika ditakar dengan standar kultivator biasa, kekuatan fisiknya saat ini sejatinya setara dengan Kultivator Alam Pengumpulan Qi Tingkat Ketiga awal.
Mata Lin Ye memancarkan tekad yang dingin. Ia tidak berhenti. Ia mengambil dua butir Pil Limbah yang tersisa dan menelan keduanya sekaligus.
BOOOM!
Ledakan panas kali ini jauh lebih brutal. Lin Ye nyaris pingsan karena rasa sakit yang seolah merobek jiwanya. Ia menggigit bibirnya hingga darah menetes, mempertahankan sejumput kewarasannya agar proses pemurnian Sutra Kekosongan tidak terhenti. Jika ia kehilangan fokus sedetik saja, api racun itu akan membakarnya menjadi abu dari dalam.
Malam itu berlalu dengan penuh siksaan dan keheningan yang mencekam.
Keesokan paginya, badai salju telah mereda. Sinar matahari pagi yang pucat menyinari pelataran luar sekte.
Lin Ye keluar dari gubuknya dengan pakaian yang sudah ia cuci sekadarnya. Tubuhnya terasa luar biasa ringan dan penuh tenaga, meski dari luar ia masih terlihat seperti pemuda kurus dan pucat. Kulitnya yang sebelumnya berwarna perunggu redup kini kembali terlihat seperti kulit manusia biasa, menyembunyikan kekuatannya dengan sempurna di bawah penyamaran Sutra Kekosongan.
Kekuatan fisiknya saat ini telah kukuh di Alam Pengumpulan Qi Tingkat Keempat awal. Sebuah pencapaian yang nyaris mustahil bagi kultivator dengan meridian normal dalam waktu satu malam, apalagi bagi seorang pelayan fana.
Tugas hariannya kembali dimulai. Karena "keberhasilannya" membersihkan ruang tungku beracun kemarin dan secara ajaib bertahan hidup, Pengawas Zhao tampaknya menemukan kegunaan baru untuk Lin Ye.
"Bocah beruntung, hari ini kau akan menggantikan tugas pelayan yang mati di Gua Tambang Es di tebing utara," dengus Pengawas Zhao saat membagikan plakat tugas. Matanya masih menyimpan keheranan saat menatap Lin Ye yang tampak baik-baik saja meski sempat muntah darah kemarin.
Gua Tambang Es adalah area berbahaya lainnya. Hawa dingin di sana mengandung Racun Es Spiritual yang dapat membuat darah manusia membeku secara perlahan. Namun bagi Lin Ye, tempat itu terdengar seperti ladang perjamuan besar yang disajikan cuma-cuma.
Sepanjang pagi, Lin Ye bekerja di dalam Gua Tambang Es, memecahkan kristal es spiritual dengan beliung penambang. Sambil bekerja, ia secara diam-diam membiarkan hawa dingin beracun itu menyusup ke pori-porinya, membiarkan Kuali Bintang memurnikannya menjadi energi fisik tambahan.
Meski energi dari hawa dingin itu tidak sepadat Pil Limbah, itu cukup untuk menguatkan tulang-tulangnya lebih jauh.
Menjelang siang hari, Lin Ye keluar dari gua sambil memanggul keranjang berisi pecahan kristal es yang beratnya lebih dari dua ratus kati, seolah benda itu seringan kapas baginya. Ia menahan langkahnya dan sengaja membungkukkan badan, berpura-pura kewalahan.
Saat ia berjalan melintasi persimpangan jalan setapak menuju paviliun penyimpanan, ia merasakan sebuah aura tajam dan dingin dari arah depan. Lin Ye segera menundukkan pandangannya, bertindak seperti pelayan patuh pada umumnya.
Dari arah berlawanan, dua sosok berjubah putih bersih sedang berjalan. Yang di depan adalah seorang wanita muda yang kecantikannya mampu membuat salju di sekitarnya tampak kusam. Rambut hitam panjangnya diikat longgar, menjuntai di punggungnya. Matanya tajam, dingin, dan memancarkan aura arogansi yang alamiah. Ia adalah Su Yue, salah satu jenius inti dari sekte luar yang kabarnya akan segera dipromosikan ke sekte dalam.
Di belakangnya berjalan seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Wang Hao, murid luar yang mencambuk punggung Lin Ye tempo hari. Wang Hao tampak sedang menjilat dan berusaha mencari perhatian Su Yue.
"Saudari Junior Su, kudengar kau telah menembus Tingkat Keenam Alam Pengumpulan Qi. Itu pencapaian yang luar biasa! Jika kau butuh rekan untuk berburu di Hutan Binatang Iblis untuk mengumpulkan bahan pil..."
"Aku lebih suka berburu sendiri, Kakak Senior Wang," potong Su Yue dengan nada dingin, datar, dan tanpa ekspresi.
Penolakan itu membuat wajah Wang Hao sedikit memerah menahan malu, namun ia tidak berani marah. Su Yue bukan hanya cantik, tapi kekuatan dan latar belakangnya jauh di atasnya.
Tepat saat mereka berpapasan dengan Lin Ye yang memanggul keranjang es di pinggir jalan setapak, langkah Su Yue tiba-tiba melambat.
Matanya yang tajam melirik ke arah pemuda pelayan yang menunduk tersebut. Ada sesuatu yang aneh. Su Yue memiliki bakat spesial bernama Mata Es Spiritual yang membuatnya peka terhadap suhu dan hawa murni di sekitarnya.
Hanya sedetik yang lalu, saat ia melewati pelayan kurus itu, nalurinya merasakan sesuatu yang bertolak belakang. Gua Tambang Es dipenuhi hawa dingin mematikan, dan seorang pelayan fana yang baru keluar dari sana seharusnya memiliki suhu tubuh yang sangat rendah, bahkan menggigil hebat. Namun pelayan kurus ini... suhu tubuhnya terasa sangat hangat dan wajar, seperti sebuah tungku perapian yang disembunyikan.
Lebih aneh lagi, Su Yue tidak bisa merasakan riak Qi spiritual sekecil apa pun dari tubuh pelayan itu. Dia benar-benar fana, tapi tubuh fananya terasa... padat.
Melihat langkah Su Yue terhenti dan menatap Lin Ye, Wang Hao merasa ini adalah kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya akibat penolakan tadi.
"Hei! Anjing bisu!" bentak Wang Hao, melangkah maju dan mengangkat tangannya, berniat menampar wajah Lin Ye karena dianggap menghalangi jalan. "Beraninya kau menghalangi jalan Saudari Junior Su! Berlutut!"
Tamparan itu meluncur deras menuju wajah Lin Ye, membawa hembusan angin kencang berkat tenaga kultivator tingkat tiga.
Lin Ye yang menunduk, matanya menegang. Di kecepatan ini, aku bisa mematahkan lengannya sebelum tangannya menyentuh wajahku.
Namun, akal sehatnya langsung menekan insting bertarungnya. Jika ia melawan balik dan mematahkan lengan seorang murid resmi di depan jenius sekte luar, ia akan langsung diselidiki, dibongkar rahasianya, dan dibunuh hari ini juga. Belum saatnya. Ia harus menelan satu penghinaan lagi.
Lin Ye sengaja melonggarkan pertahanannya dan membiarkan tamparan itu mengenai pipi kirinya.
Plak!
Suara keras bergema. Karena tubuh Lin Ye saat ini sekeras batu berkat Bina Tubuh Tingkat Keempat, tamparan Wang Hao bukannya membuat Lin Ye terpental, malah tangan Wang Hao sendiri yang terasa seperti menghantam plat besi tebal.
Meski begitu, Lin Ye segera mengendalikan tubuhnya. Ia sengaja membiarkan dirinya jatuh berguling ke salju, keranjangnya terbalik, dan pecahan kristal es berhamburan. Ia segera bersujud di tanah, menyembunyikan wajahnya yang bahkan tidak memerah karena tamparan itu.
Wang Hao meringis pelan, menyembunyikan tangannya yang kebas dan bergetar hebat di balik jubahnya. Ia menatap Lin Ye dengan bingung dan sedikit ngeri. Apa yang terjadi? Kenapa tulang wajah pelayan ini keras sekali?
Su Yue menatap adegan itu dengan kening sedikit berkerut. Ia melihat keranjang es yang tumpah, lalu kembali menatap punggung Lin Ye yang bersujud. Rasa penasarannya memudar, digantikan oleh ketidakpedulian yang khas dari seorang kultivator terhadap makhluk fana.
"Kakak Senior Wang, jangan mengotori tanganmu pada sampah," ucap Su Yue dingin, tidak membela maupun menghakimi, murni hanya karena ia merasa hal itu membuang waktu. Ia kemudian melanjutkan langkahnya, mengabaikan perkara kecil tersebut.
Wang Hao mendengus kesal, menendang salju ke arah Lin Ye. "Kau beruntung Saudari Su bermurah hati hari ini. Cepat bersihkan ini!" teriaknya sebelum bergegas menyusul langkah Su Yue.
Setelah kedua murid itu menghilang di balik tikungan jalan, Lin Ye perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya mengikuti arah perginya Su Yue dan Wang Hao. Matanya sedingin es di tambang, tanpa emosi, penuh perhitungan.
Ia mengusap pipi kirinya yang bahkan tidak terasa sakit, lalu memunguti pecahan kristal es satu per satu dengan tenang.
"Satu tamparan dan satu cambukan," bisik Lin Ye pada salju di bawah tangannya. "Buku catatanku mulai terisi, Wang Hao. Berdoalah agar aku tidak segera menembus Alam Pembentukan Fondasi."