Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Keputusan di Bawah Guyuran Hujan
Sentuhan tangan Diana di pipinya terasa hangat, sangat kontras dengan rintik hujan malam yang kian menderu di pelataran parkir Hotel Mulia. Andra menatap sepasang mata tajam di balik kacamata wanita sukses itu. Tawaran Diana untuk masuk ke dalam mobil sedannya yang mewah, menjauh dari seluruh penghinaan yang baru saja ia terima di dalam gedung, terdengar seperti sebuah pelarian yang sangat manis bagi harga dirinya yang terluka.
Namun, di tengah gemuruh emosi yang membakar dadanya, bayangan wajah Nadia yang pucat dan air matanya yang luruh saat dibentak oleh Gunawan mendadak melintas di benak Andra. Pemuda desa itu menarik napas panjang, mengumpulkan kembali sisa-sisa nalar dan ketegasan prinsip yang ia bawa dari kampung halaman.
Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu Diana, ucap Andra dengan nada suara yang rendah namun terdengar sangat mantap. Ia memundurkan langkahnya satu tapak, secara halus membuat tangan Diana terlepas dari pipinya. Tapi saya tidak bisa ikut bersama Ibu malam ini. Saya datang ke sini untuk menjalankan tugas dari Bu Nadia, dan saya harus memastikan pimpinan saya baik-baik saja sebelum saya pulang.
Diana sempat tertegun sejenak, tidak menyangka bahwa pesona, kekuasaan, dan tawaran kenyamanan yang ia berikan akan ditolak oleh seorang pemuda yang baru saja diinjak-injak harga dirinya. Namun, penolakan itu justru membuat binar ketertarikan di mata Diana kian menyala kuat. Karakter Andra yang teguh dan tidak mudah goyah oleh kilau instan adalah sesuatu yang belum pernah ia temukan pada pria mana pun di lingkaran elite Jakarta.
Kamu benar-benar pria yang keras kepala dan setia, Andra, Diana tersenyum menawan, melipat kembali payung hitamnya sebagian saat ia melangkah mundur menuju pintu mobilnya. Tapi ketahuilah, pintu saya selalu terbuka untukmu. Gunawan tidak akan melepaskanmu begitu saja setelah malam ini, dan saat kamu menyadari bahwa kesetiaanmu pada Nadia hanya akan membawamu ke dalam masalah yang lebih besar, kamu tahu ke mana harus melangkah.
Diana masuk ke dalam mobil sedannya. Kendaraan mewah itu bergerak perlahan meninggalkan area parkir, menyisakan Andra yang berdiri sendirian di bawah siraman gerimis malam.
Andra tidak kembali ke dalam ballroom. Ia memilih menunggu di dekat koridor keluar lobi utama, tempat para tamu biasa memanggil kendaraan mereka. Firasatnya mengatakan bahwa Nadia tidak akan bertahan lama di dalam acara tersebut setelah keributan besar yang diciptakan oleh suaminya.
Benar saja, kurang dari lima belas menit kemudian, pintu kaca lobi hotel terbuka dengan kasar. Nadia melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Gaun satin hitam mewahnya tampak sedikit kusut, dan ia tidak lagi memedulikan sanggul rambutnya yang mulai agak longgar. Wajah cantiknya basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia bendung lagi. Di belakangnya, Gunawan tidak terlihat mengejar, tampaknya pria arogan itu lebih memilih kembali ke bar untuk melanjutkan minum bersama kolega bisnisnya.
Mbak Nadia! panggil Andra dengan suara setengah berlari menghampiri wanita itu.
Nadia menghentikan langkahnya yang goyah di atas lantai selasar lobi. Ketika melihat Andra masih berada di sana, tidak langsung pulang mengendarai motor bebeknya seperti yang ia duga, pertahanan batin Nadia runtuh seutuhnya untuk kedua kali.
Andra... bisik Nadia.
Tanpa memedulikan pandangan para petugas valet hotel atau beberapa tamu luar yang sedang mengantre mobil, Nadia langsung menghambur ke dalam pelukan Andra. Kedua tangannya mencengkeram erat bagian belakang jas hitam Andra yang mulai agak lembap oleh sisa air hujan. Ia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang asisten pribadinya tersebut, melepaskan seluruh rasa malu, sakit hati, dan kehampaan pernikahan transaksional yang ia tanggung bertahun-tahun.
Andra mendekap tubuh Nadia dengan erat, membiarkan dadanya menjadi tempat bersandar bagi kerapuhan sang bos wanita. Tangan besarnya naik, mendekap kepala Nadia dengan lembut, melindunginya dari hawa dingin malam kota Jakarta.
Kita pergi dari sini sekarang, Mbak, bisik Andra tepat di dekat telinga Nadia, suaranya terdengar sangat protektif dan jantan.
Nadia hanya mengangguk lemah di dalam dekapan Andra. Malam itu, mereka tidak menggunakan mobil sedan mewah milik Nadia. Nadia memerintahkan sopir pribadinya melalui pesan singkat untuk pulang lebih dulu membawa mobilnya. Wanita sukses itu memilih untuk mengabaikan segala kemewahan pertamanya, demi bisa duduk di boncengan belakang motor bebek tua milik Mas Joko, memeluk pinggang tegap Andra dengan sangat erat di sepanjang jalan protokol Sudirman yang diguyur hujan malam.
Motor bebek tua itu membelah jalanan kota yang basah, menuju ke arah kawasan apartemen eksklusif tempat Nadia tinggal di daerah Kebayoran Baru. Di atas jok motor yang sempit, tidak ada lagi jarak sosial atau kasta jabatan yang memisahkan mereka. Tubuh Nadia melekat rapat di punggung Andra, mencari kehangatan di tengah terpaan angin malam.
Begitu tiba di pelataran parkir basemen apartemen mewah berpenjagaan ketat tersebut, kondisi mereka berdua sudah cukup basah kuyup. Nadia turun dari motor dengan langkah yang masih agak lemas, namun genggaman tangannya pada jemari Andra terikat sangat kencang, seolah ia takut jika ia melepaskannya, pemuda desa itu akan menghilang.
Ikut saya ke atas, Andra. Temani saya malam ini. Jangan tinggalkan saya sendirian, pinta Nadia dengan tatapan mata yang sangat rapuh, memohon dari lubuk hatinya yang terdalam sebagai seorang wanita yang kesepian.
Andra menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu beralih menatap wajah Nadia yang sembap namun tetap terlihat sangat cantik di bawah pendar lampu basemen. Tamparan penghinaan dari Gunawan di hotel tadi serta rasa iba yang mendalam pada nasib Nadia akhirnya membakar habis sisa-sisa keraguan moral yang tersisa di dalam diri Andra. Malam ini, ia memilih untuk menuruti kata hatinya, melangkah bersama Nadia masuk ke dalam lift privat yang bergerak naik menuju unit apartemen di lantai teratas.
Pintu unit apartemen berbahan kayu ek tebal itu terbuka, menampilkan ruangan luas berdesain modern minimalis dengan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang berkilau di balik jendela kaca besar. Suasana di dalam sangat sunyi, dingin, dan kosong—sebuah representasi nyata dari kehidupan pernikahan Nadia selama ini.
Nadia berjalan masuk tanpa menyalakan lampu utama, hanya membiarkan pendar cahaya kota dari luar menyinari ruangan yang remang-remang. Ia berbalik badan, menghadapi Andra yang masih berdiri kaku di dekat pintu masuk.
Nadia melepas sepatu hak tingginya, lalu dengan gerakan yang lambat dan pasti, ia melangkah mendekati Andra. Kedua tangannya naik, menyentuh pundak jas hitam Andra yang basah, lalu perlahan-lahan mendorong jas tersebut hingga terlepas dari tubuh tegap sang asisten dan jatuh begitu saja di atas lantai.
Mbak Nadia... suara Andra terdengar berat dan serak, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering saat menyadari jarak mereka yang kini tidak lagi menyisakan sekat apa pun.
Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendongakkan wajahnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Andra yang bergejolak hebat oleh gairah maskulin yang selama ini tertahan. Nadia menjinjitkan kakinya, melingkarkan kedua tangannya di leher Andra, dan mendaratkan bibirnya di atas bibir tegas pemuda desa tersebut.
Sentuhan itu terasa seperti sebuah ledakan yang menghancurkan seluruh sisa tembok pertahanan moral Andra. Rasa bersalah, aturan kantor, dan ketakutan akan kasta sosial menguap tanpa bekas di dalam keheningan malam itu. Andra membalas ciuman Nadia dengan penuh kepasrahan dan kekuatan yang jantan, kedua tangan besarnya turun mencengkeram pinggang ramping Nadia, mengangkat tubuh wanita itu mendekat ke dalam kuasanya. Di bawah pendar cahaya lampu kota Jakarta yang menembus kaca apartemen, gerbang hubungan intim yang terlarang itu akhirnya terbuka sepenuhnya, mengikat takdir emosional mereka berdua ke dalam pusaran asmara yang semakin dalam dan penuh risiko pada bab-bab yang akan datang.