Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Tidak ada yang berakhir baik jika sesuatu dilakukan mengikuti amarah sesaat. Yang terjadi hanyalah penyesalan tanpa akhir. Sebaiknya seseorang belajar untuk mengelola emosinya terlebih dahulu, maka ketika ia berinteraksi dengan orang lain ia bisa mengontrol dirinya sendiri. Sayangnya, butuh waktu lama untuk bisa memahami emosi diri sendiri, bahkan kadang butuh waktu bertahun-tahun. Oleh karena itu, usia tidak bisa menjadi patokan standar kedewasaan seseorang.
Sepanjang manusia hidup banyak hal terjadi, termasuk penolakan akan cinta. Beberapa orang menganggap bahwa cinta adalah kerelaan, artinya membiarkan ia bahagia dengan cinta yang lain. Sementara beberapa orang lain mengartikan cinta sebagai keharusan untuk memiliki. Entah mana yang paling egois ketika kedua-duanya adalah hasil dari perjuangan panjang untuk mendapatkan cinta.
Pun begitu dengan kondisi William saat ini, sesuatu yang ia lakukan terhadap Angel atas dasar perasaan cintanya yang begitu besar namun kemudian hanya membawanya pada penyesalan. Melihat gadisnya memeluk dirinya sendiri dan tergugu adalah tamparan atas kegagalan untuk melindungi Angel. William menyugar rambutnya kasar, ia melepas jasnya, dan berjalan mendekati Angel.
"Aku hanya takut kehilanganmu, Angel. Seandainya saja kau memberiku kesempatan untuk terus berada di sisimu. Aku tidak akan bertindak sejauh ini," ucapnya membela diri. Jemarinya terulur mengelus rambut Angel.
Angel mengangkat kepalanya, mata,hidung, dan pipinya memerah akibat menangis terus-menerus. William membelai pipinya lembut, menghapus sisa-sisa air mata yang yang mengalir.
"Mengapa bapak menangis?" Tangan Angel terulur, jari telunjuknya mengikuti jejak air mata William.
William berdiri, menjauh dari pandangan Angel. "Bagaimana bisa aku tidak menangis ketika perempuan yang kucintai menangis. Apakah kau menganggap hatiku sekeras itu, Angel?"
"Bukan begitu maksudku, pak. Aku... hanya bertanya." Hati Angel menghangat, baru kali ini seseorang menangis untuknya, selain orang tuanya. Namun di sisi lain ia juga merasa tak nyaman, William menangis karena ajakannya untuk menjalin hubungan asmara ia tolak.
Sebenarnya, bukan tidak mungkin Angel jatuh cinta pada William. Selain usia dan perasaan, Angel merasa langkah ini terlalu cepat. Awalnya ia hanya ingin menghentikan permainan William. Yang tak disangkanya, selama ini semua perlakuan William adalah ketulusan.
"Rupanya, kau masih belum percaya padaku..."
Angel bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri William. "Aku percaya pada bapak. Hanya saja, jatuh cinta bukanlah perkara yang mudah. Dia hadir tanpa bisa diprediksi atau diatur. Apalagi, aku merasa diriku masih terlalu muda, pak. Hal-hal seperti cinta bukanlah prioritasku."
"Tapi kau mencintai Darren, Angel."
Angel terhenyak. Rahasia yang ia kubur sedalam mungkin bagaimana bisa begitu mudahnya diketahui oleh William? Ia tak pernah memberitahu siapapun, bahkan Avy tidak mengetahui. Ia juga tidak menuliskannya. Nama Darren hanya tertulis jauh di lubuk hatinya. "Hal ini tidak ada hubungannya dengan Darren, pak," ucap Angel mencoba menyangkal.
"Kau tidak mengatakan 'tidak'. Bukankah itu artinya dugaanku benar?"
"Sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi, pak. Setidaknya hingga bapak memahami posisiku," pungkas Angel. Ia berbalik menuju pintu dan mempersilahkan William keluar dari kamarnya.
William tak menyangka akan diusir, ia menatap Angel kecewa. "Baiklah. Besok aku akan menemuimu." William pergi setelah mencium Angel.
***
3 Tahun yang lalu
Dua gundukan tanah di depannya masih basah namun air di matanya sudah kering. Angel menatap hampa nisan bertuliskan Christian Hardiawan dan Rafinda Natalia. Kata orang segala sesuatu di dunia ini adalah milik Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Hanya saja, Angel tidak menyangka jika Tuhan mengambil papa dan mamanya begitu cepat di usianya yang masih sangat muda.
Satu per satu pelayat pergi setelah mengucapkan bela sungkawa. Hingga tersisa Darren, paman dan bibi yang selalu mendampinginya sejak ia dikabari kecelakaan maut yang menimpa kedua orang tuanya.
Semalam, sesuai janji papa dan mamanya untuk merayakan ulang tahun dengan makan malam bersama di restaurant favoritnya. Angel sudah menunggu sejak pukul 5 sore namun hingga 3 jam berlalu, papa dan mama belum juga tiba. Bahkan makanan yang dihidangkan sudah dingin.
30 menit kemudian ponselnya berdering, pamannya menelpon. "Angel, bisakah kau Bandung sekarang?"
"Ada apa paman?" tanya Angel tanpa menaruh curiga sedikitpun.
"Hardi dan Rafinda..." Suara di seberang telepon terdengar ragu.
"Kenapa dengan papa dan mama, paman? Dimana mereka? Mereka sudah berjanji akan merayakan ulang tahun bersamaku malam ini?" desak Angel menuntut jawaban. Tidak seperti biasanya papa dan mamanya mengingkari janji, terutama untuk merayakan ulang tahunnya.
"Kau harus kuat, nak. Datanglah ke Bandung, teman paman akan menjemputmu dan mengantarmu kemari."
***
Bunyi alarm membangunkan Angel dari tidur nyenyaknya, tangannya meraba-raba mencari ponselnya, lalu menggeser layarnya, seketika alarm berhenti. Tak peduli saat ini jam berapa, Angel akan tidur sepuasnya setelah perang emosi dengan William kemarin.
Sepertinya Semesta tidak mengizinkannya untuk tidur sepanjang hari ini, karena tak lama setelah ia mematikan alarmnya. Smartphone-nya berdering tanda seseorang menelpon.
"Oh Tuhan, tidak bisakah aku tenang barang sehari saja?" dumelnya dengan mata setengah tertutup dan tangannya yang mencari-cari ponsel. Begitu menemukannya, ia langsung melihat nama yang tertera di layar.
Bu Dian.
Angel menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Berdehem untuk menjernihkan suaranya. "Halo Bu Dian..."
"Angel, bisakah kau ke kantor hari ini? Ada beberapa hal yang harus didiskusikan denganmu." Suara Bu Dian terdengar jelas yang membawa angin segar bagi Angel.
"Bisa bu!" sahut Angel tanpa menyembunyikan kebahagiaannya. Setelah ujian-ujian-baik ujian sekolah ataupun ujian hidup- yang ia lalui. Sudah saatnya kini ia berfokus pada karir modelingnya. Ia akan mencari kesempatan sebesar-sebesarnya untuk menunjukkan kelayakannya menjadi seorang model profesional.
"Oke, sata tunggu di ruanga saya." Bu Dewi mengakhiri teleponnya.
Angel berdiri di atas kasurnya, melompat-lompat layaknya anak kecil yang menang dalam permainan melawan temannya. "Akhirnya aku menjalani hidupku yang normal lagi," teriaknya sedikit menahan diri agar para tetangga tidak berdatangan karena mengira rumanya dibobol.
Lupakan cinta rahasianya yang diketahui William. Lupakan juga William yang seolah menekannya untuk mecintainya. Tidak ada pengalih paling ampuh selain pekerjaan. Angel harap kali ini dia dapat pergi untuk melakukan pekerjaan.
***
Tak seperti pekerja kantoran biasa, model biasanya hanya datang ke kantor hanya ketika memang diperlukan atau untuk model junior biasanya ia harus mengambil beberapa kelas untuk menunjang karir modelingnya.
Angel memakirkan mobilnya di basement Xun Yi Entertaiment, memakai denim dress berwarna hitam yang menutupi setengah pahanya, Angel terlihat feminim dengan rambut sebahu yang digerai. Kaki jenjangnya yang terbuka melangkah dengan mantap menuju lift yang akan membawanya ke lantai 9 tempat kantor Bu Dian berada.
"Kau sudah menyelesaikan ujianmu, Angel?" tanya Bu Dian begitu Angel duduk di dalam ruangannya.
Angel mengangguk. "Sudah bu, kemarin hari terakhir ujian."
"Lalu apa selanjutnya rencanamu?"
"Aku ingin lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk tampil di catwalk, bu."
***