NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sandiwara

Aroma kopi premium yang disajikan di ruang rapat utama lantai lima belas Wijaya Corp sama sekali tidak mampu menenangkan syaraf-syaraf Kinan yang tegang. Pertemuan evaluasi proyek re-desain hari itu dihadiri oleh jajaran eksekutif, termasuk Aris yang datang sebagai kepala proyek dari perusahaan rekanan, didampingi oleh Neya sebagai asisten kreatifnya.

Kinan duduk di kursi kebesaran CEO di ujung meja oval. Wajahnya sedingin marmer, namun tatapannya tak sedetik pun lepas dari pergerakan dua orang yang duduk bersebelahan di sisi tengah meja. Di sana, Neya sedang membuka beberapa berkas draf final, sementara Aris sesekali berbisik di telinganya sembari memberikan senyuman protektif.

Neya tahu betul ke mana arah tatapan tajam dan dingin milik Kinan tertuju. Ini adalah panggung yang sudah ia rancang dengan sangat matang. Menyadari bahwa Kinan telah sepenuhnya termakan oleh umpan kepolosan dan kerapuhannya tadi siang, Neya memutuskan untuk menaikkan taruhan permainan emosi ini ke tingkat yang jauh lebih berbahaya: membakar cemburu pria itu menggunakan kehadiran Aris.

Saat Aris sedang menjelaskan salah satu poin presentasi mengenai anggaran material, Neya dengan sengaja menunjukkan gestur yang teramat manis dan intim kepada suaminya itu. Ia memiringkan tubuhnya, mendekat ke arah Aris dengan keanggunan yang alami.

"Mas, bagian pencahayaan sudut ini sepertinya butuh sedikit penyesuaian fungsional agar sesuai dengan permintaan pusat," bisik Neya dengan suara lembut yang sengaja dibuat agar tetap terdengar di ruangan yang sunyi itu. Jemari lentiknya menyentuh punggung tangan Aris di atas meja, mengusapnya sekilas dengan gerakan yang tampak sangat terbiasa namun sarat akan kepemilikan.

Aris yang tidak tahu apa-apa tentang sandiwara ini, seketika menoleh ke arah Neya dengan binar mata yang penuh kasih sayang. Ia menggenggam balik jemari Neya, lalu mengacak puncak kepala istrinya itu dengan sangat hangat di depan semua orang. "Kamu benar, Sayang. Nanti biar Mas yang sampaikan langsung perubahan anggarannya."

Pemandangan itu—sentuhan tangan mereka, panggilan mesra yang meluncur bebas, dan cara Aris memperlakukan Neya dengan penuh cinta—menjadi sebilah pisau tak kasat mata yang menghujam langsung ke ulu hati Kinan.

Di ujung meja, tubuh Kinan seketika menegang kaku. Sepasang matanya menggelap sempurna, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat beberapa staf eksekutif di sekitarnya mendadak merasa merinding tanpa sebab. Di bawah meja, tangan Kinan mencengkeram lututnya sendiri begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak cemburu dan amarah yang nyaris meledakkan akal sehatnya.

Wanita itu adalah miliknya. Jauh sebelum Aris menyentuhnya, Neya adalah milik Kinan. Dan melihat wanita yang dipujanya kini bersikap begitu mesra dan bersandar penuh pada pria lain di depan matanya sendiri, membuat darah Kinan terasa mendidih hingga ke ubun-ubun.

Neya melirik sekilas ke arah ujung meja melalui sudut matanya. Melihat rahang Kinan yang mengeras kaku dengan urat-urat leher yang menonjol menahan amarah, sudut bibir Neya batinnya tersenyum puas. Sandiwara kemesraan ini bekerja dengan daya hancur yang luar biasa pada mental pria itu.

Untuk memberikan pukulan terakhir, Neya sengaja berakting sedikit manja. Ia sedikit menyandarkan kepalanya di bahu tegap Aris selama beberapa detik sembari pura-pura membaca dokumen, memperlihatkan keelokan tubuhnya yang tampak begitu pas dan dilindungi di dalam pelukan Aris. Gestur itu terlihat begitu tulus dan polos di mata orang lain, namun bagi Kinan, itu adalah sebuah siksaan batin yang paling kejam.

"Baik, presentasi dari pihak kami sudah selesai, Pak Kinan," ucap Aris akhirnya, memecah keheningan sembari melepaskan rangkulannya pada Neya untuk merapikan berkas. "Bagaimana menurut pandangan Anda?"

Kinan membutuhkan waktu beberapa detik sebelum mampu bersuara. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa topeng profesionalismenya yang sudah hancur lebur di dalam dada. Ketika ia menatap Aris, matanya memancarkan permusuhan yang begitu tajam, membuat atmosfer di dalam ruang rapat mendadak berubah mencekam dan sedingin es.

"Saya rasa... ada beberapa detail yang masih perlu saya evaluasi secara pribadi," jawab Kinan dengan suara yang teramat berat, dalam, dan bergetar menahan luapan emosi yang bergemuruh. Pandangannya perlahan beralih dari Aris, lalu terkunci mati pada sepasang mata bulat Neya yang menatapnya dengan kepolosan palsu. "Dan saya minta, Asisten Kreatif Neya yang tetap tinggal di ruangan ini setelah rapat selesai untuk menjelaskan detailnya kepada saya. Sendirian."

Mendengar instruksi yang sarat akan tuntutan terselubung itu, Neya tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Di balik wajahnya yang berpura-pura terkejut dan canggung di hadapan Aris, sepasang mata bulat Neya justru berkilat dengan kemenangan yang dingin. Umpannya tidak hanya termakan, tetapi kini sang singa telah sepenuhnya masuk ke dalam sangkar yang ia buat, siap meledakkan kewarasannya demi merebut kembali apa yang ia kira miliknya.

Satu per satu jajaran direksi dan staf eksekutif melangkah keluar dari ruang rapat utama, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa begitu berat dan menyesakkan. Aris sempat mengerutkan dahinya, merasa agak janggal dengan permintaan mendadak dari CEO Wijaya Corp tersebut. Namun, pria itu akhirnya memiliki alasan kuat untuk menyetujuinya tanpa curiga.

Ponsel kerja milik Aris tiba-tiba bergetar hebat, menampilkan notifikasi darurat dari sistem server pusat perusahaannya. Ia harus segera melakukan login menggunakan sistem keamanan ganda (autentikasi biometrik) yang hanya bisa diakses melalui laptop pribadinya di ruang tunggu luar, demi mengatasi kendala teknis penandatanganan berkas digital yang sedang tenggat waktu.

"Neya, Mas harus login ke sistem pusat di luar sebentar untuk mengurus berkas penawaran yang eror," bisik Aris sembari mengusap lengan Neya dengan lembut. "Kamu jelaskan saja detail revisinya pada Pak Kinan, ya? Mas tidak akan lama."

Neya mengangguk pelan, memberikan senyuman manis yang tampak sangat patuh. "Iya, Mas. Jangan khawatir."

Begitu pintu kaca ruang rapat tertutup rapat di belakang punggung Aris, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang luas itu, atmosfer seketika berubah drastis. Ketegangan profesional yang semula membungkus ruangan runtuh begitu saja, digantikan oleh jalinan emosi yang teramat pekat, intens, dan menyesakkan dada.

Kinan tidak langsung meledak. Pria itu berdiri dari kursinya perlahan, melangkah mendekat dengan tatapan mata elang yang mengunci pergerakan Neya. Ia berhenti tepat di seberang meja tempat Neya duduk, lalu meletakkan sebuah berkas dengan ketukan pelan.

"Sistem email kantor pusat sengaja saya perbaiki pagi ini setelah sempat eror sejak kemarin siang," suara Kinan terdengar rendah, berat, dan sarat akan penekanan tersembunyi. "Dan saya menemukan lampiran janggal di dokumen laporan yang kamu kirim, Asisten Kreatif Neya. Sebuah koordinat pengerjaan proyek yang... seolah sengaja ditulis untuk memberi tahu saya di mana kamu berada hari ini."

Neya terdiam, jemarinya yang sedang memegang pena sedikit menegang.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!