Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Amir sedikit sadar
"Nak, maafkan aku yang tidak bisa menguburkan dirimu dengan sangat layak." Pak Hardi menangis sambil menatap tubuh yang kaku itu.
"Andai aku bisa menang mengambil keputusan maka aku pasti bisa menguburkan dirimu, akan ku tanggung semua rasa malu dihadapan semua orang walau kau meninggal dengan cara bunuh diri." Pak Hardi menangis dengan air mata yang begitu deras.
Menatap tubuh yang terbujur begitu saja sehingga membuat siapa yang melihat pasti akan ketakutan dan sebagai keluarga tentu saja rasa sedih itu sangat besar di dalam hati, walau bagaimana ini adalah anak kandung dia sendiri sehingga timbul rasa tidak tega yang begitu besar di dalam hati pria tersebut.
Namun dia di sini kalah pamor sehingga tidak bisa untuk melakukan tindakan yang jauh lebih nekat bila dibandingkan dengan sang istri, jadi hanya bisa pasrah saja mengikuti kemauan dari Ningsih dan dengan alasan bahwa itu adalah kebaikan untuk mereka semua agar tidak tercoreng nama baik ini.
Hardi hanya bisa pasrah dan dia hanya berusaha untuk membujuk agar Ningsih berubah pikiran dan mereka akan menguburkan mayat Anisa, jelas itu adalah pilihan yang terbaik dari pada hanya menyimpan mayat seperti ini dan itu entah sampai kapan mereka akan terus melakukan penyimpanan mayat dari Anisa itu sendiri.
Sedih dan juga marah bercampur di dalam hati pria tua ini namun dia tidak bisa mengambil tindakan yang tepat, terkadang ada niat untuk memberontak agar sang istri paham bahwa yang dia lakukan itu adalah kesalahan besar, namun di sisi lain dia juga tidak memiliki power tersebut sehingga mau tidak mau hanya bisa berdiam diri.
Namun ketika melihat mayat sang anak maka rasa sedih dan juga tidak terima itu kembali muncul di dalam hati ini, andai saja bisa maka akan dia gotong saat ini mayat Anisa dan dia kuburkan secara layak walau seorang diri namun tetap saja mayat Anisa harus segera di kubur.
"Tidak, kalau aku turuti ucapan dia maka aku sama saja menyiksa mayat Anisa." pak Hardi tiba-tiba muncul niat di dalam hati.
"Aku harus bisa melawan Ningsih dan menguburkan Anisa secara layak, saat masih hidup dia sudah menderita dan meninggal seperti ini masih harus merasakan derita yang tidak terkira." hati Pak Hardi sungguh tidak bisa menerima Ini semua.
"Ayo, Nak." pak Hardi segera menggotong mayat sang anak dari dalam kulkas yang ada di rumah mereka.
Buaaaaaak.
"Apa yang akan kau lakukan kepada mayat Annisa ini?!" Ningsih muncul dan langsung menghantam kepala pak Hardi menggunakan kayu yang cukup besar.
"Ah!" pak Hardi merintih sembari memegang kepala dia yang terasa sangat sakit sekali.
"Aku sudah bilang kepada dirimu agar tidak mencari masalah dan biarkan saja dia ada di dalam kulkas ini." bentak Ningsih dengan mata melotot.
"Kau! kenapa kau sangat tega kepada anak kita sendiri?" pak Hardi juga berteriak walau masih merasakan sakit.
Ningsih menarik nafas panjang dan dia segera menutup kulkas itu agar tidak menimbulkan aroma yang tidak sedap, freezer itu lah yang menjadi tempat penyimpanan mayat Annisa agar dia tidak di temukan oleh orang lain dan akan selamanya membeku di dalam freezer sehingga mereka tidak perlu menguburkan mayat gadis gemuk itu.
"Sekali lagi ada niat di dalam hati mu itu untuk menguburkan dia maka aku tidak akan pernah sungkan untuk membunuh dirimu!" ancam Ningsih tidak main-main.
"Kau sedang mengancam aku sekarang?" pak Hardi seolah tidak percaya.
"Ya!" Ningsih menjawab dengan lantang dan mata melotot.
"Bunuh sajak aku sekarang biar aku menemani Anisa di alam sana!" bentak pak Hardi juga.
Gigi Ningsih sampai gemeletuk karena menahan rasa emosi yang ada di dalam diri mendengar tantangan dari pak Hardi itu barusan, tangan dia sudah terkepal erat dan bila tidak menahan diri maka pasti akan segera mengambil tindakan untuk melakukan kekerasan kepada suami dia sendiri.
...****************...
"Kenapa kamu termenung seperti itu, Mas?" Kinan bertanya kepada Amir yang sedang duduk diam sendirian di ruang tamu.
"Ah hanya kepikiran tentang Joko dan juga Tamrin." Amir tersenyum kepada sang istri.
"Mereka meninggal karena pembunuhan ya?" Kinan bertanya lebih jauh karena dia juga tidak berani untuk menyimpulkan sendiri.
Amir bingung untuk menjawab apa karena dia juga tidak tahu apa itu memang murni pembunuhan atau ada masalah lain, namun yang jelas Joko dan juga Tamrin meninggal dunia dalam keadaan yang sama sehingga wajar saja bila banyak orang yang curiga bahwa mereka berdua mati karena pembunuhan sadis.
"Keadaan mayat sangat sama sekali dan mungkin pembunuh itu adalah orang yang sama." Kinan berkata dengan serius.
"Jangan berbicara seperti itu karena kita belum tahu pasti juga." cegah Amir kepada sang istri.
"Tapi kalau melihat luka yang ada di leher mereka pasti itu sangat menyakitkan ya, siapa yang sudah tega melakukan perbuatan kejam seperti itu." Kinan sampai merinding.
Bukan hanya Kinan saja yang merinding tapi Amir juga merasakan hal yang sama, bahkan dia sudah mulai takut bila nanti dirinya akan mengalami hal seperti itu juga. sebab malam itu mereka bersama-sama membicarakan sesuatu dan Amir masih belum paham pembicaraan mana yang telah membuat masalah sampai sejauh ini.
"Eh Arumi sudah semalam ini baru pulang, beberapa hari ini aku lihat dia juga terlihat sangat murung sekali." Kinan menatap Arumi yang lewat menggunakan motor.
"Dia banyak kena gosip karena perbedaan antara dirinya dan juga Anisa, bahkan bapak-bapak juga membicarakan hal itu." jawab Amir.
"Kasihan juga dengan Anisa tapi kadang aku kesal karena dia sangat angkuh dan kalau menjawab pertanyaan orang sangat ketus sekali." Kinan berkata pelan.
"Ya pasti paket lengkap karena sudah buruk rupa malah buruk hati juga." Amir mengikuti kata hati.
"Eh Kamu jangan ngomong gitu dong kan nanti kasihan juga kalau dia sampai dengar." Kinan memberi nasehat kepada sang suami.
"Kemaren Joko dan yang lain juga membicarakan hal itu....
Amir sontak terdiam ketika dia baru ingat bahwa ketika malam yang terasa mencekam itu mereka sedang membicarakan Anisa, bahkan Joko dan Tamrin sempat mengatakan bahwa Anisa adalah gadis yang sangat buruk rupa sekali sehingga mereka melihat pun sangat muak.
"Tapi apa hubungannya membicarakan Anisa dengan kematian mereka?" Amir tertegun sendirian karena tidak paham juga.
Itu tadi hanya terlintas pada kepala dia Dan setelah menyadari kembali maka Amir merasa itu semua tidak ada sangkut paut, sebab Dia juga mengetahui bahwa keluarga Anisa adalah orang yang cukup dekat dengan agama sehingga tidak mungkin bila melakukan hal buruk seperti santet.
selamat malam semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang