Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Cara seorang Immortal bertarung
Wang Chan berdiri di hadapan Nuan Shuang, tangan mereka masih bertaut.
Hangat dari telapak tangan wanita itu merambat ke kulitnya, bukan hangat yang membakar, tapi hangat yang menenangkan, seperti sinar matahari pagi setelah malam yang panjang.
"Tolonglah," katanya pelan. "Ajari aku."
Nuan Shuang tersenyum. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi misterius, tidak lagi menggoda.
Ada api kecil di matanya, api yang tidak pernah padam, api yang telah menyala selama ratusan tahun menunggu saat ini.
"Bagus."
Ia melepaskan genggaman tangan Wang Chan, lalu berjalan ke tengah ruangan yang lebih luas.
Langkahnya anggun, jubah putihnya berkibar pelan, dan rambut peraknya berkilau di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela.
Dengan gerakan yang lembut, Nuan Shuang menunjuk lantai di hadapannya.
"Duduk bersila. Tutup matamu. Dan buka Mata Immortal mu."
Wang Chan menurut.
Ia duduk di lantai kayu yang dingin dan mengkilap, menyilangkan kaki, meluruskan punggung, dan menutup matanya.
Napasnya ia atur, perlahan, dalam, membuang segala kegelisahan yang masih tersisa di pikirannya.
"Mata Immortal... buka."
Dunia di sekitarnya berubah.
Pandangannya menembus dinding rumah, menembus langit-langit kayu, menembus awan-awan putih yang bergulung lembut di atas Kota Jiang.
Ia bisa melihat aliran Qi di udara, ribuan benang tak kasat mata yang menghubungkan segala sesuatu.
Bisa merasakan getaran energi dari makhluk-makhluk hidup di kejauhan, dari burung yang bertengger di atap, dari tikus yang bersembunyi di celah-celah dinding, dari rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu.
Wang Chan bisa melihat Nuan Shuang berdiri. Tapi tidak seperti biasanya.
Tubuh wanita itu, yang selama ini ia lihat sebagai daging dan darah, kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang luar biasa.
Nuan Shuang diselimuti cahaya keemasan yang terang. Sangat terang.
Cahaya itu memancar dari setiap pori tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki, menciptakan aura yang agung dan menakjubkan.
Ia seperti matahari kecil yang berdiri di tengah ruangan itu, hangat, kuat, dan sedikit menyilaukan.
"Kau lihat aku?" Suara Nuan Shuang terdengar jelas di kepalanya, meskipun bibir wanita itu tidak bergerak.
Wang Chan mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata.
Keindahan itu terlalu besar untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Itu adalah esensi sejati seorang kultivator alam atas. Apa yang kau lihat sekarang bukanlah tubuh fisikku, tapi jiwaku. Energi asliku."
Wang Chan terkesima. Cahaya itu begitu murni, begitu kuat, begitu sempurna.
Tidak ada cacat. Tidak ada noda. Hanya kemurnian yang absolute.
"Di alam bawah ini, kultivator hanya bisa melihat fisik," lanjut Nuan Shuang. "Tapi dengan Mata Immortal, kau bisa melihat esensi. Melihat jiwa. Melihat kebenaran di balik ilusi."
Wang Chan menghela napas perlahan. Ia merasa kecil di hadapan cahaya itu. Tapi anehnya, ia tidak takut.
Ada rasa aman yang aneh, seperti berada di dekat sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, tapi tidak mengancam.
"Teknik yang akan kuajarkan padamu disebut Transformasi Iblis Langit," kata Nuan Shuang. Suaranya berubah serius, tidak ada lagi nada bercanda. "Ini adalah teknik kultivator aliran iblis. Tidak ada seorang pun di alam bawah ini yang menguasainya."
Wang Chan membuka matanya. Dunia kembali normal.
Dinding-dinding kayu, lantai mengkilap, dan Nuan Shuang berdiri di depannya dengan senyum tipis.
Wang Chan menatap Nuan Shuang dengan tatapan serius.
"Kenapa kau memberikannya padaku? Dan apa teknik itu aman digunakan?"
Dia tidak bodoh. Aliran iblis selalu memiliki risiko.
Teknik iblis sering kali memakan korban, merusak tubuh, atau meminta harga yang tidak sebanding dengan kekuatan yang diberikan.
Wang Chan tidak ingin menjadi boneka atau budak tekniknya sendiri.
Nuan Shuang mendekat.
Tangannya terangkat, lalu dengan lembut ia menjentik dahi Wang Chan. Suara kecil terdengar di ruangan yang sunyi.
"Bocah sialan. Sabar sedikit."
Nuan Shuang tertawa kecil, tapi matanya tetap lembut.
"Kau adalah pilihanku. Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu mati atau cacat karena teknikku sendiri. Anggap saja teknik ini sebagai bentuk ketulusanku padamu. Sebagai hadiah."
Wang Chan mengangguk. Ada kelegaan kecil di hatinya.
Nuan Shuang tidak berbohong, setidaknya ia bisa merasakan itu. Tidak ada getar ketidakjujuran di suaranya, tidak ada kilas tipu daya di matanya.
"Ada satu hal lagi," Wang Chan memberanikan diri. "Di alam atas, apa aku bisa membawa orang lain?"
Nuan Shuang sedikit terkejut.
Alisnya naik, matanya membuka sedikit lebih lebar, lalu menyipit lagi dengan senyum nakal yang membuat Wang Chan langsung menyesal bertanya.
"Hoo~" Nuan Shuang memiringkan kepalanya, rambut peraknya jatuh lembut di bahu. "Sudah berpikir ingin membawa wanita lain?"
Wajah Wang Chan sedikit merona. Bukan karena malu, tapi karena kesal.
Kesal karena Nuan Shuang selalu bisa membalikkan kata-katanya menjadi sesuatu yang membuatnya terlihat seperti buaya darat.
"Bukan begitu—"
"Aiyaaa~" Nuan Shuang memotong dengan nada menggoda. Tangannya melambai-lambai di depan wajah Wang Chan, seperti mengusir lalat yang mengganggu. "Sejujurnya aku tidak masalah kau ingin memiliki berapa wanita. Terserah. Asal..."
Ia mendekat. Wajahnya sekarang hanya berjarak beberapa sentimeter dari Wang Chan.
Matanya yang hijau zamrud menatap lurus ke mata Wang Chan, dan senyumnya yang tadinya nakal kini berubah menjadi senyum yang lebih dalam, lebih bermakna.
"Asal aku selalu jadi yang pertama."
Wang Chan menghela napas panjang.
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang mulai terasa gatal karena sisa-sisa ketegangan.
"Sudahlah. Untuk sekarang aku tidak akan memikirkan itu dulu."
Nuan Shuang tertawa kecil. Suaranya ringan, seperti lonceng angin yang berdentang lembut.
"Bijak sekali kau, Wang Chan. Memikirkan masa depan sebelum menguasai masa kini. Itu bukan sifat buruk, hanya saja... jangan sampai terlalu banyak berpikir hingga kau lupa untuk bertindak."
Ia mundur selangkah, kembali ke posisi semula di tengah ruangan.
"Baiklah. Mari kita mulai."
Wang Chan mengangguk sekali lagi. Kali ini lebih tegas.
Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mempersiapkan dirinya untuk pelajaran pertama dari Nuan Shuang.
Di luar jendela, matahari pagi semakin tinggi. Burung-burung berkicau riang.
Wang Chan menarik napas dalam.
Teknik Transformasi Iblis Langit.
Aliran iblis.
Ini gila.
Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
"Aku mendengarkan," bisiknya pelan.
Nuan Shuang tersenyum.