Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Hari yang dinanti sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Jenazah ibu Aluna yang selama ini masih disimpan di luar negeri karena proses administrasi, akhirnya berhasil dipulangkan ke tanah air.
Rumah duka didirikan sementara di halaman rumah tua keluarga Mahendra. Kursi-kursi plastik berjajar di bawah tenda putih, dan beberapa karangan bunga diletakkan di sisi peti. Tamu berdatangan dengan wajah-wajah yang pelan dan bicara yang rendah.
Aluna berdiri di depan peti mati yang tertutup rapat. Kedua tangannya memegang sisi kayu itu, dan air matanya terus mengalir. Orang-orang di sekitarnya bergerak dan berbisik-bisik, tapi semua itu terasa jauh. Yang ada di depannya hanya peti itu.
Ia belum sempat berbakti. Ia tidak ada di sisi ibunya saat perempuan itu sakit dan menghembuskan napas terakhirnya di negeri orang. Tidak ada tangan yang digenggam, tidak ada kata terakhir yang sempat diucapkan.
"Bu... akhirnya pulang juga." Suara Aluna nyaris tidak terdengar. "Maafkan Aluna. Aluna tidak bisa ada di sisi Ibu waktu itu."
Arka berdiri di sampingnya. Ia melingkarkan lengannya di bahu Aluna. "Sudah, sayang. Ibu kamu sudah tenang sekarang."
Aluna tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya dan terus menangis pelan.
Tidak jauh dari tempat Aluna berdiri, Nyonya Soraya berjalan mendekati Arka dengan langkah yang tergesa. Wajahnya tidak menyembunyikan ketidaksukaannya.
"Arka, kemari sebentar." Suaranya rendah tapi ada tekanan di sana.
Arka melirik ke arah Aluna sebentar, memastikan istrinya baik-baik saja, lalu mengikuti ibunya menjauh beberapa langkah.
"Ada apa, Bu?" tanya Arka.
"Biaya pemakaman ini tidak sedikit." Nyonya Soraya menyilangkan tangannya di dada. "Biaya pengiriman jenazah, peti, selamatan, semuanya mahal."
"Kita sedang dalam kondisi keuangan yang sangat terbatas." Nyonya Soraya menurunkan suaranya. "Uang hasil jual rumah itu tinggal sedikit untuk operasional perusahaan. Ini malah dipakai untuk hal seperti ini."
"Bu." Arka menatap ibunya. "Itu ibu dari istriku. Itu nenek dari anakku."
"Walaupun beliau sudah tiada, dia tetap orang yang berjasa membesarkan Aluna." Arka berbicara dengan tenang. "Biaya itu tidak seberapa dibandingkan pengorbanannya selama ini. Biarkan Aluna mengantar ibunya dengan cara yang layak."
Nyonya Soraya mendengus. "Halah, alasan saja." Ia berbalik dan berjalan pergi.
Aluna yang berdiri tidak jauh dari sana mendengar samar-samar percakapan itu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk dan mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Ia sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Tapi di hari seperti ini, setiap kata terasa lebih berat dari biasanya.
Setelah prosesi pemakaman selesai dan doa bersama dipanjatkan, suasana berangsur tenang. Tamu-tamu pulang satu per satu. Tenda mulai dibereskan, kursi-kursi dilipat dan diangkut pergi.
Aluna duduk sendirian di kursi plastik yang masih tersisa, menatap tanah di depannya. Arfan ada di pangkuannya, tidur dengan napas yang teratur dan tenang. Aluna memandangi wajah bayinya itu lama sekali.
Arka datang dan duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Ia hanya ada di sana, dan itu cukup.
Beberapa hari berlalu setelah itu.
Aluna masih sering diam. Ia menghabiskan waktu di kamar, atau duduk di teras belakang sambil menggendong Arfan dan menatap halaman yang tidak banyak berubah dari hari ke hari. Makan kadang tidak habis. Tidur kadang terlambat.
Arka memperhatikannya, tapi tidak memaksanya untuk segera baik-baik saja. Ia tahu kesedihan seperti itu butuh waktu.
Raka yang akhirnya punya cara lain.
Suatu pagi, ia mengetuk pintu kamar Aluna dan melongokkan kepalanya masuk. "Non, ayo jalan-jalan sebentar. Ke taman, santai saja."
Aluna mengangkat kepalanya dari buku yang sedang ia pegang tapi tidak ia baca. "Jalan-jalan?"
"Iya." Raka melangkah masuk dan langsung mengambil topi bayi Arfan dari atas meja. "Kasihan Arfan, dari kemarin cuma di dalam terus. Butuh udara segar."
Aluna menatap bayinya sebentar. Arfan sedang terjaga, matanya bergerak-gerak mengikuti sesuatu di langit-langit kamar. "Baiklah," kata Aluna akhirnya.
Mereka berjalan menyusuri trotoar di kawasan sekitar rumah. Aluna mendorong stroller dengan pelan sementara Raka berjalan di sampingnya. Udara pagi masih sejuk dan jalan belum terlalu ramai.
Aluna mulai sedikit lebih santai. Ia memperhatikan pohon-pohon di pinggir jalan, beberapa burung yang hinggap di pagar, dan sesekali menunduk untuk melihat Arfan di dalam stroller.
Mereka sedang berjalan di trotoar ketika sebuah mobil sedan hitam melaju pelan dari arah berlawanan dan berhenti tepat di depan mereka.
Kaca jendela diturunkan. Seorang pria dengan setelan jas rapi melihat ke luar. Begitu matanya bertemu dengan wajah Aluna, ekspresinya langsung berubah. Ia membuka pintu dan turun dari mobilnya.
"Aluna?" Pria itu berdiri di sisi mobil, menatap Aluna dengan ekspresi tidak percaya.
Aluna berhenti mendorong stroller. Ia memperhatikan wajah pria itu dari jarak beberapa langkah. Familiar, tapi seperti berasal dari ingatan yang sudah lama terlipat.
"Maaf, Bapak siapa?" tanya Aluna hati-hati.
"Ini aku, Kenzi!" Pria itu tertawa kecil dan melangkah mendekat. "Kenzi, anaknya Bu Ratna. Dulu rumah kita bersebelahan sama warung ibumu. Kita sebangku waktu SMP, ingat tidak?"
Aluna terdiam sebentar. Matanya mengerjap. Lalu sesuatu di wajahnya berubah. "Mas Kenzi?"
"Iya!" Kenzi tertawa. "Gila, tidak nyangka bisa ketemu di sini."
Raka yang berdiri di sebelah Aluna ikut tersenyum melihat reaksi keduanya.
Kenzi memandang ke arah stroller. "Sudah punya anak juga ya? Ganteng sekali. Siapa namanya?"
"Arfan." Aluna tersenyum dan menunduk sebentar ke arah bayinya. "Mas Kenzi sendiri bagaimana? Kelihatannya sudah sukses sekarang."
"Alhamdulillah." Kenzi menggaruk kepalanya. "Lagi ngurusin beberapa bisnis properti. Rezeki lancar, syukurlah." Ia menatap Aluna lagi, lalu ekspresinya sedikit berubah. "Eh, ibu kamu bagaimana? Dulu kan sering sakit-sakitan."
Wajah Aluna berubah. Ia menunduk sebentar sebelum menjawab. "Ibu sudah meninggal, Mas. Baru beberapa hari lalu dimakamkan."
Kenzi diam. Senyumnya menghilang. "Ya Allah..." Suaranya pelan. "Turut berduka cita ya, Non. Aku tidak tahu sama sekali."
"Iya, Mas. Terima kasih." Aluna menarik napas pelan. "Alhamdulillah sekarang Aluna sudah ada keluarga dan suami yang baik yang menemani."
"Syukurlah." Kenzi mengangguk pelan. Ia lalu melirik ke arah Raka. "Maaf, belum kenalan. Saya Kenzi, teman masa kecilnya Aluna."
Raka menjabat tangannya. "Saya Raka, adiknya suami Aluna. Silakan main ke rumah kalau sempat."
"Pasti." Kenzi tersenyum. "Kebetulan rumah saya juga tidak jauh dari sini." Ia berpaling ke Aluna. "Kita bisa ketemu lagi ya, Non. Sudah lama banget tidak ngobrol."
"Iya, Mas. Aluna juga senang bisa ketemu lagi." Aluna mengangguk. "Tidak nyangka ternyata kita tinggal di daerah yang sama sekarang."
Kenzi berpamitan, masuk ke mobilnya, dan melambai sebelum mobilnya perlahan menjauh dan hilang di tikungan.
Raka melirik ke arah Aluna. "Teman masa kecil yang ternyata sudah sukses ya, Non."
"Iya." Aluna mendorong stroller kembali berjalan. "Aluna juga tidak nyangka bisa ketemu dia di sini."
"Kelihatannya orangnya baik," kata Raka sambil ikut melangkah.
"Iya, Mas Kenzi memang selalu baik dari dulu." Aluna tersenyum kecil. "Waktu SMP dia sering berbagi bekal sama Aluna kalau Aluna lupa bawa makan siang."
Raka tertawa pelan. "Berarti sudah teruji dari dulu."
Mereka melanjutkan jalan kaki. Aluna tidak lagi diam seperti tadi. Sesekali ia berbicara, sesekali ia menoleh ke arah Arfan di dalam stroller yang mulai terlihat mengantuk.
Hari itu tidak mengubah banyak hal. Rumah yang menunggu di ujung jalan masih sama, dan masalah yang ada di dalamnya juga masih sama. Tapi setidaknya ada satu hal kecil yang berbeda dari pagi ini. Aluna pulang dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari sebelumnya.