Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kepercayaan
Mobil militer melaju membelah jalanan pegunungan yang berkelok, kembali menuju kota. Di dalam kendaraan utama, suasana terasa hening namun sarat beban. Putra menyetir dengan wajah tegas, sesekali melirik ke arah kursi penumpang di sebelahnya. Di sana, Citra duduk kaku, tangannya menggenggam ponsel dengan erat, layarnya masih menampilkan foto yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Di kursi belakang, Andi masih tertidur pulas, bersandar nyaman di bahu Kolonel Bayu yang duduk diam dengan raut wajah serius.
"Mas..." panggil Citra pelan, suaranya bergetar namun jelas. Ia memutar layar ponselnya ke arah Putra. "Lihatlah baik-baik sosok di sudut foto ini. Gerak-geriknya, potongan rambutnya, cara dia berdiri... kau tidak merasa ada yang familier?"
Putra mengalihkan pandangannya sejenak, matanya menajam meneliti bayangan wanita yang berdiri di belakang Dinda, tangan memegang pisau di leher wanita itu. Detik berikutnya, tangan Putra yang memegang kemudi mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah dingin dan penuh keterkejutan bercampur amarah.
"Itu... tidak mungkin," gumam Putra parau. "Itu gaya berjalan, cara membelai rambut, dan cara berdiri yang sama persis dengan... Bu Ratih. Istri dari almarhum sahabat ayahku, wanita yang selama ini sering datang ke rumah, yang selalu menganggapku seperti anak sendiri. Wanita yang kemarin saja masih membawakan kue dan bertanya kabar kita."
Citra mengangguk pelan, air mata kembali menggenang namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kenyataan pahit yang semakin terungkap. "Aku juga menyadarinya, Mas. Aku selalu merasa ada yang aneh sejak kejadian demi kejadian menimpa kita, tapi aku selalu menepisnya karena dia orang yang sangat kita percayai. Dia yang selalu ada saat kita susah, dia yang memberi nasihat, dia yang seolah menjadi penengah. Ternyata... semua itu hanya topeng. Dia bukan sekadar kaki tangan Wijaya. Seperti yang dikatakan pesan itu... dia adalah dalang sesungguhnya di balik segalanya."
"Kenapa?" tanya Putra keras, suaranya meninggi karena emosi yang meluap. "Apa salah ayahku padanya? Apa salah keluargaku padanya? Kenapa dia begitu membenci kita hingga rela menghancurkan seluruh hidup orang lain, menculik, membohongi, dan membunuh demi tujuannya sendiri?"
"Semua ada alasannya, Mas. Dan aku yakin, rahasia itu tersimpan erat di hati Bu Ratih. Dan sekarang... dia memegang nyawa Kak Dinda," jawab Citra mantap. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri dan berpikir jernih sebagai seorang dokter dan istri seorang prajurit. "Pesan itu memperingatkan agar kita tidak mencarinya. Artinya, dia tidak ingin kita mendekat. Artinya, dia punya sesuatu yang dia sembunyikan mati-matian, sesuatu yang akan hancur jika kita sampai ke sana."
Kolonel Bayu yang mendengar percakapan itu dari kursi belakang, menghela napas panjang sambil menatap Andi yang masih tidur lelap. Wajah tua itu tampak sedih dan kecewa.
"Aku sudah curiga sejak lama ada tangan lain yang bergerak di balik layar," ucap Kolonel Bayu pelan namun berat. "Wijaya terlalu arogan, terlalu kasar, dan terlalu ambisius untuk menyusun rencana serumit ini bertahun-tahun lamanya. Ada sentuhan halus, kejam, dan penuh perhitungan di setiap langkah kehancuran yang menimpa keluarga kita. Sentuhan seorang wanita yang memendam dendam mendalam. Ratih... aku kenal dia sejak muda. Dia wanita yang cerdas, tapi hatinya selalu dipenuhi rasa iri dan rasa tidak puas. Dulu dia sangat mengagumi ayahmu, Putra, tapi ayahmu memilih ibumu. Dan dia selalu iri pada kebahagiaan dan kehormatan yang selalu diraih oleh ayahmu dan Haris Lestari, ayahmu Citra."
Kolonel Bayu terdiam sejenak, menatap langit malam yang gelap di luar jendela mobil.
"Dendam itu tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Saat Wijaya mulai berniat berkhianat, dia menemukan pendamping jiwa yang tepat pada Ratih. Mereka bersekongkol, saling melengkapi kelemahan satu sama lain. Wijaya mengurus kekuasaan dan uang, Ratih mengurus rencana, informasi, dan penyamaran. Dia masuk ke dalam kehidupan kita, menjadi bagian dari keluarga kita, hanya untuk memata-matai dan memastikan setiap rencana jahat mereka berjalan mulus."
Hening kembali menyelimuti mobil itu. Semuanya kini masuk akal. Mengapa mereka selalu kalah langkah, mengapa musuh selalu tahu persis ke mana mereka pergi dan apa rencana mereka. Musuh terbesar mereka bukan hanya ada di luar, tapi sudah masuk jauh ke dalam pagar rumah sendiri, duduk di meja makan yang sama, dan berbicara dengan nada kasih sayang yang palsu.
"Kalau begitu, Wijaya hanyalah pion besar, dan Bu Ratihlah Ratu Catur yang menggerakkan semuanya," simpul Putra dingin. Ia menatap tajam ke jalanan di depannya, tekadnya semakin mengeras. "Dia bilang jangan cari dia, kalau tidak Dinda mati. Tapi dia salah satu hal... dia tidak tahu siapa kita. Dia tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tentara yang tidak kenal menyerah, dan seorang dokter yang rela berkorban demi keluarga."
Putra menoleh ke arah Citra, sorot matanya berubah lembut namun penuh kekuatan. "Citra, kau lihat betapa rumitnya takdir ini? Dulu kita dijodohkan secara paksa, benci-membenci, menganggap satu sama lain sebagai hukuman. Tapi lihatlah sekarang... hanya dengan bersamamu aku bisa melihat kebenaran. Hanya denganmu di sisiku aku punya kekuatan untuk melawan kegelapan ini. Kau bukan sekadar istri pilihkan orang tua bagiku. Kau adalah kekuatan terbesarku."
Wajah Citra memerah, rasa haru dan cinta yang mendalam memenuhi dadanya. Ia meraih tangan suaminya yang bebas, menggenggamnya erat.
"Dan kau juga begitu bagiku, Mas. Dulu aku pikir aku akan hidup menderita bersamamu, tapi kau membuktikan bahwa kau adalah pria paling setia dan berani. Kita berdua adalah dua bagian yang terpisah, yang dipaksa bersatu, dan ternyata... itulah satu-satunya cara untuk menyatukan kembali kebenaran dan keadilan bagi kedua keluarga kita."
Perjalanan itu berlanjut dalam keheningan yang penuh rencana. Sesampainya di kediaman utama keluarga itu, suasana yang biasanya hangat kini terasa berbeda. Di balik setiap sudut, seolah ada mata yang mengawasi. Mereka turun dari mobil, Putra masih menggendong Andi yang mulai terbangun dengan mata berbinar bingung namun tenang saat melihat wajah ayahnya.
"Ayah... kita sudah sampai?" tanya Andi lirih, mengucek matanya. Ia melirik ke arah Citra yang berjalan di sampingnya. "Ibu Citra... apakah aku boleh tinggal di sini selamanya? Tidak ada orang jahat lagi kan?"
Citra tersenyum hangat, mencium kening anak itu. "Ya, Nak. Di sini rumahmu. Di sini aman. Dan kami akan pastikan tidak ada siapa pun yang bisa menyakitimu lagi."
Namun, saat mereka melangkah masuk ke beranda rumah, langkah kaki mereka terhenti serentak. Di sana, duduk santai di kursi tamu dengan secangkir teh di tangannya, ada Bu Ratih. Wanita itu tersenyum ramah, berdiri menyambut mereka seolah tidak terjadi apa-apa, seolah dia bukanlah orang yang mengancam nyawa kakak kandung Citra beberapa jam yang lalu.
"Ah, kalian sudah pulang," sapa Bu Ratih lembut, suaranya terdengar begitu tulus dan bersahaja. Ia menatap Andi dengan senyum yang tampak penuh kasih, namun di kedalaman matanya terselip kilatan dingin yang mengerikan. "Ini pasti Andi... anak yang selama ini hilang. Wah, dia sangat tampan, persis seperti Putra saat kecil. Selamat ya, kalian akhirnya menemukan dia. Sungguh kabar yang membahagiakan."
Putra dan Citra saling pandang, menahan amarah yang hampir meledak. Di hadapan mereka berdiri musuh utama, pembuat mimpi buruk bertahun-tahun, orang yang mereka percayai seumur hidup, dan dia berdiri di sana, tersenyum manis seolah tak berdosa sedikit pun.
"Terima kasih, Bu," jawab Putra dingin, nada bicaranya berubah sopan namun tajam, menatap lurus ke mata wanita itu tanpa berkedip. "Kami memang menemukan dia. Dan kami juga menemukan banyak sekali kebenaran lain yang selama ini tersembunyi. Termasuk... siapa saja yang sebenarnya menjadi musuh kami."
Senyum Bu Ratih sedikit bergetar, namun ia segera menutupinya dengan tawa kecil. "Ah, kamu ini selalu saja bercanda, Putra. Musuh kalian sudah ditangkap kan? Wijaya dan anak buahnya sudah diamankan. Sekarang saatnya kalian bahagia, menyatukan keluarga, dan melupakan masa lalu yang kelam itu."
"Ya... Wijaya hanya pion," potong Citra tajam, melangkah maju mendekati wanita itu, naluri dokter dan keberaniannya sebagai istri tentara membuatnya tak gentar. "Tapi pion selalu bergerak atas perintah Ratu, Bu. Dan kami tahu persis siapa Ratu di permainan catur ini."
Wajah Bu Ratih memucat seketika. Senyumnya lenyap berganti ekspresi kaget yang tertahan. Ia melirik sekilas ke arah ponsel yang terselip di saku Citra, lalu kembali menatap pasangan suami istri itu dengan pandangan yang berubah total. Kini tak ada lagi kelembutan atau keramahan. Kini terlihatlah wujud aslinya: mata yang tajam, penuh kebencian, dan arogansi yang luar biasa.
"Kalian... lebih cerdas dari yang aku duga," ucap Bu Ratih pelan, suaranya berubah kasar dan dingin. Ia tidak lagi menyembunyikan apapun. Di belakangnya, beberapa orang pria berbadan kekar yang menyamar sebagai tukang kebun dan staf rumah tangga perlahan keluar dari persembunyian, mengelilingi mereka. Kolonel Bayu yang berada di belakang langsung bersiap siaga, melindungi Andi di balik tubuhnya.
"Kalian pikir menangkap Wijaya atau menemukan anak kecil ini akan menyelesaikan segalanya?" ucap Bu Ratih sambil tertawa kecil yang mengerikan. Ia mengeluarkan ponselnya sendiri, menampilkan layar yang sama persis dengan yang ada di tangan Citra. Di layar itu, wajah pucat dan ketakutan Dinda terlihat jelas.
"Dinda ada di tanganku, di tempat yang kalian tidak akan pernah temukan. Kalian bisa saja membunuhku sekarang, tapi satu tekanan tombol saja dari jarak jauh, nyawa kakakmu akan melayang, Citra. Dan rahasia terbesar yang aku simpan selama dua puluh tahun ini akan terkubur selamanya bersamaku dan bersamanya."
Putra maju selangkah, menatap wanita itu dengan rasa jijik dan marah yang memuncak. "Apa yang kau inginkan, Ratih? Uang? Kekuasaan? Kau sudah punya segalanya, kenapa kau masih haus akan kehancuran kami?"
Bu Ratih tersenyum miring, matanya menyala penuh dendam purba yang membara. Ia melangkah mendekat, berbisik pelan agar hanya mereka yang mendengar.
"Aku tidak butuh uang atau kekuasaan, Putra. Aku hanya butuh satu hal... keadilan. Dua puluh tahun lalu, ayahmu mengambil segalanya dariku. Dia mengambil cintaku, dia mengambil tempatku, dia mengambil kebahagiaanku. Dan yang paling menyakitkan... dia menyimpan sebuah rahasia besar, sebuah peninggalan yang jauh lebih berharga dari tambang itu sendiri. Sebuah benda atau dokumen yang bisa mengubah sejarah dan memberi kekuasaan mutlak pada pemiliknya. Ayahmu memberikannya pada anak yang paling dia banggakan... padamu, Putra. Tapi dia tidak pernah memberitahumu di mana atau apa bendanya itu, bukan?"
Jantung Putra berdegup kencang. Ia ingat pesan terakhir ayahnya, petunjuk samar yang tak pernah ia mengerti selama ini.
"Rahasia itu... apa maksudmu?" tanya Putra tegas.
"Rahasia yang akan menjadi milikku sepenuhnya jika kalian menuruti kemauanku," jawab Ratih dingin. Ia kembali menatap Citra dengan pandangan penuh kebencian yang aneh. "Dan kau, Citra... kau dan kakakmu Dinda... keberadaan kalian saja sudah cukup membuatku muak. Kalian adalah bukti nyata betapa ayahmu lebih dipilih dan dihormati dibanding suamiku. Aku ingin kalian semua hancur, menderita, dan lenyap dari muka bumi ini. Dan hari ini... permainan kita masuk ke babak penentuan."
Ia mengangkat satu jari, memberi isyarat pada anak buahnya.
"Serahkan Andi padaku. Dan serahkan semua dokumen warisan yang kalian simpan. Tukar itu dengan nyawa Dinda. Kalian punya waktu dua puluh empat jam. Jika tidak... besok pagi, kalian akan menerima paket kiriman berisi kepala Dinda. Dan ingat... jangan coba-coba bergerak atau memanggil pasukan. Aku punya mata di mana-mana."
Ratih mundur perlahan, diiringi anak buahnya, lalu menghilang di balik pagar rumah seolah ditelan bumi, meninggalkan ancaman yang mencekam dan teka-teki baru yang lebih besar.
Di beranda rumah itu, keheningan kembali menyelimuti. Putra dan Citra saling pandang, sama-sama menyadari bahwa bahaya yang mereka hadapi kini jauh lebih nyata, jauh lebih pribadi, dan jauh lebih rumit. Rahasia peninggalan ayah yang belum terungkap, nyawa Dinda yang terancam, dan dendam Ratih yang tak berdasar namun mematikan.
Namun, di tengah keputusasaan itu, Andi menarik ujung baju Citra, lalu mengeluarkan benda kecil dari saku bajunya benda yang terselip bersama kalung penyelamat nyawanya itu. Sebuah gulungan kertas kecil yang tampak sangat tua, terbungkus plastik rapi.
"Ibu... Ayah... waktu Bibi Sari memberiku kalung itu, dia juga menyelipkan ini. Dia bilang, berikan ini hanya pada Ayah Putra dan Ibu Citra saja. Bilang... ini kunci untuk mengakhiri segalanya."
Putra dan Citra serentak menunduk, mata mereka terbelalak tak percaya. Dengan tangan gemetar, Putra mengambil gulungan kertas itu, membukanya perlahan. Di atas kertas kuning itu, tertulis tulisan tangan ayahnya, lengkap dengan peta dan petunjuk lokasi yang sangat spesifik lokasi yang ternyata bukan di tambang, tapi di sebuah rumah tua peninggalan nenek moyang mereka yang sudah lama ditinggalkan dan hampir tak ada yang ingat keberadaannya.
Bersambung...