NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 16: "Puing Percaya di Balik Pintu yang Tertutup"

​Malam di Kediri biasanya membawa ketenangan, namun bagi Shania, keheningan di rumah mungil mereka terasa seperti jeratan kawat berduri. Setelah kepulangan dari Surabaya, suasana tidak lagi hangat. Serpihan foto Fatimah yang dirobek Zain memang telah hilang dari lantai, namun di dalam benak Shania, potongan-potongan itu menyatu kembali, membentuk sebuah tembok raksasa yang memisahkan dirinya dengan sang suami.

​Shania duduk di sudut kamar, menekuk lututnya di atas sajadah. Ia menatap kosong ke arah sofa kayu yang kini kembali menjadi tempat tidur Zain. Setiap kali ia melihat sofa itu, telinganya seperti berdenging kembali oleh kalimat Zain di malam saat mereka kembali dari Jombang waktu itu.

​“Ranjang itu terlalu berbahaya bagi saya jika penghuninya tidak tahu cara menjaga kehormatan dirinya dan suaminya. Tidurlah di sana. Saya lebih tenang di sini.”

​Kalimat itu dulunya ia anggap sebagai ketegasan seorang guru, namun kini, setelah mendengar bisikan-bisikan miring di Surabaya, kalimat itu bermutasi menjadi bukti bahwa Zain memang jijik padanya. Zain tidak menginginkannya. Zain hanya sedang menjalankan tugasnya sebagai tanggung jawab untuk "menjinakkan" seekor hewan liar yang kebetulan berstatus sebagai istrinya.

​"Dia, tidak mencintaiku," bisik Shania pada kegelapan. "Dia, hanya sedang bersabar demi pahala."

​Pikiran itu meracuni hatinya. Shania merasa setiap perhatian Zain selama ini—mulai dari membelikannya tas di Malang, mengajaknya memancing, hingga memanggilnya 'Dek atau Sayang'—hanyalah teknik diplomasi seorang ustadz agar objek dakwahnya tidak kabur.

Semuanya terasa mekanis. Semuanya terasa palsu.

​"Jarak yang Tak Kasat Mata"

​Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing, namun Shania sudah rapi dengan gamis hitam dan cadarnya. Ia tidak menunggu Zain bangun. Ia menyiapkan sarapan—hanya roti tawar dan selai—lalu bergegas keluar.

​Zain yang baru selesai berdzikir di ruang tengah mengerutkan dahi melihat Shania sudah memegang gagang pintu luar.

​"Mau ke mana, Shania? Ini masih terlalu pagi," tanya Zain lembut.

​Shania berhenti, namun ia tidak menoleh. Punggungnya tampak kaku.

"Ke asrama putri, Mas. Ada jadwal bantu di dapur dan simaan pagi."

​"Sarapan dulu. Saya, sudah buatkan teh," ajak Zain, mencoba mencairkan suasana.

​"Enggak usah, Mas. Aku makan di sana saja bareng santriwati. Jangan buang waktu Mas buat urusi aku, Mas kan sibuk sama materi seminar dan urusan pesantren," jawab Shania datar, suaranya dingin dan tanpa intonasi.

​Zain tertegun. Kalimat itu adalah pantulan dari kata-katanya sendiri di masa lalu.

​"Jangan membuang waktu saya untuk hal yang bisa dilakukan orang lain."

​Zain ingin melangkah mendekat, ingin memegang bahu istrinya dan mengatakan bahwa ia tidak pernah menganggap Shania sebagai pembuang waktu. Namun, Shania lebih cepat. Sebelum Zain sempat bersuara, pintu sudah tertutup rapat.

​Sepanjang hari, Shania benar-benar menenggelamkan dirinya di komplek pesantren. Ia memilih untuk berada di tengah kerumunan santriwati, mencuci piring dalam jumlah besar, membantu mengupas berton-ton bawang hingga matanya perih. Ia melakukan itu semua agar ia tidak punya waktu untuk berpikir. Agar ia tidak perlu bertemu mata dengan Zain.

​Beberapa kali, Zain mencarinya ke asrama. Dari kejauhan, Zain melihat Shania sedang duduk di lantai bersama santriwati junior, tertawa—namun Zain tahu itu tawa yang dipaksakan. Saat Shania menyadari keberadaan Zain, tawanya langsung lenyap. Ia akan segera berbalik atau masuk ke dalam ruangan lain, seolah-olah Zain adalah wabah yang harus dihindari.

​"Malam yang Membeku"

​Malam kembali tiba. Zain duduk di meja belajarnya, namun kitab di depannya tidak ia baca sedikit pun. Pikirannya tertuju pada pintu kamar yang tertutup. Sejak pulang dari asrama tadi isya, Shania langsung mengunci diri.

​Zain mengetuk pintu itu perlahan.

"Shania?"

​Tidak ada jawaban.

​"Shania, buka pintunya. Kita perlu bicara. Kamu belum makan malam dengan benar."

​Cukup lama keheningan menyelimuti, hingga terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan Shania yang sudah melepas cadarnya, namun wajahnya tampak pucat dan matanya merah.

​"Mau bicara apa lagi, Mas? Soal kesalahan tajwidku? Atau soal bagaimana cara menjadi istri yang 'teduh' seperti putri-putri Syekh di Mesir itu?" sindir Shania.

​Zain menghela napas panjang, menahan denyut perih di dadanya.

"Kenapa kamu terus membawa-bawa masa lalu? Saya, sudah merobek foto itu, Shania. Saya, sudah katakan bahwa kamu adalah kejutan terindah dari Allah."

​Shania tertawa miris. Kali ini ia berani menatap Zain, namun tatapannya penuh dengan luka.

"Kejutan? Atau ujian? Mas, aku tahu siapa, aku. Aku, ini Shania yang liar, yang pernah merangkak di perutmu hanya untuk 'ngetes' imanmu. Aku, ini noda, kan? Makanya Mas bilang ranjang itu terlalu berbahaya karena ada aku di sana."

​"Shania, itu karena saya takut tidak bisa menahan diri! Bukan karena saya membencimu!" suara Zain sedikit meninggi, frustrasi karena penjelasannya tidak pernah sampai ke hati istrinya.

​"Takut tidak menahan diri karena nafsu, bukan karena cinta," potong Shania cepat. "Mas, cuma kasihan sama, aku. Mas nikahin aku karena janji orang tua. Semua kebaikan Mas di Malang, di sungai... itu semua cuma cara Mas buat 'menjinakkan' aku supaya aku nggak bikin malu nama pesantren, kan? Supaya 'beban' Mas nggak terlalu berat?"

​Zain terpaku.

"Siapa yang bilang kamu beban?"

​"Semua orang di Surabaya! Semua santriwati di sini yang berbisik di belakangku!"

Shania berteriak, air matanya mulai tumpah.

"Dan Mas nggak pernah bener-bener bilang kalau Mas sayang sama aku tanpa embel-embel tantangan hafalan. Kenapa aku harus hafal silsilah dulu baru dapet panggilan sayang? Kenapa aku harus pinter dulu baru bisa dapet perhatian, Mas?"

​Zain mencoba meraih tangan Shania, namun Shania menepisnya dengan kasar.

​"Jangan sentuh aku, Mas. Aku, mau sendiri. Bukankah Mas lebih tenang kalau tidur di sofa? Tidurlah di sana. Jaga kehormatan Mas dari wanita 'liar' kayak, aku."

​Brak!

​Pintu ditutup tepat di depan wajah Zain. Zain menyandarkan keningnya di daun pintu yang dingin itu. Ia merasa seperti sedang menggenggam pasir; semakin erat ia mencoba menahan Shania, semakin cepat istrinya itu luruh dari sela-sela jarinya.

​"Perang Batin sang Ustadz"

​Zain berjalan menuju sofa di ruang tengah dengan langkah gontai. Ia merebahkan tubuhnya, namun matanya menatap langit-langit dengan hampa. Ia teringat bagaimana Shania di awal pernikahan; berisik, keras kepala, penuh energi untuk melawan membuatnya harus ekstra sabar. Kini, Shania menjadi sosok yang pendiam, patuh, namun jiwanya seolah mati.

​"Apa aku yang salah mendidiknya?" gumam Zain.

​Ia menyadari satu hal. Selama ini, ia memang selalu memberikan reward atas prestasi Shania. Ia ingin Shania mencintai ilmu, maka ia memberikan hadiah. Namun bagi Shania, yang terbiasa dengan kemewahan namun haus akan kasih sayang tulus, metode itu justru terlihat seperti transaksi. Shania merasa ia harus "membeli" cinta Zain dengan hafalan-hafalan.

​Zain bangkit, ia mengambil wudhu. Di sepertiga malam itu, ia bersujud lama sekali.

​Zain menangis dalam sujudnya. Ia menyadari bahwa ia terlalu kaku menjaga integritasnya sebagai ustadz hingga lupa menjadi manusia di depan istrinya. Ia terlalu takut pada nafsunya sendiri hingga membuat istrinya merasa tak diinginkan.

​"Puncak Kehancuran"

​Dua hari berlalu dalam kebisuan total. Shania benar-benar menjadi bayangan. Ia menyiapkan keperluan Zain tanpa bicara, lalu menghilang ke pesantren. Ia bahkan mulai memakai cadar di dalam rumah jika ada Zain, benar-benar menutup akses bagi suaminya untuk melihat wajahnya.

​Puncaknya adalah saat sore hari, Zain menemukan Shania sedang duduk di pinggir sungai belakang pesantren—tempat mereka memancing beberapa hari lalu. Namun kali ini, Shania tidak membawa joran. Ia hanya duduk menatap air yang mengalir keruh karena hujan di hulu.

​"Shania," panggil Zain.

​Shania tidak bergeming.

​"Kita, harus bicara. Besok saya harus ke Surabaya lagi untuk seminar. Saya, ingin kita pergi dalam keadaan baik."

​"Pergi saja sendiri, Mas," jawab Shania tanpa menoleh. "Aku, mau di sini saja. Di sini nggak ada yang membanding-bandingkan aku sama, Fatimah. Di sini cuma ada air dan pohon."

​"Shania, cukup!"

Zain menarik bahu Shania agar menghadapnya.

​Saat cadar Shania tersingkap sedikit, Zain terkejut melihat betapa kurusnya wajah istrinya dalam beberapa hari ini. Matanya cekung dan binar "hidup" yang dulu ia kagumi di foto saat Shania naik motor besar, benar-benar padam.

​"Lepaskan, Mas. Nanti imannya goyah lho kalau pegang, aku," ejek Shania dengan suara parau.

​"Demi Allah, Shania! Saya mencintaimu!" teriak Zain.

​Shania terdiam. Namun, alih-alih terharu, ia justru tersenyum pahit.

"Mas cinta sama Shania yang mana? Shania, yang hafal silsilah? Atau Shania yang bisa masak lodeh? Mas, nggak pernah cinta sama Shania yang berantakan. Mas cuma cinta sama hasil didikan Mas sendiri."

​Shania melepaskan cengkeraman Zain.

"Aku, mau pulang ke Jakarta, Mas. Bilang sama Papa, aku gagal. Aku, nggak bisa jadi wanita teduh. Aku, mau jadi Shania yang liar lagi. Di sana, meskipun aku berdosa, setidaknya aku nggak merasa menjadi noda di baju putih seseorang."

​Shania berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Zain yang mematung. Angin sore bertiup kencang, menggoyangkan pohon-pohon bambu, seolah ikut meratapi retaknya dua hati yang sebenarnya saling merindu, namun terhalang oleh dinding tinggi bernama rendah diri dan harga diri.

​Zain menatap punggung Shania yang menjauh, menyadari bahwa belenggu mahar itu kini benar-benar mencekik Shania, dan ia adalah pemegang kuncinya yang justru ragu untuk membukanya.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!