NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Lembah Sunyi

Hutan Kalimantan yang tadinya riuh oleh suara tembakan kini kembali ke pelukan sunyi yang mencekam. Bau mesiu perlahan memudar, kalah oleh aroma tanah basah dan getah pohon yang menguap di bawah sinar rembulan. Di tengah reruntuhan fasilitas riset Dr. Elina, Kenzo berdiri tegap, sosoknya tampak seperti siluet abadi di tengah kabut yang merayap.

Meskipun ancaman Sekar dari LKS telah dipukul mundur untuk sementara, Kenzo tahu ini hanyalah permulaan dari babak baru yang lebih kotor. Politik di tanah air jauh lebih berliku daripada sekadar adu peluru di jalanan Eropa.

Aara keluar dari terowongan bawah tanah, menggandeng erat tangan Adrian. Ia melihat suaminya yang bersimbah peluh, lalu beralih menatap sekeliling. "Fasilitas ini sudah tidak aman, Kenzo. Sekar mungkin menarik pasukannya, tapi dia akan mengirim mata-mata, satelit, dan mungkin serangan ekonomi ke Nusantara."

Adrian mendongak, menatap ayahnya dengan mata cokelatnya yang jernih. "Papa, mereka takut padaku bukan karena aku jahat, kan?"

Kenzo berlutut di depan putranya, meletakkan tangan besarnya di bahu mungil Adrian. "Mereka takut karena mereka tidak bisa mengontrolmu, Adrian. Di dunia ini, orang-orang akan mencoba menghancurkan apa yang tidak bisa mereka miliki. Tugasmu adalah menjadi begitu kuat sehingga mereka tidak punya pilihan selain menghormatimu."

Adrian mengangguk perlahan. "Aku ingin belajar lebih banyak dari Dr. Elina. Tapi di tempat yang tidak bisa ditemukan satelit."

Dr. Elina, yang muncul dari balik puing sambil membawa tas berisi data riset penting, menyela, "Ada sebuah gua di lereng Pegunungan Meratus. Kakekmu pernah membangun bunker cadangan di sana yang menggunakan teknologi active camouflage. Sinyalnya tidak bisa dideteksi bahkan oleh radar militer tercanggih."

Satu jam kemudian, mereka bergerak menggunakan kendaraan taktis amfibi menembus lebatnya rimba. Di dalam kendaraan, Aara tidak tinggal diam. Ia membuka laptopnya, jemarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard.

"Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya Kenzo sambil terus memantau GPS.

"Memberi Sekar hadiah perpisahan," jawab Aara dengan seringai centil yang mematikan. "Aku baru saja meretas akun bank bayangan LKS. Aku tidak mencuri uangnya, aku hanya... memindahkan alokasi dana mereka ke yayasan panti asuhan di seluruh Indonesia. Besok pagi, Sekar harus menjelaskan pada auditornya kenapa dana operasional mereka berubah jadi donasi sosial."

Kenzo terkekeh. "Itu akan membuatnya sangat sibuk selama beberapa minggu ke depan."

"Tepat. Dan saat dia sibuk mengurus birokrasi, kita punya waktu untuk memperkuat posisi Adrian di Nusantara," tambah Aara.

Perjalanan berakhir di sebuah tebing tersembunyi yang tertutup air terjun raksasa. Di balik tirai air tersebut, sebuah pintu baja hidrolik terbuka, menampakkan fasilitas yang jauh lebih megah daripada yang ada di Kalimantan sebelumnya. Dindingnya terbuat dari kristal kuarsa yang berfungsi sebagai isolator energi saraf alami.

"Tempat ini dirancang khusus untuk menstabilkan frekuensi Valkyrie," Dr. Elina menjelaskan. "Kristal-kristal ini menyerap residu energi yang dikeluarkan Adrian sehingga tidak akan ada lonjakan frekuensi yang bisa dideteksi oleh pihak luar."

Adrian berjalan masuk ke tengah ruangan, tampak terpesona. "Di sini rasanya... tenang. Suara di kepalaku hilang."

Aara memeluk putranya dari belakang. "Itu karena di sini kau hanya perlu menjadi Adrian. Bukan senjata, bukan Alpha. Hanya putra Mama."

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah transmisi darurat masuk ke sistem komunikasi bunker. Itu adalah Baskara dari Bandung.

"Tuan Kenzo! Nyonya Aara! Ada perkembangan buruk," suara Baskara terdengar panik. "Dewan Delapan... dua di antaranya baru saja ditemukan tewas di Jakarta. Jenderal Wiryo dan Ibu Ratna. Mereka dibunuh dengan metode yang sangat spesifik."

Kenzo mengeraskan rahangnya. "Metode apa?"

"Jantung mereka berhenti seketika, tapi tidak ada jejak racun atau peluru. Hanya ada bekas hangus kecil di belakang telinga mereka... seperti serangan gelombang mikro frekuensi tinggi," jelas Baskara.

Mata Aara membelalak. Ia menatap Kenzo dengan ngeri. "Itu protokol Exterminator dari The Hive. Tapi kita sudah menghancurkan mereka di Svalbard!"

"Atau seseorang telah mengambil alih teknologi mereka dan membawanya ke sini," sahut Kenzo dingin. "Sekar mungkin bekerja sama dengan sisa-sisa The Hive yang kita lewatkan."

Kematian dua anggota Dewan Delapan berarti Nusantara sedang dalam kondisi goyah. Tanpa kepemimpinan yang kuat, faksi-faksi kecil akan mulai saling gigit untuk memperebutkan kekuasaan.

Adrian, yang mendengar percakapan itu, mendekati ayahnya. "Papa, aku harus pergi ke Jakarta, kan?"

"Tidak, Adrian. Terlalu berbahaya," larang Aara cepat.

"Mama, mereka membunuh orang-orang yang bersumpah setia padaku," kata Adrian dengan nada yang tidak lagi seperti anak kecil. Ada otoritas yang sangat tua dalam suaranya. "Jika aku bersembunyi di sini, mereka akan terus membunuh orang lain sampai aku keluar. Papa bilang, pemimpin tidak boleh membiarkan pengikutnya mati sia-sia."

Kenzo menatap putranya lama. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, tapi dengan kebijaksanaan yang lebih besar. Ia menoleh ke Aara, yang tampak ragu namun akhirnya mengangguk pelan.

"Baiklah," ucap Kenzo. "Kita akan kembali ke Jakarta. Tapi kita tidak akan masuk melalui pintu depan. Kita akan masuk sebagai badai yang akan merobek topeng siapa pun yang berani menyentuh Nusantara."

Malam itu, di bawah gemuruh air terjun, Kenzo melatih Adrian bukan lagi cara mengunci kekuatannya, melainkan cara mengarahkannya dengan presisi. Aara mempersiapkan persenjataan paling mutakhir, menyembunyikan sensor-sensor mini di dalam pakaian batik Adrian yang akan ia kenakan saat pertemuan dewan nanti.

"Ingat, Adrian," bisik Kenzo sambil memberikan belati kecil tumpul untuk latihan. "Kekuatan sejati bukan saat kau menghancurkan musuhmu, tapi saat kau membuat mereka sadar bahwa melawanmu adalah hal yang mustahil."

Adrian mengangguk, matanya kembali berkilat perak, namun kali ini terlihat jauh lebih terkendali dan fokus.

Besok, perjalanan menuju jantung ibu kota akan dimulai. Sebuah babak di mana keluarga Arkana tidak lagi bermain di bayang-bayang, melainkan melangkah langsung ke panggung utama untuk mengklaim hak mereka. Jakarta akan segera tahu, bahwa sang Alpha telah bangun sepenuhnya, dan dia membawa amarah dari dua dunia di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!