Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijodohkan untuk Dave
Dave baru saja selesai meeting ketika Baim dan Jayden mendekatinya. Hari ini Dave meeting di perusahaan Airlangga.
"Dave, siang ini kamu sibuk, nggak?" tanya Baim. Dia dan Jayden menggiring Dave ke ruangannya untuk istirahat sebentar.
"Ngga ada, sih. Ada apa?" tanya Dave. Sekarang dia sudah masuk ke ruangan Baim. Jayden mendahuluinya masuk, sambil menelpon.
"Kopi biasa tiga, ya." Setelah mengatakannya Jayden duduk menyandar di sofa. Hari ini sangat melelahkan. Dari pagi hingga siang, meeting melulu. Kepalanya rasanya mumet dan mau pecah. Tulang tulangnya seakan akan sudah dilolosi. Karena itu dia pesan kopi. Rencananya kalo Baim dan Dave ngga mau, akan dia habiskan. Biar aja perutnya kembung kopi.
"Kamu pesan kopi?" tanya Baim sambil duduk bersandar juga di dekat Jayden
"Iya, tempat biasa." Jayden menyahut sembil memejamkan mata.
"Setelah ini kita harus meeting sampai sore," jelas Baim pada Dave akan maksud ucapannya tadi.
"Mami sama daddy ngga bisa jemput. Mami Daiva dan daddy Xavi juga ngga bisa jemput. Bisa kita minta tolong kamu?" tanya Baim langsung.
"Jennifer?" Dave mencoba menolak halus. Tiba tiba banget minta dia ke kindergarten keponakan keponakannya.
"Jennifer ngga bisa juga. Anaknya dititip sama Kayana. Kayana juga bawa anak Haykal," sambung Jayden.
Dave menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kalo kejadiannya begini, biasanya siapa yang jemput?"
"Kamu cerewet banget, sih. Belum.pernah kejadian begini. Baru aja kali ini," tukas Jayden masih dengan mata yang terpejam. Mengomeli Dave.
Baim langsung nyengir. Dave mendengus pelan.
"Kalian punya rencana licik apa?" todongnya langsung. Dia tau, tiap.ada kesempatan pasti kerabat kerabatnya berusaha menjodohkannya. Mungkin saja kali ini dengan anak temannya Tante Puspa yang jadi guru di tempat para keponakannya bersekolah.
Gampang banget kebacanya, dengusnya membatin.
Seringai geli terukir.di bibir. Jayden yang masih memejamkan mata. Baim ngga bisa menahan tawa pelannya.
"Kamu curigaan banget," sanggah Jayden mengejek.
Dave berdecih.
"Bisa, ya. Kita percaya sama kamu," ucap Baim mengalihkan arah pembicaraan. Jangan sampai rencana mereka.yang hampir bocor ini malah jadi bocor benaran sebelum berhasil.
"Pak supir atau bibik aja," tolak Dave lagi. Dia makin yakin kalo mereka ngin membuatnya mengenal anak temannya Tante Puspa.
"Kamu tega banget, sih." Baim menghela nafas.
"Kamu, kan, omnya. Masa keponakanmu lebih dekat dengan supir dan pembantu dari pada sama omnya," semprot Jayden.
Dave menghela nafas panjang
"Oke, oke. Aku jemput." Dave milih ngalah.
Mata Jayden yang tadinya terpejam, kini terbuka dengan cepat. Wajahnya tampak sumringah.
"Oke, nanti aku bilang ke Bu Rhea, kalo Om Dave yang akan jemput." ucap Jayden.
"Bu Rhea?" Kedua alis Dave bertaut.
Sudah sangat jelas, kan! Dengusnya dalam hati.
"Iya, anak temannya mami," jawab Baim jujur. Udah ngga dia tutupi lagi niat mereka terhadap Dave. Dave juga peka banget.
"Aku bisa nyari sendiri," tukas Dave malas.
"Udah berapa tahun? Lima tahun, kan? Masih jomblo aja," sengak Jayden mencibir.
"Kenalan aja dulu," ucap Baim sabar dengan menahan tawa.
Dave menghembuskan nafas panjang.
Huufffhhh.....
"Lulusan master di luar negeri dia," sambung Baim lagi.
"Hemm..."
"Siapa tau cocok," timpal Jayden.
TOK TOK TOK
Ketiganya menoleh pada pintu yang terbuka. Seorang laki laki muda berseragam ob datang membawakan tiga cup kopi.
"Minum kopi dulu, biar kepala ngga berat." Jayden mengambil kopinya.
"Thank's, Timo," senyum Jayden pada ob yang membawakan kopi untuk mereka. Dia juga mengerluarkan dua lembar uang seratusan. Membayar harga kopi dan memberikan tip.
"Sama sama, bos."
Dave dan Baim pun mengambil kopi mereka masing masing.
Tidak ada percakapan setelah ob bernama Timo pergi. Hingga kopi tinggal separuhnya.
"Makasih, ya, bro." Baim berjalan pergi dengan cup kopi yang masih tersisa separuhnya.
"Jangan lupa namanya Bu Rhea." Jayden tersenyum miring sambil melangkah pergi, menyusul Baim.
Huuufffhh.... Padahal dia belum bilang setuju, batin Dave mengomel. Tapi dia ngga mungkin menyuruh asistennya yang menjemput. Kalo menyangkut keponakan keponakannya, hatinya lemah.
*
*
*
"Iya, tante."
"Makasih, sayang. Nanti omnya yang jemput, ya. Namanya Dave. Anak anak tau, kok." Puspa memberikan pesan yang cukup detil pada Rhea.
Memang ini ide Jayden.
"Siapa tau jodoh, tante," tawa Jayden pagi tadi.
Karena itu Puspa menelpon Rhea untuk melancarkan ide keponakan keponakannya.
"Iya, tante," sahut Rhea by phone. Tanpa penolakan.
Setelah Puspa menyimpan ponselnya, Daiva dan Rihana tertawa lepas.
"Semoga kali ini berhasil, ya," ucap Rihana setelah tawanya mulai mereda.
"Aku harap begitu. Sampai kapan dia mau jomblo terus," respon cepat Daiva.
"Rhea sebenarnya juga mau dijodohkan sama Nara, adiknya Nazar. Tapi Arsati kurang setuju. Kalo Rhea cocok dengan Dave, aku rasa ngga ada masalah," jelas Puspa paanjang lebar.
"Oooh...." Daiva menyimak dengan serius.
"Rhea sebenarnya sedang dihukum karena suka ke club. Tapi malam itu dia apes. Ada yang mengirim fotonya ke papanya. Nazar marah dan akan megirimkan Rhea ke tempat Nara, untuk membantunya mengurus kebun apel, sekalian dijodohkan," sambung Puspa lebih panjang lebar.
"Apa?" Daiva sampai ternganga.
"Sampai segitunya Nazar ngamuk?" Daiva sampai menggeleng kepalanya.
Rihana jadi teringat kejadian yang menimpa putranya-Erland yang ngga sengaja dikerjain sepupu sepupu di club. Sampai masuk ICU.
"Kata Arsati, ada yang menjebak putrinya. Ada fotonya yang sedang bercium@n yang diterima papanya."
Hening. Daiva dan Rihana cukup kaget mendengarnya.
"Tenang. Aku percaya sepenuhnya setelah melihat Rhea. Dia sangat manis dan aku sama yakinnya dengan Arsati, kalo Rhea memang dijebak. Katanya Arsati sedang menyelidik kejadian yang sebenarnya. Hanya saja sekarang dia belum bisa memberi kabar, karena tidak ingin Nazar bisa tau dimana Rhea berada." Puspa menjelaskan lagi.
"Iya, sih. Nazar masih ngotot, ya, mau menjodohkan putrinya?" tanya Daiva yang berusaha mengerti perasaan Arsati.
"Begitulah. Katanya calonnya itu keponakan calon suami Nara yang meninggal dulu," sahut Puspa.
Rihana mengangguk.
"Karena itu aku menaruh Rhea di kindergarten. Nazar pasti akan lebih mudah menemukannya kalo Rhea bekerja di perusahaan."
"Iya juga, sih. Rhea mungkin juga perlu menenangkan diri. Kalo itu kejadian pertama untuknya, dia pasti masih shock," ucap Rihana mengerti.
"Iya. Aku paham banget. Untung hanya ci-um@n. Ngga kebablasan kayak Jayden.... Huuffhhh...."
Mendengar ucapan Daiva, Puspa dan Rihana tertawa tertahan. Jayden yang paling luar biasa sampai hari ini. Belum ada yang memecahkan track recordnya.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk