NovelToon NovelToon
BOS KU Ternyata JODOHKU??

BOS KU Ternyata JODOHKU??

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Beda Usia
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yurnalis Lidar0306

Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.

Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode-13

Acara yang di nantipun tiba,

Malam itu, Nara tampil sangat memukau. Gaun warna emerald green yang ia kenakan menonjolkan lekuk tubuhnya yang masih sangat terawat dan seksi. Rambut panjangnya diatur bergelombang indah menyentuh bahu, dengan riasan wajah yang tipis namun sempurna, membuat wanita berusia 43 tahun itu terlihat jauh lebih muda dan memancarkan aura anggun yang memikat.

"Nara Amanda, kamu cantik hari ini. Fokus! Jangan baper! Ini cuma tugas!" ucapnya pada cermin sekali lagi, mencoba menetralkan detak jantungnya.

Tak lama kemudian, mobil mewah yang dikirim Arkan pun tiba. Perjalanan menuju rumah keluarga Arkan terasa cukup jauh namun Nara menikmatinya dengan tenang, bersikap seprofesional mungkin.

Sesampainya di sana, sebuah rumah besar bergaya klasik modern menyambut kedatangannya. Nara turun dari mobil dengan langkah tegap dan elegan, lalu melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luas.

Di sana, Arkan sudah berdiri menunggu. Pria itu tampil sangat gagah dengan setelan jas hitam tailor-made yang pas di badan, membuat penampilannya makin memancarkan aura CEO yang kaya dan berkuasa.

Awalnya Arkan sedang melihat jam tangannya dengan wajah datar, namun saat ia mendengar suara langkah kaki dan mendongak...

Waktu seakan berhenti.

Mata Arkan membelalak sedikit, napasnya tercekat sejenak di tenggorokan. Seluruh dunianya seakan tiba-tiba menjadi hening.

Ia tahu Nara cantik, ia tahu Nara terawat. Tapi melihat Nara berdiri di sana dengan pencahayaan lampu yang tepat, mengenakan gaun yang begitu sempurna... Arkan benar-benar terpana.

Ya Tuhan... ini sekretaris gue atau bidadari yang turun dari langit?

Nara berhenti beberapa langkah di depannya, lalu memberikan senyum profesional yang sopan, sedikit membungkuk hormat.

"Selamat malam, Pak. Maaf kalau saya terlambat. Kita bisa berangkat sekarang," ucap Nara dengan suara lembut dan tenang, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi gugup atau malu berlebihan. Tetap cool, tetap classy.

Namun Arkan tidak menjawab. Pria itu hanya diam, menatap Nara lekat-lekat dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, matanya tak bisa lepas. Tatapan itu bukan tatapan bos ke bawahan, tapi tatapan seorang pria yang sedang mengagumi wanita yang sangat ia sukai.

Wajah Arkan yang biasanya datar dan dingin, kini perlahan memerah. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, jauh lebih heboh daripada saat ia sedang menutup kesepakatan bisnis miliaran rupiah.

"Pak?" Nara mengerutkan kening bingung, sedikit mengangkat alisnya yang terawat. "Ada yang salah dengan penampilan saya? Terlalu berlebihan?"

Pertanyaan itu sontak menyadarkan Arkan dari lamunannya. Ia terbatuk kecil ehem untuk menutupi kegugupannya, lalu buru-buru membetulkan letak dasi yang sebenarnya sudah rapi.

"Tidak..." jawab Arkan terbata-bata, aneh sekali mendengar suara bos galak ini jadi gagap. "Penampilan kamu... bagus. Sangat... sangat pantas."

Arkan melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa senti. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi tubuh Nara yang harum semerbak membuat kepala Arkan terasa pening namun nikmat.

"Sumpah Nara..." bisik Arkan pelan, hanya untuk didengar oleh mereka berdua, matanya menatap tajam namun penuh kekaguman. "Kamu cantik banget malam ini. Sampai-sampai saya lupa mau ngomong apa."

Nara tersenyum tipis, berusaha tetap tenang meski pipinya mulai merona. "Terima kasih, Pak. Bapak juga tampan seperti biasa. Ayo kita berangkat? Nanti kita terlambat."

Ia berusaha mengalihkan topik, tetap menjaga batas profesionalisme mereka. Tapi Arkan belum puas. Pria itu mengulurkan tangannya, membiarkan lengannya terulur di hadapan Nara.

"Pegang lengan saya, ingat Jangan jauh-jauh dari saya malam ini," perintah Arkan, tapi nadanya terdengar sangat lembut.

_________

Mobil mewah itu berhenti tepat di depan karpet merah yang mempesona. Pintu dibuka, dan pertama kali muncul adalah Arkan Delvin dengan wajah dingin dan wibawa yang memancar kuat. Namun, saat tangannya terulur ke dalam mobil dan menarik keluar sosok wanita di sampingnya... semua mata tertuju pada mereka.

Nara melangkah turun dengan anggun. Gaun emerald green-nya berkilau indah di bawah sorotan lampu kamera dan sorot lampu acara. Ia tersenyum tipis, menunduk sopan, dan berjalan tegak di samping Arkan. Sikapnya tenang, cool, dan sangat profesional, seolah-olah ia memang terbiasa tampil di acara sekelas ini.

Tapi berbeda dengan Arkan...

Tangan pria itu tak pernah lepas dari pinggang Nara. Genggamannya erat, menuntun langkah wanita itu, dan matanya tajam mengawasi setiap orang yang melirik ke arah Nara.

"Jangan senyum terlalu lebar ke sembarang orang," bisik Arkan dingin tepat di telinga Nara.

Nara menoleh sedikit, "Baik Pak, saya mengerti. Saya akan jaga image Bapak."

Arkan mendengus kesal. Image? Kamu pikir aku cuma mikirin image? Aku mikirin kamu jangan dilihatin orang lain! batinnya geram tapi tak bisa diucapkan.

Mereka berjalan masuk, dan suasana di dalam sangat meriah dan mewah.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan Tuan Bimo dan Ibu Suryani, orang tua Arkan, yang sudah menunggu dengan wajah sumringah.

"Nah ini dia anakku dan pendampingnya!" seru Ibu Suryani senang. Matanya langsung berbinar melihat Nara. "Ya ampun Nara... cantiknya luar biasa! Ibu sampai terpana!"

"Terima kasih, Bu. Ibu juga tetap anggun seperti biasa," jawab Nara sopan dan ramah.

"Ah kamu bisa aja!" sahut Bu Suryani dengan wajah yang memerah.

Ayah Arkan pun tersenyum lebar, "Wah, Arkan kamu beruntung sekali bisa punya sekretaris sebaik dan secantik Nara. Jaga baik-baik ya."

Arkan hanya mengangguk singkat, tapi tangannya semakin menarik Nara agar lebih dekat ke tubuhnya,"Tentu Pa, dia Milikku!"

Nara tersenyum kaku mendengarnya. Iya iya... milik perusahaan, milik bos, gitu lah maksudnya, pikirnya dalam hati.

Namun, kedamaian tidak berlangsung lama. Beberapa pria yang merupakan rekan bisnis atau saingan Arkan mulai mendekat, dan yang paling menyebalkan adalah mereka sering kali melirik Nara dengan tatapan kagum yang berlebihan.

"Wah, Pak Arkan... ini siapa cantik sekali? Boleh kenalan?" tanya salah satu pria itu berani.

Belum sempat Nara menjawab dengan sopan, Arkan sudah lebih dulu memotong dengan senyum miring yang sangat dingin.

"Maaf, dia tidak untuk berkenalan. Dia pendamping saya, Jadi tolong... jangan terlalu lama menatap, itu tidak sopan," ucap Arkan tegas, nadanya datar namun penuh ancaman.

Pria-pria itu pun mundur teratur karena segan.

Belum selesai, datanglah beberapa wanita sosialita yang selama ini mengejar-ngejar Arkan. Mereka berusaha mendekat dengan gaya genit.

"Kak Arkan... lama gak ketemu makin ganteng. Mau dansa bareng nanti?" goda salah satu wanita itu berusaha menyentuh lengan Arkan.

Arkan dengan sigap menggeser posisinya, membuat wanita itu gagal menyentuh, dan malah semakin mempererat pelukannya di pinggang Nara.

"Maaf, saya sudah ada pasangan. Dan malam ini saya tidak akan berdansa dengan orang lain selain dia," tolak Arkan halus tapi mematikan harapan.

Wanita-wanita itu pun pergi dengan wajah kecewa dan cemburu.

_____

Di tengah keramaian itu, Nara akhirnya menarik napas lega. Ia menoleh ke samping melihat wajah Arkan yang masih tampak waspada.

Dalam hati Nara berpikir: Pantesan dia pegang aku erat banget, dia protektif banget gini ternyata cuma biar aku jadi tameng yang efektif ya. Biar cewek-cewek itu pada kapok dan gak ganggu dia lagi.

"Sudah aman Pak," bisik Nara pelan dengan senyum profesionalnya. "Mereka sudah pada pergi. Bapak bisa tenang sekarang, tidak ada yang mengganggu lagi."

Arkan menoleh, menatap wajah Nara yang polos dan tenang itu.

"Kamu pikir aku melakukan semua ini... supaya aku tidak diganggu?" tanya Arkan pelan, alisnya terangkat tinggi.

"Ya... kan memang begitu tugas saya, Pak. Menjadi pendamping dan penahan ombak," jawab Nara santai.

Arkan mendengus lalu ia melepas pelukannya dari pinggang ramping Nara..

"Saya kekamar mandi sebentar,kamu jangan kemana mana!"

Nara mengangguk..

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!