Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Napas Nurlia memburu, kakinya bergerak secepat kilat menyusuri lorong sempit menuju dapur. Jantungnya berdegup kencang bukan main, rasanya seperti mau copot. Bibirnya masih terasa asing dan jijik karena ciuman paksa tadi.
"Rin! Sar!" teriaknya saat melihat Rina dan Sari sedang merapikan peralatan makan.
Dua temannya itu kaget melihat Nurlia yang datang dengan wajah pucat pasi, mata merah, dan napas tersengal-sengal seolah baru dikejar sesuatu.
"Lia? Ya Allah kamu kenapa? Kok gemetar gitu? Kenapa panik banget sih?" tanya Rina sambil segera memegang kedua bahu Nurlia, mencoba menenangkan.
Sari juga ikut panik. "Iya, mukamu pucat banget Lia. Ada apa?"
Nurlia membuka mulutnya, suaranya tercekat di tenggorokan. Air matanya sudah siap tumpah lagi.
"Aku... aku tadi..." isaknya pelan, "Riski... Riski dia..."
Belum sempat Nurlia menyelesaikan kalimatnya dan menceritakan kejahatan yang baru saja dialaminya, langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang.
Gedebuk... gedebuk...
Semua kepala menoleh. Ternyata Riski! Pria itu berjalan dengan wajah datar namun tatapannya tajam menatap lurus ke arah Nurlia, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal baru saja dia berani bertindak kurang ajar!
Melihat Riski datang dengan santai, Nurlia langsung kehilangan kata-kata. Rasa takut dan teror tadi kembali menyerangnya. Dia tidak berani bicara lebih lanjut di depan Riski, takut pria itu memutarbalikkan fakta atau malah mengamuk lagi.
"Aku... aku nggak bisa ngomong di sini..." bisik Nurlia terbata-bata.
Tanpa menunggu lama, Nurlia langsung memutar badan dan berlari lagi. Kali ini dia menuju pintu belakang restoran yang mengarah ke area gudang dan tempat sampah, tempat yang sepi dan gelap. Dia ingin lari sejauh mungkin dari orang-orang jahat itu.
"Lia! Tunggu!" teriak Riski dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding.
Riski langsung mengejarnya. Langkah kakinya jauh lebih panjang dan cepat dibandingkan Nurlia yang sedang ketakutan. Belum sempat Nurlia menggapai gagang pintu keluar, tangan kasar Riski sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat dan menariknya kasar hingga tubuh Nurlia terbentur dinding yang dingin.
Dugh!
"LEPASIN! AKU MAU KELUAR!" Nurlia meronta hebat, menendang dan memukul dada Riski sekuat tenaga.
Namun Riski sama sekali tidak bergeming. Wajahnya kini berubah menjadi menyeramkan, penuh nafsu.
"Kamu mau lari ke mana, sayang? Masih banyak yang belum kita lakuin..." desis Riski pelan.
"JANGAN! RISKI JANGAN! TOLONG!!"
Tapi teriakan Nurlia tertelan mentah-mentah. Riski langsung menempelkan tubuhnya, menindih Nurlia ke dinding, dan kembali mencium bibir Nurlia dengan ganas dan paksa. Kali ini jauh lebih kasar, jauh lebih menakutkan. Tangan Riski mulai merambat liar memegang pinggang dan punggung Nurlia dengan posesif. Nurlia merasa dunia runtuh, dia merasa sangat kotor, sangat tak berdaya.
"MMMMPHHH!! LEPAS!! TOLOOONG!!"
"AAAAAA!! TOLONG!!"
Nurlia terbangun dengan teriakannya sendiri.
Matanya terbuka lebar, napasnya memburu kencang, keringat dingin membasahi seluruh tubuh dan keningnya. Dadanya naik turun hebat, jantungnya berdegup seakan mau meledak.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bukan dinding beton dingin di belakang restoran. Bukan lorong restoran. Yang dia lihat hanyalah langit-langit kamar kecilnya yang sederhana, cahaya remang-remang dari lampu bohlam kecil yang menyala redup.
Nurlia menunduk, melihat dirinya sendiri. Dia masih terbaring di atas kasur tipisnya, terbungkus selimut tebal. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh bibirnya sendiri.
Bibirnya aman. Tidak ada ciuman paksa. Tidak ada Riski. Tidak ada Dewi. Tidak ada pelanggan galak.
Semuanya... hanyalah mimpi buruk yang begitu nyata dan mengerikan.
"Huuu... huuu..." Nurlia menarik napas panjang, tangannya memegangi dada kirinya yang berdebar kencang. "Ya Allah... ternyata hanya mimpi... ya ampun..."
Air mata lega bercampur takut mengalir deras membasahi pipi. Rasanya baru kemarin dia mengalami hal-hal buruk itu, tapi ternyata otaknya hanya memutar imajinasi menyeramkan saat tidur.
Nurlia menoleh ke arah jam dinding yang berdenting pelan. Jarum panjang menunjuk tepat di angka 12, jarum pendek menunjuk angka 5.
Pukul 05.00 pagi.
Matahari baru saja akan mulai menyapa. Dunia luar masih hening.
Nurlia duduk di tepi ranjang, masih menatap sekeliling kamarnya dengan tatapan kosong dan bingung. Dia masih belum sepenuhnya sadar, masih merasa seolah kejadian tadi sungguhan. Rasanya lelah sekali, seolah habis berlari maraton seharian penuh, padahal dia baru saja bangun tidur.
"Pantesan... semuanya berjalan cepat dan buruk..." gumamnya dengan suara serak. "Ternyata cuman bunga tidur ya, Tuhan..."
Mimpi itu seolah begitu hidup, begitu detail, mulai dari dia dimarahi pelanggan, ditumpahkan minuman oleh teman, sampai dilecehkan oleh Riski. Semuanya begitu menyakitkan.
Nurlia mengusap air matanya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Alhamdulillah... cuman mimpi. Syukurlah..." bisiknya berulang-ulang.
Tapi di balik rasa leganya itu, ada perasaan tidak enak yang mengganjal di hati. Apakah ini hanya mimpi biasa, atau ini adalah pertanda buruk yang akan terjadi di masa depan?
Pintu kamarnya diketuk lalu terbuka sedikit. Adelia masuk dengan wajah masih mengantuk, rambutnya berantakan, dan mengenakan baju tidur yang nyaman.
"Kak...?" panggil Adelia pelan, matanya menyipit menatap kakaknya yang duduk di tepi kasur. "Tadi... Adelia dengar Kakak teriak kan? Suaranya lirih tapi kedengeran sampai kamar. Kakak kenapa?"
Nurlia segera mengusap sisa air mata di pipinya, lalu berusaha memasang senyum setenang mungkin meski bibirnya masih sedikit gemetar.
"Iya... iya Del. Nggak apa-apa kok," jawab Nurlia lembut, suaranya terdengar lelah. "Cuman mimpi buruk doang. Mimpi yang aneh-aneh dan nyeremin banget. Bikin kaget aja tadi."
Adelia langsung berlari kecil mendekat, lalu memeluk bahu kakaknya erat-erat. "Ya ampun... Kirain kenapa-kenapa. Adelia takut lho dengarnya. Syukurlah kalau cuman mimpi."
Adelia mengusap punggung Nurlia pelan, berusaha menenangkan. "Mimpi buruk itu biasanya cuman bunga tidur kok, Kak. Nggak bakal jadi kenyataan. Udah jangan dipikirin lagi ya."
"Iya... makasih ya Del udah nemenin," ucap Nurlia sambil membalas pelukan adiknya. Rasa takut tadi perlahan mulai hilang digantikan oleh kehangatan kasih sayang adik. "Kakak udah tenang kok sekarang. Kamu balik tidur lagi aja, masih pagi banget ini."
"Enggak mau. Nanti Kakak mimpi buruk lagi gimana? Adelia di sini aja nemenin sampai siap berangkat kerja," jawab Adelia manja.
Nurlia tersenyum tipis. "Yasudah, terserah kamu aja."
Beberapa menit berlalu, rasa kantuk Nurlia sudah hilang total. Ia pun memutuskan untuk segera memulai aktivitas.
"Yaudah, Kakak mandi dulu ya. Badan rasanya lengket banget kena keringat karena mimpi tadi," kata Nurlia sambil turun dari kasur dan mengambil handuk serta baju ganti.
Nurlia berjalan keluar kamar menuju kamar mandi kecil di belakang rumah. Saat melangkah, ia sadar sesuatu yang berbeda. Biasanya pagi-pagi begini rumah terasa agak remang dan gelap, tapi hari ini...
Nying!
Saat ia menekan tombol saklar lampu di dinding, lampu kamar mandi langsung menyala terang benderang seketika. Cahaya putih yang terang menerangi seluruh ruangan dengan sempurna.
Nurlia tersenyum lebar. Oh iya! Dia sudah lupa sebentar karena kaget mimpi tadi.
Listrik sudah menyala lagi!
Sebelum hari ini, kemarin sore sepulang kerja, dia menyempatkan pergi ke kantor layanan pembayaran dan melunasi seluruh tagihan listrik yang menumpuk. Uang tip dari Pak Sulthan kemarin itu benar-benar berkah, langsung dipakai untuk tambahan membayar tunggakan.
"Alhamdulillah... terang banget," gumam Nurlia bahagia.
Ia memutar keran air. Air dingin menyiram wajahnya, menyegarkan pikirannya. Bayangan mimpi buruk tadi perlahan sirna tertiup angin pagi.